BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
18


__ADS_3

Diranjang yang seharusnya sempit untuk berdua, Sean merasakan ranjang itu terasa longgar. Sean membuka matanya dan Ia baru menyadari jika ranjang itu di pakainya sendiri. Ia tidur telentang dengan tangannya pun ikut memenuhi ranjang itu. Setelah kesal dengan Zara memang Sean langsung terlelap namun Ia tak menyangka jika tubuhnya memenuhi ranjang milik Zara.


"Dimana dia tidur?" gumam Sean langsung bergegas bangun.


Dan betapa terkejutnya Sean melihat Zara tidur beralaskan tikar dibawah.


"Ck, jika Papa dan Mama sampai tahu mungkin mereka pikir aku yang menyuruh Zara tidur di sini." omel Sean.


Dengan gerakan pelan, Sean mengangkat tubuh Zara dan membawanya ke ranjang.


Dan saat seperti inilah kesempatan untuk Sean memandangi wajah cantik Zara yang sukses membuat pikiran nya penuh dan hanya wajah Zara lah yang dia ingat.


"Ck, apa dia tidak punya rambut? bagaimana bisa tidur saja memakai jilbab." gerutu Sean yang sebenarnya sudah sangat penasaran dengan wajah Zara jika tidak memakai hijab.


Puas memandangi Zara, kantuk Sean datang lagi membuat Sean ikut berbaring disamping Zara.


Zara mendengar adzan subuh berkumandang, Ia merasakan tubuhnya seperti dikunci. Tidak bisa bergerak dan nafasnya terasa sesak.


Zara membuka matanya, mencoba menyadarkan apa yang terjadi pada dirinya.


Telinga Zara mendengar suara dengkuran halus seseorang, Zara melihat ada tangan kekar yang memeluk tubunya juga kaki yang mengunci kaki Zara membuat Zara tidak bisa bergerak.


Zara mencoba melihat kesamping dan ada wajah Sean yang begitu dekat dengan wajahnya membuat Zara sadar jika dirinya sedang dipeluk oleh Sean. Zara terkejut meskipun sepenuhnya Ia sudah bangun namun keberadaan Sean membuatnya terkejut dan akhirnya Ia bergegas bangun membuat tangan juga kaki Sean terpental dan akhirnya Sean ikut bangun.


"Ck, jam berapa?" Sean terlihat kesal meski matanya masih terpejam.


"Su-sudah subuh." balas Zara yang akhirnya ingat jika Sean dan dirinya sudah menikah dan sudah pasti Sean tidur disampingnya.


"Masih malam, tidur lagi saja." Sean menarik Zara hingga tubuh Zara jatuh ke pelukan Sean.


"Su-sudah subuh, memangnya kamu tidak sholat subuh?" tanya Zara memberanikan diri.


"Ya, sebentar lagi." Sean malah semakin erat membawa Zara ke dalam pelukan nya hingga Sean bisa merasakan betapa kencangnya degup jantung Zara.


"Mas bangun dulu, sholat subuh dulu." kata Zara yang membuat Sean berdecak kesal. membuka matanya dan menatap Zara seketika Zara menunduk takut.

__ADS_1


"Apa kamu ingin membuatku kesal lagi sepagi ini?"


Zara menggelengkan kepalanya pelan, Zara sadar jika dirinya dan Sean berbeda jauh. mungkin bukan sekarang dirinya bisa menasehati Sean tentang betapa pentingnya sholat itu, tapi suatu hari nanti, perlahan tapi pasti mungkin Sean akan mengikuti kebiasaan nya, Ya Zara percaya itu.


Zara kembali mendengar suara dengkuran Sean dan akhirnya Zara pun hanya bisa pasrah berada dipelukan Sean. Toh saat ini dirinya sedang libur sholat jadi mungkin kembali ikut tidur bersama Sean tak masalah juga.


Zara kembali bangun pukul 6 pagi, kini posisinya sudah berada didepan Sean. Jika tadi Zara berbaring menghadap Sean kini Zara memunggungi Sean dan tangan Sean masih setia memeluk perutnya.


Zara menghembuskan nafas panjang, Ia ingin bangun tetapi juga takut, takut membangunkan Sean dan membuat Sean marah lagi. Padahal biasanya jam segini Zara sudah membantu Ibunya di dapur.


"Bangunlah jika ingin bangun." suara Serak Sean mengejutkan Zara.


"Ma-mas sudah bangun." Zara berbalik lalu melihat Sean yang sudah bangun sedang menatap ke arahnya membuat Zara lebih memilih menunduk.


"Kenapa selalu menunduk jika aku sedang menatapmu?" heran Sean.


"Ehm, ti-tidak, aku tidak menunduk." Zara mengelak.


Sean tersenyum geli, Ia bawa tangannya dan menyentuh pipi halus milik Zara.


"Capek banget ya nduk sampai kesiangan?" tanya Asih saat Zara baru saja selesai mencuci muka.


"Maaf bu, udah bangun tadi subuh tapi malah ketiduran lagi. soalnya Zara lagi datang bulan."


Asih mengangguk, "Tadi suamimu sudah bilang."


Zara menatap ke arah Asih dengan tatapan terkejut,


"Tadi Suamimu ikut sholat subuh berjamaah bersama kami, dan dia bilang kalau kamu lagi datang bulan jadi disuruh tidur lagi." jelas Asih masih membuat Zara tak percaya.


"Sholat subuh berjamaah?"


"Iya, tadi Ayahmu yang jadi imam sholatnya, suamimu bilang malu kalau ngimami mertuanya." jelas Asih lagi sambil tersenyum mengingat kejadian subuh tadi, dimana menantunya yang baru sehari berjalan ke bilik sholat dengan mata masih mengantuk.


Zara terdiam cukup lama, Ia ingat sangat ingat betul jika tadi sebelum Ia kembali tidur, Ia lihat Sean kembali terlelap dan sekarang bagaimana bisa Sean ikut sholat bersama orangtuanya?

__ADS_1


Ahh entahlah, mungkin sebaiknya Ia nanti menanyakan langsung pada Sean saja.


Kini keluarga Bahar berkumpul dimeja makan untuk sarapan bersama. Asih mengambilkan Bahar nasi beserta lauknya di ikuti oleh Zara mengambilkan Sean nasi juga lauknya.


"Kalau kamu nggak nyaman di sini, daerah sini ada hotel kamu bisa ajak Zara kesana Nak Sean." Kata Bahar yang langsung membuat Zara tersedak dan Sean malah terkekeh.


"Soalnya kan kamu biasanya tinggal dirumah mewah dan besar." tambah Bahar lagi sambil terkekeh.


"Nggak Yah, nggak perlu lagipula sebentar lagi Zara kan ikut saya ke kota."


Raut wajah Asih juga Bahar terlihat sedih. Ya sebentar lagi putri kesayangan juga satu satunya harus pergi dari rumah karena ikut suaminya. Rela tidak rela pun harus merelakan.


"Tapi aku menunggu keputusan dari sekolahan dulu kapan harus berhenti mengajar." kata Zara menatap Sean dengan tatapan takut.


"Iya sayang, bukan nya kamu kemarin juga sudah bilang." balas Sean langsung membuat Pipi Zara merona mendengar Sean mengucapkan Sayang.


"Mungkin lusa aku pulang sendiri dulu karena ada pekerjaan, nanti kalau libur aku kesini lagi." jelas Sean yang langsung diangguki Zara.


Bahar dan Asih terlihat senang dan lega melihat Zara dan Sean sudah dekat.


"Ayah titip Zara ya nak." kata Bahar tiba tiba.


Sean menatap ke arah Bahar, menelan ludahnya pelan seperti merasakan memikul sesuatu yang berat saat Bahar mengucapkan itu padanya.


"InsyaAllah Yah."


"Zara putri kami satu satunya, selama ini kami berusaha buat membahagiakan Zara. sekarang kami serahkan pada Nak Sean.


"Ayah harap Nak Sean bisa membahagiakan Zara seperti kami membahagiakan dia." kata Bahar lagi yang entah mengapa membuat Zara menjadi terharu ingin menangis.


Dan entah mendapat kekuatan dari mana, Sean akhirnya menjawab dengan mantap "InsyaAllah Yah, InsyaAllah Sean akan membahagiakan Zara bagaimanapun caranya."


Ucapan Sean tentu membuat semua orang lega termasuk Zara sendiri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2