BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
145


__ADS_3

Setelah mengantar Raisa ke sekolah, Zayn segera pergi ke markas nya untuk melihat keadaan Eddy.


"Masih hidup boss!"


Zayn menatap ke arah Eddy yang masih terikat, Eddy nampak menunduk, entah pingsan atau tidur karena mata Eddy terpejam.


"Biarkan saja seperti itu sampai mati."


"Baik boss."


Setelah puas melihat keadaan Eddy yang mengenaskan, Zayn segera kembali pulang kerumah. Hari ini Zayn libur dan Zayn berencana mengajak Anya menjenguk Sean.


"Kenapa nggak bilang dari tadi mas? tau gitu aku siap siap dulu."


Zayn tersenyum, kini Ia sudah terbiasa mendengarkan omelan Anya, "Nggak usah buru buru, santai saja."


"Nanti nggak keburu sama jam besuk nya malah nggak jadi besuk."


Zayn hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa, Anya terlalu mengkhawatirkan hal sepele seperti itu, seolah Anya meremehkan kuasa Zayn yang bisa membeli apapun dengan uang.


"Sudah, ayo berangkat sekarang!" ajak Anya setelah Zayn menunggu hampir 30 menit.


Sesampainya dirumah sakit, Zayn dan Anya disambut hangat oleh Zara. Bahkan Zara langsung mengajak Anya keluar untuk mencari makanan juga berbincang melepas rindu.


"Kemarin Imah juga kesini menemaniku seharian." ungkap Zara saat keduanya tengah berjalan menuju kantin.


"Seharusnya aku datang kemarin pasti akan lebih seru."


"Sekarang pun tidak masalah, terimakasih sudah datang."


Anya mengangguk, "Aku lega kamu baik baik saja."


"Berkat suamimu datang tepat waktu malam itu jadi Mas Sean dan aku selamat dari pria itu."


Zara benar benar merasa telah berhutang budi pada Zayn yang telah menyelamatkan nya, meskipun di masa lalu hubungan mereka kurang baik namun sekarang justru hubungan mereka semakin erat menjalin persahabatan.


"Dia pria yang sudah memperkosa Mantan istri mas Zayn hingga akhirnya bunuh diri."


Zara terkejut dengan pengakuan Anya, "Benarkah? aku benar benar tak menyangka Eddy bisa sejahat itu."


"Karena mungkin kamu mirip dengan mantan istri Mas Zayn jadi dia menyukaimu. bahkan mas Zayn dulu juga pernah menyukaimu kan?"


Zara terdiam, Ia merasa sedikit tak nyaman dengan ucapan Anya yang seolah masih saja cemburu dengan masa lalu.


"Maaf, maaf bukan maksudku membuatmu tak nyaman."


Zara tersenyum, "Sudah lupakan saja. semua sudah berlalu, kita berharap yang baik baik saja."


Anya ikut tersenyum, "Ya tentu saja, aku setuju denganmu."


Keduanya berjalan menuju kantin sambil terus berbincang sementara diruangan dimana hanya ada Sean dan Zayn saja karena mbok Nah sudah dibawa pulang. Keduanya sama sama diam, sibuk dengan pikiran nya masing masing.

__ADS_1


Cukup lama keduanya diam hingga akhirnya Sean mengajak Zayn berbicara lebih dulu,


"Jadi bagaimana dengan Eddy? apa dia bisa dipenjara?"


Zayn tersenyum, "Tak perlu membuatnya dipenjara."


Sean tentu saja terkejut, "Kau gila! dia pria berbahaya."


"Dia tidak perlu masuk penjara, yang kita lakukan hanya membunuhnya agar dia tidak membahayakan para wanita lagi."


Sean menatap Zayn tak percaya, "Kau benar benar gila."


Zayn terkekeh, "Ya aku memang segila itu."


Keduanya kembali diam sejenak,


"Apa kau benar benar membunuhnya?" Sean masih saja tak percaya.


"Tentu saja, untuk apa aku membohongimu?"


"Ta-tapi kenapa? ini masalahku dan Zara jadi tak seharusnya kamu sampai membunuhnya seperti itu."


Zayn menghembuskan nafas panjang, "Karena tidak hanya denganmu dia membuat masalah, tapi juga dengan ku di masa lalu."


