
Sudah 3 hari lamany sejak kepergian orangtuanya dan sejak saat itu Zara masih saja dilanda kesedihan yang mendalam. Padahal Zara sudah mencoba ikhlas namun tetap saja dihatinya tidak rela orangtuanya pergi secepat itu.
Setelah usai acara pengajian dan semua tamu juga sudah pulang, Sean menutup semua pintu rumah Zara.
Saat ini dirumah itu hanya ada Sean, Zara juga Ranti yang masih setia menemani Zara dirumahnya.
"Zara sudah masuk kamar." kata Ranti saat Sean celinggukan mencari keberadaan istrinya itu.
Sean mengangguk, "Mama tidur, istirahat." kata Sean saat melihat Ranti masih duduk disofa ruang tamu.
"Mama masih belum tidur, kepikiran sama Zara yang masih sedih."
Sean menghela nafas panjang, Ia mengerti Zara masih sangat kehilangan orangtuanya namun Sean juga takut jika Zara terus terusan terpuruk akan membuatnya jatuh sakit.
"Sean juga sedih Ma..."
"Sekarang yang Zara punya hanya kita, keluarga Zara hanya kita. jadi Mama mohon sama kamu, jangan sekali kali nyakitin Zara."
Sean kembali menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin Sean melakukan itu Ma, bahkan sekarang saja Sean sangat mencintai Zara." ungkap Sean yang membuat Ranti tersenyum.
"Udah bucin sekarang?" goda Ranti membuat Sean tersenyum.
"Udah, susul istrimu dikamar saja." kata Ranti yang langsung diangguki Sean.
"Mama juga langsung istirahat." kata Sean sebelum memasuki kamar.
Sean membuka kamar dan melihat Zara sudah meringkuk diatas ranjang tanpa selimut.
Segera Sean mendekati ranjang dan ikut berbaring disamping istrinya.
"Mas..." Zara terkejut kala Sean tiba tiba mendekapnya dari belakang.
"Iya sayang,"
Zara berbalik hingga kini menghadap ke arah Sean, terlihat mata Zara masih saja sembab sepertinya baru saja Zara menangis lagi.
Sean mengelus pipi Zara, Lalu mengecup kening Zara cukup lama.
"Mas kan harus kerja, jadi mas pulang ke kota duluan nggak apa apa, ak-aku masih ingin di sini sampai 7harinya Ayah Ibu." ungkap Zara lalu menundukan kepalanya.
Sean tersenyum, "Aku temani."
Zara menatap Sean terkejut, "Tapi mas... bukan nya mas harus bekerja?"
"Aku sudah meminta Ricky untuk mengambilkan laptopku, dan aku bisa bekerja dari sini." jelas Sean yang langsung membuat Zara lega karena Sean masih menemaninya. Pasalnya Zara saat ingin memang masih butuh Sean disampingnya.
Disaat Zara yang mendadak dilanda kesedihan, Sean mampu membuatnya tenang.
__ADS_1
"Aku bikinin susu coklat hangat mau?" tawar Sean.
"Memangnya bisa?"
"Ck, jangan meremehkan suamimu ini, bahkan dijamin susu coklat buatanku akan membuatmu ketagihan."
Zara tersenyum dan mengangguk.
Tak berapa lama setelah Sean keluar kini Sean memasuki kamar sambil membawa susu coklat hangat.
Zara sebenarnya tak ingin menelan apapun namun karena Sean sudah berbaik hati membuatkan akhirnya Ia minum juga sampai habis.
"Enak?"
"Iya enak," balas Zara sambil tersenyum.
"Kalau gitu tiap hari aku buatin buat istriku tercinta."
"Ng-nggak perlu setiap hari mas." cegah Zara merasa tak enak karena seharusnya Ia yang melayani suaminya namun sejak 3hari berlalu ini malah suaminya yang melayani dirinya.
"Kenapa? katanya enak." heran Sean.
"Nggak apa apa, seharusnya aku yang melayani mas kenapa malah jadi berbalik."
Sean tersenyum lalu merangkul bahu istrinya, "Memang harus seperti itu? bukannya suami istri itu seharusnya saling melengkapi?"
