BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
130


__ADS_3

Pagi ini Sean sudah bersiap untuk bekerja, saat Ia sudah keluar ingin membuka pintu mobil, Eddy berlari ke arahnya untuk membukakan pintu mobilnya.


"Selamat pagi Tuan..." sapa Eddy ramah.


Sean hanya tersenyum dan mengangguk membalas sapaan Eddy, Sean langsung memasuki mobil.


"Jaga rumah baik baik, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku."


"Siap Tuan."


Sean langsung menutup pintu mobil, dan mobil berjalan meninggalkan pekarangan rumah Sean.


Didepan pintu masih ada Zara yang berdiri disana, menatap mobil suaminya yang sudah berlalu,


"Pagi Nona..."


Eddy berjalan mendekat ke arah Zara.


"Pagi juga, sarapanmu nanti akan diantarkan oleh Mbok Nah."


"Baik Nona, terimakasih banyak."


Zara mengangguk dan langsung memasuki rumah. Eddy menatap punggung Zara dari belakang sebelum akhirnya Ia menutup pintu rumah.


"Ini sarapan buat kamu." kata Mbok Nah mengirim senampan makanan berisi nasi goreng, buah dan ada beberapa cemilan kue basah, Tak lupa secangkir kopi untuk menemani sarapan.


"Banyak banget mbok,"


"Buat cemilan nanti kalau nggak habis, pokoknya harus dihabiskan."


"Siap mbok, kalau cuma makanan mah saya siap menghabiskan.'' balas Eddy sambil tertawa.


"Keliatan dari tubuh kamu yang gendut pasti kamu doyan makan."


Eddy tertawa kala Mbok Nah menyebutnya gendut, "Ini sixpack mbok, bukan gendut."


"Sama ajalah, gendut sama sikpak pokoknya sama sama besar."


"Sixpack mbok, sixpack."


"Nggak tahu lah apa itu, yang penting sarapan nya dihabiskan." kata Mbok Nah yang akhirnya langsung diangguki oleh Eddy.


Mbok Nah segera masuk setelah mengirim makanan untuk Eddy.


"Non Zara mau kemana?"


"Mau ke toko nya Sena mbok, Zara bosen dirumah terus."


"Jangan Non, nanti Anden marah."


"Enggak Mbok, nanti aku kabarin mas Sean."


Mbok Nah ingin mencegah kepergian Zara namun melihat Zara yang ngeyel akhirnya Mbok Nah menyerah, kalaupun nanti Sean marah padanya, sudah menjadi resiko dari pekerjaan nya.

__ADS_1


Namun baru sampai didepan pintu, Zara melihat ada mobil mewah memasuki pekarangan rumah dan Zara mengenal itu mobil Mama mertuanya.


"Siapa kamu?" tanya Ranti saat Eddy membuka pintu mobilnya.


"Saya Eddy, satpam baru dirumah ini."


Ranti nampak melihat Eddy dari atas sampai bawah, sebelum akhirnya Ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


"Mama kesini?" Zara nampak senang melihat mama mertuanya datang.


Tak lupa keduanya cipika cipiki dan berpelukan sebentar,


"Kok rapi banget, mau kemana?" tanya Ranti usai keduanya berpelukan.


"Mau ke toko bunga Sena mah, bantu bantu disana. bosen dirumah terus."


"Ck, nggak usah aneh aneh dulu sayang, kandungan kamu itu masih kecil, masih rentan nggak boleh kena kerjaan berat."


"Gitu ya mah, tapi Zara bosen mah." keluh Zara pada Mama mertuanya itu.


"Gimana kalau kita bikin kue aja,"


Zara langsung tersenyum girang, "Ayo mah, mau deh Zara kalau gini."


Keduanya pun memasuki rumah, Ranti sempat tak sengaja melihat Eddy yang memandang ke arah Zara sebelum akhirnya memasuki rumah.


"Siapa yang nyari satpam baru itu?" tanya Ranti saat kini mereka sudah berada didapur menyiapkan bahan untuk membuat kue.


"Mas Sean Mah, baru mulai kerja hari ini."


"Iya mah, di pos satpam depan rumah kan ada kamarnya mah."


"Waduh bahaya."


"Bahaya kenapa Mah?" tanya Zara heran menatap ke arah Mama mertuanya, Zara merasa tak ada yang aneh dari sikap Eddy.


