BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
31


__ADS_3

Seorang wanita tanpa hijab berpakaian sedikit terbuka menatap ke arah Zara dan Sean secara bergantian. Ia lalu duduk diantara Zara dan Sean. Mata wanita itu terus saja memandangi Zara dengan wajah keheranan.


"Siapa dia?" tanya Sisil yang tak lain adalah manager Sella.


"Kau di indonesia?" bukan nya menjawab Sean tampak masih terkejut melihat Sisil di sini, "Lalu dengan siapa dia disana?" wajah Sean berubah khawatir.


Zara masih bingung, tidak mengatakan apapun hanya diam dan memandangi dua orang didepan nya secara bergantian.


Sisil tersenyum, "Aku pulang karena orangtua ku sakit dan ada beberapa acara yang harus ku datangi di sini." jelas Sisil.


"Ikut aku!" Sean bangkit dan langsung mengajak Sisil pergi dari sana tanpa berpamitan dengan Zara.


Zara menatap keduanya pergi dengan perasaan penuh tanya, "Siapa wanita itu? dan apa yang mereka bicarakan?" batin Zara.


"Bagaimana bisa kamu meninggalkan Sella disana sendirian?" tanya Sean dengan nada kesal saat keduanya kini sudah berada di taman belakang restoran.


"Aku sudah meminta ijin Sella, dan sudah ada penggantiku disana untuk sementara."


"Kapan kau akan kembali kesana?" tanya Sean masih dengan nada kesal.


"Lusa aku mungkin kembali. jadi siapa wanita yang bersamamu? apa dia selingkuhanmu saat Sella tak ada di sini?" tanya Sisil dengan nada menuduh.


Sean menghembuskan nafas panjang, "Dia istriku."


Sisil terlihat sangat shock, " kalian sudah menikah?"


Sean mengangguk, "Ya seminggu yang lalu."


"Waktu itu Sella pernah bercerita padaku, aku pikir hanya bercanda tapi kenyataannya... aku tak percaya Sella memberikan izin menikah padamu." ungkap Sisil seolah masih tak percaya.


"Kau cukup tau bagaimana perjuangan ku untuk Sella. aku berharap dia bisa lebih memilihku dari pada karirnya. namun nyatanya karir nya lebih penting dari apapun. dan sekarang aku bisa apa saat orangtua ku meminta menikahi gadis itu."


"Ya sella memang sangat keras kepala," gumam Sisil.


Sisil menatap raut wajah Sean, sebelum Ia menyapa Ia sempat melihat Sean terus tersenyum pada gadis itu membuat Sisil sedikit takut cinta Sean pada Sella akan berpaling pada gadis itu.


"Dia terlihat wanita baik baik."


Sean mengangguk setuju, "Ya dia memang berbeda jauh dengan Sella." kata Sean sambil tersenyum mengingat bagaimana Sella memperlakukan nya.

__ADS_1


"Kau mulai membandingkan dengan Sella apa ini berarti kau sudah mencintai wanita itu?"


Sean terkejut dengan pertanyaan Sisil namun seketika Sean langsung menggeleng, "Entahlah... jika suatu saat perasaan ku berubah, apa itu salahku?"


Sisil langsung diam dengan ucapan Sean.


Setelah hampir 30 menit berbincang dengan Sisil, Sean kembali ke meja nya. Sudah ada makanan di meja nya namun Zara tak ada disana. Sean mencoba melihat kesana kemari namun tak menemukan keberadaan Zara.


Akhirnya Sean mendial nomor Zara dan sayang nya nomor Zara tidak aktif membuat Sean kebingungan.


"Apa dia marah? apa dia mendengar percakapanku?" batin Sean menjambak rambutnya sendiri lalu mencari keluar.


"Tuan..." Ricky terkejut melihat Sean datang sendiri ke parkiran mobilnya.


"Zara mana?"


"Lho bukan nya tadi Non Zara sudah masuk bersama Tuan?" heran Ricky.


"Jadi dia tidak kesini?"


Ricky menggeleng, "Tidak Tuan."


"Kenapa mas?" tanya Zara saat menatap wajah khawatir Sean.


"Kamu dari mana? aku cari kemana mana kok nggak ada?"


Zara nampak terkejut, "Lho mas cari aku? maaf mas aku habis sholat dzuhur di mushola sana." kata Zara sambil menunjuk ke arah mushola kecil yang ada direstoran itu. Seketika jawaban Zara membuat Sean lega karena Zara tidak marah padanya.


"Maaf tadi nggak izin dulu sama mas sampai dicariin." kata Zara merasa bersalah.


Sean tersenyum dan mengenggam tangan Zara, "Nggak apa apa sayang. harusnya aku minta maaf karena ninggalin kamu lama." kata Sean yang hanya di angguki Zara.


"Wanita tadi itu teman ku sewaktu kuliah." jelas Sean membuat Zara akhirnya tidak penasaran lagi tentang siapa wanita tadi itu.


"Aku pikir kamu marah karena aku meninggalkan mu dan mengajak wanita itu berbicara." kata Sean lagi.


Zara tersenyum , "Selama mas bisa menjaga diri, menjaga pandangan mas pada wanita lain. InsyaAllah aku nggak marah mas." kata Zara yang membuat Sean sedikit tersinggung.


Ya Sean kadang membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti Zara tahu tentang dirinya dan Sella, apakah Zara masih bisa sebaik ini padanya? sesabar ini? sungguh Zara adalah wanita yang baik, istri yang sangat baik membuat Sean tak tega jika nanti harus menyakiti Zara seperti tujuan nya dengan Sella waktu itu.

__ADS_1


Selesai makan, mereka kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kota. Selama perjalanan Zara lebih sering diam sambil memandangi arah jalanan. Sama juga dengan Sean yang hanya diam sambil memikirkan banyak hal. Memikirkan sesuatu yang membuat pikiran nya berkecamuk.


Mereka sampai dirumah Sean pukul 5 sore karena tadi sempat berhenti sejenak untuk melakukan sholat ashar.


Zara sangat kagum dengan rumah modern milik Sean yang sangat bagus. rumah bertingkat dengan cat warna abu muda membuat rumah itu terlihat mewah dan sepertinya sangat nyaman ditempati. berbeda sekali dengan rumahnya yang ada dikampung.


Sean merangkul bahu istrinya sambil menyeret koper dan langsung mengajak istrinya masuk.


"Suka nggak?" tanya Sean saat mereka sudah didalam dan Zara semakin terpesona dengan dalaman rumah Sean yang sangat mewah.


"MasyaAllah, bagus banget rumah mas." puji Zara sambil terus memandangi setiap sudut interior rumah Sean.


Sean terkekeh, langsung mencium pipi Zara gemas, "Sekarang ini juga jadi rumah kamu sayang."


Zara hanya tersenyum sambil terus memandangi barang barang yang ada dirumah itu.


Tak berapa lama seorang wanita yang seumuran dengan ibunya mendekati Zara dan Sean.


"Wah jadi ini Istrinya Aden, cantik banget." puji wanita itu membuat Sean terkekeh.


"Kenalin ini mbok Nah yang selama ini ngurus rumah." kata Sean pada Zara membuat Zara langsung mencium punggung tangan Mbok Nah dengan sopan.


"Aduh Non, kenapa malah dicium tangan saya. orang saya cuma pembantu di sini." kata Mbok Nah merasa tak enak. Dan apa yang dilakukan Zara juga membuat Sean terkejut tak menyangka Zara akan sesopan itu pada pembantunya.


"Memang sudah selayaknya seperti itu karena Ibu lebih tua dari saya." balas Zara sambil tersenyum.


"MasyaAllah Aden, dapet dari mana yang kayak gini?" Mbok Nah nampak kagum membuat Sean langsung terkekeh.


Sean mengajak Zara keliling rumahnya , sementara isi koper Zara sedang di tata mbok Nah dikamar mereka.


Zara tak henti hentinya kagum apalagi melihat kamar mereka dengan kasur yang besar juga empuk sangat berbeda jauh dengan kamar Zara dikampung.


"Ini ruangan apa mas? kok nggak bisa dibuka?" tanya Zara kala mencoba membuka pintu kamar atas disamping kamarnya.


Sean terkejut, "Jangan dibuka dan jangan pernah masuk kesana!"


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komeeen...

__ADS_1


__ADS_2