
Sean merasa heran dengan sikap Zara yang berubah aneh, mendadak Zara menjadi pendiam bahkan saat makan siang, Sean mencoba mencandai Zara dengan guyonan garingnya namun yang terlihat hanya senyuman yang seolah dipaksakan.
Dan malam hari selesai sholat isya, Zara terlihat mengemasi beberapa baju untuk dipakai besok saat acara pernikahan Ricky dan Imah. Sean berjalan mendekat ke arah Zara lalu memeluk istrinya dari belakang yang membuat Zara terkejut.
"Kaget ya?" goda Sean dan Zara hanya tersenyum saja.
Sean duduk dipinggir ranjang, Ia melihat wajah istrinya yang begitu serius menata pakaian dan mengabaikan dirinya.
"Apa kamu marah sayang?" tanya Sean yang langsung membuat Zara sedikit panik namun disembunyikan.
"Ti-tidak mas, kenapa harus marah." balas Zara terdengar gugup.
Sean tersenyum, melihat istri membalas gugup yang menandakan jika Zara memang tengah marah padanya, namun yang membuat Sean bingung penyebab istrinya marah, padahal sepertinya tak ada yang salah dari dirinya atau mungkin dirinya yang tidak tahu?
Sean menarik tangan Zara hingga Zara jatuh dipangkuan nya, Ia tatapi wajah istrinya yang menunduk itu,
Sean mengangkat dagu Zara hingga dirinya bisa menatap mata istrinya yang sedikit berkaca, "Ada apa sayang? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Sean dengan raut wajah khawatir.
Zara menggeleng kepalanya pelan, Ia ingin mengatakan semua kekesalan nya pada Sean namun Zara merasa terlihat sangat egois karena apa yang Ia rasakan dan khawatirkan hanyalah masa lalu Sean saja.
"Kita baik baik saja tadi sebelum kamu tiba tiba diam seperti ini. Ayolah sayang, katakan padaku." kata Sean sedikit memaksa.
"Aku tadi melihat, ah bukan..."
Sean mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang ingin Zara ucapkan,
"Melihat apa?"
"Mas... kemarin waktu aku di toko bunga Sena, Zayn kembali menemuiku." ungkap Zara yang langsung membuat wajah Sean berubah emosi.
"Pria itu, berani beraninya dia!" geram Sean.
"Kami bicara banyak hal."
Wajah Sean berubah kesal, "Jadi itu alasan kamu tidak ke toko Sena lagi?"
Zara mengangguk, "Aku sudah memperingatkan dia agar jangan lagi mendekatiku." jelas Zara.
"Pasti dia akan tetap mendekatimu!"
"Apa mas kesal? mas marah?" tanya Zara membuat Sean heran.
__ADS_1
"Tentu saja aku kesal dan marah! kenapa juga kamu baru cerita sekarang!" Sean nampak kesal "Seharusnya kemarin kamu langsung meneleponku jadi aku bisa datang dan menghajar pria kurang ajar itu!"
Zara malah tersenyum, "Sama dengan ku mas, aku pun marah dan kesal saat tadi tak sengaja melihat bingkai fotomu dengan Sella yang masih kamu simpan."
"Haaa? mana mungkin, aku bahkan sudah menyuruh mbok Nah untuk membakar barang barang Sella dikamar."
"Berarti kamu lupa, masih menyimpan nya satu."
"Dimana?"
"Dilaci meja kantormu." Sean langsung terkejut.
Dengan memakai piyama Sean mengajak Zara kembali ke kantornya untuk memastikan bahwa apa yang diucapkan Zara baru saja benar benar ada.
Dan memang benar didalam laci meja Sean masih tersisa satu bingkai foto kenangan dirinya bersama Sella, segera Sean mengambil foto itu lalu merobeknya isi dalamnya.
"Maafkan aku sayang, aku benar benar lupa. setelah menikah denganmu, aku menyimpan foto itu dilaci, aku lupa jika harus membuangnya." ungkap Sean langsung menghambur ke pelukan Zara.
Zara menunduk malu, tak menyangka dengan respon Sean yang terasa sangat berlebihan, apalagi sampai malam begini harus datang ke kantor hanya karena sebuah foto.
"Harusnya mas jelas kan saja, tidak perlu datang ke kantor malam malam begini."
Zara mengangguk, "Maafkan aku ya mas, aku egoia sudah menunduh mas dengan hal yang tidak tidak."
Sean lagi lagi tersenyum, "Justru aku senang jika kamu posesif seperti ini, terlihat mengemaskan." Sean mencium pipi Zara.
"Ck, aku nggak posesif!"
Sean terkekeh, "Iya lupa, istriku kan nggak pernah cemburu."
Kini giliran Zara yang tersenyum, "Terimakasih sudah mau jujur sayang, setidaknya dengan kejujuran seperti ini tidak akan ada kesalahpahaman kecil yang merusak hubungan kita." kata Sean.
"Bukan nya mas yang sejak awal nggak jujur, sekarang bisa ya ngomong gitu." cibir Zara membuat Sean terkekeh.
"Awalnya kemarin khilaf sayang, tapi sekarang udah sadar kok, ciusss deh." Sean mengacungkan dua jarinya membuat Zara terkekeh.
Sean akhirnya mengajak Zara pulang, melewati ruangan ruangan yang gelap karena memang semua orang sudah pulang dan hanya ada beberapa satpam yang berjaga.
Zara nampak memegang erat lengan Sean, seolah takut berjalan diruangan gelap.
"Takut nih." ejek Sean membuat Zara terkejut.
__ADS_1
"Mas kenapa nggak ngomong dulu kalau mau ngomong." kata Zara yang langsung membuat Sean terkekeh.
"Harusnya aku ngomong dulu ya sebelum ngomong sama kamu." balas Sean membuat Zara sadar jika ada yang salah dari ucapan nya.
"Nggak usah usil mas, aku takut beneran lho."
Sean langsung merangkul pundak istrinya itu, "Sekarang udah aman, ada aku yang jagain kamu."
Zara tersenyum senang dengan perlakuan hangat dari Sean,
"Ciee pak bos sok sweet amat." goda salah satu satpam yang berjaga didepan kantor.
"Kenapa? kamu pengen... maka nya buruan nikah!" balas Sean membuat satpam itu terkekeh.
"Masih nabung pak bos, maka nya dikasih bonus dong buat modal nikah." celetuk satpam itu lagi.
"Yang mau nikah siapa yang repot siapa." balas Sean langsung memasuki mobil bersama Zara sementara satpam itu nampak tertawa dengan balasan Sean.
Sampai dirumah mereka langsung berbaring diranjang, dan Sean tak menyia nyiakan kesempatan ini untuk meminta jatah pada istrinya yang sudah tidak ngambek lagi.
"Ada yang mau kamu tanyain?" Sean menatap wajah istrinya setelah satu ronde permainan panas mereka baru saja usai.
Zara menggeleng pelan,
"Aku sama sekali udah nggak nyimpen fotonya sayang, besok lah aku minta anak kantor buat bikinin bingkai foto kita, nanti aku pasang di ruanganku." kata Sean yang langsung membuat Zara lega, memang itu yang Zara inginkan tapi tak berani mengatakan pada Sean.
"Apa mas masih sayang sama Sella?"
"Udah enggak, aku sama sekali udah nggak lagi kepikiran tentang dia." balas Sean mantap membuat Zara yakin jika suaminya memang tidak bohong.
"Sekarang prioritasku itu kamu, aku mau jadi suami yang baik buat kamu, jadi imam terbaik , jadi Papa yang baik untuk anak anak kita nanti dan jadi seseorang yang bisa buat kamu bahagia terus." ungkap Sean yang entah mengapa malah membuat mata Zara memerah ingin menangis.
"Makasih mas, makasih buat segalanya. maafkan aku yang masih seperti anak kecil, suka marah dan kesal dengan hal sepele seperti tadi."
"Nggak apa apa, istriku kan sekarang emang posesif, kekantor aja di buntuti." ejek Sean membuat Zara kesal namun akhirnya terkekeh juga.
"Itu mah akal akalan kamu saja mas."
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1