"Mama merasa ada yang nggak beres sama dia." kata Ranti sampai menghentikan aktifitasnya dan menatap cemas ke arah Zara.


"Nggak beres gimana Ma? kayaknya orang baik kok, sopan juga."


"Hmm, ya sudah biar nanti Mama tanya ke Sean aja."


"Mungkin perasaan mama soalnya baru pertama ketemu juga kan." kata Zara menenangkan perasaan cemas mama mertuanya.


"Iya mungkin," Ranti kembali melanjutkan aktifitasnya mengaduk bahan kue namun pikiran nya masih saja cemas dan khawatir jika Eddy bukan orang baik.


Selesai membuat kue, Zara dan Ranti kini duduk dibelakang rumah, meskipun siang ini panas namun masih ada angin sepoi sepoi yang menemani keduanya.


Kini keduanya sibuk merajut, membuat sepatu rajut lucu untuk calon anak Zara.


"Mama nggak nyangka, kamu pinter merajut juga ya." puji Ranti melihat keahlian merajut Zara.


"Belum pinter kok ma, Zara dulu belajar merajut sama temen temen waktu masih di pondok."

__ADS_1


"Suka kangen ya pasti sama suasana pondok?"


"Kangen banget Ma... tapi untung sekarang temen temennya udah deket semua, pada tinggal disini." balas Zara mengingat Imah menikah dengan Ricky dan Anya menikah dengan Zayn yang membuat ketiganya kini menjadi dekat.


"Haduh, kenapa punya Mama jadi gini."


Ranti memperlihatkan hasil rajutan nya pada Zara membuat Zara mengulum senyum.


"Padahal dulu Mama pinter ngerajut lho, kenapa sekarang malah jadi kayak gini sih." keluh Ranti.


"Bagus gini kok ma, bisa dipakai ini." puji Zara pada hasil rajutan Mama mertuanya.


"Ck, kamu nggak enak sama Mama ya kalau bilang jelek makanya bilangnya bagus."


Zara terkekeh, merasa telah ketahuan membohongi Mama mertuanya, "Kan yang penting masih bisa dipakai Ma."


"Iya sih, tapi jelek sayang. udah ah besok pakein yang bikinan kamu aja yang bagus, ini dibuang aja."


"Eh jangan dibuang Ma, sini biar Zara benerin."


Dan tak butuh waktu lama, milik Ranti yang tadinya kurang rapi kini sudah cantik ditangan Zara.


"Wah cantik banget, duh Mama jadi malu, udah ngajakin ngrajut duluan tapi punya Mama malah nggak bener."


"Apa sih ma, cuma ginian juga."


Keduanya pun melanjutkan rajutan hingga tak terasa sudah sore hari.


"Udah jadi sepatu sama baju, duh emang nggak salah pilih mantu Mama nih."


"Ternyata nggak cuma mas Sean yang pinter gombal, Mama juga ih."


Keduanya pun tertawa bersama.


Setelah Ranti pulang, Zara membersihkan belakang rumah dibantu Mbok Nah.


"Istirahat aja Non, ini kerjaan mbok Nah."


"Nggak apa apa mbok , aku yang udah bikin berantakan."


"Ck, tapi ini kan tugas mbok Nah Non." kata Mbok Nah tak ingin Zara membantu namun Zara tetap kekeh membantu hingga semuanya sudah kembali rapi dan bersih.


Selesai sholat ashar, Zara berniat menyiram tanaman bunga yang ada ditaman belakang, namun saat Ia ingin mengambil gembor yang digunakan untuk menyiram bunga, Zara malah terjatuh karena lantai nya licin.


"ASTAGFIRULLAH, Non.." teriakan Mbok Nah membuat Eddy pun ikut mendengar dan langsung berlari mendekat ke arah Zara.


"Aduhhh..." suara Zara terdengar kesakitan.


"Biar saya gendong saya mbok." kata Eddy hendak menyentuh Zara namun dengan cepat Zara menolak.


"Nggak, nggak perlu biar dibantu Mbok Nah saja. sa saya masih bisa jalan." kata Zara mengulurkan tangan nya pada Mbok Nah dan segera Mbok Nah memapah Zara membawa masuk ke dalam.


"Ck, sial!" Eddy mengepalkan tangan nya. matanya tak henti menatap ke arah Zara berjalan memasuki rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeennn


__ADS_2