BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
98


__ADS_3

Setelah mengantar Mama Ranti pulang kerumah, Sean tidak langsung mengajak Zara pulang, mereka mampir kesebuah taman yang juga terdapat danau, tempat semua orang refresing sejenak melepaskan segala beban dan penat.


"Aku baru tahu ternyata didekat rumah kita ada tempat sebagus ini." ungkap Zara terlihat menikmati pemandangan yang sangat indah dan membuatnya tenang itu.


"Sudah lama aku ingin mengajakmu kesini,"


"Mas sibuk kerja terus sih." protes Zara membuat Sean terkekeh.


"Demi masa depan yang cerah untuk keluarga kita sayang." balas Sean membuat Zara mengangguk paham.


"Mas sering kesini?"


"Dulu sering,"


"Waktu sama tunangan mas itu?"


Sean terkejut dan langsung menatap Zara khawatir, "Aku nggak apa apa lho mas, cuma nanya nggak usah pakai melotot." balas Zara lalu tertawa melihat ekspresi terkejut Sean.


"Aku dulu kesini sendiri." balas Sean dan kini giliran Zara yang terkejut,


"Nggak percaya, mas pasti bohong kan biar aku nggak cemburu."


Sean terkekeh, Ia merangkul istrinya "Serius sayang, aku dulu kesini sendiri." kata Sean mengingat dulu Sella tidak pernah mau diajak ke tempat umum seperti ini. Sella lebih menyukai datang ke mall ketimbang taman seperti ini.


"Dulu setiap lagi penat sama kerjaan langsung kesini buat nenangin pikiran." Jelas Sean namun sepertinya Zara masih tak percaya.


Zara tahu suaminya tak ingin membuatnya cemburu jadi mengatakan sebaliknya.


"Masih nggak percaya?" tanya Sean menatap mimik curiga diwajah Zara.


"Iya, tapi nggak apa apa kalau mas nggak mau jujur."


"Ya Allah sayang... aku jujur lho ini." Sean nampak menatap istrinya dan memberikan keyakinan pada istrinya jika apa yang dikatakan nya itu benar, Sean memang belum pernah kesini bersama Sella.


Zara akhirnya tertawa, mendengar nada kesal dari ucapan suaminya membuat Zara mau tak mau percaya,


"Iya mas, aku percaya kok."


"Percaya beneran apa pura pura percaya?" tanya Sean yang kembali membuat Zara tertawa karena Sean menirukan ucapan nya.


"Percaya beneran mas."


"Tante cantik..." suara anak cempreng anak kecil membuat Sean dan Zara menengok ke belakang ke arah suara.

__ADS_1


Seketika raut wajah Sean berubah kesal melihat siapa yang menghampiri Zara bahkan memeluk Zara yang kini masih duduk disampingnya.


"Yeyeye Raisa seneng bisa ketemu lagi sama tante cantik!" ungkap anak kecil yang tak lain adalah Raisa itu.


Sementara Anya yang datang bersama Raisa nampak berdiri mematung sambil memandang ke arah Raisa yang terlihat senang dan bahagia bersama Zara.


"Oh jadi ini... pantas Mas Zayn menyukai Zara karena Zara bisa merebut hati Raisa." batin Anya merasa cemburu melihat kedekatan Zara juga Raisa.


Tadinya Anya dan Raisa jalan jalan sore ke mall dan sepulang dari mall Anya mengajak Raisa mampir ke taman ini karena Anya belum pernah kesini dan penasaran ingin datang namun siapa sangka saat datang Anya malah bertemu dengan Zara disini.


"Raisa sayang apa kabar? wah kesini sama tante Anya ya?" tanya Zara sambil menatap ke arah Anya. namun Anya terlihat memaksa senyum ke arahnya.


"Lho bukan Tante Anya tapi Mama Anya." balas Raisa yang membuat Zara juga Sean terkejut.


Zara langsung sadar dan menatap ke arah jari manis Anya yang kini sudah tersemat cincin.


"Alhamdulilah..." gumam Zara karena Anya dan Zayn sudah menikah. Zara merasa lega karena dengan ini Zayn tidak lagi menganggu rumah tangganya bersama Sean.


"Aku dengar dari Mas Zayn jika orangtuamu baru saja tiada, aku turut berduka cinta Zara." kata Anya kini memeluk Zara yang sudah berdiri didepan nya.


Zara membalas pelukan Anya, Ia mengangguk dan merasa lega karena pertemanannya dengan Anya masih baik baik saja.


"Dari mana pria itu tahu jika orangtua Zara meninggal?" tanya Sean dengan nada menuduh setelah mendengar ucapan Anya.


"Mas..." Zara menyentuh lengan suaminya, mengingatkan suaminya melalui tatapan matanya.


Sean hanya mendengus sebal dan kembali duduk.


"Tante cantik kenal sama Mama Raisa?" tanya Raisa yang nampak bingung melihat Anya Mama barunya memeluk Tante cantiknya.


"Mama Raisa temen nya tante waktu sekolah dulu." jelas Zara membuat mata Raisa langsung berbinar senang.


"Wah, berarti kapan kapan bisa jalan jalan berdua sama Mama dan tante cantik, yeyeye."


Zara dan Anya nampak tersenyum melihat Raisa girang berbeda dengan Sean yang nampak kesal memandang ke arah Raisa.


"Selamat karena sekarang menjadi Mama sambung Raisa." kata Zara pada Anya.


Anya tersenyum, seketika rasa cemburu dan irinya pada Zara langsung hilang saat mendengar Zara tulus memberikan ucapan selamat padanya.


"Kapan resepsinya? jangan lupa mengundangku." kata Zara lagi yang langsung membuat Anya tersenyum.


"Sepertinya tidak akan ada resepsi."

__ADS_1


"Kenapa?" heran Zara.


Anya mengeleng pelan, "Kau tahu aku tidak suka dipandangi banyak orang dan menjadi pusat perhatian."


Zara mengangguk paham, cukup tahu jika temannnya itu memang sedikit introvert.


"Tapi sebaiknya kamu pikirkan tentang resepsi agar semua orang tahu jika kalian menikah dan kedepan tidak ada orang yang berniat menganggu hubungan kalian."


Anya terdiam memikirkan ucapan Zara, sepertinya memang benar jika dirinya harus memikirkan kembali tawaran resepsi dari Zayn agar semua orang tahu jika mereka menikah, termasuk para wanita pengoda yang ada disekitar Zayn.


"Entahlah, aku akan memikirkan lagi."


Setelah cukup lama berbincang dengan Anya dan bercanda dengan Raisa, akhirnya Zara pamit pulang lebih dulu meskipun sebenarnya Zara masih ingin di sini namun melihat wajah kesal suaminya membuat Zara memilih mengajak suaminya pulang.


"Alhamdulilah Non Zara..." Mbok Nah langsung memeluk Zara kala mereka baru sampai dirumah.


"Non Zara harus kuat dan tetap semangat, jangan sedih lagi." Kata Mbok Nah menberi kekuatan pada majikannya itu.


Zara mengangguk dan semakin mempererat pelukan, "Makasih Mbok Nah, makasih banyak."


Selesai berbincang sebentar dengan Mbok Nah, Zara langsung memasuki kamar, menyusul suaminya yang lebih dulu memasuki kamar.


Zara melihat Sean berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga tak terlihat membuat Zara mau tak mau tertawa dengan tingkah suaminya yang sedang ngambek itu.


"Udah mau adzan magrib mas, jangan tidur." Zara kini duduk di tepi ranjang samping suaminya berbaring.


"Aku masih sedih lho, masa mas mau ngambek sama aku." kata Zara yang akhirnya membuat Sean membuka selimutnya.


"Ck, maafin aku sayang, aku kesel aja tiap ketemu sama anak kecil tadi. apalagi dia langsung nempel sama kamu." ungkap Sean.


Zara tersenyum, "Tapi sekarang lega kan mas melihat pria yang membuat kamu cemburu sudah menikah dengan wanita lain jadi dia nggak akan ganggu aku lagi."


"Belum, aku masih curiga ini pasti cuma modusnya dia aja biar kamu nggak ngehindar kalau ketemu."


"Astagfirullah, mas jangan suudzon."


"Nggak suudzon cuma curiga aja sayang."


"Sama aja." untuk pertama kalinya Zara memukul pelan paha suaminya karena gemas mendengar ucapan menuduh Sean.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEEENN

__ADS_1


__ADS_2