Sean kembali menatap Zayn heran, Ia benar benar bingung dengan apa yang dimaksud Zayn.


Melihat raut wajah Sean yang bingung, Zayn akhirnya menceritakan semua pada Sean membuat Sean akhirnya mengerti, keputusan Zayn membunuh Eddy adalah keputusan yang tepat karena membuat Eddy dipenjara pun akan percuma jika pada akhirnya Ia bisa bebas lagi dan melakukan kejahatan lagi.


"Jadi bagaimana? sekarang kau setuju jika aku membunuhnya?"


"Ya, si brengsek itu memang pantas mati."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Anya dan Zara bersamaan saat keduanya sudah masuk keruangan Sean.


"Tidak ada, hanya masalah para pria." balas Sean dengan wajah pucat takut jika Zara mendengar semuanya.


Zayn yang melihat wajah pucat Sean langsung saja tertawa, Ia tak menyangka dibalik sifat Sean yang menyebalkan dia pria yang takut pada istrinya.


"Kami membelikan makanan untuk kalian, sebaiknya kita makan bersama." kata Zara mengeluarkan 4 kotak steoform berisi nasi uduk untuk mereka berempat.


"Aku kan masih belum bisa makan sendiri sayang." keluh Sean dengan suara manja.


"Bukankah yang sakit perutmu bukan tanganmu?" protes Zayn merasa kesal dengan sifat manja Sean.


"Memang yang sakit perutku dan rasa sakitnya sampai ke tangan membuatku merasakan sakit jika menggerakan tangan."


"Huh alasanmu saja."


"Sudah sudah, apa mas juga mau disuapi?" tawar Anya yang akhirnya langsung diangguki Zayn.


"Kau tidak sakit, kenapa pula minta disuapi?" kini giliran Sean yang protes.

__ADS_1


"Istriku menawari, tidak enak jika ditolak."


"Dasar manja!"


"Sudah, sama sama manja jangan saling mengejek." suara Zara terdengar membuat keduanya akhirnya diam.


Selesai makan, mereka kembali melanjutkan obrolan sambil sesekali masih bertengkar hingga tak terasa waktu sudah siang dan Zayn pamit pulang karena harus menjemput Raisa.


"Nanti kalau sudah dirumah kabari aku, pasti akan datang kerumah."


"Baiklah, aku tunggu." Zara memeluk Anya sebelum keduanya berpisah.


"Apa kita juga harus berpelukan seperti itu sebelum berpisah?" tanya Zayn pada Sean saat keduanya menatap tingkah para istri mereka.


"Aku tidak mau, aku masih normal!"


"Kau pikir aku tidak normal?" Zayn tak terima.


"Lihatlah mereka bertengkar lagi." Zara dan Anya benar benar jengah melihat tingkah kekanakan suami mereka.


"Kenapa mendadak Terasa sepi." gumam Sean setelah Zayn dan istrinya pulang.


"Ck, kalau lagi bareng aja ribut terus, udah nggak ada dicariin."


Sean terkekeh mendengar cibiran istrinya, "La gimana dong, ngeliat dia bikin kesel aja."


"Ck, jangan gitu mas, biar bagaimanapun dia yang sudah membantu kita dalam bahaya. bayangin aja kalau nggak ada mas Zayn, nggak tahu lagi gimana nasib kita kemarin."


"Iya iya tapi manggilnya Zayn aja nggak usah pake mas gitu!"


"Ck, nggak sopan lah mas."


"Alah bilang aja naksir."


"Astagfirullah mas!"


Pintu terbuka membuat keduanya terkejut dan ternyata dokter yang memasuki ruangan,


"Di check dulu ya."


Zara berjalan mundur agar dokter itu lebih leluasa memeriksa Sean.


"Sepertinya sudah bisa pulang besok," kata Dokter itu selesai mengecek keadaan Zayn.


"Kenapa buru buru dok, masih betah padahal." canda Sean.


"Mas, kamu tu nggak usah aneh aneh deh. harusnya seneng kalau sudah boleh pulang." protes Zara.


"Ck, ya gimana nggak betah. disini bisa ditemenin sama kamu full 24 jam dan apa apa dilayani."


Zara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya,

__ADS_1


"Dasar bucin." celetuk dokter membuat Zara tertawa.


BERSAMBUNG...


__ADS_2