
Zayn baru saja sampai dirumah bersama Raisa dan Anya, ponselnya berdering membuat Zayn berjalan ke belakang rumah untuk menjawab panggilan dari anak buahnya itu.
"Ada apa?"
"Dia sudah mati bos."
Zayn tersenyum lebar, "Bagus, buang saja mayatnya ditempat biasa."
"Baik bos."
Zayn langsung menutup panggilan, Ia kini benar benar tersenyum puas. Akhirnya orang yang mencelakai Nisya sudah menyusul Nisya. Sudah lama Zayn menginginkan ini semua namun karena dulu Eddy terlanjur dipenjara jadi Ia tidak bisa membunuh Eddy dan siapa sangka takdir menemukan dirinya dengan Eddy lagi.
"Telepon dari siapa mas?" Anya terlihat curiga dengan Zayn yang menerima telepon sampai harus menjauh ke belakang rumah.
"Biasa dari anak anak."
"Ohh, yang masalah Eddy itu? udah resmi jadi tersangka sekarang?" tanya Anya memastikan.
Zayn mengangguk, "Sudah ayo masuk, Raisa pasti menunggu didalam."
Anya mengangguk dan mengikuti suaminya dari belakang.
...
Hari ini Sean sudah bersiap untuk pulang, ditemani Mama Ranti yang sengaja datang untuk mengantar Sean pulang.
Dan sampai dirumah, Sean dikejutkan oleh banyak nya orang yang dikirim sang Papa untuk menjaga rumahnya.
"Apa harus sebanyak itu Mah? 2 saja sudah cukup." protes Sean pada Ranti melihat ada 5 orang yang berjaga dirumahnya.
"Sudah, ikuti saja mau Papa mu dari pada kamu kena omel lagi."
Sean menghela nafas panjang, pintu mobil dibuka oleh salah satu pengawal,
"Selamat datang kembali dirumah Tuan, kami orang yang dikirim Tuan Anggara untuk menjaga rumah ini."
Sean mengangguk, "Ya aku sudah tahu."
Sean berjalan memasuki rumah dibantu salah satu pengawalnya, Ranti dan Zara menyusul berjalan dibelakang Sean.
"Mbok kok udah kerja, memang sudah sembuh?" tanya Zara saat melihat mbok Nah sedang membersihkan ruang tamu.
"Alhamdulilah sudah Non."
"Yakin sudah? kalau memang masih sakit istirahat dulu saja Mbok, nggak perlu mikirin kerjaan."
Mbok Nah menggelengkan kepalanya, "Tenang saja Non, sudah aman sekarang."
"Bener kata Zara, mbok Nah harusnya istirahat dulu." Ranti pun ikut mengomentari.
__ADS_1
"Sudah nyonya, saya benar benar sudah sembuh."
Mbok Nah merasa senang karena para majikan nya begitu perhatian dan juga peduli padanya.
Malam harinya, Anggara datang kerumah Sean untuk menjemput Ranti yang masih berada disana.
"Mereka itu para pengawal Papa yang terbaik, Papa yakin kalian pasti aman dengan mereka." ungkap Anggara saat sedang makan malam bersama.
"Terimakasih banyak Pa... sudah memikirkan keamanaan kami." kata Zara yang merasa bersyukur karena perhatian Papa mertuanya itu berbeda dengan Sean yang nampak biasa saja. Sean ingin protes karena merasa pengawal yang dikirimkan sang Papa terlalu banyak namun melihat pelototan mata sang mama, Sean mengurungkan niatnya untuk protes.
"Sudah jangan pikirkan lagi, sekarang yang paling penting pikirkan kesehatanmu juga calon anakmu." kata Anggara pada Zara.
"Bener banget sayang, orang hamil nggak boleh banyak pikiran lho ya." Ranti ikut menambahi.
"Iya Ma, Pa... Zara udah bahagia banget punya Papa Mama yang sayang sama Zara juga Mas Sean yang sayang sama Zara jadi nggak akan banyak pikiran juga."
Sean yang terharu dengan ucapan sang istri langsung memeluk istrinya didepan orangtuanya.
Anggara dan Ranti pun ikut senang melihat kebahagiaan Sean dan Zara.
....
Beberapa bulan berlalu, perut Zara semakin membesar beserta tubuhnya yang ikut membesar karena selama hamil nafsu makan Zara meningkat membuat berat badannya pun naik drastis.
Sore ini selesai mandi, Zara melihat dirinya didepan cermin, mengenakan daster rumahan membuat dirinya terlihat sangat gemuk. bahkan pipi nya yang dulu tirus kini menjadi chubby, rambutnya yang indah dan lebat pun menjadi lepek dan tipis karena sering rontok.
"Tidak enak dipandang, aku takut mas Sean jadi berpaling jika semakin buruk keadaanku." gumam Zara lagi dengan raut wajah sedih.
Seperti biasa setelah mandi dan sholat ashar, Zara menyiapkan makan malam untuk suaminya, meskipun sebentar lagi akan melahirkan namun Zara masih tetap memasak untuk suaminya.
Sudah pukul 8 malam, Zara baru saja selesai sholat Isya dan mengaji namun suaminya itu belum juga pulang padahal perut Zara sudah sangat lapar ingin segera makan namun Ia ingin makan bersama suaminya.
"Dari kemarin mas Sean pulang malam terus." batin Zara yang saat ini berdiri didepan jendela sambil melihat luar melalui gorden.
Hingga pukul 9 malam barulah Zara mendengar suara mobil suaminya. Zara yang tadinya sedang berada diruang keluarga menonton televisi pun segera bergegas keluar untuk membuka kan pintu.
"Mas... baru pulang." Zara mengambil tangan suaminya lalu menciumnya, sudah menjadi kebiasaan setiap harinya mencium punggung tangan suaminya setiap akan berangkat kerja dan pulang kerja.
"Maaf tadi ada pertemuan mendadak dengan klien jadi tidak sempat mengabarimu."
"Mas sudah makan?"
"Sudah, kamu juga sudah kan?" tanya Sean yang membuat Zara terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Aku ingin mandi dan langsung tidur, rasanya lelah sekali hari ini." kata Sean langsung berjalan menuju kamarnya untuk mandi.
"Padahal aku nungguin kamu makan malam mas." gumam Zara.
Zara menyiapkan baju piyama untuk suaminya, tak lupa menbuatkan teh hangat madu.
__ADS_1
"Diminum dulu mas." Zara mengingatkan kala Sean bergegas tidur tanpa menyentuh cangkir teh yang ada dimeja.
"Oh iya." Sean segera meneguk isi teh hingga habis sebelum akhirnya Ia berbaring diranjang untuk memejamkan mata.
Melihat suaminya segera tidur, Zara keluar sebentar untuk makan malam sendiri karena perutnya tak tahan jika tidak makan. apalagi terakhir Ia makan siang tadi saat makan siang.
Zara kembali memasuki kamar usai makan malam, Ia lihat Sean belum tidur masih asyik bermain dengan ponselnya, entah siapa yang Sean hubungi, Zara ingin tahu tapi tak berani mengungkapkan.
"Dari mana?" tanya Sean tanpa menatap Zara masih asyik dengan ponselnya.
"Dari bawah."
"Ngapain?"
"Beres beres aja mas." balas Zara takut ketahuan berbohong jika dirinya belum makan malam.
"Istirahat sayang."
Sean menepuk nepuk ranjang disampingnya,
Zara berbaring mendekat suaminya, sengaja memang Zara mengoda suaminya agar tahu respon suaminya namun ternyata Sean masih saja acuh dan hanya fokus pada ponselnya.
"Mas ngerasa nggak sih ada yang beda dari mas."
Sean menatap istrinya heran,
"Beda gimana sayang?"
"Apa sekarang aku lagi hamil, tambah gemuk tambah jelek sudah tidak mengairahkan lagi?"
Sean terkejut dan segera meletakan ponselnya,
"Kamu ngomong apa sih sayang?"
"Mas akhir akhir ini sering pulang malem, cuek sama aku dan nggak pernah lagi minta, apa karena mas udah nggak sayang lagi sama aku? udah ada yang lain?" tuduh Zara.
"Astagfirullah sayang..." Sean langsung memeluk tubuh istrinya.
"Nggak gitu, sama sekali nggak ada niat untuk cuek apalagi sampai cari yang lain. nggak ada sayang... karena akhir akhir ini memang banyak kerjaan jadi aku lelah."
"Kalau masalah aku nggak pernah nyentuh kamu itu bukan karena aku bosan dengan badan kamu tapi karena Zayn bilang jika istrinya sedang hamil besar tidak boleh disentuh sampai melahirkan, aku hanya menuruti saran dari orang yang sudah berpegalaman saja."
"Jadi karena itu? tapi apa tidak berlebihan mas, dokter bilang kan tidak masalah berhubungan bahkan saat hamil besar."
Sean terkejut, "Sialan! jadi Zayn menipuku?"
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komeennn
__ADS_1