BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
40


__ADS_3

Ricky nampak asik bermain game diponselnya, Ia kini sedang berbaring didipan yang ada didepan rumah Zara.


Beralasakan tikar sambil menikmati angin sepoi sepoi. meskipun tidak empuk namun sangat nyaman berbaring didipan yang sudah dialasi tikar.


Tadinya Ricky pikir akan diajak jalan jalan oleh Sean namun nyatanya Ia malah ditinggal dirumah Zara membuat Ricky senang karena bisa bersantai.


Ricky yang sedang fokus dengan ponselnya, merasakan ada seseorang yang baru saja lewat didepan nya. Ia menghentikan aktifitasnya dan melihat siapa yang lewat baru saja.


Dan senyum Ricky langsung terbit kala melihat siapa yang datang,


"Cari siapa neng?" goda Ricky melihat Imah yang datang, nampak memasuki rumah Zara dan mencari cari seseorang.


Merasa tak ada siapapun, Imah akhirnya keluar lagi dan dengan sangat terpaksa bertanya pada Ricky.


"Ayah sama Ibu nggak ada?" Imah terlihat jutek dengan Ricky.


"Nggak mau jawab lah kalau nanya nya judes gitu."


"Ya udah," Imah tak ingin kesal jadi Ia berbalik dan hendak pergi namun langkahnya terhenti kala tangannya dicekal oleh Ricky.


"Kamu!" Imah melotot ke arah Ricky yang kini masih mencekal tangan nya.


Bukannya takut Imah marah, Ricky malah terkekeh dan langsung melepaskan tangan Imah.


"Bawa apa tuh?" tanya Ricky melihat Imah membawa plastik dimana didalamnya ada kotak yang Ricky yakini itu makanan.


"Ini buat Ayah sama Ibu." Imah masih saja judes.


Ricky terkekeh, "Padahal ada Non Zara."


Sontak ucapan Ricky membuat Imah terkejut, "Beneran?" Imah nampak senang sekali.


Ricky mengangguk, "Iya tapi lagi keluar nanti juga balik lagi. tunggu saja sini." Ricky kembali duduk dan mengajak Imah ikut duduk disampingnya.


Imah yang sudah rindu dengan sahabatnya itu akhirnya menurut ikut duduk disamping Ricky. Kemarin saat Zara berangkat kekota tidak pamit dengan dirinya membuat Imah ingin marah namun setelah mendengar penjelasan dari Ibu Zara membuat Imah mengerti.


"Ayah sama Ibu ikut juga?" tanya Imah yang langsung digelenggi oleh Ricky.


"Mereka lagi keluar kota, katanya ada saudaranya yang meninggal."


Imah terkejut, "Jangan jangan kamu bohongin aku ya?"


"Bohong gimana?"


"Zara nggak kesini, kamu cuma disuruh jagain rumah kan? modus nih bilang aja minta ditemenin."


"Astagfirullah neng, jangan suudzon. dosa." Ricky terkejut dengan ucapan Imah.

__ADS_1


"Pake istigfar segala, sholat aja nggak pernah." cibir Imah.


"Neng habis makan cabe ya? mulutnya pedes amat." celetuk Ricky menbuat Imah mau tak mau tersenyum.


"Nah, senyum gini kan cantik." Seketika senyum Imah berganti lagi dengan wajah judesnya.


"Lah dah judes lagi."


"Tapi bener kan Zara pulang?" tanya Imah sekali lagi.


"Suerr neng, Non Zara beneran kesini tapi lagi keluar aja sama Den Sean." kata Ricky sambil mengacungkan dua jarinya agar Imah percaya dan Imah hanya mengangguk saja.


Keduanya sama sama diam, Ricky kembali melanjutkan bermain game. Imah yang merasa tak enak akhirnya membuka kotak yang Ia bawa.


"Mau?" tawar Imah pada Ricky. sebenarnya Imah membawa kue ini untuk orangtua Zara namun karena mereka tidak dirumah akhirnya Imah tawarkan saja pada Ricky.


"Duh enak nih, kamu bikin sendiri?" tanya Ricky mengambil satu potong kue.


Imah mengangguk, entah mengapa Ia merasakan sedikit malu dengan pertanyaan yang Ricky lontarkan.


"Pantes enak, ternyata buatan kamu sendiri."


"Ck, gombal banget." kesal Imah membuat Ricky terkekeh.


Ricky yang sedang menikmati kue buatan Imah terganggu dengan suara ponselnya yang berdering. Ricky langsung menjawab panggilan yang tak lain dari Sean.


"Lah gue kesana naik apa?" gerutu Ricky terlihat kesal.


"Ada apa?" imah nampak penasaran.


"Hotel melati? masalah apa lagi sekarang." Ricky melihat alamat yang diberikan Sean melalui sms.


"Ada apa sih?" Imah terlihat kesal karena tak kunjung dijawab oleh Ricky.


"Ini, Tuan Sean nyuruh aku ke hotel melati sekarang padahal mobilnya dibawa sama dia. lah gue naik apa dong kesana, mana jauh lagi." kesal Ricky.


"Pakai motor aku, tapi aku ikut." kata Imah yang terlihat ikut penasaran.


"Wah, bener kata pepatah. Kalau jodoh itu orang yang selalu ada disaat kita susah." celetuk Ricky membuat Imah melotot ke arahnya.


"Ya udah nggak jadi aja."


"Eh jangan dong, gitu aja ngambek. Canda sayang. duh malah keceplosan." Ricky tertawa sementara Imah memutar bola matanya malas.


Ricky melajukan motor matic milik Imah dengan kecepatan tinggi membuat Imah mau tak mau memegang jaket yang dipakai Ricky.


"Meluk juga nggak apa apa neng." celetuk Ricky yang langsung dihadiahi cubitan oleh Imah.

__ADS_1


15menit perjalanan akhirnya mereka sampai di hotel dimana sudah banyak orang disana termasuk istri Budi juga orangtua Naila yang juga baru saja datang.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Ricky sedikit berbisik.


"Segera hubungi polisi." kata Sean yang langsung membuat Semua orang terkejut.


"Tidak! kau tidak bisa melakukan itu pada suamiku!" Ira istri Budi nampak menjerit tak terima dengan apa yang baru saja Sean katakan pada Ricky.


"Suamimu bersalah. dia membawa anak di bawah umur ke hotel."


"Tidak, tidak mungkin suamiku melakukan ini. pasti karena dia, dia yang mengoda suamiku lebih dulu." Ira menunjuk ke arah Naira yang kini sudah berada dipelukan Ibunya.


"Jangan menyalahkan putriku. dia anak yang baik tidak seperti itu." Ibu Naira membela putrinya.


"Memang benar mas Budi yang bersalah mbak, saya tadi melihatnya sendiri." kata Zara ikut menimpali.


"TIdak mungkin suamiku seperti itu. kalian pasti bersetongkol untuk menjebak suamiku!


"Katakan mas, kamu pasti tidak melakukan ini kan? semua ini fitnah kan mas?" Ira menangis dihadapan suaminya yang kini menunduk dengan tangan terikat.


Sean yang sudah geram akhirnya mengeluarkan ponselnya lalu memberikan pada Ira agar Ira melihat rekaman video saat Budi memaksa Naira memasuki hotel.


Ira membegap mulutnya sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Ya Allah mas, kenapa kamu bisa setega ini." ucap Ira terjatuh dilantai karena shock dan tak menyangka suaminya bisa melakukan hal sehina itu.


Tak berapa lama polisi datang, Sean meminta Ricky untuk mengurus semua ini serta Ia memberikan bukti rekaman nya agar menjadi bukti kejahatan Budi.


Dan kini tinggalan Sean, Zara, Imah, Naira juga orangtuanya yang masih disana.


"Tadi Naira disuruh ketemu sama pak Budi katanya mau dikasih tugas malah dibawa kesini." jelas Naira pada orangtuanya.


"Naira takut Bu, Naira malu kalau sampai temen temen Naira tahu tapi Naira bersumpah belum melakukan apapun." jelas Naira lagi sambil menangis sesenggukan.


Zara dan Imah mendekati Naira lalu memeluknya, "Tenang Naira, dia tidak akan melakukan itu lagi padamu karena sudah diproses polisi dan pasti dipenjara." kata Imah menenangkan.


"Tapi Naira malu kalau sampai temen temen Naira tahu bu, Naira nggak mau sekolah lagi aja."


"Naira sayang nggak boleh gitu ya, harus tetep sekolah. Naira pinter berprestasi sayang banget kalau nggak sekolah. Lagian temen temen juga nggak bakal tahu karena polisi pasti akan menjaga nama baik Naira." kata Zara dengan suara lembut sambil membelai rambut Naira membuat Naira berhenti menangis.


Sean tersenyum melihat Zara yang begitu keibuan dan sangat lembut, Rasanya Sean ingin memeluk istrinya saat ini juga.


"Istri gue emang bener bener ter the best."


Bersambung ....


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2