BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
141


__ADS_3

Saat ini Zayn melajukan mobilnya ke markas miliknya untuk melihat keadaan Eddy pasca di habisi oleh anak buahnya juga motif Eddy melakukan semua ini.


Namun baru setengah perjalanan, Zayn mengurungkan niatnya dan berbalik memilih pulang saja karena baru saja Ia mendapatkan telepon dari Anya. Tak ingin Anya khawatir, Zayn memutuskan untuk pulang.


Dan benar saja sesampainya dirumah, Anya istri tercintanya sudah menunggu didepan rumah dengan raut wajah khawatir padahal ini masih tengah malam.


"Biarkan saja disana dan jaga dulu jangan sampai kabur, aku akan kesana besok pagi." ucap Zayn yang baru saja mendapatkan telepon dari anak buahnya.


"Mas dari mana?" tanya Anya mendekati Zayn yang baru saja selesai menerima panggilan.


"Ada urusan mendadak, tidak sempat pamit karena tak ingin menganggu tidurmu. maafkan aku sayang." balas Zayn sambil mengelus puncak kepala Anya.


"Seharusnya bangunkan saja mas, aku khawatir mencari kemana mana lagipula urusan apa tengah malam seperti ini?" heran Anya karena tak biasanya suaminya seperti ini.


Zayn tidak menjawab, Ia malah merangkul istrinya dan mengajaknya masuk.


"Urusan apa mas?" Anya masih penasaran karena Zayn tidak menjawab.


"Aku ingin minum coklat hangat." pinta Zayn.


Anya berdecak kesal, Zayn tidak menjawab pertanyaan nya dan malah mengalihkan dengan meminta coklat hangat, meski begitu Anya tetap membuatkan coklat hangat untuk Zayn.


"Terimakasih sayang." kata Zayn kala sudah menerima secangkir coklat hangat buatan istrinya itu.


"urusan apa mas? aku masih menunggu?"


Zayn yang baru saja menyeruput coklat hangatnya hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Anya yang diulang.


Tampak Zayn menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Aku kerumah Se-"


"Apa mas memiliki wanita lain?" tuduh Anya dengan mata berkaca kaca tak menunggu jawaban Zayn.


"Haa? wanita lain apa sayang?" Zayn malah dibuat bingung oleh sikap Anya apalagia Anya hampir menangis.


"Mas punya istri lain kan makanya tengah malam gini pergi."


Seketika tawa Zayn membuncah, "Ya Allah sayang, mana mungkin aku seperti itu."


Anya sepertinya tak percaya dengan ucapan Zayn membuat Zayn menarik tangan Anya agar keduanya duduk lebih dekat.


"Tadi aku kerumah Sean istrinya temen kamu itu buat bantuin dia soalnya lagi ada masalah dirumahnya." jelas Zayn sambil mengelus kepala Anya lalu mencium bibirnya.

__ADS_1


"Bener begitu?" Anya terlihat tak yakin.


"Kalau kamu nggak percaya nanti aku anterin kerumah sakit tempat dia dirawat."


"Rumah sakit? memang masalahnya apa mas?"


"Ada kejadian yang membuat Zayn dan asisten nya dibawa kerumah sakit, beruntung teman kamu itu selamat. Seharuanya kamu bangga dong punya suami ultraman kayak aku yang selalu siap menolong siapa saja." ungkap Zayn membuat Anya mau tak mau terkekeh.


"Ultraman nya nggak pamit sama istri, bikin khawatir sama curiga." omel Anya membuat Zayn lagi lagi tertawa.


"Udah sekarang tidur lagi, aku juga udah ngantuk banget sayang." ajak Zayn menarik tangan istrinya dan berjalan ke kamar sambil merangkul tubuh istrinya.


Keduanya kembali tidur setelah melewati perdebatan panas yang hampir membuat menangis Anya.


Dan pagi harinya setelah mengantar Raisa ke sekolah, mobil Zayn segera meluncur ke markas miliknya dimana tempat itu menjadi tempat eksekusi para musuh Zayn.


"Dia masih tidur boss." kata salah satu anak buah Zayn kala Zayn baru saja sampai disana.


Zayn mengangguk dan langsung berjalan memasuki tempat dimana Eddy disekap. Posisi Eddy saat ini sedang duduk dan tangan serta kakinya di ikat di kursi.


"Siram dengan air." perintah Zayn.


Segera anak buah Zayn mengambil seember air lalu menyiramkan ke tubuh Eddy membuat Eddy gelagapan bangun.


"Sakit?" ejek Zayn sambil tersenyum sinis.


"Kau terlalu ikut campur urusan orang." Eddy tak kalah sinis.


Zayn tertawa, "Bagaimana bisa aku membiarkan pria cabul seperti mu itu berkeliaran apalagi berada dirumah sahabatku."


Lagi lagi Eddy hanya tersenyum sinis membalas ucapan Zayn,


"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang orang ini?" tanya Zayn pada salah satu anak buahnya.


"Tio sedang mencari dan saat ini belum kembali."


Zayn mengangguk paham,


Zayn kembali menatap Eddy yang juga menatap matanya, jika dilihat dari matanya, Eddy seolah sosok yang tak asing untuk Zayn namun Zayn sendiri tak tahu siapa Eddy sebenarnya.


"Jadi bagaimana boss? kita apakan dia?"

__ADS_1


"Kita bawa ke kantor polisi setelah Tio datang."


Anak Buah Zayn terkejut, "Yakin boss? tak ada eksekusi kali ini?"


"Ya, istriku sedang hamil jadi aku ingin mencari aman saja." balas Zayn yang langsung di mengerti Anak buahnya.


"Aku akan ke kantor dulu, nanti sore datang lagi. kuharap Tio bisa mendapatkan informasi tentang pria ini agar bisa segera kita bawa ke kantor polisi. Ingat jaga dia jangan sampai kabur."


"Siap boss."


Zayn akhirnya pergi ke kantornya karena hari ini ada banyak meeting penting bersama para klien nya.


Sementara itu dirumah sakit tempat Sean dirawat, Papa Anggara tampak marah besar dengan Ricky yang tak becus mencarikan Sean satpam hingga akhirnya Sean beserta keluarganya celaka seperti ini.


"Bisa bisanya kamu ceroboh seperti ini! saya benar benar kecewa dengan kinerja kamu!" kata Anggara pada Ricky yang dulunya anak buahnya sebelum Anggara memberikan pada Sean.


"Pa sudahlah pa, aku juga yang salah tidak cepat bertindak." Kata Sean membela Ricky karena mau bagaimana pun Ricky asister terbaik untuknya yang selalu menuruti keinginan nya meskipun Ricky memang ceroboh.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak menyangka semua akan seperti ini." Ricky menunduk, tangan nya terasa gemetar takut menatap wajah Anggara.


"Kamu juga Se, Bukankah Papa sudah menawarkan anak buah untuk kamu dan malah kamu tolak, sekarang kamu mencari sendiri dan apa yang terjadi? Papa bener bener nggak bisa memaafkan kalian jika sampai terjadi sesuatu pada Zara!"


"Pa, sudah... Zara baik baik saja, alhamdulilah masih dilindungi sama Allah, Papa jangan marah dan menyalahkan Mas Sean sama Ricky lagi." Zara akhirnya ikut membela Ricky dan suaminya.


"Iya mas sudahlah, ini dirumah sakit. mereka sedang kesakitan jangan menambahi dengan amarah mas." Ranti pun akhirnya membuka suaranya.


Anggara menghembuskan nafas kasar, "Tapi dia harus dipecat!"


"Jangan Pa." Zara dan Sean berucap bersamaan semetara Ricky wajahnya sudah memucat.


"Pa, jangan cuma satu kesalahan saja membuat Papa memecat Ricky, kita kasih kesempatan sekali untuk Ricky karena mau bagaimanapun kinerja Ricky pada keluarga kita juga baik."


"Saya terima keputusan daru Tuan, apapun itu karena memang saya salah." timpal Ricky yang sudah pasrah dengan nasibnya.


Anggara tampak diam sebelum akhirnya Ia kembali bicara, "Ya sudah, kita kasih kesempatan sekali lagi tapi ingat jika sampai ada kejadian seperti ini lagi Papa akan langsung pecat dia." kata Anggara sambil menunjuk wajah Ricky.


"Dan mulai Papa akan kirim orang papa untuk menjaga rumah kalian dan kamu harus mau Se!"


Sean akhirnya mengangguk pasrah, menyetujui keinginan Papa nya karena sekarang Sean sadar dirinya masih belum mampu menjaga Zara dengan baik.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeennn


__ADS_2