
Dengan tangan gemetar, Zara segera mengunci pintu kamarnya, takut benar benar takut jika Eddy sampai naik ke atas dan mendobrak pintu kamarnya.
Zara segera mencari ponselnya untuk menghubungi polisi namun sayangnya ponsel Zara terjatuh di tangga saat Ia berlari naik ke atas.
"Ya Allah, bagaimana ini."
Zara duduk dilantai, memeluk kakinya dan mulai menangis. Ia melihat dengan jelas bagaimana Eddy pria kekar itu menghajar suaminya dan Zara melihat pria itu bahkan mengijak perut suaminya.
"Mas Sean,... aku harus bagaimana?"
Zara kembali menangis sebelum akhirnya Ia mendengar keributan dibawah yang membuat tangisnya sedikit mereda.
"Apa ada seseorang diluar, kenapa ramai sekali." Zara bangkit dan berjalan mendekati pintu. Ia bahkan sampai menempelkan telinga nya agar bisa mendengar suara apa itu.
"Apa ada seseorang yang menolong? semoga saja iya." gumam Zara lagi penuh harap, Ia benar benar takut dan khawatir dengan keadaan Sean.
Zara berjalan menuju meja, Ia masih berusaha mencari sesuatu yang bisa Ia gunakan untuk menghubungi seseorang. Namun sayang nya Zara bahkan tidak menemukan ponsel Sean maupun laptop milik Sean.
Tok ... tok... tokk..
Pintu kamar diketuk membuat Zara terkejut dan jantungnya langsung berdegup kencang, tangan nya bahkan kembali bergetar.
"Dia berhasil naik."
Zara mulai panik, Ia bahkan mendorong sofa yang cukup berat untuk melindungi pintu agar tak bisa didobrak oleh Eddy.
Dan mendengar suara seseorang yang berada diluar membuat Zara menghentikan dorongan nya.
"Ini aku... buka pintunya."
Suara itu terdengar tak asing untuk Zara hingga akhirnya Zara memberanikan diri untuk memegang gangang pintu.
"Tidak usah takut, buka pintunya." suara itu kembali terdengar membuat Zara yakin untuk membuka pintu karena itu bukan suara Eddy.
Zara langsung merasakan lega kala melihat memang bukan Eddy namun Zayn, ya Zayn yang kini tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kamu... kamu datang untuk-"
"Ya aku datang sebagai ultraman malam ini, untuk menyelamatkan kalian.''
Antara terkejut, lega, juga geli campur menjadi satu mendengar celetukan Zayn.
"Berhenti bercanda, ayo kerumah sakit sekarang." ajak Zayn yang langsung diangguki oleh Zara.
Zara turun ke bawah mengikuti Zayn, Ia sempat terkejut melihat Eddy sudah babak belur dan kini tengah berada diantara pria kekar yang tak dikenali oleh Zara.
"Amankan dia dulu." perintah Zayn pada para pria kekar itu membuat Zara paham jika ketiga pria kekar itu adalah anak buah Zayn.
Zara memasuki mobil dimana sudah ada Sean di kursi belakang tengah kesakitan memegang perutnya sementara Mbok Nah berada dikursi depan dan sepertinya tengah pingsan.
"Kenapa bisa seperti ini mas." Zara seketika menangis melihat kondisi suaminya yang tengah kesakitan.
__ADS_1
"Kamu nggak di apa apain sama dia kan?"
Zara menggelengkan kepalanya, Ia tak lagi bisa menahan air matanya untuk tidak menangis, apalagi disaat seperti ini suaminya itu masih saja memikirkan keselamatan nya, membuat Zara merasa terlindungi.
"Mas itu yang kenapa napa."
"Ck, aku baik baik saja sayang, tenang saja."
"Definisi baik baik saja tapi perutnya dipegang terus ditambah bibirnya dimonyongin." celetuk Zayn sambil menyetir mobil.
"Sialan! bisa bisanya kau bercanda disaat seperti ini!"
Zayn terkekeh, "Bibirku rasanya gatal jika tidak mengajakmu bercanda.''
Sean hanya mendegus sebal, Ia merasa harus mengalah saat ini karena Zayn telah menyelamatkan dirinya juga Zara.
Sesampainya dirumah sakit, Zayn langsung memanggil para perawat untuk membantu Mbok Nah dan Sean memasuki UGD.
Kini Zara dan Zayn menunggu diluar ruang UGD, keduanya nampak kompak masih mengenakan piyama tidur.
"Terimakasih banyak, jika bukan karena kamu mungkin aku dan mas Sean tak akan selamat." kata Zara membuka obrolan dengan Zayn.
Zayn mengangguk paham, "Aku tidak butuh terimakasihmu."
Zara mengerutkan keningnya heran,
"Aku ingin kau menjadi kekasihku."
"Aku hanya bercanda, tak perlu melotot seperti itu."
"Ck, bisa bisanya... dasar menyebalkan." gerutu Zara yang sebenarnya merasa lega karena Zayn hanya bercanda.
"Aku mencintai istriku, mana mungkin aku mengkhianatinya." ungkap Zayn membuat Zara tersenyum.
"Ngomong ngomong bagaimana kamu tahu jika kami diserang?" tanya Zara penasaran melihat Zayn mendadak datang kerumahnya dan langsung menolong mereka tepat pada waktunya.
"Aku memiliki indra keenam yang bisa melihat marabahaya apapun."
"Benarkah?" Zara terlihat tak percaya.
"Tentu saja. kau pasti tidak mempercayaiku."
Zara tersenyum dan mengangguk ,
"Hey aku mengatakan yang sebenarnya, aku memang memiliki indra ke enam."
"Keluarga pasien." suara dokter menganggu percakapan Zayn dan Zara.
Zara langsung saja berlari mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaan suami dan asisten rumah tangga saya dok?"
__ADS_1
"Pasien wanita mengalami benturan keras dikepala belakang membuatnya pingsan dan mungkin akan sadar setelah beberapa jam. Tidak sampai gagar otak namun ada luka yang sudah dijahit.
Dan pasien pria, luka memar di perut cukup parah dan harus bedrest selama beberapa hari."
Zara langsung saja menangis mendengar ucapan dokter,
"Sudah jangan menangis, mereka berdua masih selamat." Zayn mencoba menghibur Zara.
Zayn dan Zara akhirnya memasuki ruang UGD, disana ada dua ranjang yang dipakai Mbok Nah dan Sean.
Mbok Nah masih pingsan sementara Sean berbaring sambil sesekali meringis merasakan sakit.
"Jangan menangis, aku baik baik saja." kata Sean yang tak tega melihat istrinya menangis.
"Dokter bilang luka mas cukup parah, bagaimana bisa mas menyebutnya baik baik saja."
Sean tersenyum, "Aku memang sudah lebih baik, sudah jangan khawatirkan aku. pikirkan saja calon anak kita sayang."
Zara tak lagi menjawab, namun Ia masih tetap menangis.
Zayn yang melihat keadaan cukup dramatis akhirnya memilih kekuar sebentar sebelum akhirnya masuk lagi.
"Kau dan asisten mu akan segera dipindahkan keruang rawat." kata Zayn yang langsung diangguki Zara juga Sean.
Tak berapa lama para perawat pria datang untuk membantu Sean pindah kamar.
Zayn segaja menjadikan kamar Sean juga asisten nya menjadi satu ruangan agar Zara lebih mudah merawat keduanya.
"Apanya yang sakit mbok? mau Zara ambilin apa bilang aja." kata Zara usai Mbok Nah sadar.
"Tidak Non, saya bisa sendiri lagipula saya sudah baik baik saja."
"Ya Allah mbok, kepalanya sampai dijahit mana mungkin baik baik saja."
Mbok Nah hanya tersenyum, Ia benar benar tak ingin merepotkan majikan nya.
"Aku sudah menghubungi asisten mu, dan mungkin sebentar lagi datang. aku harus pulang karena takut istriku kebingungan mencariku." kata Zayn pada Sean.
Sean hanya mengangguk lemah,
"Terimakasih banyak sudah menolong kami." kata Zara.
Zayn tersenyum, "Tidak masalah."
Baru selangkah berbalik, Suara Sean menghentikan langkah Zayn,
"Terimakasih sudah menolong keluargaku."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komeennn
__ADS_1