
Zayn nampak menghisap rokoknya dalam dalam lalu Ia keluarkan. matanya menerawang jauh menatap langit malam yang penuh bintang. Setelah mengusir Tisa kini Zayn dibuat pening karena harus mencari Nani pengganti untuk Raisa.
Zayn seolah menjadi takut untuk mencari Nani, takut jika hal seperti ini terjadi. semua salah nya memang salahnya, seharusnya Ia tak tergoda dengan Tisa waktu itu, namun mau bagaimana lagi, dirinya pria normal yang kesepian jadi melihat Tisa yang selalu berpakaian seksi didepan nya membuatnya langsung khilaf.
Dan siapa sangka karena kekhilafan nya itu kini Raisa menjadi korban.
"Brengsek!" Zayn kembali mengeram kesal lalu membuang rokoknya disembarang tempat.
Zayn mengacak rambutnya frustasi hingga akhirnya Ia ingat ada seseorang yang tepat untuk menjadi Nani Tisa.
Zayn langsung tersenyum.
Paginya, Anya yang baru saja meletakan tasnya dimeja kerja sudah dihampiri rekan kerjanya.
"Dipanggil ama Bos noh."
Anya mengangguk, Tidak terkejut lagi memang Anya sering dipanggil padahal Ia baru saja datang dan belum membuka laporan apapun.
Anya tahu pasti bukan masalah kantor namun masalah pribadi, entahlah apa mungkin bosnya Ingin mengajak bercinta karena sudah beberapa hari mereka tidak bercinta padahal biasanya Zayn akan meminta setiap hari.
Dengan langkah malas, Anya berjalan menuju ruangan Zayn. Ia membuka pintu dan melihat Zayn duduk dan langsung menatap ke arahnya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Anya menggunakan embel embel bapak karena sekarang mereka sedang dikantor.
Zayn mengangguk membuat Anya berjalan lebih dekat lagi hingga berada didepan Zayn.
"Kamu dipecat!" kata Zayn yang sontak saja membuat Anya terkejut setengah mati bahkan tubuh Anya mendadak lemas setelah mendengar ucapan Zayn.
"Ta-tapi pak... apa salah saya?" tanya Anya yang mencoba mengingat ingat apa kesalahan dirinya hingga membuat dipecat seperti ini.
"Dengarkan dulu, kamu dipecat sebagai sekretarisnya dan diterima menjadi Nani nya Raisa."
Anya langsung saja melonggo dibuatnya, menjadi Nani? yang benar saja, Ia mendapatkan beasiswa kuliah S1 hanya untuk menjadi Nani?
"Kamu tidak boleh menolak, harus mau! saya akan gaji kamu 2x lipat dari sini." kata Zayn memaksa.
"2x lipat Anya, 2x lipat." Zayn kembali menegaskan besarnya gaji yang akan diterima Anya membuat Anya akhirnya mengangguk setuju.
2x lipat dari gajinya bukan uang sedikit bisa dibilang itu sangat banyak. cukup untuk biaya rumah sakit jiwa ibunya hingga 3bulan ke depan dan itu saja Anya masih mempunyai sisa untuk dirinya.
Sepertinya bukan ide yang buruk, batin Anya.
"Baiklah pak jika memang seperti itu." kata Anya akhirnya menyetujui.
__ADS_1
Zayn tersenyum penuh kemenangan, awalnya Ia tahu pasti Anya akan menolak namun karena gaji yang akan Ia berikan 2x lipat lebih besar tentu saja tidak akan ada yang menolak dengan nominal uang sebesar itu.
"Kita berangkat sekarang."
"Ke-kemana pak?"
"Tentu saja ke sekolahan Raisa, kau harus menemaninya kemanapun dia pergi." jelas Zayn.
"Baik pak."
Zayn yang baru selangkah berjalan, mendengar jawaban Anya langsung menghentikan langkahnya, "Dan jangan lagi memanggilku pak, aku ini masih terlihat muda meskipun sudah punya anak."
"Lalu saya harus memanggil apa?" Anya kini terlihat bingung.
"Ekhem, panggil saja Mas." kata Zayn langsung berjalan keluar meninggalkan Anya lebih dulu.
Anya tersenyum geli mendengar ucapan Zayn dan langsung mengikuti langkah kaki Zayn.