Zara menatap ke arah Sean cukup lama membuat Sean kembali heran,
"Ada apa?"
"Apa mas tidak ingin?" tanya Zara merasa Sean sudah libur 3 hari padahal biasanya mereka melakukan setiap hari, libur hanya saja Zara sedang datang bulan.
Sean menggeleng pelan, "Mana mungkin aku memikirkan hal seperti itu disaat seperti ini, disaat kamu masih berduka. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat kamu membaik, bisa tersenyum manis lagi setiap hari." ungkap Sean membuat Zara merasa sangat diperhatikan.
"Sean benar benar mencintainya, Dia tidak egois dan selalu memikirkan perasaannya, Aku beruntung." batin Zara tak terasa air matanya pun ikut menetes.
"Duh malah jadi nangis lagi kan, aku salah ngomong ya sayang?"
Zara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak mas, aku hanya merasa bahagia." ungkap Zara dengan suara serak.
"Terimakasih mas selalu ada untuk ku, aku tak tahu lagi bagaimana jadinya jika saat ini masih belum bersamamu seperti ini." ungkap Zara lagi.
Sean kembali mengecup kening istrinya, Ia merasa lega karena kehadiran nya membuat istrinya lebih baik.
"Pokoknya harus semangat lagi, nggak boleh down terus terusan ya." kata Sean yang langsung diangguki Zara.
Zara akhirnya terlelap dengan memeluk Sean, dan karena kelelahan akhirnya Sean ikut terlelap juga.
__ADS_1
Paginya, Zara sudah mulai beraktifitas seperti biasa. selesai sholat subuh Ia langsung pergi ke abang sayur yang sudah lewat dan membeli beberapa bahan sayur dan lauk.
"Mau masak apa sayang?" tanya Ranti senang dan lega akhirnya Zara mau bangkit.
"Dapet sayur bayam sama ikan Nila Ma, dimasak seperti biasa aja ya Ma." Zara meminta saran.
"Iya, ayo Mama bantu." Ranti ikut mengambil bayam untuk Ia potong dan Cuci.
"Padahal nggak apa apa Ma, Zara masak sendiri. Mama duduk aja."
"Bosen sayang, biasanya kalau dirumah Mama juga bantuin Bik Siti masak."
Zara akhirnya mengangguk, membiarkan Mama mertuanya ikut masak bersamanya.
Selesai sarapan dengan sayur bayam dan nila goreng, Sean kini nampak fokus menatap ke layar laptop, menghandle pekerjaan kantor dari sini.
Sementara Zara sedang berada dibelakang, mencuci baju kotor milik orangtuanya sebelum meninggal, ditemani Imah yang juga baru saja datang dari kota.
"Aku ada rencana buat kita kedepan nya." kata Imah.
"Rencana apa?"
"Biar kita ada kesibukan dan kamu nggak galau lagi kepikiran Ayah sama Ibu, gimana kalau kita buka toko kue?"
Zara menatap ke arah Imah, dirinya dan Imah memang kerap sekali membuat kue kue tradisional dan rasanya pun sangat enak namun belum pernah terpikirkan untuk berjualan kue.
"Buat kesibukan Ra, biar kamu nggak down lagi." kata Imah lagi.
"Aku bilang sama Mas Sean dulu ya Mah," balas Zara yang langsung diangguki Imah.
Dan siang hari saat Zara, Sean dan Ranti sedang asyik menonton televisi, tiba tiba Anggara datang dengan wajah marah.
"Kamu ikut Papa sekarang juga!" kata Anggara sambil menunjuk Sean.
"Kemana Pa?"
"Udah ikut aja!"
Sean penasaran namun Ia turuti saja, begitu juga dengan Ranti dan Juga Zara yang penasaran kemana Anggara dan Sean pergi.
"Papa sama Mas Sean mau kemana ya Ma?" tanya Zara saat Sean dan Anggara sudah keluar.
"Mama juga nggak tahu sayang, mungkin ada urusan penting diluar."
"Urusan apa? apa mungkin masalah kecelakaan Ayah Ibu." batin Zara.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeennn