
Sean benar benar terkejut dan tak menyangka dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Zara, jadi Zara sudah mengetahui tentang dirinya dan hanya diam saja tak pernah menanyakan pada dirinya.
"Darimana kamu tahu tentang ini?" tanya Sean sedikit khawatir.
"Kamar itu, maafkan aku mas aku melihat isi kamar itu." jelas Zara menundukan kepalanya merasa bersalah karena tak mendengar larangan dari Sean.
"Aku tak sengaja, waktu itu Mbok Nah sedang membersihkan kamar itu membuat aku bisa memasuki kamar itu." jelas Zara lagi dan langsung mengenggam tangan Sean, "Tapi aku mohon mas jangan marah dan pecat Mbok Nah ya." pinta Zara membuat Sean mau tak mau mengulum senyum.
Ada apa dengan istrinya itu, seharusnya dia marah karena mengetahui dirinya masih memajang foto Sella dirumah nya tapi malah takut pembantunya dipecat.
"Apa kamu tidak kesal dan marah melihat foto yang ada dikamar itu?" tanya Sean, mengingat kamar itu sebenarnya Sean siapkan untuk dirinya dan Sella jika sudah menikah sehingga ada banyak foto foto mereka disana.
Zara menundukan kepalanya, Ia terlihat sangat sedih.
"Sebenarnya aku ingin marah, tapi bukankah itu sudah masa lalu mas? aku bahkan juga memiliki masa lalu. hanya saja..."
"Hanya saja kenapa sayang?"
"Aku terlihat seperti pelakor yang merebutmu dari dia." balas Zara dengan helaan nafas berat.
Sean tersenyum, Ia lalu memeluk Zara dan mengelus kepalanya, "Maafkan aku karena tidak bisa jujur sejak awal." ungkap Sean.
"Keluargaku benar benar menginginkan kita menikah, dan jika aku mengatakan semua sejak awal mungkin kamu tidak akan menerimaku waktu itu."
"Apakah sekarang mas masih bersama dia?" tanya Zara merasa heran dengan pengakuan Sean.
Sean menggelengkan kepalanya, "Aku sudah memutuskan pertunangan dengan dia."
"Kapan mas?" Zara melepaskan pelukan Sean dan menatap Sean meminta jawaban dari Sean.
Sean nampak diam, enggan menjawab.
"Kapan mas?" tanya Zara lagi terlihat sangat penasaran.
"Waktu... waktu aku ke paris kemarin." balas Sean membuat Zara terkejut.
"Jadi..." Wajah Zara terlihat sangat kecewa, Ia pikir foto yang ada dikamar itu hanya mantan tunangan Sean yang sudah putus sebelum mereka menikah mungkin Zara masih bisa memaklumi itu namun sekarang mendengar Sean mengatakan jika Sean dan wanita itu baru putus, jadi selama ini Zara hanyalah orang ketiga?
"Maafkan aku sayang, maaf tidak jujur padamu sejak awal." ungkap Sean penuh penyesalan.
__ADS_1
"Jadi aku benar benar pelakor dalam hubungan kalian ya mas?" mata Zara mulai memerah ingin menangis.
"Tidak sayang, tidak seperti itu. maafkan aku." Sean menggenggam tangan Zara namun seketika genggaman tangan nya dilepaskan oleh Zara.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu sekarang? apa dia sudah bisa menerima semua ini? aku jahat sekali sudah merebutmu dari dia." ungkap Zara terlihat sangat sedih.
"Semua ini terjadi karena kesalahan nya sendiri sayang jadi ku mohon jangan menyalahkan dirimu seperti ini."
Zara akhirnya menangis membuat Sean semakin merasa bersalah.
"Dia yang sudah memilih ini terjadi, dia lebih mementingkan karirnya dari pada hubungan kami, itu yang membuat Papa dan Mama memutuskan untuk menjodohkan kita sayang."
"Aku yang salah karena tidak jujur sejak awal, maafkan aku."
Sean ingin memeluk Zara, namun Zara menolak pelukan Sean,
"Aku tidur dulu ya mas," pamit Zara langsung bangkit dan meninggalkan Sean lebih dulu.
Sean hanya bisa pasrah melihat Zara begitu marah dan kecewa padanya.
Sean ikut berbaring disamping Zara yang memunggunginya, Ia masih bisa mendengar suara isak tangis Zara meskipun terdengar pelan.
"Aku bahkan tidak menginginkan semua ini terjadi."
"Jadi mas tidak menginginkanku?" Zara berbalik dan menatap Sean kecewa.
"Bukan, bukan begitu sayang. tolong jangan salah paham." Sean terlihat frustasi.
"Bukankah baru saja mas bilang tidak menginginkan semua ini terjadi?"
"Maksud ku, aku tidak ada niat untuk membohongimu apalagi menyakiti seperti ini, jadi tolong jangan menangis lagi, itu membuat dada ku terasa sesak." ungkap Sean yang memang merasakan sesak didada nya mendengar suara tangisan Zara.
Zara menghentikan tangisnya, Ia diam dan menunduk tak menatap wajah Sean,
"Apa mas masih mencintai dia?"
"Apa kamu juga masih mencintai Panji?" Sean malah balik bertanya membuat Zara memanyunkan bibirnya kesal.
"Kau masih menyukai si Panci itu?" tanya Sean lagi membuat Zara mau tak mau tersenyum.
__ADS_1
Zara menggeleng pelan, "Sudah tidak memikirkan dia lagi."
"Lalu siapa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Sean.
"Ck, mas sudah tahu jawaban nya." balas Zara kesal.
Sean terkekeh, "Begitupun aku, setelah ada kamu aku bahkan sama sekali tidak memikirkan dia sedetikpun. Sekarang yang aku pikirkan hanya bagaimana menjauhkan mu dari pria hidung belang yang berusaha merusak hubungan kita dan membuatku kesal." ungkap Sean dengan nada kesal.
Zara tersenyum lagi membuat Sean sedikit lega, "Apa senyuman istriku ini tandanya aku sudah dimaafkan?"
"Belum, rasanya masih kecewa dengan diriku sendiri mas. aku membayangkan bagaimana sakitnya wanita itu saat mas meninggalkan dia. rasanya ini sulit sekali diterima." ungkap Zara tak lagi menatap Sean.
Helaan nafas Sean terdengar, "Jika masih ingin marah tidak apa, sekarang aku sudah lega karena kamu mengetahui semuanya dan tak ada lagi rahasia diantara kita."
"Kenapa kenyataan ini begitu menyakitkan mas? andai saja aku tidak ada mungkin wanita itu sekarang sudah berbahagia bersama mas." kata Zara yang masih merasakan sesak mengetahui Sean berpisah karena dirinya.
"Apa kamu tidak merasa sayang, kita bisa bersama saat ini karena memang sudah takdir. karena kita memang berjodoh, jadi ku mohon jangan salah kan dirimu karena ini bukan salahmu."
Zara terdiam setelah mendengar perkataan Sean, Memang apa yang Sean ucapkan benar, jika bukan karena jodoh dan takdir mungkin mereka tak akan bersama saat ini. Semua hanya masa lalu meskipun Sean terlambat mengakui semuanya namun kini semua berlalu Zara harus mulai bisa menerima itu.
Dirinya bukan pelakor atau perebut, dirinya wanita yang terpilih.
Sean bangun dari ranjang dan berjalan keluar kamar, Awalnya Zara mengacuhkan namun setelah cukup lama Sean tak kembali membuat Zara penasaran dan ikut keluar kamar.
Ternyata Sean sedang berada dikamar sebelah, karena penasaran Zara akhirnya ikut memasuki kamar itu.
Didalam kamar Zara melihat Sean sedang mengambil semua foto yang tertempel di dinding lalu menumpuknya dibawah hingga menjadi satu.
Sean memisahkan foto dari bingkainya hingga kini terlihat seperti tumpukan kertas yang dibawa Sean ke bawah.
"Mau diapakan mas?" tanya Zara yang sedari tadi mengikuti langkah Sean.
Sean tak menjawab dan hanya tersenyum hingga Zara akhirnya tahu jika Sean ingin membakar foto itu.
"Seharusnya ini kulakukan sejak awal kita menikah, maaf aku terlambat." kata Sean merangkul bahu Zara.
"Sekarang hanya ada kamu, satu dan untuk selamanya." Sean mengecup kening Zara lama.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn