
Zara kembali memasuki kamar di ikuti Asih sang ibu. Zara duduk di pinggir ranjang, kepalanya masih setia menunduk tak berani menatap ke arah Asih.
"Apa ada masalah nak?" suara Asih terdengar membuat jantung Zara berdegup cepat.
Zara hanya menggeleng pelan,
Asih lalu mengenggam tangan Putrinya itu, "Cerita sama Ibu, jangan dipendam sendiri. Ibu tahu kamu masih belum siap ke kota." kata Asih membuat Zara akhirnya mendongak dan menatap wajah Ibunya yang meneduhkan itu.
"Ada apa?"
"Tadi Zara mendampingi para siswa yang ikut lomba Bu," Zara nampak menjeda ucapan nya.
"Dan kepala sekolah meminta Zara bersama Mas Panji." mengucap nama Panji sontak membuat Asih terkejut.
"Zara nggak menyangka ternyata mas Sean juga disana menjadi donatur lomba itu. Mas Sean melihat Zara terlalu dekat dengan Mas Panji hingga membuat Mas Sean marah." jelas Zara dengan mata berkaca mengingat wajah marah dari Sean yang sangat menakutkan untuknya. Bahkan Zara masih merasakan genggaman tangan Sean yang begitu erat membuat pergelangan tangan nya masih terasa sakit.
Asih tersenyum mendengar penjelasan Zara, "Bukan kah seharusnya kamu senang nak?"
Zara malah heran mendengar pertanyaan ibunya,
"Harusnya kamu senang melihat suamimu cemburu seperti itu jadi sekarang suamimu itu sudah mulai mencintaimu." jelas Asih
"Dan sekarang apa yang membuatmu sedih?" tanya Asih lagi.
Zara kembali menunduk, "Zara hanya belum siap berpisah dengan Ayah dan Ibu. juga Zara hanya ingin menyelesaikan tanggung jawab Zara disekolahan."
"Tapi kewajiban kamu menemani suamimu dan mengikuti suamimu, itu lebih penting dari pekerjaan mu nak. Seharusnya memang sejak awal kamu berangkat ke kota ikut suamimu untuk menghindari hal hal seperti ini." jelas Asih sambil mengelus kepala Zara.
"Dan siap tidak siap, kamu memang harus berpisah dengan Ayah dan Ibu karena sekarang suami mu lah yang lebih berhak atas dirimu." kata Asih lagi membuat raut wajah Zara sangat sedih.
"Jangan pikirkan kami nak, Ayah dan Ibu sudah tua. entah kapan kami akan berpulang."
"Ibu... jangan bicara seperti itu." Zara menatap Ibunya cemas.
Asih kembali tersenyum, "Tapi Ayah dan Ibu senang dan lega kamu sudah memiliki seseorang yang akan menjaga kamu sekarang. Ibu akan selalu doakan kamu semoga kamu bahagia dan Nak Sean selalu mencintai kamu." kata Asih yang akhirnya membuat Zara tersenyum dan memeluk Asih ibunya.
Zara keluar dari kamar setelah selesai berbicara dengan Asih. wajah Zara nampak lebih baik dari sebelumnya membuat Bahar ikut lega menatap putrinya itu.
"Berangkat sekarang?" tanya Bahar yang kini berada di ruang tamu bersama Sean menunggunya.
"Iya Ayah," Zara berjalan dan duduk disamping sang Ayah. Ia lalu mengambil tangan sang Ayah dan mencium nya.
"Maafin Zara nggak bisa merawat dan menemani Ayah sampai sembuh." ungkap Zara dengan nada sedih.
__ADS_1
"Zara pamit ikut mas Sean ke kota. doain Zara yah agar bisa menjadi istri soleha untuk Mas Sean agar keluarga kami selalu sakinah dan bahagia." kata Zara lagi membuat Bahar tersenyum.
Meskipun mata Bahar terlihat berkaca karena harus melepaskan putri satu satunya namun memang sudah seharusnya seperti ini.
"Ayah doakan kamu selalu bahagia nak." Bahar mencium kening putrinya lalu memeluknya.
Sean yang sedari tadi hanya melihat kini nampak mendekat dan ikut mencium punggung tangan Ayah mertuanya.
"Jaga putri Ayah ya nak, jangan sakiti dia." pinta Bahar membuat jantung Sean berdegup dengan kencang.
"InsyaAllah Ayah, Sean pasti akan menjaga dan membahagiakan Zara." entah datang dari mana tiba tiba Sean dengan mantap bisa mengucapkan itu.
Sean lalu berdiri dan juga mencium punggung tangan ibu mertuanya,
"Ibu titip Zara ya nak, ibu minta Nak Sean sabar membimbing Zara."
Sean mengangguk, "InsyaAllah bu, doakan kami selalu bahagia."
Selesai berpamitan, kini Zara sudah memasuki mobil Sean, didalam mobil Zara melambaikan tangan pada Orangtuanya yang berada didepan rumah melepas kepergian nya.
"Ibu masih belum rela yah." ungkap Asih pada suaminya.
"Ayah pun juga seperti itu, tapi mau bagaimana lagi memang sudah menjadi kewajiban putri kita untuk ikut bersama suaminya."
Sementara itu didalam mobil, tanpa disadari Zara menitikan air mata membuat Sean menghembuskan nafas panjang.
Sean mengeser tubuhnya hingga kini lebih dekat dengan Zara. Sean menarik tubuh Zara hingga kini berada di pelukan Sean.
Ia mengelus kepala Zara penuh sayang, "Mengertilah, aku hanya tidak suka melihatmu didekati pria lain apalagi mereka sampai berani menyentuhmu." ungkap Sean.
"Apa mas tidak percaya dengan ku?" tanya Zara dengan suara serak.
"Bukan tidak percaya sayang, hanya saja aku takut kamu tidak bisa melawan mereka yang kurang ajar denganmu." jelas Sean membuat Zara terdiam.
"Dan jika nanti kamu rindu dengan Ayah dan Ibu, kita bisa bawa mereka kekota tinggal bersama kita atau kamu bisa pulang kapanpun kamu mau." kata Sean membuat Zara menatap Sean sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Zara seolah tak percaya.
Sean mengangguk mantap, "Tentu saja, apa sih yang tidak untuk istriku ini." kata Sean sambil mencubit pipi Zara gemas.
"Gombal..."
Sean terkekeh melihat wajah kesal Zara.
__ADS_1
Didepan Ricky menyetir mobil sambil menahan diri untuk tidak melihat ke belakang karena takut baper dengan keromantisan Tuan muda dan istrinya itu.
Ditengah perjalanan, Sean meminta Ricky menghentikan mobil di sebuah restoran untuk mampir makan siang dan juga sholat dzuhur.
"Aku tak terbiasa makan di tempat seperti ini mas. aku takut membuatmu malu nanti." kata Zara seolah ragu untuk masuk ke restoran yang cukup besar itu.
"Dan kamu harus terbiasa dari sekarang sayang." Sean mengenggam tangan Zara dan mengajaknya masuk ke restoran itu.
Zara membuka buku menu, melihat harga menu restoran itu membuat Zara terkejut.
Soto ayam saja harganya 50ribu padahal jika di abang somad yang berjualan di kantin sekolahan hanya 5ribu saja. Sungguh perbedaan harga yang sangat jauh membuat Zara ragu memesan karena takut menghabiskan uang Sean.
"Pesan apa sayang?" tanya Sean yang sepertinya sudah menemukan menu pilihan nya.
"Soto aja mas." kata Zara melihat hanya soto lah menu yang paling murah disana.
"Yakin? nggak mau pesan yang lain?" tanya Sean seolah ragu dengan pilihan Zara.
"Iya mas, itu aja."
"Pesen sama kaya punyaku mau?" tawar Sean.
"Memang mas pesan apa?"
"Paket bebek bakar, cocok untuk makan siang sudah lengkap dengan minumnya." kata Sean membuat Zara melihat harga paket bebek bakar itu.
Dan betapa terkejutnya Zara melihat harga bebek bakar 3x lipat dari harga soto.
"Egh, aku soto aja mas."
Sean malah terkekeh, Ia memanggil pelayan restoran.
"Paket bebek bakar 2 ditambah dessert tiramisu juga 2." kata Sean pada pelayan resto membuat Zara terkejut.
"Mas, aku soto aja." protes Zara saat pelayan itu sudah pergi.
"Sudah terlanjur sayang," kekeh Sean membuat Zara cemberut.
"Sean kau kah itu?" suara seorang wanita membuat Zara menengok ke arah wanita yang ada di belakangnya.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komenn...
__ADS_1