BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
32


__ADS_3

Sean memandangi punggung istrinya yang kini sedang melantunkan ayat ayat suci alqur,an. Mereka baru saja sholat isya berjamaah dibilik kecil yang memang sengaja Sean buat untuk tempat sholat Zara dan dirinya saat dirumah.


Setelah menikah dengan Zara memang Sean langsung merenovasi rumahnya dan membuatkan bilik kecil tempat ibadah yang nyaman untuk Zara. bersyukur karena Zara menyukai bilik itu jadi Sean merasa usahanya tidak sia sia.


Mata Sean masih setia memandangi punggung Zara, sementara telinga juga pikirannnya nampak tenang mendengar suara lembut Zara yang sedang mengaji. dan bibir Sean langsung melengkungkan senyum saat mengingat ucapan Zara sore tadi saat keduanya berkeliling rumah,


"Kenapa nggak boleh dibuka mas?" Zara terlihat sangat penasaran saat Sean melarang Zara memasuki salah satu kamar yang ada dirumah Sean tepatnya disamping kamar mereka.


"Karena itu ruangan kerja aku sayang, didalam sangat berantakan." balas Sean sedikit gugup membuat Zara terlihat tak percaya.


"Nggak apa apa mas, nanti aku bisa bantu beresin dan bersihin juga." kata Zara lagi tak menyerah ingin melihat isi kamar itu.


"Jangan sayang, biar mbok Nah aja yang beresin." Sean melepaskan tangan Zara dari knop pintu membuat Zara menatap ke arah Sean dengan tatapan curiga.


"Kok ngliatin nya gitu?"


"Apa jangan jangan didalam..." Zara mencoba menebak membuat jantung Sean berdetak sangat cepat dan wajahnya langsung memucat takut tebakan Zara benar.


"Jangan jangan apa?"


"Kamu nggak pakai pesugihan kan mas?" Tanya Zara dengan tatapan menuduh.


Sontak pertanyaan Zara membuat Sean langsung terbahak.


"Dijaman modern gini mana ada sih yang kayak gituan." balas Sean masih terkekeh tak menyangka dengan imajinasi istrinya yang sangat berlebihan itu.


"Jangan salah mas, dikampungku banyak kok yang seperti itu. mereka punya kamar sendiri gini yang nggak boleh dimasukin siapapun termasuk istrinya sendiri." ungkap Zara membuat Sean semakin terpingkal.


Sean yang gemas akhirnya langsung memeluk Zara, "Ampun deh yank, nggak nyangka orang kayak kamu bisa nglucu juga."


Zara menatap ke arah Sean kesal, dirinya serius dan penasaran malah Sean menganggapnya lucu.


Dan sampai sekarang Sean masih saja tersenyum geli jika mengingat ucapan polos Zara tadi. Sean sangat lega, setelah itu Zara sudah tak ingin masuk lagi dengan kamar itu. Sean sudah memberikan peringatan jadi Sean harap Zara tidak akan berani memasuki kamar pribadinya itu.

__ADS_1


Zara menutup alquran nya tak lupa mencium alquran nya setelah selesai membaca nya. Ia melipat mukena nya lalu berbalik dan terkejut melihat Sean masih dibelakangnya.


"Aku pikir mas sudah ke kamar duluan." Zara mendekati Sean.


"Nungguin kamu lah." Sean mengelus rambut istrinya lalu memberikan kecupan kening disana.


"Kenapa nggak ikut ngaji aja?" tanya Zara langsung membuat Sean tersenyum malu.


"Ngajiku belum sepinter kamu. malu aku." ungkap Sean.


Zara tersenyum, "Justru harusnya mas belajar, dibaca terus nanti lama lama juga pinter."


"Aku masih belum siap." balas Sean yang langsung diangguki Zara.


Zara tidak akan memaksa suaminya untuk melakukan sesuatu, Ia lebih menyukai jika suaminya itu melakukan dengan kemauan nya sendiri karena jika seseorang melakukan tanpa ada paksaan dari orang lain malah lebih ikhlas dan nyaman dalam menjalaninya dari pada harus dengan ada paksaan namun dalam hatinya tidak ikhlas yang berujung bukan pahala yang didapat melainkan dosa.


Lagipula Zara juga sudah bersyukur melihat suaminya ikut sholat bersamanya bahkan menjadi imam sholatnya karena Zara tahu sebelum bersamanya Sean bukanlah orang yang taat dalam agama.


Keduanya sudah berada didalam kamar, Zara membuka lemari bajunya untuk mengambil piyama karena saat ini Ia masih mengenakan gamis panjang rumahan.


"Kenapa sayang?" tanya Sean memeluk Zara dari belakang membuat Zara terkejut. meskipun mereka sudah menjadi suami istri juga sering melakukan namun Zara masih saja gugup dan jantungnya berdegup kencang saat tiba tiba Sean menyentuh tubuhnya.


"Kok nggak ada piyama ya mas? padahal aku tadi bawa beberapa. Apa masih dikoper?" heran Zara.


Sean terkekeh, "Baju bajumu udah aku ungsikan."


"Lho kenapa?"


"Sekarang kalau pas lagi dikamar sama aku kamu pakai bajunya yang ini." Sean mengambil salah satu lingerie yang ada dilemari itu dan memberikan pada Zara.


"Astagfirullah mas, nggak boleh pakai baju terbuka seperti ini."


Sean kembali terkekeh dengan kepolosan Zara.

__ADS_1


"Kamu pakai baju ini pas dikamar sama aku, nanti aku seneng ngeliat kamu. bukan nya kalau di agama nyenengin suaminya juga dapet pahala?"


Zara mengangguk, membenarkan ucapan Sean namun tetap saja Ia malu mengenakan baju seperti ini.


"Tapi Ak-aku..."


"Apa harus aku saja yang pakaikan?"


"Jangan mas, aku sendiri saja." kata Zara mengambil baju yang ada ditangan Sean dan langsung memasuki kamar mandi.


Sean terkekeh sambil menggelengkan kepalanya tak percaya, "Padahal sudah ku lihat semuanya tapi masih saja malu."


Zara membuka pintu dengan gerakan pelan, Ia benar benar malu menggunakan baju seperti ini karena selama ini sudah terbiasa memakai baju yang tertutup. meskipun hanya suaminya saja yang melihat namun tetap saja Zara malu.


Melihat Zara keluar, mata Sean langsung fokus memandangi Zara dari atas sampai bawah. Lingerie warna maroon yang sangat cocok dengan kulit putih Zara. Sean setiap harinya melihat Zara selalu mengenakan pakaian tertutup kini bisa melihat Zara mengenakan pakaian yang menyulut gairahnya. meskipun sebenarnya sama saja, dengan pakaian tertutup masih bisa membuat Sean menginginkan Zara.


Sean membawa Zara duduk di pangkuan nya, matanya memandangi leher jenjang Zara yang kini terlihat karena rambut Zara yang dikuncir. tangan Sean mengelusi paha mulus milik Zara.


"Be mine." gumam Sean langsung mencium kening Zara.


"Aku malu mas." bisik Zara menyembunyikan wajahnya di bahu Sean.


"Just I see, kenapa harus malu?"


Bibir Sean menelusuri leher Zara membuat Zara merasakan sensasi yang sangat menyenangkan.


"Nggak disana aja mas?" tanya Zara sambil menunjuk ke arah ranjang mereka karena saat ini keduanya sedang berada di sofa yang ada dikamar mereka.


"Cari sensasi yang beda." balas Sean langsung memulai permainan panasnya.


Sudah tidak ada lagi tangisan Zara juga rintihan dari Zara seperti diawal saat mereka melakukan nya. Sekarang yang terdengar hanya ******* kenikmatan dari keduanya juga decitan dari sofa yang mereka gunakan.


Dan terlalu menikmati satu sama lain hingga membuat Sean tak mendengar jika ponselnya berdering sejak tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


jangan lupa like vote dan komen..


__ADS_2