
Panji memeganggi pipinya yang terkena pukulan dari Sean, Ia lalu tersenyum puas sudah bisa membuat Sean emosi. Panji memang sengaja sedari tadi menyentuh Zara meskipun Zara menolak karena Panji tahu Sean terus memandangi gerak gerik nya dan siapa sangka Panji berhasil membuat Sean emosi.
Panji tak langsung kembali ke dalam, Ia pergi ke kamar mandi lebih dulu untuk melihat seberapa lebam wajahnya.
"Ck, sialan!" gerutu Panji melihat wajahnya lebam sekali. Ia hanya khawatir jika Ayahnya sampai tahu dan melakukan suatu hal dibelakang nya lagi takut Ayahnya malah bermasalah lagi dengan orang orangnya Sean.
Panji meraup wajahnya dengan air, berharap lebam dari kerasnya pukulan Sean bisa hilang namun Panji yang bodoh bukan nya hilang malah semakin sakit.
Selesai mengantar para siswanya kerumah mereka masing masing, Panji segera mengembalikan mobil sekolahan dan pulang.
Dan benar saja sesampainya dirumah sang Ayah terkejut melihat wajahnya ada luka lebam.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Joni saat Panji baru saja memasuki rumah.
"Biasa yah." balas Panji santai dan langsung berjalan memasuki kamar.
"Biasa bagaimana? siapa yang sudah berani memukulmu!" sentak Joni terlihat marah.
"Suaminya Zara, apa ayah akan membalaskan lagi?" tanya Panji dengan nada sinis.
Joni nampak terkejut, "Zara? bagaimana bisa dia melakukan itu padamu?" heran Joni karena seingatnya Ia sudah tak menganggu dan tak ada masalah dengan keluarga Zara lagi setelah mendapatkan ancaman dari Anggara.
"Panji yang salah Yah, sudah berani menyentuh Zara didepan suaminya." jelas Panji lalu duduk disofa di ikuti oleh Joni.
"Apa kamu sudah gila!" sentak Joni kali ini marah dengan Panji.
Panji hanya menghela nafas berat, "Rasanya masih tak terima dia begitu mudahnya mendapatkan Zara padahal selama ini aku yang berjuang." keluh Panji.
Joni menepuk bahu Panji, "Sudahlah nak, ikhlaskan saja dia. bukankah kamu sekarang juga sudah memiliki Rena." kata Joni yang hanya membuat Panji terdiam.
"Ayah, Panji ingin menghentikan perjodohan ini." ungkap Panji yang membuat Joni terkejut bukan main.
__ADS_1
"Kenapa? bukankah Rena sama cantiknya dengan Zara?" sinis Joni.
Panji menggeleng, "Bukan karena cantik dan tak cantik Ayah, tapi hatinya tak cukup baik.
"Dia wanita yang banyak menuntut." jelas Panji.
"Menuntut bagaimana?" tanya Joni masih tak paham.
Panji menghela nafas panjang, "Dia banyak meminta ini itu, pernikahan yang harus mewah bahkan tadi dia meminta iphone keluaran terbaru hanya karena melihat Zara memilikinya."
"Belikan saja, bukankah kita mampu memberikan pada Rena?"
Lagi lagi Panji menghela nafas panjang, "Bukan seperti itu wanita yang Panji cari yah, Panji ingin wanita yang sederhana dan tidak banyak menuntut. memang kita sekarang sedang berada diatas, bisa memberikan Rena segalanya tapi bagaimana jika nanti kita sedang berada dibawah dan tak bisa memberikan Rena segalanya? apa dia masih mau menemani Panji?" ungkap Panji membuat Joni terdiam memikirkan ucapan Panji memang benar.
"Apakah wanita seperti Alm ibumu yang kamu cari nak? wanita sederhana yang tak banyak menuntut padahal dia bisa memiliki segalanya."
Panji mengangguk, meski hanya sampai lulus smp sang Ibu menemaninya namun kenangan dengan Sang Ibu sangat melekat dihatinya.
Joni menghembuskan nafas berat, "Ya jika memang itu yang kamu mau nak, Ayah akan membatalkan perjodohan ini." kata Joni membuat Panji sangat lega.
Berbeda dengan Panji yang sudah sangat lega, Zara terlihat sangat takut, melihat wajah Sean yang sangat marah.
Zara diajak masuk ke mobil dan Sean mengatakan pada Ricky untuk mengantar mereka pulang kerumah. Sontak perintah Sean pada Ricky membuat Zara terkejut. Tanggung jawabnya belum selesai, Ia masih harus mendampingi muridnya lomba dan sekarang Sean malah membawanya pulang.
"Mas, tapi Ak-aku harus mendampingi anak anak untuk lomba." kata Zara dengan suara lirih berharap Sean akan mengerti.
"Persetan dengan lomba, kamu harus berkemas dan ikut kekota bersamaku saat ini juga." balas Sean dengan nada tinggi.
"Ta-tapi mas, masa kerjaku belum selesai." protes Zara.
"Aku tidak peduli lagi dengan masa kerjamu itu, biarkan nanti Ricky yang mengurus semuanya disekolahanmu. sekarang kamu ikut aku ke kota."
__ADS_1
"Ta-tapi mas..."
"Apa kamu ingin membantah suamimu?"
Zara terdiam, dalam hatinya seolah berteriak, tidak... Ia tidak ingin membantah suaminya. Ia ingin ikut ke kota bersama suaminya namun tidak dengan cara seperti ini. Tidak saat Sean marah, juga tidak saat tanggung jawabnya belum selesai.
Zara terdiam, memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jalanan. Ia sadar memang salah karena berdekatan dengan pria lain disaat Ia sudah bersuami namun itu hanya sebatas rekan kerja saja. bahkan sedari tadi Zara juga sudah berusaha cuek dan menjauhi Panji dan memang Panji saja yang berusaha mendekatinya. entah sengaja atau tidak Zara merasa tadi itu seperti bukan Panji. Ya Panji yang Ia kenal dulu.
Sesampainya dirumah, Asih dan Bahar terkejut dengan kepulangan Zara yang cukup awal. Ini masih terhitung pagi karena masih pukul 10 dan Zara sudah pulang kerumah membuat Orangtua Zara bertanya tanya, Ada apa?
Sean mengenggam tangan Zara , Ia mengajak Zara duduk didepan orangtuanya.
"Ayah, Ibu... Izinkan Sean mengajak Zara ke kota sekarang." kata Sean pada Orangtua Zara.
Baik Asih dan Bahar mereka terlihat terkejut karena mereka tahu masa kerja Zara di sekolahan belum usai.
"Kenapa mendadak nak? bukan nya masa kerja Zara belum selesai?" tanya Asih.
"Karena saya tidak bisa harus berjauhan seperti ini dan untuk masalah pekerjaan semua akan diatur oleh Ricky."
Bahar mengangguk paham "Ya sudah, memang seharusnya seperti itu karena Zara sekarang adalah tanggung jawabmu dan Zara pun juga memiliki kewajiban yang harus dilakukan padamu." kata Bahar yang tak sepemikiran dengan Asih.
Asih merasa ada sesuatu yang tidak beres, apalagi melihat putrinya hanya menunduk dan tak mengatakan apapun membuat Asih curiga namun tak berani menanyakan.
"Bawa barang barang penting saja karena sudah ada baju untukmu di sana." kata Sean saat keduanya sudah berada didalam kamar untuk berkemas.
Tanpa protes Zara segera menuruti ucapan suaminya untuk berkemas meskipun hatinya masih merasa menggajal seolah masih belum ingin pergi dari sini.
Selesai berkemas keduanya keluar, Zara masih sama menunduk tak berani menatap kedua orangtuanya membuat Asih yang sedari tadi memperhatikan akhirnya tak tahan lagi.
"Nak Sean bisakah ibu berbicara berdua dengan Zara sebelum kamu membawanya pergi?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komen....