
Setelah kejadian Zayn menemui Zara di toko bunga Sena membuat Zara enggan datang lagi kesana. Zara masih merasa takut jika Zayn tak mengubris ucapan nya dan masih nekat datang lagi.
"Nggak ke toko bunga Sena lagi?" tanya Sean tengah mengenakan kemeja kantornya.
Zara menggeleng pelan, "Enggak mas, mau dirumah dulu aja."
"Kamu sakit?" Sean langsung mendekat dan menyentuh dahi Zara membuat Zara langsung tersenyum.
"Nggak sakit sayang, cuma lagi pengen dirumah aja."
"Coba bilang sekali lagi," pinta Sean sambil tersenyum.
"Bilang apa mas?" heran Zara.
"Barusan kamu manggil aku sayang kan? coba bilang lagi." pinta Sean yang langsung digelenggi oleh Zara.
Zara merasa malu, Ia reflek memanggil suaminya dengan panggilan sayang.
"Ck, ayolah sayang. aku pengen denger lagi." pinta Sean manja.
Zara terkekeh geli, "Kenapa mau denger lagi sih mas, lagian cuma panggilan kayak gitu doang."
"Ck spesial dong pertama kalinya dipanggil istri sayang kok." balas Sean lagi lagi membuat Zara tersenyum geli.
"Ayo kita sarapan sayang, nanti keburu telat." ucap Zara akhirnya membuat Sean tersenyum lega.
"Duh adem banget rasanya dipanggil istriku sayang."
"Mulai kan gombalnya."
"Serius sayang, mulai sekarang kalau bisa manggilnya sayang terus ya, harus!"
Zara tersenyum malu malu, "Nggak janji ya mas."
"Harus sayang, wajib!"
Zara kembali tersenyum dan langsung Ia angguki saja permintaan suaminya.
Usai sarapan sebelum berangkat, Sean memandangi wajah istrinya. Sean merasa ada sesuatu yang Zara sembunyikan darinya sejak semalam.
"Mau ikut ngantor aja?" tanya Sean membuat Zara terkejut.
Zara sebenarnya bosan berada dirumah tanpa melakukan apapun tapi jika pergi ke toko Zara takut bertemu Zayn lagi, mungkinkah ikut ke kantor Sean ide yang bagus? Zara nampak memikirkan tawaran Sean.
"Mau nggak? aku seneng lho kerja ditemeni sama istriku." ucap Sean.
"Memangnya tidak menganggu mas?"
__ADS_1
Sean menggeleng, "Enggaklah justru aku merasa disemangati kalau kerja sambil ngeliatin kamu."
Zara memanyunkan bibirnya, "Gombal."
"Seriusan sayang." Sean memeluk istrinya itu.
"Ikut yuk dari pada gabut." ajak Sean lagi yang akhirnya diangguki oleh Zara.
Akhirnya Zara pun ikut ke kantor Sean dengan menaiki mobil Sean. Hari ini Sean masih menyetir mobil sendiri karena Ricky masih cuti untuk persiapan pernikahan dengan Imah.
"Hari ini kerja nggak sampai sore karena nanti kita berangkat ke kampung."
"Kita nginep mas?" Zara menatap Sean senang.
"Iya dong, masa nggak nginep sih."
Zara tersenyum senang, akhirnya Ia bisa bertemu dengan orangtuanya lagi meskipun baru kemarin Ia bertemu saat pesta pernikahannya.
Sampai dikantor, Sean langsung mengenggam tangan istrinya memasuki kantor. Tampak semua karyawan Sean menunduk sopan saat Sean lewat dan ada juga yang menyapa ramah.
"Aduh, Nona tumben sekali ikut ngantor." kata Naya sekretaris Sean saat melihat Zara.
"Dia mau ngintil saya Nay, takut ditinggal selingkuh kayak yang lagi viral itu, layangan putus atau apa itu." Sean nampak mengingat ingat.
Ucapan Sean tentu saja membuat Zara malu setengah mati, padahal Ia ikut karena Sean mengajaknya namun Sean malah mengatakan sebaliknya.
"Mas kenapa nyebelin banget sih!" protes Zara saat keduanya sudah berada diruangan Sean.
