
Mbok Nah berlari ke arah pintu kala mendengar suara mobil Sean, segera mbok Nah membuka pintu untuk Sean.
"Zara udah tidur?" tanya Sean sambil melirik jam dinding sudah pukul 9 malam.
"Belum den, Non Zara masih ngaji dibilik." balas mbok Nah yang langsung diangguki Sean.
Sean mengendurkan dasinya sambil berjalan menuju bilik kecil dimana Ia mendengar suara lembut Zara melantunkan ayat ayat alquran yang langsung membuat hati dan pikiran Sean tenang seketika.
"Shodaqollahhuladzim."
Zara menutup alquran nya lalu berdoa entah apa yang diucapkan Zara tidak bisa didengar oleh Sean yang kini sudah duduk dibelakang Zara. Dan saat Zara sudah selesai berdoa, Sean langsung memeluk Zara dari belakang membuat Zara terkejut, "Mas sudah pulang?"
Sean tak menjawab, Ia semakin erat memeluk Zara membuat Zara akhirnya diam dan membiarkan Sean memeluknya yang masih memakai mukena itu.
Cukup lama dan Sean belum melepaskan pelukannya, Sean merasa memeluk Zara sedikit membuat hatinya tenang.
Sampai akhirnya Sean sudah puas dan melepaskan pelukan Zara. Beralih dengan menelungkupkan kedua tangannya diwajah Zara, memandang wajah cantik itu lalu menciumi bibirnya berulang kali.
"Kamu kenapa sih mas?" tanya Zara sambil tersenyum malu melihat Sean terus saja memandanginya.
"Kamu barusan berdoa minta apa?" tanya Sean yang sudah melepaskan Zara.
"Banyak mas yang aku minta." balas Zara sambil melepas mukena dan melipatnya.
"Apa aja?"
"Mas mau tahu banget ya."
"Iya..."
Zara tersenyum, "Aku minta biar aku, mas sama keluarga kita diberikan kesehatan, panjang umur juga di lindungi dimanapun kita berada. aku juga minta supaya kita nanti mempunyai anak yang soleh dan soleha. aku minya supaya pekerjaan kamu diberikan kemudahan dan kelancaran dan aku juga minta supaya rumah tangga kita menjadi sakinah mawadah warrahmah, jauh dari apapun yang nantinya akan merusak rumah tangga kita dan... masih banyak lagi lah mas." jawab Zara sambil tersenyum malu.
Sean ikut tersenyum dan langsung memeluk istrinya lagi.
Sean benar benar tak tahu lagi harus mengatakan apa setelah mendengar doa doa yang diucapkan sang istri setiap harinya, doa yang tak hanya untuk kebaikan dirinya namun juga untuk keluarganya. Sungguh Sean merasa Ia menjadi pria yang sangat beruntung karena bisa memiliki istri seperti Zara.
"Maa udah laper ya, makan dulu yuk." ajak Zara mencoba melepaskan pelukan Sean yang semakin erat.
"Masih mau meluk kamu." Sean masih belum melepaskan pelukan nya.
__ADS_1
"Tapi perut mas udah bunyi lho." ucap Zara yang langsung membuat Sean terkekeh dan melepaskan pelukan Zara.
Sean memang belum makan, hanya makan saat siang tadi dirumah itupun tidak dihabiskan, langsung ditinggal begitu saja.
"Aku mandi dulu aja baru makan." kata Sean yang langsung diangguki Zara.
Seragam kantor Sean kini sudah berganti dengan piyama, Ia lalu turun ke bawah dimana istrinya sudah menunggu di meja makan.
"Kamu belum makan?" Sean menyeret kursi lalu duduk disamping Zara.
Zara menggeleng, "Belum mas, nungguin kamu." kata Zara sambil mengambilkan nasi dan lauk lalu meletakan di piring Sean.
"Ck, kenapa harus nungguin. kalau laper makan dulu nggak usah nungguin aku." kata Sean pada Zara.
Zara tersenyum, "Nggak apa apa mas, lagipula aku juga belum laper tadi."
Zara meletakan piring yang sudah berisi nasi dan lauk di depan Sean.
"Dan mulai ngeyel ya sekarang." Sean mengelus rambut istrinya gemas.
Zara hanya tersenyum, Ia memandangi Suaminya yang kini sudah mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Zara pikir malam ini Sean akan mendiamkan nya namun siapa sangka Sean sudah kembali biasa bahkan sempat memeluknya tadi.
Selesai makan malam, keduanya duduk di blankon kamar mereka sambil melihat bintang dan juga merasakan hawa dingin suasana malam ini.
"Aku mau ngerokok, kamu masuk aja kalau nggak tahan sama asapnya." ucap Sean sambil mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyulutnya dengan api.
"Aku nggak apa apa mas, udah biasa juga bau rokok soalnya Ayah juga ngerokok." ungkap Zara yang langsung diangguki Sean.
Mereka terdiam cukup lama,
"Tadi temen Mama ngomong apa? ada yang bikin kamu sakit hati?" tanya Sean kembali membahas masalah siang tadi.
"Apa mas nggak apa apa bahas masalah ini lagi? aku nggak mau nanti mas marah lagi." balas Zara membuat Sean tersenyum geli.
"Apa kamu takut aku marah?"
Zara hanya menunduk, sejujurnya Ia sangat takut Sean marah dan sampai mengatai dirinya. Zara bukan orang yang masa bodoh dengan setiap ucapan yang dilontarkan padanya, Ia selalu merasa sakit hati jika ada yang mengatainya dengan perkataan buruk. Dan itu yang membuat Zara takut. Takut Sean marah dan mengucapkan hal buruk yang membuat dirinya nanti tidak lagi bisa berbakti pada Sean sebagai istri.
__ADS_1
"Aku kalau marah nggak kasar kok." kata Sean.
Zara hanya tersenyum dan menggeleng saja.
"Apa kamu masih mencintai pria yang kemarin?" tanya Sean lagi membuat Zara terkejut.
"Siapa maksudnya, mas Panji kah?"
Sean mengangguk, "Bukankah kamu sempat dilamar oleh nya?"
Zara mengangguk dan menunduk,
"Apa kamu sudah bisa melupakan nya Zara?" tanya Sean membuat Zara mendongak dan menatap ke arah Sean.
"Katakan saja sejujurnya aku tidak masalah, bukankah suami istri memang harus saling terbuka?"
Zara mengangguk setuju, Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab,"Terkadang aku masih memikirkan nya. maafkan aku mas."
Zara kembali menunduk membuat Sean tersenyum.
"Bukankah tidak ada yang bisa memaksa masalah hati Zara?" Zara kembali menatap ke arah Sean yang kini menatap langit.
"Begitu juga dengan aku, jika kamu tanya apakah aku masih sayang dengan wanita itu dan jawabann nya Ya, aku memang masih belum bisa melupakan dia sepenuhnya." kata Sean yang entah mengapa membuat hati Zara terasa nyeri.
"Kita bersama karena perjodohan orangtua kita, sebisa mungkin aku berusaha menjadi suami yang baik untuk mu Zara..
"Maafkan aku jika mungkin apa yang terjadi tadi siang menyakitimu. aku hanya masih bingung harus menjawab apa dan aku juga masih bingung harus bersikap bagaimana."
Zara kembali tersenyum, mendengar Sean masih mencintai wanita yang entah itu mantan atau bukan memang membuat Zara sakit karena saat ini Zara sudah mulai mencintai Sean namun Zara juga tak ingin bersikap egois karena jujur dirinya juga masih belum bisa melupakan Panji.
"Kita sama sama masih belajar mas, ini mungkin hanya awal ujian untuk rumah tangga kita, ke depan mungkin akan lebih berat lagi." kata Zara yang langsung diangguki setuju oleh Sean.
"Bolehkan aku meminta sesuatu padamu Zara?"
"Apa itu mas?"
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah pergi."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEN