
Sella menyeret tubuh Sisil dan membawanya ke gudang belakang rumah Sisil. Selama tinggal disini Sella sudah mengecek seluruh ruangan rumah Sisil saat Sisil sedang bekerja.
Dan gudang belakang adalah tempat yang cocok untuk menyekap Sisil apalagi kemarin Sella sempat melihat ada pasung disana, entah digunakan apa dulu pasung itu yang jelas keberadaan pasung itu sangat membantu Sella saat ini.
Setelah memasang pasung dikaki Sisil, Sella tersenyum puas meskipun ada sedikit rasa bersalah pada Sisil namun Ia pastikan ini hanya sementara.
Sella tahu jika Sisil sudah mengetahui jika dirinya saat ini menjadi buronan polisi paris dan mungkin sebentar lagi Sella akan menjadi buronan polisi indonesia juga, maka dari itu Sella berusaha agar segera bisa kembali pada Sean.
Karena jika sudah bersama Sean, Ia yakin dengan harta Sean yang melimpah itu bisa membuatnya terbebas dari hukuman.
Semalam setelah menghabiskan makan malam yang dipesankan Sisil, Sella hendak ke kamar Sisil untuk mengucapkan terimakasih namun sampai didepan pintu, Sella mendengar ada suara berita tentang dirinya yang Sella tebak jika Sisil melihatnya di instagram.
Sella panik namun Ia berusaha tenang, Setelah itu Sella mengurungkan niatnya untuk mengucapkan terimakasih dan memilih kembali ke kamarnya.
Dan dikamarnya, Sella memikirkan apa yang harus Ia lakukan agar Sisil tidak menambahkan masalah baru untuknya hingga akhirnya Sella mendapatkan ide.
Tengah malam, Sella mengenggam sapu tangan yang sudah Ia berikan obat bius. namun Sella terkejut saat ingin membuka pintu kamar Sisil dan ternyata dikunci dari dalam.
Sella mengepalkan tangannya, Ia yakin sangat yakin jika Sisil mungkin akan melaporkan nya ke polisi.
Sella tak menyerah begitu saja, Ia bangun lebih pagi dari Sisil dan membuatkan sarapan Sisil dimana sarapan itu sudah Ia berikan obat tidur dan Sella sangat senang kala Sisil tak menolak sarapan buatan nya.
Sella kini duduk didepan Sisil yang terpasung kakinya, Ia tatapi wajah Sisil yang masih terlelap. cukup puas menatap wajah sahabatnya itu, Sella pergi ke meja makan untuk mengambil ponsel Sisil. beruntung ponsel itu tidak dikunci membuat Sella bebas mengecek isi ponsel Sisil.
Sella mengecek dengan siapa Sisil mengirim pesan dan tak ada yang mencurigakan disana, sepertinya Sisil belum melaporkan dirinya ke polisi. Sella kembali tersenyum lega.
"Sella sialan, apa yang kau lakukan padaku!" teriak Sisil dari dalam gudang yang didengar oleh Sella membuat Sella berjalan memasuki gudang.
"Kau sudah sadar." Sella tersenyum dan mendekati Sisil yang mencoba membuka pasung dengan tangan nya.
"Apa yang kau lakukan padaku, lepaskan aku!" teriak Sisil lagi yang malah membuat Sella tertawa.
"Lepaskan kau bilang? jika aku melepaskan mu saat ini. posisiku pasti dalam bahaya."
"Apa maksudmu?" tanya Sisil pura pura tak paham.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan pura pura bodoh. aku tahu sebenarnya kau sudah tahu apa yang terjadi."
"Aku benar benar tak mengerti maksudmu." kata Sisil lagi.
"Ah benarkah? bukankah kau semalam melihat berita tentang apa yang sudah kulakukan diparis."
Sisil terkejut karena Sella mengetahui jika semalam Ia mencari info tentang pembunuhan Anji.
"Ya aku memang sudah tahu. dan sekarang apa maumu? apa kau juga akan membunuhku?"
Sella kembali terbahak, "Tentu saja tidak sayang. kau adalah satu satunya temanku, bagaimana aku bisa setega itu padamu."
Sisil tersenyum sinis, "Jika memang aku temanmu, lepaskan aku."
"Aku akan melepaskan mu tapi tidak sekarang."
"Apa maksudmu?"
"Setelah keadaan aman, dan aku tidak lagi menjadi buronan aku akan melepaskanmu."
"Apa kau gila!" Sisil histeris, menatap Sella tak percaya, "Kau akan tetap jadi buronan sampai kapanpun itu." geram Sisil.
"Kau terlalu percaya diri Sella. sadarlah, Sean sudah menikah dan dia bahkan memilih istrinya." ejek Sisil membuat Sella geram dan akhirnya menampar pipi Sisil.
Plakk...
"Lebih baik kau tutup mulutmu dari pada aku harus membuatmu menyusul Anji."
"Jangan gila Sella!" Sisil terlihat sangat takut.
"Aku memang sudah gila Sisil, aku sudah gila semenjak Sean meninggalkanku." ungkap Sella tak kalah histeris.
"Semua salahmu sendiri Sella, jika saja kamu tidak ambisius dengan karirmu, semua ini tak akan terjadi."
"Kau selalu saja menyalahkanku, semua orang selalu saja menyalahkanku." Sella menjambak rambutnya sendiri merasa sangat frustasi dengan apa yang Ia alami.
__ADS_1
Sisil diam sejenak sambil memandangi Sella yang masih histeris bahkan sekarang Sella menangis. Sisil mencoba menahan emosinya, agar Sella tak bertambah marah padanya.
"Kenapa? kenapa kau membunuh Anji?" tanya Sisil dengan suara pelan berharap Sella mau menceritakan semua masalah Sella.
"Aku tidak membunuhnya, dia yang salah. dia sudah menyekapku." ungkap Sella membuat Sisil terkejut.
"Menyekap?"
Sella mengangguk, "Ya selama beberapa bulan terakhir, Anji mengurungku di apartemen dan tak membiarkan aku keluar bahkan Ia membatalkan semua pekerjaanku setelah mengetahui aku sering tidur dengan pria lain."
"Satu malam, aku mencoba kabur namun dia berhasil menangkapku. aku diseret kembali ke apartemen dan diperkosa berkali kali hingga milikku mengeluarkan darah dan bengkak." ungkap Sella yang membuat Sisil membegap mulutnya tak percaya jika Anji bisa sekejam itu.
"Aku tak menyerah dan mencoba kabur berkali kali karena aku lelah menjadi budak seksnya apalagi dia sudah memiliki istri dan juga anak. aku mencoba kabur dan yang terakhir kali, dia kembali menyeretku, aku memberontak dan mengambil pisau dapur. niatku hanya ingin menakuti Anji namun pisau itu malah menancap didada Anji."
"Sungguh aku bukan pembunuh, aku tak sengaja melakukan itu semua." ungkap Sella sambil terus menangis histeris.
Melihat Sella menangis, Sisil pun ikut menangis karena mau bagaimanapun Sella adalah sahabatnya sejak mereka masih kecil dan tinggal di panti.
Sisil tahu persis alasan Sella menjadi model meskipun setelah berhasil menjadi model Sella berubah sombong namun Sisil masih tetap setia menjadi teman nya.
"Apa tidak sebaiknya kamu mendatangi kantor polisi dan menjelaskan semua pada polisi." saran Sisil.
"Apa kau pikir polisi akan percaya padaku? Tidak Sisil, mereka tidak akan percaya padaku. mereka bahkan sudah menetapkan aku sebagai tersangka sebelum aku menjelaskan semuanya."
Sisil mengangguk paham, "Jadi ini alasanmu ingin kembali bersama Sean?"
"Jika aku bersama Sean, setidaknya aku bersama orang yang memiliki kuasa dan jika Sean membantuku mungkin aku tidak akan menjadi tersangka." jelas Sella.
"Ya aku mengerti dan paham dengan posisimu Sella."
Sisil menarik tangan Sella lalu membawa Sella kedalam pelukan nya,
"Maaf aku tidak tahu jika hidupmu menderita sepeeti ini." ungkap Sisil sambil mengelus punggung Sella memberikan kekuatan pada Sella.
"Terimakasih, terimakasih banyak kamu sudah mau mengerti." ucap Sella lalu tersenyum puas dibelakang Sisil.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANNGAN LUPA LIKE VOYTE DAN KOMEEN.