"Bercanda sayang, gitu aja ngambek."
"Ya tapi jangan gitu mas, nanti Naya ngiranya aku posesif banget sama mas."
"Ya nggak apa apa dong, aku malah suka kalau kamu posesif." ungkap Sean langsung menarik tangan Zara hingga Zara jatuh ke pangkuan nya.
"Aku nggak bakal posesif sama mas, aku udah percaya kok sama mas nggak mungkin kan mengkhianati aku." kata Zara membuat Sean tersenyum.
"Iya dong, udah dapat istri cantik, soleha kayak gini. buat apa nyari yang lain." balas Sean langsung mengecup pipi Zara.
"Gombal aja terus nggak usah kerja." omel Zara dan Sean langsung terbahak.
"Aku mau duduk sana aja biar mas fokus kerjanya." kata Zara menunjuk ke sofa.
Sean memgangguk, Ia mulai membuka laptopnya dan memeriksa semua laporan serta hasil kerja para karyawannya, sesekali mata Sean memandang ke arah Zara yang kini asyik memainkan ponselnya.
Karena tak tahan, akhirnya Sean duduk disofa disamping Zara sambil membawa laptopnya.
"Loh mas ngapain pindah?" heran Zara.
__ADS_1
"Biar lebih deket aja sama kamu, rasanya aneh kalau satu ruangan tapi duduknya jauhan."
"Kan mas malah nggak konsen, harusnya tadi aku nggak ikut saja ya." kata Zara merasa bersalah.
"Justru kalau kamu ikut itu aku malah tambah semangat." Ungkap Sean.
"Gombal aja terus." cibir Zara yang langsung dikekehi Sean.
Pintu ruangan diketuk dan Naya nampak memasuki ruangan Sean sambil membawa sebuah dokumen.
"Maaf pak menganggu romantisme berduaan sama istri tapi saya harus meminta tanda tangan bapak." kata Naya setengah bercanda menyodorkan dokumen itu.
"Ck, kamu ini ganggu aja." Sean nampak menyentuh kantong bajunya dimana Ia biasa meletakam pulpen disana namun ternyata tak ada.
"Sayang ambilin pulpen dimeja," pinta Sean yang langsung diangguki Zara.
Zara segera bangkit dan mencari pulpen dimeja Sean namun tak menemukan disana.
"Nggak ada mas, kamu taruh mana?" tanya Zara masih mencari.
"Coba dilaci."
Zara membuka satu persatu laci meja Sean namun masih tak menemukan. Tinggal 2 laci yang belum Ia buka, laci paling atas dan paling bawah dan akhirnya Zara membuka laci paling bawah lebih dulu.
Dan betapa terkejutnya Zara melihat laci paling bawah terdapat bingkai foto Sean bersama Sella, didalam foto itu Sean nampak tersenyum manis menampilkan giginya, juga Sella yang tersenyum sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sean.
"Ada nggak sayang?" suara Sean mengejutkan lamunan Zara.
Dengan tangan gemetar, Zara menutup laci itu dan langsung membuka laci paling atas.
Dan disanalah ternyata pulpen yang dicari Sean. Segera Zara mengambil pulpen itu lalu memberikan pada Sean.
Setelah membubuhkan tanda tangan, Naya segera mengambil dokumen nya, "Terimakasih pak." ucap Naya sebelum akhirnya keluar dari ruangan Sean.
Sean kembali fokus pada laptopnya berbeda dengan Zara yang kini pikiran nya mendadak kacau setelah melihat foto masa lalu Sean dengan Sella.
Zara melihat ke seluruh ruangan, disana sama sekali tak terpajang foto Sean bersamanya membuat Zara menghela nafas panjang.
Sean bahkan sempat memajang foto bersama Sella tapi kenapa foto nya tidak? tak adil huh batin Zara mendadak kesal.
Mungkin kah Sean masih menyukai Sella?
Zara menggelengkan kepalanya dari pikiran negatifnya, "Oh ayolah Zara jangan negatif thingking hanya karena foto itu." batin Zara kembali menghela nafas panjang.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeenn
__ADS_1