
Raisa sedang duduk didepan rumah bersama Naninya. Sudah menjadi kebiasaan Raisa menunggu kepulangan Zayn sang Papa. padahal ini sudah larut malam namun Raisa masih enggan diajak masuk ke dalam.
"Papa pulang..." Seru Raisa melihat mobil Zayn memasuki pekarangan rumah.
Zayn keluar dari mobil dan langsung mengendong Raisa yang sudah berlari ke arahnya.
"Ck, kebiasaan anak Papa nih selalu nungguin didepan rumah padahal ini kan sudah malam sayang." kata Zayn lalu memberikan ciuman dipipi gembul Raisa.
"Papa mandi trus makan malam bersama." ajak Raisa.
"Oke siap sayang." Zayn memasuki rumah masih mengendong Raisa sementara Tisa sang Nani mengikuti dari belakang.
Setelah makan malam, Zayn menemani Raisa tidur dikamar Raisa, memang sudah menjadi kebiasaan Zayn menemani putrinya sampai terlelap.
Raisa sedari tadi mengoceh, menceritakan apa yang terjadi disekolahan tak lupa menceritakan Zara yang membuat bibir Zayn melengkungkan senyuman.
"Raisa mau punya Mama kayak bu guru Zara?" tanya Zayn yang langsung membuat Raisa mengangguk setuju.
"Mau banget Pa... tapi kan Bu guru Zara sudah punya suami. katanya kalau sudah punya suami nggak bisa jadi Mama nya Raisa." ungkap Raisa dengan raut wajah sedih.
"Kata siapa nggak bisa?"
"Temen temen Raisa bilang gitu kok Pa,"
"Bisalah, asal Raisa selalu baik dan tidak nakal kalau lagi sama Bu Guru Zara, pasti bu guru Zara senang dan mau jadi Mama nya Zara." kata Zayn penuh percaya diri.
"Beneran begitu Pa?" Raisa nampak senang.
Zayn mengangguk, "Mulai besok Papa yang akan jemput Raisa dan Kita ajak bu guru Zara makan siang bersama lagi."
"Tapi Tante cantik pasti nolak lagi kayak tadi." raut wajah Raisa kembali sedih mengingat Zara menolak diajak makan siang.
"Raisa paksa aja sampai Raisa nangis pasti tante Cantik mau makan bareng kita."
"Gitu ya Pa?"
Zayn mengangguk, "Bisa nggak anak Papa?"
"Bisa dong Pa.."
Zayn tersenyum lalu mengecup kening Raisa.
__ADS_1
Setelah Raisa terlelap, Zayn keluar dari kamar Raisa dan memasuki kamarnya. Didalam kamar sudah ada Tisa, Nani Raisa yang mengenakan ligerie warna hitam yang mengoda mata Zayn.
Zayn tersenyum lalu mendekati Tisa yang sudah berbaring diranjangnya, "Kamu selalu bisa membuatku tertarik."
Tisa tersenyum, Ia bangun dan merangkulkan kedua tangan nya di bahu Zayn, "Bukankah ini yanh Tuan sukai." bisik Tisa terdengar mengoda.
Tidak menunggu waktu lama, Zayn segera menikmati setiap inci tubuh Tisa yang menggoda.
"Apa Tuan menyukai guru Non Raisa?" tanya Tisa disela sela aktifitas panas mereka.
"Itu urusanku, jangan ikut campur. Ahhh..." Balasan Zayn disertai ******* karena milik Tisa yang begitu nikmat memanjakan adik kesayangan Zayn.
"Tapi, ahh... bagaimana denganku Tuan?" protes Tisa membuat Zayn kesal hingga akhirnya mempercepat tempo permainannya.
Setelah mendapatkan pelepasan, Zayn segera bangkit dan mengenakan jubah mandinya, "Keluar dari kamarku sekarang!" kata Zayn dengan nada tak suka.
"Tu-tuan, kita baru sekali. apa Tuan tidak menginginkan lagi?" tanya Tisa terlihat terkejut.
"Kubilang keluar!" bentak Zayn membuat Tisa segera mengambil bajunya lalu berjalan keluar.
"Dan jangan pernah ikut campur dengan urusanku! tugasmu hanya menjaga Raisa juga melayaniku dan aku akan memberikan banyak uang untuk mu. hanya sebatas itu!"
"Tapi Tuan... " Tisa terlihat menangis kecewa.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Tisa keluar dari kamar Zayn dengan menangis sesenggukan.
"Ada apa nduk?" tanya Bik Temi, asisten rumah tangga dirumah Zayn juga rekan kerja Tisa.
"Aku pikir kalau Aku melayani Tuan, aku bisa menjadi istri Tuan, menjadi Mama Raisa tapi ternyata aku salah Bik." ungkap Tisa masih menangis sesenggukan didalam kamarnya.
Bik Temi nampak menghela nafas panjang, Ia sudah lama bekerja dengan Zayn tentu sudah tahu sifat Zayn seperti apa, "Bukankah sudah ku katakan sejak pertama, jangan sekali kali mengoda Tuan Zayn, aku sudah memperingatkanmu tapi kamu malah mengabaikan nya."
"Aku sekarang menyesal Bik, aku bahkan sudah memberikan keperawanan ku untuk Tuan Zayn, tapi malah sekarang seperti ini." ungkap Tisa.
"Nasi sudah menjadi bubur nduk, menyesal seperti apapun sudah sangat terlambat jadi sekarang jangan berharap lebih lagi dengan Tuan Zayn, jangan mau kalau disuruh melayani. pikirkan harga dirimu sebagai seorang perempuan." kata Bik Temi mengingatkan lagi.
"Tapi Bik..."
"Sudah turuti saja apa yang Bibik katakan kalau kamu masih mau bekerja di sini."
Tisa hanya diam saja, Dalam hatinya Ia merasakan sakit yang luar biasa karena perlakuan Zayn. Padahal Ia tadi hanya bertanya tentang guru Raisa karena Tisa sering mendengar Zayn dan Raisa membicarakan orang itu tapi siapa sangka Zayn bisa semarah itu padanya.
__ADS_1
Pagi harinya Zara berangkat menuju TK ditemani oleh Sean. sebelum berangkat Sean memang sempat menelepon Naya dan Naya mengatakan jika pagi ini jadwal Sean kosong membuat Sean akhirnya menemani Zara untuk memberikan surat resign dari TK.
"Ada apa ini, kenapa kalian datang sepagi ini keruanganku?" tanya Tessa heran apalagi melihat Sean ikut bersama Zara.
"Istriku ingin memberikan surat resign, dia ingin keluar dari Tk ini." balas Sean membuat Tessa terkejut.
"Ada apa? memang ada masalah apa? bukankah semua baik baik saja Zara?" tanya Tessa dengan raut wajah khawatir.
"Semua baik baik saja kak, hanya ada sedikit problem pribadi yang membuatku memutuskan untuk mengundurkan diri. maafkan aku." kata Zara merasa tak enak.
"Sayang sekali, padahal aku sangat menyukai caramu mengajar anak anak disini." ungkap Tessa terlihat kecewa.
"Sekali lagi maafkan aku kak." kata Zara yang langsung diangguki Tessa.
"Baiklah, karena kamu adalah istri dari temanku, aku bisa memaklumi itu."
"Ck, memang siapa yang menjadi temanmu?" cibir Sean membuat Tessa langsung melotot ke arahnya.
"Jadi begitu ya Sean." Tessa tersenyum tengil ke arah Sean "Ngomong ngomong bagaimana kabarnya emm si Sell-"
"Iya kau memang temanku. puas!!" Sean memotong ucapan Tessa dengan kesal membuat Tessa tertawa puas karena berhasil memancing kekesalan Sean.
Zara hanya diam, sesekali tersenyum mendengar Tessa dan Sean saling mengoda tanpa merasa curiga sedikit pun.
Setelah berpamitan dengan rekan guru, kini Zara pergi ke ruang kelas untuk berpamitan dengan anak anak didiknya.
Semua anak anak terlihat sedih saat mendengar jika Zara sudah tidak lagi menjadi guru mereka. Bahkan Raisa yang sedari tadi juga disana sudah menangis karena tidak bisa lagi bertemu dengan tante cantik kesayangan nya itu.
"Bu guru cantik jangan pergi, nanti Raisa bagaimana?" kata Raisa mewakilkan perasaan teman temannya.
Zara terlihat diam, Ia sebenarnya tak tega melihat raut sedih Raisa namun mau bagaimana lagi.
Andai saja Zayn tidak memancing kesalahpahaman mungkin Zara juga masih tetap mengajar disini.
"Raisa sayang, maafin ibu ya... ibu harus tetap pergi. nanti Raisa dan teman teman akan diajar sama Ibu guru Rini. baik baik ya. jangan nakal." kata Zara sambil mengusapi pipi Raisa yang basah karena menangis sesenggukan.
"Nggak mau! maunya sama bu guru cantik aja."
Sean menatap kesal ke arah Raisa, "Ck, nggak anak nggak bapak sama aja." batin Sean kesal.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangann lupa like vote dan komenn