
Setelah dirasa aman bersama pengasuhnya, Zara melambaikan tangan pada Raisa yang kini sudah berada didalam mobil.
Zara memasuki mobilnya dimana sudah ada Ricky yang menunggu sejak tadi.
"Maaf ya lama." Zara merasa tak enak dengan Ricky.
"Tidak apa apa, Nona." Ricky langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolahan.
Seperti biasa, Siang ini Zara pulang dari mengajar langsung istirahat sebentar dan sore harinya mulai memasak untuk makan malam Sean.
Zara menunggu suaminya pulang bekerja dengan menghabiskan waktu membaca buku diruang baca karena dirinya sedang halangan dan tidak bisa membaca alquran di bilik.
Rasanya baru sebentar Zara membaca bukunya namun Ia sudah mendengar suara Sean yang berbicara dengan mbok Nah.
Zara menutup buku dan memgembalikan pada tempatnya setelah itu Ia bergegas memasuki kamar dimana sudah ada Sean disana.
Zara melihat Sean tengah melepaskan dasinya juga kemejanya,
Zara tersenyum, Ia berjalan mendekati lemari untuk mengambilkan Sean piyama yang akan dipakainya.
"Mas pulang lebih awal?" tanya Zara sambil memberikan handuk saat Sean akan memasuki kamar mandi.
"Ya sengaja pulang lebih cepat karena sudah merindukan istriku." balas Sean yang langsung membuat pipi Zara memerah malu. Sean tertawa dan langsung menutup pintu kamar mandi.
"Kenapa sekarang dia senang sekali membuat jantungku berdegup kencang." gumam Zara kembali tersenyum.
Selesai makan malam, seperti biasa Sean mengajak Zara duduk dibalkon kamar mereka sambil menikmati suasana malam juga indahnya langit yang bertaburan bintang.
"Apa tadi Tessa memarahimu?" tanya Sean sambil menghisap rokoknya.
Zara menggeleng, "Tidak, Kak Tessa bisa mengerti kenapa kemarin aku tak berangkat. hanya saja..."
"Kenapa?"
"Ah tidak mas, tidak apa apa." kata Zara tak ingin Sean tahu.
"Katakan apa? atau aku yang akan mencari tahu sendiri." ancam Sean yang langsung membuat Zara memucat.
"Teman temanku ada yang tak suka karena merasa kak Tessa memperlakukan ku istimewa." jelas Zara yang langsung membuat Sean berdecak.
"Yah, memang seperti itulah manusia." gumam Sean. "Kalau merasa tak nyaman kamu resign saja."
Zara langsung menggeleng tak setuju, "Semua baik baik saja mas, aku tidak terlalu memikirkan ucapan temanku." kata Zara yang langsung diangguki Sean.
"Besok sore aku berangkat ke paris, mungkin aku disana 3 hari." kata Sean membuat Zara terdiam.
"Kenapa?" tanya Sean.
__ADS_1
"Nggak apa apa mas, aku mungkin akan merasa kesepian." jujur Zara dan Sean menatapnya sambil tersenyum.
"Jadi apa sekarang sudah merasa takut kehilanganku?" Sean mendekat lalu menarik tubuh Zara dan memeluknya.
Deg ... deg... deg... suara degup jantung Zara bahkan terasa kencang sekali.
"Egh, aku kan hanya bilang kalau kesepian mas..."
"Jadi tidak takut kehilanganku?" goda Sean yang langsung membuat Zara panik.
"Ti-tidak seperti itu juga mas." Zara gugup membuat Sean tertawa.
"Mas mengodaku?" protes Zara melihat Sean menertawakan nya.
"Aku hanya ingin tahu saja, apa istriku ini sudah bisa mencintaiku atau masih mencintai mantan menyebalkannya itu." cibir Sean.
Zara langsung menatap ke arah Sean, "Dan mas Sean sendiri bagaimana? sudahkah bisa melupakan wanita itu?"
Sean tak menjawab, Ia malah menatap Zara lalu tersenyum dan kembali memeluk Zara.
"Belum ya mas?" Zara terlihat murung.
"Kamu cemburu?"
"Egh, ti-tidak! aku hanya bertanya saja." kata Zara melepaskan pelukan Sean.
"Apa dia ngambek?" batin Sean menatap punggung istrinya sambil terkekeh.
"Dia sering merayuku akhir akhir ini, aku pikir dia sudah melupakan mantan nya dan mulai mencintaiku, nyatanya aku salah. Dasar baperan." gumam Zara berbaring memunggungi Sean yang masih duduk di balkon.
Dan betapa terkejutnya Zara sesaat setelah Ia mengerutu suara Sean terdengar jelas ditelinganya.
"Sudah mengantuk?" Bibir Sean menempel di leher belakang Zara membuat Zara langsung mengeliat geli.
Tak tahan dengan godaaan Sean membuat Zara berbalik dan menatap ke arah Sean dengan tatapan kesal.
"Apa kamu marah baby?" kekeh Sean mencium leher bagian depan milik Zara membuat Zara mengeluarkan suara *******.
Sean tersenyum dan semakin bersemangat mendengar suara ******* milik Zara, Sean meminta lebih hingga saat Ia ingin menyatukan miliknya,
"Mas, aku sedang halangan." ucap Zara dengan suara berat yang langsung membuat milik Sean melemas seketika.
"Kenapa nggak bilang?" tanya Sean setengah kesal.
"Aku pikir mas inget."
Sean akhirnya berbaring disamping Zara, memeluk Zara yang kini menunduk seolah takut Sean marah.
__ADS_1
"Ya sudahlah, kita tidur saja."
"Mas marah?" Zara memberanikan diri menatap ke arah Sean yang juga menatapnya.
Sean malah terkekeh, "Apa segitu takutnya jika aku marah?"
Zara ikut tersenyum, "Tidak takut, hanya saja merasa tak enak sudah membuat mas marah." kata Zara membuat Sean tersenyum dan semakin erat mendekap istrinya.
Pagi harinya, Sean masih berangkat ke kantor seperti biasa. bekerja lebih dulu dan pulang lebih awal.
Dan sore harinya, Sean sudah berada dirumah bersama Zara yang kini sedang sibuk menata baju Sean ke dalam koper.
"Aku hanya 3 hari sayang, tak perlu membawakan baju sebanyak itu. lagipula disana sudah banyak bajuku yang ku tinggal." kata Sean membuat Zara menghentikan aktifitasnya dan menatap heran ke arah Sean.
"Mas sudah ada tempat tinggal juga disana?"
Eh, Sean merutuki dirinya sendiri yang telah keceplosan pada Zara.
"Bu-bukan itu maksudku sayang, aku kan hanya 1 hari disana selebihnya waktu hanya terbuang untuk perjalanan, jadi tidak perlu membawakan baju satu koper penuh seperti itu karena aku bisa membeli baju untuk disana." jelas Sean sedikit gugup.
Zara mengangguk paham, Ia mulai mengurangi baju yang dibawakan untuk Sean, "Tidak semuanya baju mas, ada obat obatan juga jika sewaktu waktu kamu pusing atau mual."
"Ck, emang bener bener deh istri aku ini." kata Sean menarik tangan Zara hingga terjatuh dipangkuan nya.
"Aku masih belum selesai mas." protes Zara yang tak digubris oleh Sean.
"Bakal kangen nih." gumam Sean yang didengar oleh Zara membuat Zara tersenyum.
Zara ikut mengantar Sean ke bandara, Dari keluar mobil sampai memasuki bandara, Tangan Zara dan Sean terus bergandengan hingga saatnya Sean harus memasuki pesawat karena sudah akan berangkat.
"Mas jaga diri baik baik." kata Zara mengambil tangan Sean lalu menciumnya lama.
"Jangan lupa sholat, jangan telat makan dan jangan lupa sama ... emm jangan lupa sama aku." kata Zara langsung menunduk malu.
Sean tersenyum geli melihat tingkah istrinya, hatinya seketika menghangat.
Sean memeluk Zara dan mencium kening Zara lama, "Aku cuma pergi 3 hari sayang, hanya 3 hari aku janji itu. jangan merasa kehilangan karena aku pasti akan pulang." kata Sean membuat Zara terlihat lega.
Sean mencium kening istrinya lagi sebelum akhirnya Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Zara.
"I love you mas, semoga Allah selalu melindungi langkahmu."
Sean berhenti sejenak mendengar ucapan Zara, Ia tersenyum sebelum akhirnya berjalan lagi tanpa melihat ke arah Zara.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENNN
__ADS_1