BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
97


__ADS_3

Zayn pulang dari kantor cukup larut, dan dirinya mendapati Anya sudah terlelap diranjangnya. Cukup mengejutkan karena setelah menikah, Anya selalu menunggunya pulang namun tidak untuk malam ini.


Zayn sadar mungkin Anya merasa kesal karena masalah tadi siang saat dirinya membahas masalah Zara.


Memang Zayn akui jika dirinya sempat menyukai Zara dan terobsesi memilikinya namun sebelum Ia menyadari jika ternyata Zayn juga menyukai Anya.


Dan sekarang saat sudah bersama Anya, Zayn bahkan tidak pernah lagi memikirkan Zara.


Dan tadi siang alasan Zayn menceritakan perihal orangtua Zara yang meninggal hanya ingin Anya tahu karena mau bagaimanapun Anya dan Zara berteman namun siapa sangka Anya malah cemburu dan mendiamkan Zayn.


Selesai mandi, Zayn melihat Anya sudah tidak diranjangnya lagi dan tak berapa lama pintu kamar terbuka, Anya datang dengan membawa secangkir teh hangat yang membuat Zayn langsung tersenyum.


"Aku udah angetin makanan nya kalau mas mau makan." kata Anya membuat Zayn mendekat ke arah Anya dan memeluk Anya dari belakang.


"Udah nggak marah?"


"Pakai baju dulu mas.." protes Anya saat Zayn yang hanya mengenakan handuk memeluknya.


Zayn terkekeh, Ia langsung menuruti istrinya segera mengenakan bajunya.


"Aku nggak marah, aku cuma mikir kayaknya kita nggak usah kesana aja mas." ungkap Anya.


"Kenapa? cemburu?"


Anya menatap ke arah Zayn kesal, "Bukan cemburu, aku cuma nggak mau mereka jadi terganggu karena kedatangan kita, mereka nggak suka sama mas."


Zayn terkekeh, "Sepertinya memang kita tidak perlu kesana." Zayn duduk ditepi ranjang dan langsung menarik tangan Anya hingga jatuh ke pangkuan nya.


"Aku juga sudah tidak ingin dianggap menyukai istri orang lagi."


Anya langsung mendongak menatap ke arah suaminya,


"Kenapa menatapku seperti itu? aku memang sudah tidak menyukai Zara." jelas Zayn membuat Anya langsung tersenyum.


Anya merasa tenang dan lega mendengar pengakuan Zayn. Tadinya Ia selalu merasa khawatir namun sekarang semua rasa khawatirnya hilang.


"Jadi apa aku bisa meminta jatah malam ini karena istriku sudah tidak marah lagi?" goda Zayn membuat Anya memukul pelan lengan Zayn dan tertawa.


Dan tak menunggu waktu lama, Zayn langsung membawa tubuh Anya ke ranjang dan menindihnya,

__ADS_1


"Makan dulu mas."


"Makan kamu dulu baru makan nasi." kata Zayn langsung memulai permainan panasnya bersama Anya.


Sementara itu ditempat lain, Zara terlihat duduk dilantai bersandar ranjang sambil memeluk bingkai foto kedua orangtuanya.


Sean memasuki kamar dan melihat keadaan sang istri langsung saja menghampiri Zara dan memeluknya.


"Apa masih ingin disini?" tanya Sean mengingat besok pagi mereka harus berangkat ke kota untuk pulang.


Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Tapi kita harus pulang, mas harus kerja."


Sean tersenyum, "Aku sebenarnya mengizinkan mu tinggal di sini sementara, tapi rasanya aku tidak mau jauh dari kamu sayang."


Zara mengangguk paham, "Aku baik baik saja mas, kita pulang besok." kata Zara yang membuat Sean merasa lega.


Sean mengangkat tubuh Zara dan membawa Zara ke ranjang mini milik Zara. Ranjang yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang namun dipaksa untuk berdua membuat keduanya tidur saling memeluk tubuh satu dengan yang lain nya.


Sean mengecup kening Zara cukup lama, memberi ketenangan pada Zara namun tanpa disadari apa yang baru saja dilakukan Sean membuat Zara melepaskan jilbab yang dipakainya.


Zara juga mulai membuka kancing bajunya,


"Kamu mau ngapain?" heran Sean.


"Aku baik baik saja sayang, jangan memaksa diri seperti ini." kata Sean mengenggam tangan Zara agar berhenti melepaskan kancing bajunya.


"Tapi ak-aku juga ingin mas..." ungkap Zara membuat Sean menatapnya tak percaya karena baru kali ini Zara memintanya lebih dulu.


"Siapa tahu dengan itu bisa sedikit membuatku lupa tentang Ayah dan Ibu." jelas Zara dengan kepala menunduk.


Dan tak butuh waktu lama, Sean segera menindih tubuh Zara, Ia mulai menciumi setiap bagian tubuh Zara, menuntaskan hasrat yang sudah terpendam selama seminggu terakhir. Dan didalam kamar itu kini bukan lagi suara tangisan Zara melainkan ******* penuh kenikmatan yang keluar dari bibir Zara.


Paginya, Sean melihat ada yang berbeda dari istrinya. Pagi ini Sean merasa Zara sedikit lebih ceria dari biasanya.


Zara bahkan sudah kembali membuatkan kopi untuk Sean setelah vakum selama seminggu lebih tidak membuatkan Sean kopi.


"Mau pulang jam berapa mas?" tanya Zara sambil mengulurkan kopi.


"Jam 8 nunggu jemputan Ricky." balas Sean langsung menarik tangan Zara hingga jatuh ke pangkuan nya namun tak berapa lama Zara langsung memberontak melepaskan diri dari pelukan Sean.

__ADS_1


"Nanti kalau mama lihat." kata Zara mengingat Mama Ranti mertuanya masih tinggal dirumahnya bersama nya.


Sean terkekeh, "Nggak apa apa lah, masih ada Papa kalau sampai Mama pengen tinggal minta sama Papa." ungkap Sean membuat Zara melotot tak percaya.


"Kalian lagi bahas apa?" tanya Mama Ranti yang baru keluar kamar dan ikut duduk bersama Zara dan Sean.


"Ini lho Ma, Zara itu takut kalau-"


"Mas!" Zara langsung mencegah ucapan Sean lebih dulu membuat Sean terkekeh sementara Mama Ranti nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Kalian itu pada ngomongin apa?" heran Mama Ranti.


"Nggak lagi bahas apa apa kok Ma." kata Zara menyangkal.


"Jadi pulang hari ini?" tanya Mama Ranti memastikan.


"Jadi Ma, Nunggu jemputan Ricky dulu."


"Ya sudah, Mama juga sudah beresin koper."


"Makasih Mama sudah nemenin Zara selama di sini." kata Zara merasa bersyukur karena Mama mertuanya begitu menyayangginya.


"Nggak perlu bilang makasih, sudah kewajiban Mama menemani Zara karena sekarang Zara kan anak mama juga." kata Ranti membuat Zara tersenyum.


"Pokoknya sekarang, Apapun masalah Zara nggak perlu bingung mau cerita sama siapa, Mama siap nampung dan dengerin." kata Ranti lagi membuat Zara malah berlinang air mata.


"Yah, kok malah nangis?" Sean merangkul tubuh istrinya dan mengusap pipi Zara yang kini sudah basah karena air mata.


"Seneng karena disaat seperti ini masih banyak yang sayang dan peduli sama Zara." ucap Zara.


"Semua sayang Zara, jadi jangan sedih lagi ya nak." Kata Ranti yang kini mengenggam tangan Zara.


"Makasih Ma... makasih Mas..."


"Udah ah jangan nangis lagi, nggak tega aku lihatnya." kata Sean membuat Zara akhirnya tersenyum.


"Nah gini kan cantik istri aku." Sean langsung mencium bibir Zara membuat Zara melotot merasa tak enak dengan Mama Ranti.


"Ck, serasa dunia milik berdua ya sampai lupa Mama disini." cibir Ranti yang akhirnya membuat ketiganya tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2