
Sean melajukan mobilnya, melewati gelapnya jalanan malam sambil tersenyum.
Tersenyum mengingat jawaban Zara saat Ia bertanya tentang pernikahan yang di inginkan Zara.
Aku hanya ingin pernikahan sederhana, tak ada pesta cukup ijab dan kabul.
"Hanya itu?" heran Sean.
Zara mengangguk mantap,
Terkejut, benar benar terkejut dengan permintaan Zara yang sangat sederhana.
Dijaman modern seperti ini masih ada wanita seperti Zara. Tak meminta berlian sebagai mas kawin, pesta pernikahan yang mewah tidak, Zara bahkan tidak meminta itu.
"Lalu suami seperti apa yang kamu harapkan?" *Sean kembali bertanya.
"Aku ingin suami soleh yang bisa membimbingku menuju surga NYA. suami yang bisa menjadikan rumah tangga menjadi sakinah mawadah warrahmah."
"Sepertinya itu bukan aku." balas Sean yang langsung membuat Zara tersenyum ke arah Sean.
"Semua orang bisa berubah, semua orang ada kesempatan untuk belajar." kata Zara kembali tersenyum membuat Sean sempat terpaku menatap wajah cantik Zara yang tersenyum*.
Sedari tadi Sean menyetir mobil sambil tersenyum mengingat percakapan dengan Zara saat di kafe tadi. Sean menghentikan mobilnya kala sudah sampai di hotel terdekat dari rumah sakit tempat Ayah Zara dirawat.
"Seharusnya tadi kamu disana saja menemani Zara," kata Ranti saat Sean turun dari mobil dansudah ditunggu kedua orangtua nya diluar.
"Apa Mama tidak dengar jika Zara tak ingin dekat dekat dengan ku sebelum kami menikah." balas Sean merasa kesal karena orangtua nya memaksa dirinya menemani Zara padahal Zara saja terlihat tak nyaman saat dekat dengan nya.
"Calon menantu kita itu benar benar luar biasa banget ya Pa, udah cantik, soleha lagi." puji Ranti pada Anggara.
"Udahlah kita masuk aja, udah capek Sean." kata Sean langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya.
"Siapa suruh bawa mobil sendiri." ketus Ranti dan Anggara hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan Ranti juga Sean.
"Tuan Nyonya, ini kunci kamarnya." kata Paijo memberikan kunci kamar yang sudah Ia pesan.
"Yang satu kasihkan ke Sean ya Jo." pinta Anggara.
"Baik Tuan."
Sean membuka kamar hotel sewaan orangtuanya, Ia mendengus kesal melihat kamar hotel yang sederhana ini. berbeda sekali dengan kamar hotel yang ada dikota yang mewah dan juga sangat nyaman.
Sean langsung membaringkan tubuhnya diranjang, Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya. melihat ponselnya sama sekali tak ada notif pesan dari siapapun.
"Apa sibuk sekali sampai lupa mengabari?" kesal Sean melihat pesan pesan nya sama sekali belum dibuka.
Sean mencoba mendial nomor yang Ia maksud, namun sayangnya nomor itu malah tidak aktif.
Kesal, Sean langsung membanting ponselnya diranjang.
"Apa aku sudah tidak penting untuknya!" kesal Sean mengomel sendiri.
Sean mencoba menutup matanya, Ia ingin segera tidur dan melupakan kekesalan nya saat ini.
__ADS_1
Namun baru memejamkan mata sebentar, Sean malah melihat wajah Zara tersenyum padanya membuat Sean buru buru membuka matanya.
"Ck, sialan. dasar penganggu!" kesal Sean.
Sean kembali mencoba memejamkan matanya, namun masih tetap sama, kali ini wajah Zara yang tersipu malu memandangnya.
Karena kesal, akhirnya Sean bangun dan meraup wajahnya dengan air dingin.
"Kenapa harus dia yang datang." batin Sean kembali meraup wajahnya dengan air dingin hingga berkali kali.
Setelah rambut dan wajahnya basah, Sean kembali ke ranjang. Ia mencoba menghidupkan televisi siapa tahu bisa mengantuk setelah ini.
Namun sama saja, tak ada acara yang menarik yang bisa membuat dirinya sedikit melupakan wajah cantik Zara.
Senyum Zara sewaktu di kafe tadi membuat Sean masih terbayang bayang. Betapa cantiknya calon istri pilihan orangtuanya itu. Bahkan Sean juga sudah penasaran seperti apa wajah Zara jika tidak mengenakan hijab. Sejak pertama mereka bertemu Zara selalu mengenakan hijab segiempat besar yang menutupi seluruh dada dan punggungnya, membuat rasa penasaran nya semakin membuncah.
"Sabar, sebentar lagi." batin Sean dan lagi lagi Ia tersenyum.
Pagi nya, Zara pulang kerumah untuk bersiap mengajar ke sekolah. Sebenarnya Zara ingin mengambil cuti agar bisa menemani sang Ayah namun Asih Ibunya memaksa Zara tetap berangkat membuat Zara tak bisa menolak dan akhirnya Ia tetap berangkat mengajar.
Zara baru saja selesai mengenakan hijabnya, Ia mengambil tas dan berjalan keluar kamar untuk berangkat. Dan saat membuka pintu depan, Zara dikejutkan dengan seorang pria yang sudah duduk di kursi depan rumah, seperti sedang menunggunya.
"Ada apa kemari?" Zara terlihat gugup melihat Sean yang datang sepagi ini kerumahnya sendirian.
"Mama meminta ku mengantarmu ke sekolahan." balas Sean terdengar malas.
"Tidak, tidak perlu. aku bisa berangkat sendiri."
"Tadinya aku pikir juga begitu, aku juga malas sekali harus bangun sepagi ini hanya untuk mengantar wanita menyebalkan sepertimu tapi mau bagaimana lagi, Mama memaksa." jelas Sean membuat Zara sedikit tersinggung.
Sean mengangguk, "Ya kamu ini sangat menyebalkan dan tidak bisa menghargai usaha orang lain."
Zara melonggo mendengar ucapan Sean, "Ti-tidak, aku tidak pernah seperti itu."
"Ck, buktinya kamu menolak ku antar padahal aku sudah sampai sini."
Zara langsung tersipu mendengar ucapan Sean,
"Aku tak bermaksud menolak, hanya saja aku takut jika orang lain melihat dan beranggapan buruk tentang aku."
"Katakan saja aku calon suamimu, dan semua selesai." kata Sean yang lagi lagi membuat Zara kembali tersipu.
"Ck, sialan! kenapa dia bisa mengemaskan seperti itu." batin Sean.
"Kenapa kamu tersenyum? apa aku terlihat aneh?" tanya Zara saat melihat Sean yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak! aku tidak tersenyum." sangkal Sean.
"Sudahlah, ayo kita berangkat dari pada nanti kamu terlambat." ajak Sean yang langsung diangguki Zara.
"Hey, kenapa kamu di situ?" tanya Sean saat Zara membuka pintu belakang dan hendak masuk ke kursi belakang.
"Kamu pikir aku sopir?" protes Sean tak terima.
__ADS_1
"Ma-maaf, aku pikir kamu tidak nyaman jika aku didepan." kata Zara langsung menutup pintu dan membuka pintu depan. Kini Zara sudah duduk bersebelahan dengan Sean.
Sean pun melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumah Zara.
"Apa kamu tidak kembali ke kota?" tanya Zara setelah keduanya diam cukup lama.
"Kamu mengusirku?"
"Bu-bukan itu, memang kamu tidak bekerja?" tanya Zara.
"Papa masih ada urusan di sini jadi aku di minta menemani.
"Lagipula aku ini bos, jadi tidak perlu ke kantor setiap hari semua pekerjaan sudah banyak yang handle." ungkap Sean dengan nada sombong membuat Zara menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Setelah ini belok kiri."
"Aku sudah tahu." balas Sean dan Zara langsung menatap ke arah Sean.
"Pakai ini, tak perlu kamu menjelaskan jalan nya." kata Sean memperlihatkan ponselnya.
Zara mengangguk paham,
Sean menghentikan mobilnya tepat didepan sekolah,
"Terimakasih sudah mengantarku." kata Zara hendak membuka pintu namun tangan nya ditahan oleh Sean.
"Tunggu,"
Buru buru Zara melepaskan tangan Sean,
"Maaf," kata Sean.
"Aku hanya ingin meminta nomor ponselmu." kata Sean membuat Zara menghembuskan nafas panjang.
Zara mengambil ponsel jadul didalam tasnya,
"Apa ponsel seperti ini bisa untuk berkomunikasi dengan ponselmu yang bagus itu?" tanya Zara membuat Sean terkekeh.
"Tentu saja bisa." kata Sean langsung mengambil ponsel Zara untuk mengetikan nomornya.
Sean langsung mendial nomornya dan nomor Zara masuk ke ponselnya.
"Sudah sana berangkat." kata Sean mengembalikan ponsel Zara.
"Assalamualaikum." salam Zara lalu keluar dari mobil Sean.
"Wa-waalaikumsalam."
Sean tersenyum menatapi Zara yang berjalan memasuki gerbang sekolahan.
Tanpa Zara sadari, saat Zara keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang ada sepasang mata yang melihat ke arahnya penuh kebencian hingga mengepalkan tangan nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen...