BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
99


__ADS_3

Pagi ini Sean sudah bersiap ke kantor meskipun sebenarnya Ia masih tak tega jika harus meninggalkan Zara dirumah sendiri namun mau bagaimana lagi pekerjaan dikantor sudah menumpuk minta untuk segera diselesaikan.


"Nanti kalau kamu bosen dirumah, nyusul aku ke kantor aja sayang." kata Sean kala Zara sedang memasangkan dasi suaminya.


Zara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Aku dirumah aja mas, kalau bosen nanti aku ke toko Sena aja."


"Kenapa nggak nyusul ke kantor? aku nanti pulang malem ntar kangen lagi."


Zara kembali tersenyum, "Narsis banget sih mas." cibir Zara membuat Sean terkekeh.


"Kalau aku nyusul dikantor takut dikira kena virus layangan putus." Cibir Zara yang lagi lagi membuat Sean tertawa dan kali ini lebih keras.


"Dendam banget kayaknya..."


"Enggak dendam mas, cuma inget aja!" balas Zara mengingat Sean pernah mengejeknya didepan Naya waktu pertama kali Zara ikut ke kantor Sean.


"Nanti aku usahakan pulang cepat, kalau nggak bisa jangan marah ya." kata Sean mengecup kening Zara dan mengelus rambut Zara.


"Emang aku pernah marah kalau mas pulang malam?"


"Ya enggak sih, kali aja sekarang beda."


Puk... Zara memukul pelan lengan Sean sambil memanyunkan bibirnya.


"Kan, dari semalem udah berani mukul suaminya." protes Sean pura pura marah.


"Gemes sama mas, maaf." Zara merasa bersalah.


Sean kembali tertawa, Ia memeluk Zara dan memberikan ciuman dipipi Zara berkali kali.


Sesampainya dikantor, Sean sudah disambut oleh para karyawan nya salah satunya Naya yang langsung memberinya setumpuk pekerjaan padahal Sean baru saja duduk.


"Seneng banget kayaknya Nay ngasih kerjaan segini banyak." cibir Sean yang membuat Naya tersenyum merasa tak enak.


"Mau bagaimana lagi pak, kalau saya bisa gantiin pasti sudah saya kerjakan."


"Hari ini kita lembur sampai malam ya." kata Sean.


"Siap pak."


Sean mulai fokus membuka satu persatu dokumen yang ada didepan nya tak lupa membubuhkan tanda tangan setelah mengecek dokumen itu.


"Nanti jam 1 siang kita ada pertemuan dengan pihak starlight pak." kata Naya yang langsung membuat Sean mendesah malas.


Starlight salah satu perusahaan milik Zayn yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya.


"Apa tidak bisa dicancel? mood saya lagi baik ini dan nggak mau ngerusak mood." ungkap Sean.

__ADS_1


"Maaf, tidak bisa pak karena kita selalu menolak pertemuan dan kali ini pertemuan penting karena membahas penggabungan merk produk yang selalu tertunda." jelas Naya yang akhinya membuat Sean mengangguki saja.


"Kamu juga yang bilang sama dia kalau orangtua Zara meninggal?" tanya Sean memastikan jika Zayn mengetahui dari Naya bukan dari orang suruhan Zayn.


"Benar pak, maafkan saya karena sudah 3 kali pertemuan dan mungkin beliau penasaran jadi bertanya pada saya alasan Bapak tidak menemuinya." jelas Naya.


"Ya sudah nanti saya temui dia."


Naya mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Sean.


Sean berubah kesal setelah mengingat Zayn, Ia tak lagi bisa fokus pada pekerjaan yang ada didepannya.


Sementara itu, Zayn yang baru saja keluar dari ruangan meeting langsung menuju ruangan nya.


Ia duduk dikursi dan langsung mengambil ponsel. mengingat hari ini dirinya ada pertemuan dengan Sean setelah jam makan siang jadi Ia menelepon Anya agar tak datang dan membawakan makan siang.


"Yakin aku nggak kesana bawa makan siang?" suara Anya dari telepon terdengar curiga membuat Zayn mau tak mau mengulas senyum dibibirnya.


"Iya sayang, mau meeting sama suami temen kamu. takutnya kamu datang nanti malah aku nya nggak ada."


"Sean maksudnya mas?"


"Iya, aku mau meeting sama dia."


"Emm..." Anya terdiam cukup lama.


"Iya udah mas." suara Anya terdengar lega membuat Zayn mau tak mau kembalu tersenyum.


Zayn mematikan panggilan, tak berapa lama Gladis sekretaris Zayn memasuki ruangan.


"Bapak mau makan siang apa?" tanya Gladis dengan nada mengoda.


"Apa saja yang penting ada kuahnya." balas Zayn tanpa memandang Gladis karena matanya sibuk menatap laptop.


"Baik pak, bagaimana kalau saya belikan sop ayam?"


Zayn terdiam sejenak sambil memikirkan tawaran Gladis, "Tidak, kita nanti makan di restoran dekat kantor Anggara group saja."


"Baiklah pak."


Dan benar saja, sebelum pertemuan dengan Sean, Zayn dan Gladis mampir ke sebuah restoran jepang yang menyediakan berbagai menu makanan jepang.


"Ramen nya pedas pak, apa tidak apa apa kalau makan itu? takutnya nanti Bapak malah sakit perut." kata Gladis penuh perhatian.


"Ck, sudah jangan banyak protes, pesankan saja itu." Zayn terlihat malas.


Sambil menunggu pesanan datang, Gladis mencuri curi foto selfi dirinya bersama Zayn. Tadinya Gladis pikir Zayn tak mengetahui namun siapa sangka Zayn mengetahui dan terlihat marah padanya.

__ADS_1


"Jangan berani kamu posting foto saya di sosmed kamu!"


"Ma-maafkan saya pak, saya tidak sengaja ikut memotret bapak." Gladis mencari alasan.


"Saya hanya ingin kamu tahu saja, saya sudah beristri dan sangat mencintai istri saya. jadi mau dengan cara apapun kamu mengoda saya sama sekali tidak tertarik." jelas Zayn yang membuat Gladis menunduk malu karena ketahuan selama ini Ia berusaha mengoda Zayn.


Selesai makan siang, tepat pukul 1 siang mereka sampai dikantor Sean dan ternyata sudah ditunggu oleh Sean. terlihat wajah Sean berubah masam saat bertemu dengan Zayn namun Zayn berusaha mengacuhkan nya karena dia datang untuk membahas masalah pekerjaan bukan lagi mencari masalah dengan Sean.


"Jadi kesepakatan nya fix seperti ini?" tanya Zayn memastikan setelah hampir 1 jam mereka membahas tentang produk mereka.


Sean mengangguk setuju, meskipun sedari tadi Sean dibuat heran dengan sikap Zayn yang profesional, tidak seperti biasanya yang selalu membuatnya kesal.


"Ya mungkin membutuhkan waktu 1 bulan untuk meluncurkan produk barunya." jelas Sean yang langsung diangguki Zayn.


"Jadi sepertinya cukup untuk pertemuan kali ini." kata Zayn langsung mengumpulkan semua berkas dan memberikan pada Gladis.


"Masuk ke mobil duluan." perintah Zayn yang langsung diangguki Gladis.


"Saya akan pergi sekarang." kata Zayn berdiri dan mengulurkan tangan pada Sean membuat Sean menatap Zayn tak percaya.


"Dan saya turut berduka cita atas meninggalnya mertua anda." kata Zayn setelah Sean menjabat tangan Zayn.


Sean nampaknya masih tak percaya dengan perubahan sikap Zayn membuat Sean akhirnya tertawa geli.


"Saya sudah menikah jadi jangan khawatir kalau saya sampai menganggu istri anda lagi." Zayn memamerkan cincin pernikahan yang melingkar dijarinya.


Sean masih menatap ragu ke arah Zayn membuat Zayn lagi lagi tertawa.


"Lagipula alasan saya dulu mendekati Zara karena anda tega mengkhianati Zara."


"Apa maksudmu?" Sean terdengar tak terima.


"Saya pernah melihat Anda ke paris bersama wanita lain."


Sean terkejut,


"Saya bahkan pernah memperlihatkan foto anda bersama wanita itu pada Zara namun respon Zara biasa saja."


Sean mengepalkan tangan nya, "Jika tidak tahu apa masalahnya jangan ikut campur!"


"Itu kesalahan saya, maafkan saya." kata Zayn merasa bersalah membuat Sean lagi lagi tak percaya.


Zayn kembali tersenyum, "Tidak masalah jika Anda masih belum bisa percaya, yang jelas saya jujur tidak lagi menganggu istri Anda jadi sepertinya mulai sekarang kita berteman karena istri kita juga berteman." kata Zayn kembali mengulurkan tangan nya.


"Ck, tidak bisa dipercaya." cibir Sean lalu membalas uluran tangan Zayn membuat Zayn merasa lega.


.BERSAMBUNG...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEEN


__ADS_2