
Hari hari berlalu, kebahagiaan kian menyelimuti rumah tangga Sean juga Zara. meskipun sampai 5 bulan lamanya belum ada kabar baik mengenai kehamilan namun sepertinya Sean tidak mempermasalahkan itu semua. Sean justru merasa bahagia karena masih diberi kesempatan berdua dengan Zara istrinya.
Sean bahkan setiap hari semakin bertambah mencintai istrinya begitu juga dengan Zara, kesedihan karena kehilangan orangtuanya akhirnya mereda dan perlahan menghilang karena kasih sayang yang diberikan Sean juga keluarganya melebihi apapun membuat Zara merasa nyaman dan aman disamping Sean.
"Dapet undangan pernikahan dari mantan kamu." Sean meletakan sebuah undangan dimeja kamar membuat Zara penasaran dan akhirnya membaca undangan dari siapa itu.
"Alhamdulilah, akhirnya mereka mengadakan resepsi juga." ucap Zara terlihat bahagia melihat nama Zayn juga Anya yang ada di undangan itu.
"Bukan mantan mas, memang kapan aku pacaran sama dia." kata Zara mendengar tuduhan Sean.
"Mantan pengagum kamu maksudnya." kekeh Sean membuat Zara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kita datang kan mas?" tanya Zara yang saat ini tengah mengambilkan baju ganti untuk Sean.
"Ck, enggak lah males."
Zara langsung menatap ke arah suaminya, "Bukannya mas sama dia udah akur?" tanya Zara mengingat saat acara 40 hari orangtua Zara, Anya dan Zayn datang kekampung, dirumah Zara dan terlihat Sean menyambut hangat Zayn waktu itu.
"Kata siapa?" balas Sean acuh menerima handuk dari Zara lalu berjalan ke kamar mandi.
"Aku pikir... jadi mas bener nggak mau datang ke acara nya?" tanya Zara sekali lagi sebelum Sean masuk ke kamar mandi.
"Ya jelas datanglah, masa udah dapet undangan nggak datang." Sean langsung memasuki kamar mandi sambil terkekeh membuat Zara menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan tak percaya.
Entah apa yang terjadi dengan suaminya, akhir akhir ini Zara merasa Sean sangat usil dengan nya.
Selesai mandi dan makan malam, kini keduanya sudah duduk ditempat favorit mereka, balkon kamar.
"Besok mau cari baju dulu?" tanya Sean sambil menghisap rokoknya.
"Baju buat apa mas?"
"Datang ke resepsinya,"
Zara terkekeh, "Lah baju udah banyak ngapain beli lagi mas."
"Ck, jangan terlalu hemat sayang. uangku banyak bisa untuk membeli baju sebutik."
"Jangan terlalu sombong mas, Allah bisa mengambil uang mas kapan aja kalau mau." balas Zara membuat Sean akhirnya tertawa dan tak bisa menjawab lagi.
"Dah kalah bener kalau udah diceramahin ibu ustadzah ini."
Sean mengerus rokoknya diasbak, mulai menarik tangan Zara dan membawanya ke pangkuan.
"Emm mas..." Zara terdengar ragu apalagi saat Sean sudah mulai meraba bagian sensitif tubuhnya.
"Hmm?"
__ADS_1
"Lagi palang merah mas." kata Zara yang akhirnya membuat Sean mendongak menatap Zara.
"Yahh..." keluh Sean membuat Zara tersenyum geli.
"Baru tadi sore,"
"Ck, ya udahlah. libur dulu seminggu." Sean berhenti meraba tubuh Zara, takut semakin ingin.
"Mas, udah hampir setengah tahun kenapa aku belum juga hamil ya padahal kita melakukan hampir setiap hari." kata Zara terdengar sedih.
"Baru juga setengah tahun, padahal banyak orang yang menikah hampir 10 tahun belum dikaruniai anak.
Jangan khawatir sayang, kalau memang sudah waktunya pasti juga datang. kita nikmati saja."
"Ka-kalau sampai aku tidak bisa hamil, mas bisa menikah lagi." ucap Zara lalu menunduk.
Sean tertawa, "Kamu aja udah cukup."
"Gombal."
"Serius sayang."
Zara tersenyum lega, "Jangan... jangan nikah lagi. aku nggak bakal tahan melihatnya."
Sean kembali tertawa, Ia gemas dengan istrinya dan akhirnya mencium pipi Zara bertubi tubi.
Zara tersipu malu, "Tidur aja yukk mas." kata Zara yang langsung diangguki Sean.
Beberapa hari kemudian...
Dengan balutan dress muslim yang sangat indah, Zara berjalan keluar kamar dimana suaminya sudah menunggunya diluar.
Zara berjalan pelan mendekat ke arah suaminya yang kini masih asyik dengan ponselnya, belum melihat ke arah Zara.
"Ayo mas..." Ajak Zara
Malam ini mereka memang akan datang ke resepsi pernikahan Zayn dan Anya. mereka datang bersama Ricky juga Imah.
Sean mendongak, menatap ke arah istrinya lama bahkan bibirnya menyunggingkan senyum seolah terpesona dengan kecantikan bidadari surganya itu.
"Kenapa mas? aneh ya?" tanya Zara merasa tak percaya diri karena ini kali pertamanya Ia merias wajahnya.
"SubhanaAllah, cantik sekali bidadari surgaku ini." puji Sean membuat Zara menunduk menyembunyikan pipinya yang merona.
"Ayo mas, Ricky sama Imah udah nunggu dimobil." ajak Zara tak ingin terbuai dengan pujian suaminya itu.
"Siap ibu negara." Sean berdiri dan memasang lengan nya agar Zara mau mengandengnya.
__ADS_1
Keduanya berjalan keluar dimana Imah dan Ricky sudah menunggu dimobil.
"Nyonya cantik amat." goda Imah.
"Ck, apa sih." Zara merasa tak nyaman dengan panggilan Imah.
Zara duduk di jok belakang bersama Imah sementara Sean berada disebelah Ricky yang menyetir mobil.
"Gimana dedek bayinya? rewel nggak?" tanya Zara mengelus perut Imah yang masih terlihat rata.
"Alhamdulilah, udah enggak mual lagi." balas Imah mengingat Ia sekarang sedang hamil muda baru berjalan 5 minggu.
"Ikut seneng, semoga aku cepet nyusul ya." kata Zara masih mengelus perut Imah.
"Aamiin, sabar aja kalau udah waktunya nanti dikasih." kata Imah membuat Zara tersenyum masam.
Mereka akhirnya sampai dihotel tempat resepsi, segera keempatnya memasuki tempat acara dimana sudah banyak tamu undangan yang berdatangan termasuk rekan bisnis Sean.
Sean nampak asyik berbincang dengan rekan bisnisnya ditemani Zara yang hanya menjadi pendengar karena tak paham dengan apa yang mereka bahas.
"Tante cantikk..." teriakan anak kecil dikerumunan membuat semua orang memandang ke arah Zara.
"MasyaAllah, Raisa cantik sekali." puji Zara saat Raisa berlari ke arahnya.
"Tapi masih cantikan Mama balu Raisa yang belum selesai pakai bedak." celoteh Raisa membuat Zara tersenyum geli.
"Sekarang mama aku juga pakai jilbab kayak tante cantik." pamer Raisa membuat Zara tersenyum lega karena akhirnya Anya mulai istiqomah lagi mengenakan hijabnya.
"Wah berarti sekarang tante cantiknya udah ganti dong?"
Raisa menggeleng tak setuju, "No, jadinya Mama cantik sama Tante cantik."
Zara kembali tersenyum, Ia benar benar lega karena Raisa kini sudah memiliki ibu pengganti yang akan menjaga dan menyayanggi Raisa.
Dan akhirnya kedua pengantin keluar, semua mata tertuju pada Zayn juga Anya yang terlihat sangat cantik juga tampan tak terkecuali Zara dan Imah yang berkali kali mengumamkan kata cantik saat menatap Anya.
"Aku gugup mas, mereka ngeliatin aku." bisik Anya pada Zayn.
"Ya karena kamu cantik makanya mereka ngeliatin kamu terus baby." balas Zayn membuat Anya mendengus kesal.
Sementara Zayn terlihat lega, setelah hampir 2 bulan membujuk Anya akhirnya Anya mau mengadakan resepsi pernikahan.
"Selesai acara langsung tempur malam pertama." bisik Zayn mencairkan ketegangan Anya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komeeen
__ADS_1