BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
27


__ADS_3

Zara menutup Alquran yang baru saja Ia baca tak lupa melipat mukena yang baru saja Ia gunakan.


Zara meletakan mukena ditempatnya, mendengar suara ponselnya berdering.


Zara langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.


Dan betapa senang nya Zara saat mengetahui Sean lah yang meneleponnya.


"Assalamualaikum mas." sapa Zara kala panggilan video sudah tersambung.


"Wa alaikumsalam istriku sayang." balas Sean sambil tersenyum membuat Zara tersipu.


"Habis ngapain?" tanya Sean.


"Baru selesai ngaji."


"Jilbab nya dilepas dong." pinta Sean dengan suara manja.


Zara menuruti keinginan Sean untuk melepaskan hijabnya. Rambut Zara dibiarkan terurai, meski belum di sisir rambut Zara sudah terlihat rapi karena memang rambut Zara lurus rapi.


"Cantik banget sih istri aku." puji Sean membuat Zara hanya menunduk malu.


"Mas lagi dimana? kok kayaknya sepi?"


"Iya aku dirumah kita, nggak dirumah Papa sama Mama."


"Dirumah kita?"


Sean mengangguk, "Iya sayang, rumah yang nanti kita tempati."


Zara tersenyum, merasa kagum karena suaminya sudah menyiapkan rumah untuk mereka berdua.


"Hari ini sibuk banget jadi baru bisa telepon." ungkap Sean.


"Aku juga sibuk mas, sibuk sama pikiran aku sendiri, memikirkan apa benar yang tadi menelepon kamu itu Mama. maaf rasanya sedikit nggak percaya." batin Zara yang tak berani mengungkapkan pada Sean.


Paginya, Zara sudah beraktifitas seperti bjiasa. Ia berangkat diantar oleh salah satu pengawal yang menjaga rumahnya.


Sesampainya di sekolahan, Zara memasuki ruang guru dan melihat masih sangat sepi karena Zara berangkat terlalu pagi.


Saat ingin berjalan ke mejanya tiba tiba dari arah belakang ada yang menyenggolnya membuat tubuh Zara hampir saja jatuh jika Zara tak memeganggi meja didepan nya.


"Enak banget ya yang habis bolos 2 hari. huh bolos aja terus!" Zara menoleh ke arah orang yang bicara itu yang tak lain adalah Rena tunangan Panji.


Zara tak mengubris, Ia memilih diam dan langsung duduk di kursinya.

__ADS_1


Ponsel Zara berdering membuat Zara akhirnya mengangkat panggilan suara dari suaminya itu.


"Wa.alaikumsalam mas..."


"Iya aku udah sarapan kok, mas jangan lupa sarapan."


"Udah mulai ngajar lagi hari ini."


"Iya mas nanti aku tanya sama kepala sekolahnya kapan mulai berhentinya."


"Iya mas, semangat kerjanya." Zara meletakan ponselnya di meja selesai menjawab semua pertanyaan Sean ditelepon.


Sementara didepan Zara, Rena nampak kesal mendengar obrolan Zara bahkan Rena juga sempat terkejut melihat ponsel baru Zara yang sangat sangat bagus dan mahal.


Padahal satu kantor guru ini yang memiliki ponsel mahal dan keluaran terbaru hanya Rena tapi sekarang sudah dikalahkan logo Apel gigit milik Zara membuat Rena kesal tak terima.


"Wah pagi sekali Bu Rena dan Bu Zara." seorang guru lain memasuki ruang guru dan menyapa ramah Zara juga Rena.


"Iya Bu.." balas Zara sambil tersenyum hangat dengan guru itu berbeda dengan Rena yang hanya tersenyum saja.


"Saya cari sarapan dulu ya." kata Guru wanita itu berjalan meninggalkan ruang guru.


Guru itu keluar dan tak berapa lama lagi ada guru lain yang masuk yang tak lain adalah Panji.


Tanpa malu Rena langsung mengandeng tangan Panji namun seketika dilepaskan oleh Panji.


"Ini masih disekolahan!" tegas Panji membuat Rena langsung saja cemberut.


"Memangnya kenapa kalau masih disekolahan? masih sepi nggak orang." balas Rena cuek.


Panji menatap ke arah Zara yang sudah fokus dengan pekerjaan nya.


"Ck, ngapain sih mas ngeliatin istri orang!" kesal Rena.


Panji segera menggeleng lalu Ia duduk di kursinya di ikuti oleh Rena.


"Tadi aku dianter sama adik aku. makanya mas pakai mobilnya Ayah kamu, jangan naik motor butut yang harusnya udah pensiun itu. dikit dikit macet dikit dikit macet." cerocos Rena membuat Panji menatap sebal ke arah Rena.


Panji kesal, bisa bisanya Rena mengatakan hal seperti itu padanya. lagipula salah dia sendiri karena tak berangkat naik motor sendiri dan malah selalu nebeng ke Panji. jika saja Rena itu bukan wanita pilihan sang Ayah, mungkin Panji akan mau dekat dengan Rena seperti ini.


"Oh ya mas, besok kalau pas acara seserahan, aku mau hantaran yang dibawa harus ada iphone keluaran terbaru ya." pinta Rena yang membuat Panji sangat terkejut. mengingat harga ponsel dengan merek itu setara dengan harga motor matic baru.


Panji menatap ke arah Rena tak percaya, wanita disampingnya itu benar benar tak tahu malu.


"Kenapa mas? jangan mau kalah sama didepan. sekarang punya iphone." kata Rena santai saat melihat pandangan Panji terlihat tak suka ke arahnya.

__ADS_1


Zara yang berada didepan Panji dan Rena bisa mendengar semuanya, Ia juga sedikit tersinggung dengan Rena yang menyinggung masalah ponselnya. Namun Ia hanya diam dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Dengan wajah kesal, Panji bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar meninggalkan Rena.


"Mas mau kemana?" tanya Rena sedikit berteriak.


Dan saat Panji membuka pintu bersamaan dengan Kepala sekolah yang akan memasuki ruang guru itu.


"Pagi pak..." Sapa Panji ramah.


"Pak Panji sudah bilang ke bu Zara belum?" tanya kepala sekolah yang langsung di gelenggi oleh Panji.


Sementara Zara, mendengar namanya disebut langsung bangkit dan berjalan ke arah mereka.


"Syukur Alhamdulilah, Bu Zara udah masuk lagi." kata kepala sekolah melihat Zara mendekat ke arahnya.


"Ada apa ya pak?" tanya Zara penasaran.


"Jadi gini Bu Zara, pagi ini Bu Zara dan Pak Panji harus berangkat ke perpustakaan kota untuk menemani anak anak yang akan lomba disana." jelas kepala sekolah itu yang langsung diangguki Zara.


Meskipun sebenarnya Zara sedikit keberatan karena harus dengan Panji namun mau bagaimana lagi, Zara tak memiliki nyali untuk menolak.


"Kenapa bukan saya saja pak yang mendampingi Pak Panji." protes Rena dengan suara tak terima.


"Maaf Bu Rena, ini lomba olimpiade matematika dan bahasa inggris. itu gurunya kan Pak Panji dan Bu Zara bukan Bu Rena." jelas Kepala sekolah itu membuat Rena hanya bisa mengepalkan tangan nya karena tak terima.


Panji dan Zara berjalan ke parkiran sekolahan, mereka memang berangkat pagi ini.


"Aku pikir mas mau naik motor sendiri." kata Zara saat melihat Panji ikut naik mobil sekolahan bersamanya.


"Perjalanan sedikit jauh, lebih baik naik mobil biar nanti nggak kecapekan." balas Panji yang langsung diangguki setuju oleh Zara.


Panji duduk didepan sekaligus menjadi sopir dan Zara disamping Panji. sementara di belakang ada 5 siswa yang akan ikut lomba.


Sesampainya disana, Panji keluar mobil di ikuti oleh Zara.


"Ayo..." Panji mengajak Zara masuk ke dalam dan hampir merangkul bahu Zara beruntung Zara dengan cepat langsung menghindar hingga Panji tak sampai menyentuhnya.


"Maaf," Zara tak menjawab hanya diam saja.


Zara berjalan memasuki perpustakaan itu di ikuti Panji. Dan betapa terkejutnya Zara melihat seseorang yang sangat Ia kenali sedang menatap ke arahnya.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2