BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
87


__ADS_3

Sepulang dari Makam, Anya hanya diam saja. Bahkan Anya tidak menanyakan apa maksud dari ucapan Zayn itu.


Zayn juga nampak diam, Ia bahkan kini fokus menyetir mobilnya sambil sesekali menanggapi ucapan Raisa yang sedari tadi berceloteh duduk disamping Zayn.


"Sudah sampai..." Raisa nampak ceria kala mobil sang Papa berhenti didepan sekolahannya.


"Sekolah yang pinter, jangan nakal dan nurut sama tante." kata Zayn mengingatkan.


"Siap Papa."


Anya yang duduk dibangku belakang nampak turun lebih dulu agar bisa membantu Raisa turun.


"Kita bicara nanti malam." kata Zayn kala Anya mengendong Raisa.


"Baik mas." balas Anya nampak gugup.


Mobil Zayn melaju meninggalkan Anya yang masih berdiri mamandangi mobil Zayn.


"Tante ayoo..." Raisa menarik tangan Anya dan mengajaknya memasuki gedung sekolahan.


Dan siang saat jam pulang, Raisa mengajak Anya mampir ke taman yang tak jauh dari sekolahan Raisa.


Disana Raisa meminta dibelikan es krim dan duduk dikursi taman sambil melihat badut yang berjoget joget ditaman.


"Raisa suka kesini?" tanya Anya memastikan takut salah sudah mengiyakan permintaan Raisa.


"Suka, biasanya kalau Papa jemput kadang kita main kesini dulu lihat badut." jelas Raisa yang langsung membuat Anya lega.


"Badutnya lucu tante." Raisa menunjuk satu badut yang berjoget joget di pinggir jalan.


"Iya, badutnya gendut ya." Anya pun ikut tertawa saat melihat badut itu berjoget.


"Tante..."


"Hmm, kenapa sayang?"


"Tante mau ya nikah sama Papa."


Deg, seketika jantung Anya berdegup kencang kala Raisa mengatakan hal seperti itu.


"Tante itu baik, masakan tante juga enak, Raisa suka, Raisa mau kok kalau Tante jadi Mama nya Raisa dan Raisa janji deh nggak bakal nakal kalau Tante mau jadi Mama nya Raisa.


"Biar Raisa juga punya Mama kayak temen temen yang lain, biar Papa juga nggak sedih terus kalau inget Mama."


"Raisa sayang, kamu masih kecil. baiknya jangan bahas hal seper-"


"Raisa udah paham kok tante, bahkan Raisa tadi juga denger pas Papa bilang di makam nya Mama. tapi Raisa sedih ngeliat Tante cuma diam saja. Apa Tante nggak suka ya sama Papa? padahal Papa kan ganteng." jelas Raisa yang langsung membuat Anya tersenyum geli.


"Tante senyum, berarti Tante mau ya sama Papa?" kata Raisa lagi.

__ADS_1


"Tante tadi diam bukan berarti Tante nggak suka sama Papa, cuma Tante masih kaget aja Papa Raisa bilang gitu."


"Berarti Tante mau dong jadi Mama nya Raisa? Yeyeyeye Raisa punya Mama lagi." Raisa bersorak sambil menari nari hingga es krim yang Ia bawa jatuh.


"Yahh jatuh.."


"Mau Tante belikan lagi?"


Raisa langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak ah, kita pulang aja yuk. Raisa mau makan Mie yang kayak kemarin lagi." kata Raisa yang langsung diangguki Anya.


Anya segera memesan taksi online untuk pulang, sesampainya dirumah Anya segera membuatkan mie sehat untuk makan siang Raisa.


Malam ini Zayn pulang lebih awal, Zayn memasuki rumah dan mendengar suara ngaji dari kamar Raisa.


"Setiap habis magrib, Non Raisa belajar ngaji sama Non Naya Tuan." jelas Mbok Jah yang langsung saja membuat Zayn tersenyum.


Zayn kini berdiri didepan kamar Raisa dan ini kali pertamanya Zayn bisa mendengar suara Raisa melantunkan surat pendek dengan lancar.


Shodaqollahhuladzim


"Alhamdulilah Raisa sudah hafal surat al ikhlas, jadi kita besok hafalan lagi ya surat pendek lain nya." suara Anya terdengar jelas ditelinga Zayn membuat Zayn kembali mengulum senyum.


Zayn segera pergi meninggalkan kamar Raisa, Ia ingin mandi lebih dulu sebelum akhirnya ikut berkumpul dengan Anya dan Raisa.


"Papa udah pulang?" Raisa nampak senang kala melihat Zayn mendekat ke meja makan. Anya yang tadinya duduk disamping Raisa kini nampak berdiri dan hendak pergi namun suara Zayn menghentikan langkahnya,


Anya akhirnya mengangguk dan kembali duduk meskipun sebenarnya dirinya merasa tak enak.


Setelah menemani makan malam Raisa dan mendengar celotehan Raisa, akhirnya Raisa tertidur dipangkuan Zayn.


Zayn segera membawa Raisa ke kamarnya lalu membaringkan diranjang Raisa.


"Buatkan aku mie yang sama seperti yang kamu buatkan untuk Raisa." pinta Zayn pada Anya.


"Baik Mas."


Tak menunggu waktu lama, Anya segera turun ke dapur untuk membuatkan mie Zayn. Dan tak butuh waktu lama, satu mangkok mie sehat buatan Anya siap dinikmati.


Awalnya Anya pikir Zayn berada dikamarnya namun nyatanya Anya berada di balkon ruang tengah, berdiri menatap ke arah langit malam yang penuh dengan bintang.


"Sudah matang mie nya." suara Anya membuyarkan lamunan Zayn.


Zayn berbalik, melihat Anya duduk dibelakang nya sambil membawa nampan.


"Temani aku makan." pinta Zayn duduk disofa yang ada diruang tengah.


Anya mengangguk saja dan meletakan mie dimeja, tepat di depan Zayn.


"Kenapa warna nya hijau?" heran Zayn kala Ia mulai mengambil mie dengan sumpit.

__ADS_1


"Karena saya beri sayur sawi jadi warna hijau, Raisa tidak suka sayur, dengan begini Raisa jadi bisa makan sayur tanpa harus dipaksa." jelas Anya yang langsung membuat Zayn tersenyum.


Anya terkejut, melihat Zayn tersenyum padanya seperti itu.


"Enak..."


Anya tersenyum dan lega dengan pujian yang dilontarkan Zayn.


"Kamu juga mengajari Raisa ngaji?"


"Bapak eh mas tahu?" Anya terkejut.


Zayn menganggukan kepalanya,


Wajah Anya langsung pucat, takut Zayn marah dengan apa yang Ia lakukan.


"Aku suka, baru pertama kali ini Nani nya Raisa mau mengajari Raisa ngaji." kata Zayn membuat Anya bernafas lega.


"Eh bukan lagi Nani nya Raisa karena sebentar lagi akan jadi Mama sambung untuk Raisa."


"Apa mas serius dengan ucapan Mas?" tanya Anya memastikan, Ia tak ingin senang dulu jika nanti apa yang Zayn ucapkan hanya bualan semata.


Zayn yang sudah menghabiskan semangkok mie nya langsung meletakan mangkoknya di meja.


"Bahkan kalau bisa aku ingin menikahimu saat ini juga." kata Zayn terdengar mantap.


"Kalau saya boleh tahu, apa alasan mas ingin menikah dengan saya?" tanya Anya pada Zayn.


"Banyak sekali alasan nya, banyak juga yang ingin ku ceritakan padamu tentang aku."


"Saya siap menjadi pendengar yang baik."


Zayn kembali tersenyum menatap Anya, tangan nya terangkat untuk mengelus pipi merah merona milik Anya.


"Apa kamu tahu, setelah Nisya tiada, aku sama sekali tidak berpikir untuk menikah lagi."


Anya terkejut dan menatap Zayn yang kini terlihat sedih,


"Aku tidak bisa menjadi suami yang baik karena tak bisa menjaga Nisya, hingga Nisya meninggal seperti itu. Semua salahku Anya...


Aku merasa bersalah pada Nisya." ungkap Zayn.


"Maafkan saya jika saya lancang menanyakan ini, jika memang mas merasa bersalah kenapa Nisya kenapa mas malah menyakiti perempuan, memaksa perempuan melakukan apa yang tidak ingin dilakukan?" Saat ini Anya pun juga merasakan sesak di dada nya mengingat apa yang Zayn lakukan padanya saat bertama bertemu dulu. Tanpa ampun, Zayn memperkosanya.


"Itu karena..."


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeeen

__ADS_1


__ADS_2