
Dengan mata memerah, Anya menatap Zayn dan masih menunggu jawaban Zayn.
"Karena aku ingin semua wanita merasakan apa yang Nisya rasakan dulu!"
"Tapi kenapa mas, bukan kah jika memang mas menyesal seharusnya mas menjaga semua wanita? bukan malah merusaknya seperti itu?"
Zayn malah tersenyum, "Semua wanita itu sama saja, mereka murahan. mereka mengodaku dan melakukan segala cara agar aku tertarik pada mereka, seharusnya mereka yang berada di posisi Nisya, merasakan apa yang Nisya alami!"
Anya terdiam, mendengar nada bicara Zayn terdengar sangat tertekan membuat Anya sedikit menurunkan egonya untuk tidak lagi mengingat ingat tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Apa yang terjadi pada Nisya?"
Zayn menatap tajam Anya, "Dia diperkosa bergilir oleh beberapa preman sepulang dari kafe setelah Ia bertemu teman nya,"
Anya langsung membegap mulutnya,
"Dia depresi setelah itu, mencoba bunuh diri berkali kali dan akhirnya meninggal disaat Raisa baru berusia 3 tahun." jelas Zayn membuat Anya paham jika Nisya sudah meninggal 2tahun yang lalu karena sekarang umur Raisa sudah 5tahun.
"Dia istri yang baik, dia istri yang soleha, bahkan dia juga menutup auratnya, tapi kenapa para preman itu tega memperkosanya seperti itu?" ucap Zayn yang akhirnya membuat Anya paham, apa yang dilakukan Zayn selama ini karena Zayn kecewa dengan keadaan dan mungkin apa yang membuat Zayn menyukai Zara karena mirip dengan mantan istrinya.
"Mungkin itu sebabnya aku menyukai Zara, sama sekali tak ada niat untuk merebut istri orang. hanya saja saat aku berada di paris aku melihat suaminya dengan wanita lain. Aku hanya ingin menyelamatkan Zara dari suami brengseknya itu. setiap mengingat Zara, aku kembali mengingat istriku karena mereka itu sama,"
Seketika hati Anya terasa nyeri mendengar Zayn membicarakan tentang Zara.
"Lalu apa saya juga seperti wanita lain? yang murahan dan mengoda mas?" tanya Anya penuh kebencian.
Zayn menggeleng, "Kamu berbeda, itulah sebabnya aku ingin menikahimu, aku ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah ku lakukan." jelas Zayn.
Bagi Zayn, Anya memang berbeda dari wanita yang lain. Jika wanita lain akan menikmati sentuhan nya, namun tidak untuk Anya yang selalu menangis dan ketakutan saat dia sentuh membuat Zayn merasa sangat bersalah namun Zayn juga tak bisa berhenti karena bagi Zayn, Anya itu candu nya.
"Bagaimana jika saya tidak mau?"
Zayn terkejut dengan ucapan Anya, "Tentu saja aku akan memaksa seperti biasa. jadi apa kau menolakku?"
"Jujur saya takut menikah dengan pria yang masih mencintai wanita lain, saya takut hanya dijadikan pelampiasan." jelas Anya, mendengar Zayn masih menceritakan Zara membuat Anya merasa sakit hati dan mengira Zayn masih menyukai Zara.
"Kamu cemburu?" tanya Zayn yang langsung membuat Anya menunduk karena ketahuan.
__ADS_1
Zayn tersenyum, Ia mendekat ke arah Anya lalu memaksa memeluknya, "Jika menikahimu harus menyukaimu lebih dulu, seharusnya aku sudah menikahimu sejak awal."
Anya langsung memberontak, melepaskan pelukan Zayn dan menatap ke arah Zayn tak percaya,
"Kenapa? kau pikir aku membual?"
Anya menggelengkan kepalanya pelan, Ia hanya ingin memastikan jika Zayn benar benar mengucapkan itu.
"Selama ini aku selalu meragukan perasaanku, aku masih belum percaya jika tertarik padamu, sampai aku benar benar meyakinkan diriku jika aku memang menyukaimu."
Zayn mengeluarkan sesuatu dikantong celananya, Ia membuka kotak beludru kecil yang berisi sebuah cincin.
"Diterima atau tidak, aku akan tetap memaksa untuk menikahimu." Zayn nampak memasangkan cincin dijari manis Anya.
Anya tersenyum geli, "Dasar tidak romantis."
"Itulah kekuranganku, dan kamu harus menerima itu." akui Zayn yang lagi lagi membuat Anya tersenyum.
Zayn menatap Anya, mungkin ini kali pertamanya Zayn bisa melihat Anya tersenyum bahagia seperti ini padahal biasanya Anya selalu tertekan saat bersama Zayn.
Zayn tak tahan hanya menatap, Tangan nya terangkat untuk mengelus pipi Anya, lalu elusan berpindah pada bibir tipis Anya. Zayn memajukan wajahnya, ingin mencium Anya namun Anya langsung memalingkan wajahnya.
Zayn terkekeh, Ia akhirnya hanya mengecup bibir Anya sekilas, "Aku sabar menanti halal."
Anya menatap ke arah Zayn sebal, "Seharusnya sejak pertama seperti itu."
Zayn kembali terkekeh, "Maafkan kekhilafan ku sayang."
Deg... jatung Anya berdegup kencang kala pertama kalinya Zayn memanggil Anya sayang.
"Sudah tidur sana, besok kita banyak acara." kata Zayn sambil mengacak rambut Anya.
Anya mengangguk saja tanpa bertanya lagi, Anya segera berdiri dan berjalan meninggalkan Zayn.
Paginya, Raisa izin tidak masuk sekolah karena Ia akan diajak pergi oleh Zayn juga Anya.
Anya tak tahu Zayn akan mengajaknya kemana namun saat mobil Zayn berhenti disebuah rumah sakit jiwa, mata Anya langsung saja memerah ingin menangis.
__ADS_1
Ini rumah sakit jiwa dimana Ibu Anya dirawat, setiap bulan setelah gajian Anya selalu datang kesini, hanya saja Anya tak menyangka jika Zayn membawanya kesini dan tahu tempat ini.
"Kita meminta restu ibu dulu sebelum menikah." ucap Zayn yang langsung membuat tangis Anya pecah.
Zayn sempat memeluk Anya sebentar hingga tangis Anya reda dan mengajaknya masuk, mereka memasuki ruangan dimana seorang wanita sedang duduk diranjang dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat.
"Assalamualaikum Ibu ..." sapa Anya yang kini sudah duduk disamping ibunya.
Anya langsung mengenggam tangan ibunya yang terikat dan penuh luka goresan. ibu Anya memang sering melakukan percobaan bunuh diri hingga membuat pihak rumah sakit mengikat tangan juga kaki Ibu Anya.
"Ibu sehat ya... Ibu kuat yaa... temani Anya." ucap Anya sambil terisak.
Zayn yang kini mengendong Raisa dan berdiri dibelakang Anya nampak merasakan hatinya teriris melihat Anya begitu menyayanggi ibunya, bahkan rela melakukan apapun demi ibunya, seketika Zayn merasa bersalah karena dirinya selalu memaksa Anya.
"Sebentar lagi Anya mau menikah bu, Anya kesini mau minta restu dari ibu."
Ibu Anya yang sedari tadi hanya diam akhirnya menatap wajah Anya dan tersenyum namun sedetik kemudian, Ibu Anya menangis.
"Maaf maaf nduk." kata Ibu Anya yang seolah sudah sadar dari depresinya.
Anya langsung memeluk ibunya,
Zayn menurunkan Raisa, Ia akhirnya ikut duduk disamping Anya,
Setelah melepaskan pelukan Ibunya, kini Zayn ikut memegang tangan ibunya,
"Saya memang bukan pria baik, saya sudah menyakiti putri ibu sebelum ini." ungkap Zayn sambil mengenggam tangan Ibu Anya.
"Tapi saya janji akan membahagiakan putri ibu sampai Akhir." ucap Zayn lagi yang langsung membuat Ibu Anya tersenyum dan mengangguk.
Tak berapa lama, beberapa orang memasuki ruangan ibu Anya,
"Kita menikah sekarang juga."
Anya terkejut dan menatap ke arah Zayn tak percaya apalagi mengetahui jika yang baru saja datang adalah penghulu juga beberapa orang saksi yang akan menikahkan mereka sekarang.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeeen