BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
19


__ADS_3

Zara sedang membereskan kamarnya, Pintu kamar terbuka Zara melihat Sean masuk masih menggunakan baju koko, sarung serta peci yang membuat ketampanan Sean bertambah berlipat lipat. Bahkan Zara sampai tak berkedip menatap Sean.


Karena hari jumat, Sean pergi ke masjid untuk sholat jumat. Tadinya Zara diam saja tidak menyuruh Sean karena takut Sean marah lagi seperti pagi tadi. Namun nyatanya Sean malah berangkat dengan kemauan nya sendiri.


"Apa aku sangat tampan sampai melihatku tak berkedip seperti itu?" goda Sean yang kini sudah duduk dipinggiran ranjang.


Ucapan Sean sontak membuat Zara langsung menunduk menutupi kegugupan nya karena sudah ketahuan.


"Aku mau ganti baju."


Zara mengangguk dan langsung mengambilkan baju Sean dikoper.


"Mas mau makan siang sekarang?" tanya Zara sambil memberikan baju ganti Sean.


Sean menggeleng, "Nanti saja aku masih kenyang. kalau kamu mau makan dulu saja." balas Sean.


Sean membuka kancing baju koko nya didepan Zara membuat Zara langsung berbalik.


Sean terkekeh, "Kenapa harus berbalik? bahkan kita sudah halal untuk melihat tubuh satu sama lain."


"Eng-enggak kok mas. aku cuma mau..." baru selangkah melangkahkan kakinya, Zara merasakan tubuhnya ditarik hingga dirinya jatuh ke pangkuan Sean.


"Mas... a aku harus ke kamar mandi." meski tidak berhadapan namun tetap saja Zara merasa sangat gugup.


"Oh jadi kamu maunya dikamar mandi aja?" Sean membisikan ditelinga Zara membuat Zara merasakan geli luar biasa.


"Eng-enggak gitu mas, aku mau gan-ganti aduh..." Zara bingung dan malu bagaimana Ia harus menjelaskan pada Sean.


Sean melepaskan pelukan nya membuat Zara langsung berdiri dan berlari keluar tanpa mengatakan apapun lagi pada Sean.


Tentu saja semua tingkah Zara itu membuat Sean terkekeh geli. entah mengapa Ia senang sekali mengerjai Zara seperti ini. membuat Zara gugup dan melihat pipi merah Zara saat malu, rasanya membuat Sean merasakan kenyamanan yang luar biasa dalam dirinya.


Pukul 9 malam, orangtua Zara sudah tidur. Zara berada dikamarnya mengerjakan tugas dari sekolahan karena selama 3 hari ini Ia mendapatkan cuti jadi pekerjaan nya Ia bawa kerumah.


Sementara Sean duduk diruang tamu sambil merokok. Sean mematikan rokoknya, berjalan menuju pintu lalu mengunci pintunya. Ia berjalan memasuki kamar Zara. Dilihatnya Zara masih sibuk dengan laptopnya.


"Belum mengantuk?" Sean duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan istrinya dari samping.


"Belum mas, masih kurang sedikit lagi." Balas Zara menatap ke arah Sean sambil tersenyum. Kedunya berpandangan cukup lama hingga Zara lebih dulu memutuskan pandangan.

__ADS_1


"Tidur saja dulu mas kalau sudah mengantuk." kata Zara kembali fokus pada laptopnya.


Sean merebahkan tubuhnya di atas ranjang Zara, "Aku menunggu mu selesai."


"Ja-jangan mas..."


"Kenapa?"


"Tidur saja dulu jika sudah mengantuk tak perlu menungguku."


Sean tersenyum, tak membalas dan terus memandangi Zara dari samping.


Zara yang merasa tak nyaman dipandangi terus oleh Sean akhirnya menutup laptopnya dan menghampiri Sean, duduk dipinggir ranjang.


Sean yang gemas dengan tingkah malu malu Zara akhirnya menarik Zara dan merengkuh ke dalam pelukan nya. Sean bisa merasakan jantung Zafa berdegup dengan kencang.


"Apa kamu tidak pernah melepaskan jilbab mu saat tidur?" tanya Sean karena sejak kemarin Sean belum melihat Zara lepas hijab.


Zara menggeleng, "Biasanya aku melepaskan jilbab ku sehabis keramas saja saat rambutku masih basah."


"Lalu kapan kamu keramas?" bisik Sean.


Sean membalikan tubuh Zara hingga keduanya kini saling berhadapan, Zara nampak menunduk dan tak berani menatap Sean. Jari Sean kini sudah berada di pipi halus Zara. Disentuhnya pipi itu hingga membuat Zara tersipu malu.


Sean mendekatkan bibirnya, mengecup kening Zara cukup lama. Tak sampai di situ bibir Sean berjalan ke bawah menyusuri pipi halus Zara hingga sampai di bibir Zara. Dan sampai di bibir Zara, Sean ingin membuka bibirnya namun keduanya di kejutkan oleh bunyi ponsel Sean yang ada di meja.


"Argh, sial!"


Zara bangkit dan langsung mengambilkan ponsel Sean lalu memberikan pada Sean.


Papa Calling...


Dengan perasaan masih kesal, Sean menjawab telepon sang Papa.


"Kenapa Pa?" tanya Sean.


"Besok? apa nggak bisa aku di sini dulu sampai Zara bisa ku ajak ke kota?"


"Ya sudah besok aku pulang." kata Sean dengan kesal lalu mematikan panggilan.

__ADS_1


"Kenapa mas?" tanya Zara yang sedari tadi hanya mendengarkan suara Sean.


"Besok aku harus pulang karena pekerjaan kantor sudah menungguku." balas Sean dengan nada kesal.


"Maafin aku ya mas, aku masih belum bisa ikut." kata Zara dengan kepala menunduk merasa sangat bersalah.


Sean menghela nafas panjang, "Memang sampai kapan urusan di sekolahmu itu selesai?".


Zara menggelengkan kepalanya pelan, "Sampai mendapatkan ganti guru yang baru mungkin aku baru bisa keluar." jelas Zara.


"Ck, pasti lama sekali."


"Kepala sekolah sedang mengusahakan mencari guru pengganti mas, semoga segera dapat."


Sean hanya mengangguk saja, Ia kembali berbaring dan memunggungi Zara membuat Zara menghela nafas panjang.


"Marah lagi." batin Zara lalu ikut berbaring disamping Sean.


Tengah malam Sean bangun, Awalnya dirinya terkejut karena mengira Zara tidur dibawah lagi namun saat Ia membalikan badan nya, barulah Sean tahu jika Zara tidur disampingnya.


Sean memandangi wajah Zara yang terlelap dan Ia tersenyum dengan sendirinya. Padahal sebelum tidur, Sean sempat kesal dengan Zara. Namun melihat wajah pulas Zara seperti saat ini mendadak semua rasa kecewanya sirna.


Padahal sejak awal Sean tidak terlalu memikirkan jika nanti Zara belum bisa tinggal bersama nya dan sekarang setelah semua itu terjadi Sean malah merasa kesal sendiri. Ia ingin besok Zara ikut ke kota bersamanya namun kenyataan nya Sean tidak bisa memaksakan itu semua.


Ya Sean harus bersabar untuk bisa selalu bersama Zara.


Memandangi wajah Zara nyatanya tak cukup untuk Sean, tangannya terangkat untuk mengelus pipi lembut Zara, memainkan bibir ranum Zara dengan jempolnya yang membuat tidur Zara terusik. Sean tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum. Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki Zara. Tanpa disadari Sean kembali terlelap dengan posisi tangan masih berada di pipi Zara.


Sean samar samar mendengar suara subuh, Namun karena masih merasakan kantuk yang luar biasa, Ia tak memperdulikan dan malah kembali tidur. Hingga hidung Sean merasakan aroma wangi sampo membuat Sean akhirnya membuka matanya.


Entah mimpi atau tidak, Sean melihat seorang wanita mirip dengan Zara namun tak mengenakan hijab. Rambutnya hitam terurai panjang, masih basah hingga airnya berjatuhan di leher.


Dan saat wanita itu berbalik, Ia tersenyum pada Sean.


"Cantik sekali..."


Bersambung....


Jangan lupa.like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2