
Anya menangis sambil memeluk selimut yang kini menutupi tubuhnya yang sudah ternoda. Tidak hanya hatinya yang sakit namun juga tubuhnya terasa remuk rendam apalagi area bawahnya masih terasa sangat perih.
"Istirahatlah di sini sampai jam pulang," ucap Zayn yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggang juga rambut yang basah.
"Saya akan melaporkan Bapak ke polisi!" ucap Anya menatap Zayn dengan tatapan penuh kebencian namun Zayn malah tertawa.
"Ya sudah laporkan saja sana... nanti media akan meliputmu dan semua orang tahu jika kau sudah ternoda. dan kau pikir masih ada yang mau denganmu?" ejek Zayn membuat tangis Anya kembali pecah.
"ke-kenapa? kenapa bapak harus sejahat ini. apa salah saya?" tanya Anya disela isak tangisnya.
Zayn yang kini sudah memakai kembali bajunya pun mendekati Anya, "Tak perlu banyak bicara. tugasmu saat ini hanyalah menjadi sekretarisku, melayani aku kapanpun aku menginginkan mu dan aku akan memberikan segalanya untukmu." kata Zayn membuat Anya memalingkan wajahnya merasa tak sudi melihat wajah Zayn.
"Bukankah kau butuh uang untuk biaya rumah sakit jiwa ibumu?" tanya Zayn dengan nada meremehkan.
"Tapi bukan berarti Bapak bisa memperkosa saya seperti ini."
Zayn kembali tertawa, "Kau pikir dimana bisa mencari uang banyak setiap bulan nya untuk biaya rumah sakit ibumu itu. sudahlah, terima saja nasibmu yang penting kau bisa mendapatkan banyak uang."
Zayn bangkit lalu berjalan meninggalkan Anya, "Dan jangan lupa mulai besok ganti celanamu dengan rok yang seksi." kata Zayn sebelum Ia keluar dan tak terlihat lagi.
Kini Anya menangis sejadi jadinya meratapi nasibnya sebagai wanita yang sudah ternoda.
Zayn kini sudah duduk dikursinya, pikiran nya kembali segar sekarang setelah mendapatkan vitamin sekretaris barunya itu. Memang tak salah dirinya memilih Anya yang nyatanya bisa memberikan kepuasan seksual untuknya saat ini.
....
Malam ini Sean pulang awal lagi, entah kenapa Ia sudah sangat merindukan istrinya itu.
Mbok Nah membuka kan pintu, Sean masuk dan telinga nya langsung mendengarkan suara ngaji Zara membuat hatinya terasa tenang.
"Non Zara lagi ngaji Den." kata Mbok Nah yang langsung diangguki Sean.
"Sean ke atas dulu mbok, mau mandi trus nyusul ke bilik buat sholat." kata Sean yang langsung diangguki mbok Nah.
Mbok Nah tersenyum menatap punggung Sean yang berjalan meninggalkan nya. Setelah menikah, Sean menjadi religius dan hidupnya lebih terarah, tak salah memang istri pilihan orangtuanya batin Mbok Nah ikut bahagia melihat perubahan baik Sean.
"Mas udah pulang?" Tanya Zara selesai membaca alquran dan melihat Sean sudah dibelakangnya.
"Aku mau ikut ngaji, ayo ngaji berdua." ajak Sean mendekati Zara.
"Mas sholat isya dulu trus nanti kita ngaji bareng."
Sean mengangguk dan langsung menunaikan sholat isya, setelah itu Zara dan Sean ngaji bersamaan.
__ADS_1
Mbok Nah yang sedang menyiapkan makan malam untuk majikan nya, mendengar bel pintu depan dan langsung berlari untuk membuka pintu.
"Tuan... Nyonya..." Mbok Nah terkejut dengan kedatangan orangtua Sean.
"Sean udah pulang mbok?" tanya Ranti langsung memasuki rumah Sean diikuti oleh Anggara.
"Sudah Nyonya, Sekarang Anden dan Nona sedang-"
"Pah denger deh..." Ranti menatap ke arah suaminya setelah mendengar suara Sean dan Zara mengaji.
"Mereka sedang mengaji Tuan, nyonya." Mbok Nah menjelaskan membuat Ranti dan Anggara tersenyum senang.
"Mantu kita memang membawa perubahan yang baik pada Sean ya Pa." kata Ranti.
"Siapa dulu yang milih..." Anggara menyombongkan diri yang langsung membuat Ranti memutar bola matanya malas.
Shodaqollahhuladzim...
Setelah menutup alquran, Zara mengambil punggung tangan suaminya dan dicium dibalas ciuman kening oleh Sean.
"Duh adem banget liatnya." suara Ranti dari pintu bilik membuat Zara dan Sean terkejut dan langsung menoleh.
"Mama..." Sean dan Zara memanggil bersamaan membuat Ranti langsung terkekeh.
"Mama ngapain kesini?" tanya Sean mengambil punggung tangan sang Mama lalu menciumnya diikuti oleh Zara selesai melipat mukena.
"Eh tumben banget anak Mama sopan gini." Ranti benar benar spechless dan tak menyangka dengan apa yang baru saja Sean lakukan.
"Ck, nggak usah bikin bete deh Ma!"
Ranti terkekeh, "Mama mau numpang makan malam boleh?"
"Boleh banget Ma, kebetulan hari ini Zara masak banyak banget." Zara terlihat senang dan langsung mengajak Ranti menuju meja makan dimana sudah ada Anggara disana.
"Mantu kesayangan Papa memang membawa perubahan baik buat Sean ya." ungkap Anggara saat Sean dan Zara mencium tangan Anggara.
"Apa sih Pa, nggak usah mulai deh." kesal Sean langsung duduk disamping sang Papa.
"Sena nggak ikut Ma?" tanya Zara melihat hanya kedua mertuanya saja yang datang.
"Katanya Sena mau hangout sama temen temennya jadi nggak bisa ikut."
"Sena bilang kamu resign?" tanya Ranti yang langsung diangguki pelan oleh Zara.
__ADS_1
"Kenapa mendadak?" tanya Anggara mulai penasaran.
"Banyak yang godain Pa," balas Sean terdengar kesal sementara Zara hanya diam menunduk.
"Godain gimana? bukannya Zara ngajar anak TK?" heran Anggara.
"La itu dia di incer sama duda yang anaknya sekolah disana. bikin kesel kan." ungkap Sean membuat semua orang langsung terkekeh kecuali Zara yang hanya diam menahan malu.
"Trus kamu cemburu dan nyuruh Zara resign?" ejek Ranti.
"Aku nggak nyuruh Ma, Zara sendiri kok yang pengen resign."
"Karna Zara nggak mau bikin mas Sean salah paham sama marah terus Ma." ungkap Zara akhirnya memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.
Ranti dan Anggara kembali tertawa mendengar putranya begitu posesif dengan Zara.
"Papa kemarin habis dari kampung, nengokin keadaan Bahar yang sekarang sudah membaik.
Saran Papa, baiknya kalian segera mengadakan resepsi pernikahan agar orang orang tahu kalian sudah menikah dan tak ada lagi yang berani mendekati salah satu dari kalian." kata Anggara yang langsung diangguki Ranti setuju.
"Bener banget kata Papa. kalian tinggal milih mau tanggal berapa nanti Mama yang akan urus semuanya."
Sean dan Zara terdiam sebentar, memikirkan apa yang baru saja orangtua mereka ucapkan.
"Nanti aku coba ngobrol berdua dulu Pa." kata Sean yang langsung diangguki Zara.
"Kalau bisa secepatnya jangan terlalu lama karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan nya." nasihat Anggara.
"Iya Pa, nanti kami pikirkan lagi saran Papa sama Mama."
"Jadi Papa sama Mama datang cuma mau ngomongin masalah ini?" tanya Sean yang langsung di gelenggi Ranti.
"Bukan hanya itu, Mama sama Papa juga mau ngecek kalian tidur sekamar apa nggak."
Sean mendecak kesal, "Ngapain sih Ma, kayak gitu pakai ditanyain."
"Ya gimana, Mama sama Papa udah nggak sabar mau nimang cucu."
Deg... seketika Zara langsung menunduk.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENNN
__ADS_1