
Anya baru saja hendak bangun namun tubuhnya sulit diangkat karena ada tangan Zayn yang masih memeluknya dari belakang.
Semalam setelah meminta maaf, Zayn mengajak Anya tidur dan langsung memeluk Anya meskipun Anya memunggungi Zayn.
Anya masih merasakan sakit hari karena ucapan Zayn, apalagi Zayn juga membandingkan dirinya dengan Nisya. Meskipun Zayn sudah minta maaf namun Anya masih merasa sakit hati.
Anya melepaskan pelukan Zayn, tak peduli dengan Zayn yang akhirnya ikut bangun karena Anya merasa mual ingin muntah.
Hoekk...
Hoekk..
Tidak ada apapun yang keluar karena memang Anya semalam tidak makan malam. Tangan Zayn mengelus punggung Anya, berniat membantu Anya agar bisa memuntahkan isi perutnya namun malah membuat Anya semakin mual saja.
"Mas... udah." Anya menolak disentuh Zayn.
"Aku ambilin air minum." Zayn segera keluar mengambil air minum untuk Anya membuat Anya sedikit lega karena saat Zayn keluar, Anya sudah tidak merasakan mual lagi.
Zayn memberikan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Anya. Namun baru saja selesai menghabiskan minumnya, Anya kembali mual karena tangan Zayn menyentuh kepala Anya.
"Ja-jangan sentuh aku mas, it itu bikin mual." ungkap Anya sedikit takut.
Zayn terkejut dengan apa yang baru saja Anya ucapkan namun seketika Ia mencoba mengerti karena memang sejak awal hamil Anya selalu menolak disentuh.
"Apa dia sebegitu membenciku sampai ibunya disentuh saja tidak boleh." gumam Zayn.
"Maafkan aku mas, tapi setiap kali kamu menyentuhku, aku selalu merasa mual."
"Ya sudah, aku memang pantas mendapatkan ini karena aku pernah menyakitimu." kata Zayn dengan suara pasrah membuat Anya merasa tak enak.
"Istirahat saja, aku akan ke kantor." kata Zayn keluar dari kamar mandi.
Anya juga ikut keluar, niatnya ingin menyiapkan baju kantor Zayn namun Ia urungkan karena Zayn sudah mengambil baju sendiri.
Anya yang merasakan tubuhnya lemas pun akhirnya memilih berbaring diranjang sampai akhirnya Ia tak sadar sudah terlelap.
Anya kembali bangun pukul 9 pagi dan merasakan perutnya keroncongan lapar. Anya bangun dan terkejut melihat sudah ada sarapan dimeja samping ranjang.
Ada 2 lembar roti tawar, telur ceplok dan irisan buah naga juga melon tak lupa segelas susu dan ada secarik kertas yang menarik perhatian Anya dan langsung membuat Anya mengambilnya,
__ADS_1
Aku buatin sarapan ini khusus istriku tercinta, harus dihabiskan yaa.
Sontak Anya tersenyum setelah membaca isi dari kertas itu.
"Apa benar dia yang buat semuanya?" batin Anya mulai mengambil roti yang sedikit gosong itu dan menyuapkan ke mulutnya.
"Sepertinya memang buatan nya." gumam Anya lalu terkekeh mengingat jika Mbok Jah yang membuatkan sarapan tidak pernah mengosongkan roti dan telurnya.
"Lihatlah nak, Papamu sudah berusaha menjadi seseorang yang lebih baik untuk kita. jadi berhenti marah dan biarkan dia menyentuhku." ucap Anya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Sementara itu ditempat lain, Zara sedang merasakan gugup saat duduk didepan Sella mantan tunangan Sean.
Entahlah, Zara yang tak pernah memiliki masalah dengan siapapun merasakan takut saat berada didepan Sella. Apalagi mengingat Zara lah yang merusak hubungan Sean dan Sella. Saat ini Ia merasa seperti pelakor yang sedang dilabrak oleh istri pertamanya meskipun bukan Zara yang menginginkan ini semua terjadi.
"Rumah ini masih sama seperti yang dulu." gumam Sella saat berjalan melihat seisi rumah diruang tamu.
Zara hanya diam saja, Ia sama sekali tak mengubris ucapan Sella, yang Ia pikirkan hanyalah apa yang harus Ia lakukan agar Sella segera pergi dari rumah ini.
"Kamu datang untuk mencari Sean?" tanya Zara akhirnya membuka suara.
Sella langsung tertawa, "Tak perlu setakut itu padaku, aku bahkan tidak akan mengigitmu." goda Sella membuat Zara terkejut karena Sella tahu jika Zara sedang ketakutan saat ini.
"Apa kamu tahu? dulu aku yang membeli guci ini dari luar negeri, aku senang Sean masih memajangnya disini."
Deg, entah mengapa ucapan Sella membuat jantung Zara memompa lebih cepat.
"Apa semua barang barang hias yang ada dirumah ini milik Sella? kenapa Sean tidak ikut membuangkan waktu itu." batin Zara terlihat kecewa.
"Non Sella..." Suara mbok Nah terdengar dan nampak terkejut dengan kehadiran Sella.
"Wah mbok Nah masih bekerja di sini ya?" tanya Sella terdengar ramah.
"Aku rindu masakanmu mbok, bisakah kau memasak lagi seperti apa yang sering mbok Nah buatkan saat aku tinggal di sini dulu?" tanya Sella lagi.
Mbok Nah hanya diam, tak menjawab ucapan Sella dan langsung pergi ke belakang begitu saja. sedikit panik, mbok Nah segera mengambil ponselnya dan langsung mendial nomor Sean untuk meminta agar segera pulang karena Mbok Nah tak ingin sesuatu terjadi pada Zara.
Namun sayang hingga 5x, panggilan nya belum ada yang dijawab oleh Sean membuat Mbok Nah semakin cemas.
Sementara itu, setelah puas berjalan mengelilingi ruang tamu, Sella kembali duduk didepan Zara. Kini Sella memandangi Zara dari atas sampai bawah. melihat pakaian yang dipakai Zara saat ini sama sekali tak menyangka jika Sean sampai jatuh hati pada wanita yang memakai pakaian kebesaran juga jilbab yang menutupi dadanya.
__ADS_1
"Jadi siapa yang kamu cari?" tanya Zara sekali lagi merasa risih dipandangi oleh Sella.
"Tentu saja aku datang mencari Sean." balas Sella santai.
Tangan Zara mulai gemetar, antara takut dan marah bercampur jadi satu.
"Mas Sean sudah berangkat ke kantor jadi kalau ingin menemuinya, datang saja ke kantornya."
Sella terkekeh, "Kau sudah hamil?" tanya Sella memandangi perut Zara yang masih terlihat rata.
"Kalian sudah hampir setengah tahun menikah, seharusnya kau sudah hamil bukan?" tanya Sella lagi setelah mengejek.
"Aku belum hamil."
"Sayang sekali, apa Sean tak pernah menyentuhmu sampai kau belum hamil?" ejek Sella lagi membuat kepala Zara terasa panas, tanganya mengepal dan merasa marah dengan ucapan wanita didepannya itu.
"Apa perlu kau menanyakan hal seintim ini pada wanita yang baru saja kau kenal?" geram Zara.
Sella malah terkekeh, "Karena tujuanku datang kesini memanh untuk memastikan kau sudah hamil dan setelah itu aku akan mengambil posisi yang sudah kau rebut!"
Zara terkejut, "Apa maksudmu?"
"Jadi kau belum tahu ya, Sean menikahimu hanya menginginkan rahim mu saja agar bisa memberikan keturunan karena aku tak mau mengandung anaknya dan setelah itu dia akan membuangmu lalu kembali padaku."
Deg... Zara yang tadinya terlihat tegar kini langsung saja rapuh dan meneteskan air mata tak percaya dengan ucapan Sella.
"Kamu pasti bohong."
Sella kembali tertawa, Sella mengambil ponselnya dan membuka sebuah audio dimana percakapan antara Sella dan juga Sean.
Ya Sean, itu jelas sekali suara Sean.
"Setelah dia melahirkan anak untuk ku, aku akan kembali padamu, bersabarlah sayang."
Air mata Zara semakin deras mengalir membuat Sella tersenyum puas.
Bersambung..
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1