BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
123


__ADS_3

Pagi ini Zara membantu suaminya menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat ke kantor.


Setelah seminggu lamanya berada dirumah akhirnya Sean mulai kembali bekerja karena luka tusukan nya juga sudah hampir sembuh.


"Mas yakin mau ngantor sekarang?' tanya Zara yang sebenarnya masih khawatir dengan keadaan suaminya itu.


"Iya sayang, udah off lama banget nggak enak sama Papa."


Zara mengangguk paham, setelah kejadian kabur dirinya mungkin hampir 3 minggu Sean tidak ke kantor. meskpun Sean bekerja dari rumah namun tetap saja kehadiran Sean dikantor sangat dibutuhkan.


"Tapi nanti siang samperin dong ke kantor, bawain bekal atau apa gitu." pinta Sean yang langsung diangguki Zara.


Setelah Sean berangkat, Zara mulai melakukan aktifitas rumah membantu Mbok Nah.


Tak sengaja Zara melihat guci yang dulu diberikan oleh Sella. Segera Zara membawa guci itu dan membuangnya keluar.


"Mbok Nah tau nggak barang barang apa saja dulu dibawa sama mantan nya mas Sean?" tanya Zara.


"Ada beberapa yang mbok Nah tau sih non, paling hiasan hiasan itu." kata Mbok Nah sambil menunjuk beberapa hiasan rumah.


"Bantuin aku buat buang semuanya yukk mbok." ajak Zara.


"Siap Non."


Tak menunggu waktu lama semua barang bawaan dari Sella sudah keluar ke tempat sampah, Zara tersenyum puas karena setelah ini tidak akan ada lagi bayang bayang masa lalu Sean yang menghantuinya.


Selesai beres beres, Zara ingin menyiapkan makan siang untuk suaminya dan sebentar lagi juga ingin mengantar ke sana namun mendadak kepalanya pusing membuat Zara mengurungkan niat untuk pergi.


Zara meminta tolong pada Mbok Nah untuk menyiapkan makan siang dan meminta Mbok Nah memberikan pada Ricky yang sebentar lagi datang menjemput.


"Bilang aja aku malah ketiduran mbok, jangan bilang aku sakit, takut mas Sean khawatir." pinta Zara pada Mbok Nah.


"Tapi Non Zara beneran nggak apa apa?" mbok Nah terlihat khawatir.


"Enggak Mbok, cuma pusing biasa ini mah."


Mbok Nah mengangguk paham dan segera melaksanakan perintah Zara.


"Ketiduran? tumben sekali." heran Sean saat menerima kotak bekal dari Ricky.


"Saya juga tidak berani menyuruh Mbok Nah membangunkan karena takut menganggu Nona." kata Ricky yang langsung diangguki paham oleh Sean.


Segera Sean menikmati bekal yang Sean yakini itu buatan Mbok Nah bukan istrinya karena rasanya berbeda.


"Apa Zara sakit?" gumam Sean disela sela kunyahan nya.

__ADS_1


Sementara itu ditempat lain, Sisil nampak memasuki kantor polisi sambil membawa rantang berisi makanan juga beberapa snack camilan ringan.


"Saya ingin menjenguk tahanan bernama Sella maharani." pinta Sisil pada polisi yang berjaga karena memang hari ini diperbolehkan menjenguk tahanan.


Beruntung kali ini Sella mau menemuinya setelah beberapa kali Sisil datang dan Sella tak mau menemuinya.


"Bagaimana kabarmu? aku senang kau mau menemuiku." kata Sisil langsung memeluk Sella yang hanya berdiri diam dan tak membalas pelukan Sisil.


Keduanya duduk dan Sisil segera mengeluarkan bekal yang Ia bawa.


"Aku sengaja memasak masakan kesukaanmu." kata Sisil sambil memperlihatkan isi bekalnya.


Suwir tongkol, Ca bayam juga krupuk adalah makanan favorit Sella sejak masih dipanti.


"Kenapa?" akhirnya Sella membuka suara.


Sisil mendongak, menatap Sella dan tak mengerti dengan ucapan Sella.


"Kenapa kau masih baik padaku padahal aku sudah jahat padamu." kata Sella yang langsung membuat Sisil tersenyum.


"Karena kau sahabatku."


Sella menatap tak percaya, lalu sebentar saja Ia menunduk dan kembali mendongak.


"Tapi aku tak pantas menjadi sahabatmu." ungkap Sella.


Sella menerima piring itu dan langsung melahap isinya hingga habis tak tersisa.


"Enak..." guman Sella membuat Sisil tersenyum lega karena jujur Sisil merasa prihatin melihat keadaan Sella yang bertambah kurus.


"Aku akan datang setiap minggu dan membawakan ini untukmu jika kamu menyukainya."


"Tidak perlu!" dengan cepat Sella membalas membuat Sisil menatapnya penuh tanya.


"Sebaiknya jangan datang kesini lagi setelah ini." kata Sella lagi.


"Kenapa? kau marah padaku?"


Sella menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, hanya saja aku malu melihatmu sebaik ini padahal aku pernah jahat padamu." kata Sella sambil menundukan kepalanya.


"Hey sudahlah, lupakan semuanya dan berubahlahlah menjadi baik. oke."


Sella tersenyum sinis setelah mendengar ucapan Sisil, "Aku sudah terlanjur rusak mana mungkin bisa menjadi baik."


"Bisa, tentu saja bisa."

__ADS_1


"Tidak, aku akan tetap seperti ini sampai aku keluar dari penjara dan membalaskan dendamku pada Sean karena Sean lah yang sudah membuat hidupku seperti ini!"


Sisil terkejut dengan ucapan Sella namun Ia hanya diam saja tak berani protes karena saat ini Sella memang masih kecewa dengan keadaan nya namun belum bisa intropeksi diri atas segala kesalahan nya.


Malam harinya saat Sean pulang kerumah, Ia melihat ada yang berbeda diruang tamu juga ruang keluarga namun Ia tak mengerti apa yang berubah.


"Ada apa mas?" tanya Zara setelah menutup pintu dan melihat Sean berdiri lama diruang keluarga.


"Oh nggak apa apa." balas Sean langsung naik ke atas.


Zara yang sudah merasa baikan dan tidak lagi merasa pusing akhirnya ikut naik ke atas untuk menyiapkan segala keperluan suaminya.


"Maaf ya mas tadi nggak jadi nganter makanan nya." kata Zara merasa bersalah.


Sean menggelengkan kepalanya pelan, "Ya nggak apa apa." balas Sean yang terdengar kesal.


"Jangan marah dong."


Sean akhirnya tersenyum, "Kesel sih dikit."


Sean mencium bibir Zara, "Tapi kalau udah nyium gini keselnya jadi ilang." kata Sean yang membuat Zara tersenyum.


Selesai mandi, makan malam dan sholat isya, kini keduanya duduk di balkon tempat favorit keduanya.


"Mas aku mau ngomong tapi jangan marah ya."


"Ngomong apa sayang?"


"Barang barang pemberian mantan kamu yang masih ada dirumah ini tadi siang aku buangin semua. maaf ya." kata Zara merasa bersalah.


Sean sempat terkejut namun seketika Ia tersenyum, "Pantesan aku ngerasa ada yang aneh tadi."


"Mas nggak marah kan?"


"Enggak lah sayang, justru aku terimakasih sama kamu sudah membuang barang barang itu."


"Nggak enak aja mas dilihat, juga mas sepertinya nggak ada niat buat buang." protes Zara.


"Bukan gitu sayang, aku aja lupa barang apa yang dibawa sama Sella dan juga kemarin aku sibuk mikirin kamu jadi mana sempet mikir buang barang barangnya itu." jelas Sean membuat Zara tersenyum.


"Aku pikir kamu bakal marah."


"Nggak dong, aku malah seneng ngeliat istriku cemburu gini."


"Ish...."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeenn


__ADS_2