BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
91


__ADS_3

Seminggu tak menyentuh pekerjaan kantor membuat Sean harus lembur hingga larut malam karena pekerjaan yang menumpuk. Meskipun selama seminggu sudah ada Anggara yang menggantikan namun tetap saja pekerjaan Sean masih menumpuk.


"Ini yang terakhir pak." kata Naya menyodorkan sebuah berkas pada Sean.


Sean menatap ke arah jam dinding sudah pukul 10 malam, "Maaf sudah membuatmu lembur hingga selarut ini Nay." ungkap Sean merasa bersalah karena mengajak Naya lembur sampai malam.


"Tidak masalah pak selama gaji saya dibayar penuh." balas Naya dengan sedikit bercanda.


"Ck, aku bahkan bisa mentransferkan bonusmu malam ini juga jika kamu mau."


"Wah tentu saja saya mau pak, jika ditawari."


Sean langsung mentransfer uang melalui ponselnya membuat Naya tak menyangka karena awalnya Ia hanya bercanda.


"Terimakasih banyak pak, jadi semangat lagi nih lemburnya." kata Naya sambil tertawa.


Keduanya menyelesaikan pekerjaan tepat pukul 11 malam,


"Kamu mau bareng saya?"


"Tidak pak terimakasih, saya sudah dijemput pacar saya."


"Malem malem gini dijemput pacar, jangan mau kalau diajak ke hotel." canda Sean membuat Naya terkekeh.


"Ngapain repot repot ke hotel pak, di apartemen saja malah gratis."


Sean menggelengkan kepalanya tak percaya, Ia hanya bercanda dan Naya menanggapi serius.


Sean memasuki mobilnya dimana sudah ada Ricky didepan yang menunggunya dengan wajah masam.


"Jika ingin kesal, kesal sana sama Papa karena Papa ngasih kerjaan setumpuk dan baru selesai." ucap Sean tahu jika Ricky tengah kesal padanya.


"Saya tidak kesal Tuan, lagipula mana berani saya kesal dengan Tuan."


"Ya sudah jika kamu memang tidak kesal, bagaimana kalau kita jalan jalan dulu keliling kota?"


Ricky langsung terkejut, "Ta-Tapi Tuan..."


Sean terkekeh, "Aku hanya bercanda, sudah segera pulang. kau pikir hanya kau saja yang rindu istri? aku juga rindu."


Ricky tersenyum dan langsung mengangguk, segera melajukan mobilnya kerumah Sean.


"Belum tidur? harusnya tadi tidur duluan saja sayang." kata Sean saat Zara membuka kan pintu untuknya.


"Nggak apa apa, nungguin mas."


"Mas sudah makan malam?"


"kamu sudah?" Sean malah balik bertanya.


Zara menggelengkan kepalanya, "Belum, nungguin mas, mau makan malam bareng mas."


Sean tersenyum, "Aku mandi sama sholat isya dulu habis itu kita makan malam."


Zara mengangguk setuju, setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya, Zara segera turun ke dapur untuk menghangatkan makan malam.


Kini keduanya sudah berada dimeja makan berdua untuk makan malam.

__ADS_1


"Ayah sama Ibu disini mas."


"Haa?"


"Tadi Ayah sama Ibu datang kesini trus nginep."


"Alhamdulilah, seneng dong istriku ini." Sean mengelus kepala Zara.


Zara menatap suaminya, Ia pikir suaminya akan keberatan jika orangtuanya menginap namun melihat Sean justru senang membuat Zara sedikit lega.


"Besok aku ajak jalan jalan nggak apa apa kan mas?"


"Ya nggak apa apa dong sayang, biar besok Ricky yang nganterin kamu, nanti juga aku transfer uang lagi ke rekening kamu buat jalan jalan."


Zara tersenyum, "Nggak usah transfer lagi mas, uang yang kemarin aja masih."


"Ck, biasanya wanita seneng banget kalau ditransferin uang, lah kenapa istriku malah nolak ya." gerutu Sean membuat Zara mengerutkan keningnya heran.


"Memang wanita mana mas yang seneng?"


Deg, Sean menatap ke arah Zara yang kini menatapnya dengan tatapan curiga.


"Ya biasanya kan memang pada seneng kalau dikasih duit sama suaminya, ya kan?"


"Oh, iya mas..." Zara mengangguk saja meskipun Ia merasa aneh dengan ucapan suaminya itu.


Selesai mencuci piring kotor, Zara segera menyusul suaminya yang kini sudah berbaring diranjang.


Baru saja ikut berbaring, Sean sudah menghujani pipinya dengan ciuman, "Kangen banget sama istriku, seharian nggak ketemu."


Sean mengangguk, "Ricky dah cerita sama aku."


"Apa si brengsek itu nemuin kamu lagi?"


Zara menggeleng pelan, "Alhamdulilah enggak mas."


"Kapanpun dia nemuin kamu, langsung telepon aku. biar ku hajar pria itu."


"Mas jangan emosian."


"Kalau sudah menyangkut tentang dia, rasanya nggak bisa kalau nggak emosi."


Zara mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan suaminya karena sekarang Zara sudah terbiasa bersama dengan suaminya dan selalu merasakan rindu meskipun hanya ditinggal kerja sehari saja.


"Capek nggak?" bisik Sean ditelinga Zara.


"Nggak kok, mas ma-"


Belum selesai ucapan Zara, Sean sudah ******* habis bibir Zara.


Semakin malam terasa semakin panas karena sentuhan liar Sean.


Hingga satu ronde usai, hilang sudah penat dan pusing Sean setelah seharian bekerja.


Sean melihat Zara belum tidur, Ia bangun untuk mengambil ponselnya.


Sean membuka ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada Zara,

__ADS_1


"Apa ini mas?"


"Bukti transfer aku ke Naya. tadi aku emang habis transfer uang ke Naya buat bonus karena dia sudah nemenin lembur sampai malam.


Aku kasih tahu kamu biar nanti nggak jadi salah paham."


Zara langsung tersenyum dan mengembalikan ponselnya, "Jadi itu sebabnya mas tadi bisa bilang kalau wanita lain suka setiap ditransfer uang?"


Sean mengangguk, "Iya, tadi Naya seneng banget habis dapet transferan makanya aku bisa bilang gitu."


"InsyaAllah, aku selalu percaya kok kalau mas nggak mungkin nyakitin aku."


Sean mengecup kening Zara, "Aku takut kehilangan kamu, jadi mana berani aku nyakitin kamu sayang."


"Gombal."


Sean terkekeh, "Sekali lagi trus tidur."


Paginya Sean, Zara dan orangtua Zara sudah berada dimeja makan untuk sarapan bersama.


"Gara gara libur seminggu ya jadi pulang larut semalam?" tanya Bahar pada Sean.


"Iya yah, Papa kayaknya kesel sama aku, harusnya honeymoon cuma 3hari malah jadi seminggu, ya sudah kerjaan numpuk."


Bahar terkekeh, "Papa kamu memang tegas orangnya,"


"Tegas dan galak." ungkap Sean yang membuat semua orang ikut tertawa.


Seusai sarapan, sebelum berangkat kekantor Sean menyempatkan mengobrol dengan Ayah mertuanya ditaman belakang rumah.


"Ayah titip Zara."


Sean terkejut dengan ucapan Ayah mertuanya itu.


"Ayah nggak tahu sampai kapan umur Ayah, sekarang Zara hanya punya kamu jadi Ayah harap kamu bisa menjaga dan selalu mencintainya."


"Ayah, jangan ngomong seperti itu, Sean selalu doakan Ayah Ibu agar panjang umur, bisa nemenin kami sampai punya anak."


Bahar tak lagi menjawab, Ia hanya tersenyum saja.


Sean tak terlalu memikirkan ucapan mertuanya karena akhir akhir ini mertuanya itu memang sering mengatakan hal seperti itu.


Namun siapa sangka ucapan mertuanya itu adalah firasat, firasat jika mertuanya akan meninggalkan Zara dan Sean untuk selama lamanya.


Seusai meeting dengan klien, Sean kembali keruangan nya, Ia melihat ke arah jam tangan sudah pukul 4 sore.


Sean mengambil ponsel dan terkejut saat melihat ada 100 panggilan tak terjawab dari istrinya.


Dengan perasaan cemas dan khawatir, Sean mendial nomor istrinya itu.


"Mas.... mas... Ayah Ayah sama Ibu, kecelakaan." suara Zara terdengar serak seperti sedang menangis.


Deg... seketika ponsel yang dipegang Sean jatuh ke lantai.


BERSAMBUNG....


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2