BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
115


__ADS_3

Zara baru saja selesai menunaikan sholat dhuha dan mengaji sebentar setelah itu kini Ia sedang memeluk bingkai foto kedua orangtuanya sambil berkali kali Ia ciumi karena Ia sangat rindu dengan kedua orangtuanya.


Zara dikejutkan oleh suara ketukan pintu rumahnya, Zara bergegas membuka pintu sambil menebak siapa gerangan yang datang,


Mungkinkah Sean yang datang?


Dengan penuh harap Zara membuka pintu rumahnya dan harus kecewa karena bukan Sean yang datang melainkan Ranti Mama mertuanya.


"Sayangnya Mama..." Ranti langsung memeluk Zara yang masih mengenakan mukena.


"Ma-mama..." Zara terkejut dengan kedatangan Mama mertuanya, Ia sampai celinggukan kesamping untuk melihat apakah ada Sean juga atau tidak namun Mama mertuanya hanya datang sendiri.


"Mama kok tahu kalau Zara... disini?" tanya Zara kala Ranti melepaskan pelukan nya.


"Masuk yukk, Mama bawain bubur ayam buat sarapan kita berdua." kata Ranti langsung memasuki rumah Zara dan mengajak Zara duduk.


"Zara lepas mukena dulu ya Ma."


Zara kembali ke dalam untuk melepas mukena dan tak berapa lama, Zara kembali dan membawa secangkir teh hangat juga piring untuk makan bubur yang Ranti bawakan.


Sebenarnya Zara sudah sarapan tadi,entah kenapa melihat bubur yang mertuanya siapkan di piring membuat Zara kembali lapar.


"Kayaknya enak Ma..." kata Zara saat menerima piring dari mertuanya itu.


"Ini bubur kesukaan Mama sama Papa dari dulu pas masih pacaran," ungkap Ranti membuat Zara tersenyum mengingat keharmonisan rumah tangga mertuanya itu.


"Enak Ma..." puji Zara setelah mencicipi sesuap buburnya.


"Iya, rasanya masih sama kayak dulu bikin inget jaman dulu."


"Ajakin Papa nostalgia Ma.." goda Zara membuat Ranti mengangguk setuju.


"Ide bagus sayang... Mama juga sudah lama nggak jalan sama Papamu, tau sendiri lah Papamu sibuk terus!" kesal Ranti.


"Papa pekerja keras ya Ma."


"Iya, itu yang bikin Mama jatuh cinta sama Papa." Ranti tersenyum mengingat masa mudanya bersama Anggara suaminya.

__ADS_1


"Pernikahan Mama juga awet ya sampai sekarang." puji Zara yang membandingkan pernikahan nya dengan Sean masih seumur jagung tapi harus terpisah seperti saat ini.


"Tapi semua yang dilewati nggak mudah, Mama sama Papa pernah berada di posisi paling bawah tapi alhamdulilah Mama dan Papa bisa bertahan sampai sekarang." jelas Ranti membuat Zara menunduk merasa tersindir dengan ucapan Ranti.


"Papa pernah dijebak sama orang sampai masuk penjara, waktu itu Mama lagi hamil Sean 3 bulan dan Mama harus melakukan semua sendiri tanpa Papa kamu." ungkap Ranti dengan mata berkaca membuat Zara terkejut, tak bisa membayangkan apa yang sudah dilalui ibu mertuanya itu.


"Waktu Papa kamu dipenjara, mantan masa lalu Mama datang dan menawarkan diri untuk bersama Mama asal Mama mau meninggalkan Papa kamu, tapi Alhamdulilah Mama bisa mempertahankan kesetiaan Mama untuk Papa kamu sampai Papa kamu dinyatakan tidak bersalah dan keluar dari penjara." ungkap Ranti yang terlihat sangat lega.


Zara terdiam sejenak, mendengarkan cerita mama mertuanya membuatnya sedikit sadar jika apa yang terjadi dalam rumah tangga nya belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan perjuangan Mama mertuanya dimasa lalu.


Yang terjadi saat ini karena Zara terlalu takut jika sampai hal buruk terjadi padanya karena Sean, ketakutan yang mungkin sudah tidak akan terjadi apalagi mengingat Sean kini sudah memilihnya dan mencintai dirinya.


"Ak-aku dan mas Sean..."


"Tidak perlu dipaksa jika tidak ingin bercerita, Mama kesini bukan untuk meminta kamu pulang dan kembali dengan Sean, Mama nggak akan memaksa apapun itu. Mama hanya ingin menemani kamu karena sekarang kamu sudah tanggung jawab Mama." kata Ranti yang membuat Zara tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Zara akhirnya memberanikan diri untuk memeluk Mama mertuanya itu, Ia menangis dalam pelukan mertuanya.


"Apapun masalah kamu dengan Sean, Mama akan jadi penengah untuk kalian."


"Makasih Ma... makasih banyak."


"Kamu sekarang agak gemukan ya sayang." kata Ranti mencoba mencandai Zara agar Zara berhenti menangis.


"Iya Ma... akhir akhir ini nafsu makan Zara meningkat. makan terus."


Ranti menatap heran ke arah menantunya itu, "Jangan jangan kamu..." Ranti menghentikan ucapan nya karena tak ingin Zara bertambah beban pikiran nya.


"Jangan jangan apa Ma?"


"Enggak, enggak apa apa sayang."


"Mama mau nginep sini?" tanya Zara saat melihat tas besar yang dibawa Mama mertuanya.


"Iya, nggak apa apa kan Mama nginep disini buat beberapa hari kedepan?"


Zara kembali terdiam, Ia senang jika Mama mertuanya menemaninya karena memang saat ini dirinya sedang membutuhkan seseorang namun merasa tak enak juga karena mau bagaimanapun Mama mertuanya memiliki tanggung jawab dikota, tanggung jawab melayani suaminya.

__ADS_1


"Zara seneng kalau Mama di sini, tapi gimana sama Papa disana."


Ranti tersenyum, "Mama kesini kan atas ijin dari Papa jadi InsyaAllah tidak akan ada masalah sayang."


Zara akhirnya ikut tersenyum, "Makasih Ma, udah sayang sama Zara."


"Ck, harus sayang dong sama Mantu kesayangan ini." Ranti kembali mengelus bahu Zara.


Setelah seharian bersama Mama mertuanya, malam hari mereka tidur terpisah karena jika berdua ranjang Zara tidak akan muat juga tidak nyaman meskipun dulu pernah tidur berdua dengan Sean diranjang itu.


Zara yang tidak bisa memejamkan matanya pun bangun dan bersandar di ranjang. Ia ambil ponselnya untuk mengecek notifikasi ponselnya. Sejak pertama kabur dari rumah Zara memang sengaja mematikan ponselnya.


Namun karena malam ini Ia merasakan rindu yang sangat hebat dengan suaminya itu, akhirnya Zara memberanikan diri menghidupnya ponselnya.


Dan benar saja, baru saja diaktifkan sudah ada 200 pesan dari Sean juga 300 panggilan tak terjawab selama beberapa hari ini.


Zara sampai menitikan air mata setelah membaca satu persatu pesan dari suaminya yang mengatakan jika Sean rindu padanya dan meminta maaf atas apa yang terjadi juga ketakutan Sean jika harus kehilangan Zara.


Sean juga mengatakan jika Ia akan berubah menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Zara.


"Kamu sudah baik mas, kamu sudah menjadi suami yang sangat baik. aku yang salah karena takut dengan prasangka ku sendiri." gumam Zara sambil terus menangis.


Rasanya saat ini Zara ingin pulang dan memeluk suaminya namun masih ada juga keraguan Zara pada Sean, entahlah Zara sendiri pun bingung dengan apa yang Ia rasakan.


Zara mendial nomor seseorang dan cukup lega karena orang itu segera menerima panggilannya,


"Nona membutuhkan sesuatu?" Ricky, orang yang saat ini Zara telepon dan terdengar panik.


"Tidak, aku... aku hanya ingin bertanya apa mas Sean baik baik saja?"


Terdengar hembusan nafas lega dari Ricky, "Tidak terlalu baik Nona karena sejak Nona pergi, Tuan jadi jarang makan."


Deg... Zara terkejut, sangat terkejut mendengar pengakuan Ricky.


Bagimana bisa dirinya disini makan dengan tenang dan porsi yang banyak sementara disana suaminya tersiksa sampai tidak makan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeeen


__ADS_2