BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
74


__ADS_3

Anya terbangun setelah mendengar adzan subuh dimasjid yang sepertinya tak jauh dari rumah Zayn.


Ia merasakan tubuhnya berat karena saat ini Anya berada dipelukan Zayn.


Semalaman, Saat Anya ingin pergi, Zayn menarik tubuhnya, memeluknya dan mengucapkan kata kata yang indah pada Anya. Dan semalam kali pertama mereka tak bercinta padahal satu ranjang, entah karena Zayn mabuk atau karena memang tak ingin yang jelas Anya sudah dibuat bahagia oleh perlakuan manis Zayn.


Perlahan Anya melepaskan pelukan Zayn agar Ia tidak menganggu tidur Zayn.


Ia langsung keluar dari kamar Zayn, syukurnya Ia bertemu dengan pengasuh putri Zayn yang ternyata juga sudah bangun dan sedang berada didapur.


"Mbak, punya mukena?" tanya Anya yang ingin sholat subuh. meskipun Anya sudah ternoda tapi sebisa mungkin Anya tidak meninggalkan sholatnya.


Tisa, pengasuh Raisa terlihat menatap sinis ke arah Anya.


"Buat apa sholat? buat cari muka sama Tuan Zayn?"


Anya tentu saja terkejut dengan ucapan pengasuh putri Zayn itu, Ia benar benar tak mengerti apa maksud Wanita itu.


"Emm iya kita belum kenalan ya mbak... saya Anya sekretaris nya Pak Zayn."


"Saya nggak peduli sama nama kamu siapa! kalau kamu wanita baik baik dan punya harga diri seharusnya kamu nggak menginap dirumah pria apalagi bos kamu sendiri. dasar wanita penggoda." umpat Tisa membuat Anya sangat terkejut dan rasanya ingin menangis. Hati Anya sakit mendengar kata kata dari Tisa yang begitu kejam padahal semalam Ia juga tak berniat menginap apalagi mengoda Pak Zayn.


Dengan langkah berat, Anya kembali ke kamar Zayn untuk mengambil tasnya. Ia ingin pulang saat ini juga, tak peduli jika nanti Zayn akan marah, Anya benar benar tak peduli.


Anya pulang dengan memesan taksi online, karena ini masih terlalu pagi dan mungkin belum ada taksi atau bus yang lewat didepan rumah Zayn.


"Itu temen Papa udah pulang ya?" Suara Raisa mengejutkan Tisa yang sedang tersenyum senang menatap kepergian Anya.


"Iya, dia itu orang jahat jadi memang harus disuruh pulang."


Raisa langsung membegap mulutnya dengan tangan karena terkejut, "Haa jahat? padahal tante itu juga cantik tapi kok bisa jahat ya."


"Iya, makanya Non kalau tante itu datang lagi suruh pulang saja dari pada nanti Non Raisa dijahati." kata Tisa yang langsung diangguki Raisa.


"Nanti aku bilang sama Papa kalau tante itu jahat biar Papa nggak deket deket lagi."

__ADS_1


Tisa nampak terkejut dengan respon Raisa, niatnya hanya ingin membuat Raisa tak menyukai wanita itu, dan kalau sampai Raisa mengadu pada Papa nya bisa habis nanti Tisa sama Tuan Zayn.


"Eh jangan bilang sama Papa dulu Non, yang penting kalau dia datang kita usir saja, oke." kata Tisa.


"Gitu ya, ya udah deh nurut sama Nani aja." balas Raisa polos membuat Tisa bernafas lega.


Sementara itu dikamar, Zayn yang baru saja membuka matanya merasakan kepalanya pening luar biasa.


Zayn mencoba bangun dan masih dalam posisi duduk, Ia mengingat semalam pulang dari resepsi langsung menuju bar dan disana Ia minum banyak ditemani Anya, ah iya Anya bahkan Anya mengantarnya pulang dan menemani tidurnya.


Lalu dimana wanita itu sekarang? Zayn terlihat sangat geram. Ia sangat tak suka ditinggal, benar benar tak menyukai seseorang pergi tanpa meminta persetujuan nya lebih dulu.


Pintu terbuka, terlihat Tisa memasuki kamarnya sambil membawa secangkir madu hangat untuknya. Semenjak asisten rumah tangga nya pulang kampung, Tisa lah yang mengurus segala keperluan rumah.


"Saya buatkan madu hangat Tuan." ucap Tisa dengan nada suara centil yang sangat tak disukai Zayn, apalagi pakaian Tisa yang seolah mengodanya. Hanya mengenakan dress pendek yang mempelihatkan belahan dada Tisa.


Dulu Zayn memang selalu tergoda dengan Tisa namun entah sejak kehadiran Anya, tak ada yang bisa memuaskan dirinya selain dengan Anya.


"Tuan butuh sesuatu," Tisa nampak duduk di pinggir ranjang membuat roknya tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya.


"Sudah Tuan, hanya tinggal sarapan saja katanya mau menunggu Tuan."


"Ya sudah temani Raisa saja sana, untuk apa kamu di sini!" Sentak Zayn membuat Tisa terkejut.


"Ba-baik Tuan," Tisa keluar dari kamar Zayn dengan perasaan kesal karena gagal mengoda Zayn.


"Sialan! perempuan itu sudah merebut Tuan Zayn dari ku!"


"Nani buatkan aku roti selai." pinta Raisa saat Tisa mendekati meja makan.


Tisa menatap ke arah Raisa kesal, "Anak kecil ini juga sangat menyebalkan sekali." batin Tisa segera membuatkan roti selai yang di inginkan Raisa.


..


Zayn memasuki ruangannya dalam keadaan kesal, Ia sempat melewati meja Anya dan Anya belum datang.

__ADS_1


Dan tak berapa lama pintu ruangan Zayn terbuka dimana Anya memasuki ruangan nya terlihat baru datang.


"Maaf Pak, saya terlambat." kata Anya dengan kepala menunduk. baru saja Ia sampai dimejanya dan langsung diberitahu oleh rekan nya jika Pak Zayn mencarinya.


"Kunci pintunya!"


Dengan tangan gemetar, Anya menurut saja mengunci pintu ruangan Zayn. Anya berbalik dan terkejut karena Zayn sudah berada dibelakangnya.


"Siapa yang menyuruhmu pulang?" tanya Zayn nampak memojokan Anya di pintu.


"Ma-maaf pak, maafkan saya." Anya terlihat sangat takut, Ia tak menyangka kepulangan nya tadi pagi akan menyebabkan dirinya mendapatkan masalah seperti ini.


"Maaf kau bilang, kau sudah membuatku kesal pagi ini dan kau tau apa hukuman yang pantas kau dapatkan?" tanya Zayn sambil mengelus elus bibir tipis Anya.


"Ta-tapi pak, ini... ini masih sangat pagi dan sebentar lagi ada meeting dengan klien." Anya mengingatkan.


"Jadi kau menginginkan nanti malam saja?" Zayn masih belum berhenti mengelus bibir Anya.


"Ti-tidak pak, bukan seperti itu." Anya benar benar takut dan hanya menunduk saja.


"Lalu seperti apa?" Tangan Zayn turun ke bawah dan meremas gunung kembar Anya membuat Anya meringgis kesakitan.


"Siapa kau berani mengaturku? siapa kau berani pergi tanpa persetujuan dariku?" Tangan Zayn sudah membuka kancing kemeja Anya hingga terlihat gundukan gunung kembar yang masih tertutup bra.


Zayn yang tak tahan lagi akhirnya menarik Anya dan membawanya ke dalam ruangan pribadinya. Tak butuh waktu lama, Zayn sudah mendapatkan kepuasan surga dunianya, tak peduli dengan Anya yang masih meringkuk karena kesakitan akibat dari permainan kasar yang baru saja terjadi.


Zayn memakai kembali kemejanya setelah membersihkan diri dari sisa percintaan dengan Anya.


Zayn melemparkan sebuah obat pada Anya yang baru ingin bangun,


"Minum obat itu, aku tak ingin kalau kau sampai hamil." ucap Zayn lalu keluar begitu saja meninggalkan Anya yang kini menangis.


"Ternyata dia masih sama saja, tidak ada yang berubah sama sekali." Anya menangis sesenggukan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeeen


__ADS_2