Awalnya Anya pikir Zayn akan mengajaknya ke sekolahan Raisa namun mobil Zayn berhenti disebuah agen pencari asisten rumah tangga.
"Ba-bapak mau menjual saya disini?" tanya Anya menatap Zayn dengan tatapan tak percaya.
"Ck, ya aku memang akan menjualmu di sini jika kau masih memanggilku Bapak!" tegas Zayn dan langsung Anya menutup bibirnya.
"Aku ingin mencari asisten rumah tangga yang baru karena yang lama pulang kampung dan malah mengundurkan diri. jadi bantu aku mencari asisten rumah tangga dulu." jelas Zayn yang langsung diangguki Anya.
Keduanya turun dari mobil dan langsung memasuki agen, disana mereka berdua disambut ramah oleh pengurus agen.
"Selamat siang Bapak Ibu, ada yang bisa kami bantu?"
"Ya saya datang untuk mencari asisten rumah tangga,"
"Wah pengantin baru ya? pasti sama sama berkarir jadi mencari pembantu." kata pengurus itu yang membuat mata Anya membulat tak percaya.
"Bu-bukan, kami bukan pasangan suami istri." jelas Anya meluruskan.
Namun siapa sangka Zayn malah merangkulnya dan berkata, "Maafkan, istri saya memang masih suka malu malu untuk mengakui." jelas Zayn santai membuat pengurus itu tersenyum geli sementara Anya menatap ke arah Zayn tak percaya.
Zayn dan Anya kini tengah memilah siapa yang akan menjadi asisten rumah tangga, awalnya pilihan Anya tertuju pada mereka yang masih muda namun Zayn menolak dan akhirnya mereka mendapatkan asisten rumah tangga yang sudah berumur.
"Aku tidak suka dengan yang muda karena biasanya mereka sedikit malas dan akan mencuri curi waktu bermain dengan ponselnya berbeda dengan yang sudah emak emak, lebih bertanggung jawab dan pasti masakan nya juga lebih enak." jelas Zayn yang membuat Anya tersenyum geli.
Selesai mencari asisten rumah tangga, Zayn membawa asisten rumah tangga barunya ke rumah dan disana Zayn juga langsung memberikan arahan pada Mbok Jah, nama pembantu barunya itu.
__ADS_1
"Baik Tuan saya mengerti, saya mulai bekerja sekarang." kata Mbok Jah.
"Tidak, untuk hari ini istirahatlah dulu. mulai bekerja besok pagi." jelas Zayn yang langsung diangguki Mbok Jah.
Zayn kembali di mobil, dimana Anya menunggu dimobilnya.
Zayn yang juga sudah memecat sopirnya membuatnya harus mengendarai mobilnya sendiri.
"Kita ke sekolahan Raisa." kata Zayn.
Anya nampak diam, Ia memandang ke arah luar kaca mobil, pikiran nya melayang.
"Ada apa?" tanya Zayn merasa aneh dengan sikap Anya.
Anya menggeleng pelan, "Hanya saja sebaiknya jamgan katakan kita ini suami istri pada orang yang baru bertemu padahal kita bukan suami istri." pinta Anya membuat Zayn tersenyum.
"Jadi apa kita harus menjadi suami istri dulu?"
"Uhuk.. uhuk... Anya langsung tersedak mendengar ucapan Zayn.
"Bu-bukan pak eh mas, bukan seperti itu maksudnya." Anya terlihat panik.
"Aku tidak masalah jika kamu meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah ku lakukan." kata Zayn yang lagi lagi membuat Anya kembali tersedak.
"Saya tidak hamil, mana mungkin saya minta pertanggung jawaban."
"Jadi apa saya harus menghamili kamu dulu?" Anya langsung menatap ke arah Zayn tak percaya.
Apa maksudnya?
Sesampainya disekolahan Raisa, Zayn menjemput Raisa untuk pulang lebih dulu.
"Horee... jadi tante baik ini yang akan menjadi Nani nya Raisa?".
"Iya, kamu jangan nakal dan jangan bikin tante susah ya."
"Siap Pah, nggak nakal kok."
Anya tersenyum melihat Raisa kini begitu menyukainya. Menjadi Nani sepertinya bukan hal yang buruk, apalagi Ia juga sangat menyukai anak kecil.
Welcome di dunia barumu Anya, batin Anya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn