
Zara merasa ada yang aneh dengan dirinya akhir akhir ini. Ia merasa cepat lelah dan pola makan nya pun bertambah. Biasanya sehari Zara makan 3x namun sekarang bisa 4 sampai 5 kali dengan menu yang berbeda beda membuat berat badan Zara naik drastis.
"Sebenarnya ada apa denganku?" batin Zara selesai menikmati seporsi tahu campur yang dibelikan Mbok Nah.
Zara naik ke kamar, tak sengaja matanya melihat kalender membuatnya mengingat sesuatu.
"Sebentar lagi ulang tahun mas Sean, harus kuberi kado apa?" gumam Zara.
"Tunggu sebentar, aku belum haid bulan ini, bulan kemarin juga haa." Zara membegap mulutnya dan langsung mendekati meja.
Ia mengambil sesuatu dilaci, tespack.
Zara segera ke kamar mandi dan mencoba tespacknya sambil berharap hasilnya positif.
Dan Zara langsung menangis melihat hasil tespacknya.
Begitu juga dengan Sean yang saat ini melihat hasil tespack milik Zara. garis 2 yang artinya positif, ya Zara positif hamil.
Menjadi kado terindah dan tak terlupakan di ulang tahun Sean kali ini.
"Alhamdulilah terimakasih Ya Allah, terimakasih sayang." Sean tak henti hentinya mengucapkan syukur juga mengecup kening Zara berkali kali.
Zara yang mendapatkan perlakuan romantis suaminya itu langsung meneteskan air mata haru,
"Ck, malah nangis."
"Nggak nyangka mas, kamu bisa seseneng ini." kata Zara.
"Iya seneng banget sampai bingung gimana harus ngungkapin nya, seneng banget sayang Allah udah percaya sama kita dan ngasih rezeki anak yang nantinya akan menambah kesakinahan keluarga kita." kata Sean yang semakin membuat haru.
"Baiknya kita siap siap buat periksa." kata Sean hendak bangun dari duduknya namun ditahan oleh Zara.
"Jam berapa ini mas." kekeh Zara melihat jam dinding masih pukul 1 pagi.
"Kita dobrak rumah dokternya kalau nggak mau keluar." kata Sean ikut terkekeh.
"Besok pagi aja mas, sekarang sebaiknya kita sholat tahajud minta kesehatan calon anak kita." kata Zara yang langsung membuat Sean tersenyum dan memeluk istrinya.
"Pinter juga nih punya bini." gumam Sean membuat Zara terkekeh dan memukul dada Sean.
Dan paginya, setelah subuh keduanya sudah bersiap untuk pergi ke klinik terdekat.
"Masih jam segini memang sudah buka praktek mas?" tanya Zara kala mobil yang dikemudikan Ricky berhenti didepan klinik yang masih tutup.
"Kan aku sudah bilang kalau nggak mau buka kita dobrak aja." kata Sean sambil terkekeh.
__ADS_1
"Hish, bercanda terus!"
"Urus dulu Ric!" perintah Sean.
"Baik Tuan."
Ricky turun lebih dulu, berjalan kerumah yang ada disamping klinik. Rumah pribadi dokter pemilik klinik.
"Pagi begini sudah mengangguku!" kesal dokter Lee dokter pemilik klinik kandungan.
"Maafkan saya dokter, tapi ini genting sekali." kata Ricky sambil cengegesan.
Melihat dokter Lee sudah keluar dan memasuki klinik, Sean pun segera mengajak Zara keluar dari mobil.
"Menikah tidak mengundangku sekarang pagi begini sudah merepotkanku." omel Dokter Lee pada Sean.
"Aku takut kau akan menangis atau pingsan saat melihatku menikah." goda Sean membuat Dokter Lee mendengus kesal.
"Ini istrimu? cantik sekali." puji Doktee Lee yang tak lain adalah teman semasa sekolah Sean.
Zara menjabat tangan Dokter Lee dan tersenyum malu melihat dokter Lee begitu mengagguminya.
"Aku tidak menyangka kau bisa putus dengan Sella, sejak awal aku sudah tidak menyukai wanita ular itu tapi kau malah mau menikahinya." kata Dokter Lee membuat Sean merasa tak enak dengan Zara karena kembali membahas tentang Sella.
"Sudah, jangan dibahas lagi. sebaiknya kau segera periksa istriku. ingat hati hati dan jangan sampai salah periksa atau akan ku tutup klinik mu ini."
Sean terkekeh, "Aku hanya bercanda sayang."
Zara kini sudah berbaring di atas ranjang, Dokter Lee pun segera memeriksa perut Zara yang masih rata.
Selesai memeriksa, Zara kini duduk didepan dokter Lee yang sedang menuliskan resep vitamin.
"Apa ada keluhan atau merasa mual?"
"Tidak, sama sekali tidak mual hanya saja sekarang nafsu makan ku bertambah banyak dok." jelas Zara yang memang tak merasakan mual sama sekali membuatnya tak tahu jika sedang hamil.
"Pantas saja baru periksa sekarang padahal usia kandunganmu sudah 5 minggu."
"Haa? bagaimana bisa seperti itu?" Sean terkejut mendengar usia kandungan Zara.
"Tidak semua wanitahamil mendapatkan gejala mual, dan istrimu termasuk wanita beruntung karena memiliki kandungan yang tidak rewel dan terlihat sehat juga. apalagi nafsu makan bertambah itu sangat bagus untuk ibu hamil." Jelas Dokter Lee.
"Jangan lupa konsumsi buah juga sayuran setiap hari." kata Dokter Lee selesai menuliskan resep vitamin untuk ditebus.
Selesai periksa, Sean mengajak Zara pulang namun ditengah jalan, Zara melihat penjual bubur ayam gerobakan.
__ADS_1
"Mas aku mau itu!"
Ricky segera menghentikan mobilnya tepat didepan gerobak bubur ayam itu,
"Kita beli di restoran dekat sini aja sayang kayaknya ada kok bubur ayam, kalau enggak suruh Mbok Nah bikinin." kata Sean yang tidak yakin membeli makanan di pinggir jalan.
"Nggak mau mas, maunya itu." entah mengapa Zara sedikit manja juga rewel pagi ini.
"Ya Allah sayang, lihat aja gerobaknya udah tua gitu, aku takut kalau nggak jaga kebersihan penjualnya."
"Masss... aku mau itu!"
"Tuan, biasanya kalau wanita hamil suka ngidam, dan mungkin saat ini Nona sedang ngidam jadi sebaiknya turuti saja jika tidak nanti anaknya jadi ileran." jelas Ricky yang mendengar perdebatan Sean dan Zara.
"Oke oke, ya udah kita beli itu sekarang!" kata Sean akhirnya menyerah.
"Dari pada anak kita ileran kan." tambah Sean lagi.
Zara tersenyum mengembang, namun saat ingin keluar tangan nya ditahan oleh Sean.
"Tapi biar Ricky aja yang pesen, kita tunggu di sini." kata Sean.
"Tapi mas..."
"Atau nggak jadi beli aja." ancam Sean yang akhirnya membuat Zara mengangguk pasrah.
3 mangkok bubur ayam Ricky bawakan ke mobil, Zara yang sudah ingin sedari tadi langsung menghabiskan semangkok bubur ayam itu.
"Mas nggak makan?" tanya Zara yang mangkoknya sudah habis sementara mangkok Sean masih utuh
"Aku nggak suka bubur."
"Ya udah buat aku lagi aja." Zara langsung meminta mangkok bubur Sean dan kembali menikmatinya.
"Perut kamu sakit nanti sayang kalau makan banyak banyak." khawatir Sean.
"Tapi aku masih laper, ya sudah kalau kamu nggak ikhlas!" Zara ngambek dan mengembalikan mangkok Sean.
"Eh nggak gitu sayang maksudku, ya sudah habisin aja nggak apa apa." kata Sean kembali memberikan mangkok pada Zara.
Zara cemberut namun langsung melanjutkan makan buburnya.
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya heran, "Kenapa bisa gini sih bini gue." batin Sean.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeennn