
Semua karyawan ditoko Sena nampak senang melihat Zara membelikan es cendol secara gratis untuk mereka.
"Sering sering di sini aja mbak, kalau bisa tiap hari kesini." ungkap salah seorang karyawan yang menimbulkan gelak tawa karyawan lain nya.
Zara hanya tersenyum mendengar ucapan para karyawan Sena, meskipun mereka minum pun harus bergantian karena toko yang ramai pembeli tapi mereka terlihat sangat kompak.
"Makasih ya mbak, malah ngrepotin mbak Zara." ucap Sena saat keduanya sedang istirahat sambil menikmati es cendol.
"Ck padahal cuma es cendol." Zara tersenyum.
"Tapi ngebantu banget kok mbak buat ngilangin haus apalagi pas panas gini. tadi Sena pikir mbak Zara mau kemana ee ternyata beli es cendol."
"Kamu tahu mbak keluar?" tanya Zara terkejut takut Sena melihat dirinya berbicara dengan Zayn.
Sena mengangguk, "Tahulah mbak."
Zara terdiam sebentar, "Berarti tadi kamu lihat mbak ngobrol sama..."
"Sama siapa?" tanya Sena yang nampak bingung sepertinya tak melihat dirinya dengan Zayn.
"Kamu inget cowok yang dulu pernah beli bunga sama anaknya itu nggak ?"
Sena nampak mengingat ingat, "Yang ganteng itu ya mbak." balas Sena sambil tertawa.
Zara hanya tersenyum, baginya tidak ada yang lebih tampan dari Ayah dan suaminya didunia ini.
"Tadi dia nemuin mbak lagi."
Sena nampak terkejut, "Dia beneran naksir sama mbak Zara? emang nggak tau kalau mbak Zara udah nikah!" Sena nampak kesal pasalnya jari manis Zara saja tersemat cincin pernikahan dan pria itu masih saja mendekati Kakak iparnya itu.
"Sudah, dia tahu tapi mbak juga bingung kenapa masih kekeh deketin mbak." ungkap Zara.
"Mbak takut kalau dia datang trus ada yang lihat nanti bisa menimbulkan kesalahpahaman." ucap Zara lagi.
"Ya mbak, Sena ngerti. mungkin dia sudah terobsesi sama mbak jadi ya gitu."
"Semoga aja ini yang terakhir kalinya dia nemuin mbak ya, mbak nggak mau lagi takut mas Sean tahu."
"Ck, kalau Abang sampai tahu, bisa habis dia." balas Sena yang membuat Zara tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Sementara itu, Anya dibuat heran oleh sikap Zayn yang mendadak menjadi pendiam. padahal biasanya setelah bertemu dengan Zara dan semua tidak berjalans seperti apa yang dia inginkan pasti Zayn akan marah dan membawanya ke hotel namun kali ini berbeda.
Apa yang Zara bicarakan dengan Zayn hingga membuat Zayn terdiam seperti ini? batin Anya penasaran.
Tidak mungkin jika Zara menerima Zayn karena Zara wanita baik baik tidak akan menduakan suaminya, namun jika Zara menolak Zayn kenapa Zayn malah diam dan tidak emosi seperti biasanya? sungguh membuat Anya semakin penasaran.
Selesai meeting dengan klien, keduanya kembali memasuki mobil,
"Mau makan siang pak?" tanya Anya karena sedari tadi Zayn belum mengatakan apapun padanya.
"Aku tidak lapar, kau makan saja sendiri."
"Baik pak, saya makan siang dikantor kantin saja." balas Anya yang hanya diangguki oleh Zayn.
"Benar benar aneh." batin Anya.
Sesampainya dikantor, Anya langsung menuju kantin untuk makan siang di jam yang sudah lewat.
"Ck, kalau kesayangan mah beda ya. jam segini dikantin aja nggak bakal di omelin sama si bos." celetuk salah satu rekan Anya dikantor yang terlihat membawa 1cup es kopi.
"Aku aja habis meeting mbak, sama sekali belum istirahat jadi wajar aja kalau dikasih waktu buat makan siang meskipun sudah bukan jam makan siang." balas Anya tak takut.
Selama ini memang semua teman teman Anya dikantor banyak yang tak menyukai Anya hanya karena Anya dekat dengan Zayn namun Anya tak peduli bahkan sering Ia lawan karena dirinya tidak mau menjadi orang lemah yang ditindas banyak orang, cukup Zayn saja yang menindasnya jangan ada yang lain lagi.
"Dimana dia?" batin Anya.
Anya hendak keluar dari ruangan Zayn namun tiba tiba matanya terarah pada pintu ruangan pribadi Zayn,
Mungkin kah dia disana? batin Anya.
Dengan langkah ragu Anya berjalan mendekati pintu itu, Ia membuka ganggang pintu nya dan melihat ternyata Zayn tengah berbaring diranjang memunggungi pintu.
"ternyata tidur." gumam Anya kembali menutup pintu dan tak berani masuk mendekat.
Anya pikir Zayn tidur namun ternyata Zayn tidak tidur, Ia tengah melamun memikirkan ucapan Zara.
"Jaga harga diri? huh bahkan aku sudah tak memiliki harga diri lagi setelah kehilangan Nisya," gumam Zayn tersenyum kecut.
"Aku bukan suami yang baik, aku tidak bisa menjaga Nisya, aku bahkan... arghh sialan, jika saja Nisya masih ada... jika saja dia tidak mati aku juga tidak akan menjadi pria sebrengsek ini!"
__ADS_1
"Lagipula siapa yang menyukaiku? dia bilang ada seseorang yang menyukaiku, bullshit! Zara pasti berbohong agar aku tak lagi mengejarnya! Ya Zara pasti berbohong, mana ada wanita yang menyukai pria brengsek sepertiku!" Zayn mengepalkan tangan nya, mengingat masa lalu membuat kepalanya mendadak sakit.
Obat... aku butuh obat!
Zayn mengambil ponselnya lalu mendial nomor seseorang,
"Masuk ke ruanganku! jangan lupa kunci pintunya." Zayn langsung mematikan panggilan sebelum mendengar suara protes dari seseorang yang Ia telepon yang tak lain adalah Anya.
Dengan tangan bergetar, Anya membuka kembali ganggang pintu ruangan pribadi Zayn.
Anya memasuki ruangan itu dimana Zayn terlihat duduk disofa sambil menghisap rokoknya.
"Kemarilah Baby..." Suara Zayn membuat Anya seketika merinding.
Dengan langkah bergetar, Anya berjalan mendekat ke arah Zayn yang tengah duduk.
Zayn langsung menarik tangan Anya hingga Ia jatuh dipangkuan nya membuat Anya terkejut namun seketika Ia langsung menunduk.
Zayn mengangkat dagu Anya, hingga Anya menatap dirinya dengan tatapan sayu, tanpa disadari Anya masuk dalam lamunan Zayn.
"Semua wanita pasti akan memandangnya penuh minat, bahkan akan mencoba merayunya tapi berbeda dengan wanita ini yang selalu menunduk dan takut padaku. Aku pikir dia menyukaiku tapi melihat sikapnya yang selalu seperti ini aku ragu dia menyukaiku." batin Zayn terus memandangi Anya yang lagi lagi menunduk takut.
Zayn mengerus rokoknya diasbak, kedua tangan nya kini Ia gunakan untuk mengangkat wajah Anya hingga Anya kembali menatap ke arahnya,
"Kenapa selalu menunduk? apa kau takut padaku?" tanya Zayn membuat Anya mendadak gugup, jantungnya berdetak cepat.
"Sedikit." balas Anya yang langsung membuat Zayn tersenyum.
Entah Zayn gila atau bagaimana, biasa Ia akan bercinta dengan seseorang untuk menghilangkan rasa sakitnya namun kali ini hanya memandang wajah Anya saja memberikan rasa nyaman yang luar biasa.
"Karena aku selalu memaksa sesuatu yang tak kau sukai membuatmu takut padaku?"
Anya mengangguk pelan,
"Jika aku tidak memaksamu lagi, bisakah kau melihatku sebentar saja?" tanya Zayn membuat Anya mendongak dan menatap Zayn tak percaya.
Anya menatap Zayn sebentar lalu kembali menunduk dengan pipi memerah, "Sa-saya tidak terbiasa memandang seorang pria secara berlebihan." akui Anya.
Zayn terkejut, "Mungkinkah dia pria pertama untuk Anya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeeennn