
Siang ini cuaca sangat terik, Zara yang sedang berada ditoko bunga milik Sena berkali kali mengusap keningnya yang berkeringat.
"Kalau capek istirahat aja mbak." kata Sena melihat wajah Zara sedikit pucat karena saat ini mereka sedang berada ditaman belakang mencari bunga yang sudah mekar dan siap panen.
"Nggak capek cuma tumben aja ya panas banget."
"Iya mungkin efek mbak kecapekan, soalnya aku ngerasa biasa aja." kata Sena lagi.
"Mbak minum dulu ya." pamit Zara yang mendadak haus.
Sena mengangguk dan Zara segera menuju pantry yang ada disamping taman.
Zara menuangkan segelas air putih dan segera meneguknya hingga habis. Dahaga pun hilang berganti perut Zara yang terasa keroncongan.
Zara melihat jam dipergelangan tangan nya, "Masih jam 11 tapi kenapa udah laper banget padahal tadi pagi sudah sarapan." gumam Zara.
Karena tak tahan, Zara akhirnya mengambil sling bag nya dan berjalan keluar dari toko Sena.
Zara berjalan disekitar toko Sena yang memang banyak warung makan.
Zara menatap spanduk warung makan dan pecel pun jadi pilihan Zara.
Zara memasuki warung pecel yang sepi pembeli itu.
"Buk beli pecel satu, dimakan di sini ya." pinta Zara yang entah mengapa ingin makan di tempat.
"Siap Neng." segera ibu pemilik warung itu menbuatkan pesanan Zara.
Zara melihat sambal kelapa yang ada disamping sambal kacang dan entah mengapa langsung membuatnya berubah pikiran, "pakai sambal kelapa aja bu, jangan kacang." pinta Zara sebelum ibu pemilik warung menyiramkan sayuran dipiring dengan sambal kacang.
Ibu itu menatap ke arah Zara heran, "Jadinya nasi urap apa lontong pecel neng?"
"Lontong dikasih sayuran tapi pakainya sambal kelapa aja." jelas Zara.
"Duh si neng lagi hamil ya?"
"Eh enggak bu..." Zara terkejut dengan pertanyaan ibu pemilik warung.
"Habis minta nya yang aneh aneh," kekeh Ibu itu langsung menuruti keinginan Zara.
Zara hanya tersenyum, Ia sendiri juga heran dengan dirinya yang mendadak ingin makan makanan aneh seperti ini.
Zara segera menyantap makanannya yang baru saja selesai dibuatkan oleh Ibu pemilik warung hingga habis tak tersisa.
"Alhamdulilah ,enak." gumam Zara setelah memghabiskan makanannya.
__ADS_1
Sebelum kembali ke toko, tak lupa Zara memesankan lontong pecel untuk karyawan toko juga Sena.
"Kirain mbak kemana, aku cari dari tadi." kata Sena nampak khawatir.
"Maaf Sena sampai lupa pamit, mbak habis beli makan soalnya laper mendadak." kata Zara lalu memberikan plastik berisi pecel yang dibungkus.
"Kenapa pergi sendiri mbak? harusnya tadi minta tolong yogi apa siapa yang nganggur. ini juga malah repot beli buat kita semua." omel Sena merasa tak enak.
"Nggak apa apa Sen, biar anak anak pada seneng dan tambah rajin kerja."
Sena segera membagikan pecel pada semua karyawan nya yang langsung membuat para karyawannya senang.
"Semoga rejekinya tambah banyak ya mbak biar sering sering jajanin kita kayak gini." kata salah seorang karyawan Sena setelah menerima sebungkus pecel yang dibeli Zara.
"Lo maunya yang gratisan mulu." sahut teman nya.
"Lah elu juga doyan kan yang gratisan." tak terima hingga terjadi celetukan celetukan candaan yang membuat Zara dan Sena terkekeh geli.
Selesai sholat dzuhur, Zara pamit pulang karena merasa tubuhnya sangat lemas dan ingin tidur dirumah.
Dan akhirnya Zara pulang diantar Yogi salah satu karyawan ditoko bunga menggunakan mobil Sena.
"Tumben Non Zara sudah pulang?" tanya Mbok Nah saat membukakan pintu. Biasanya Zara pulang sore hari sehabis Ashar dan kali ini masih pukul 1 siang namun Zara sudah pulang.
"Nggak tau Mbok, rasanya ngantuk sama lemes aja pengen tidur."
Zara menggeleng pelan, "Enggak mbok, mau tidur aja."
Mbok Nah pun mengangguk paham dan berjalan mengikuti Zara dari belakang karena takut terjadi sesuatu pada majikan nya itu apalagi melihat wajah Zara sedikit pucat.
"Udah aman mbok." Kekeh Zara kala mengetahui Mbok Nah mengikuti dirinya sampai kamar.
Mbok Nah tersenyum malu dan segera pamit keluar.
Sore hari selesai sholat ashar, Zara pergi ke dapur mencari mbok Nah.
"Cari apa Non?" tanya Mbok Nah yang baru saja memasuki dapur.
"Sekitar sini ada nggak yang jual teh 999?"
"Haa teh 999?" Mbok Nah terlihat bingung.
"Itu nama merek tehnya mbok, bungkusnya warna merah." jelas Zara tersenyum geli melihat wajah terkejut Mbok Nah.
"Mbok malah belum pernah lihat Non, apa Non Zara mau dibelikan itu?" tanya Mbok Nah.
__ADS_1
"Iya mendadak pengen nyeduh teh itu Mbok, dulu waktu di pondok suka minum teh 999 itu." jelas Zara.
"Ya sudah Non coba Mbok carikan disupermarket depan, kali aja ada."
"Kalau nggak ada ya sudah mbok, nggak usah muter ke tempat lain." kata Zara merasa sungkan.
"Siap Non."
Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya akhirnya Mbok Nah datang dengan membawa teh yang Zara inginkan.
"Bener yang ini kan Non?" tanya Mbok Nah memberikan plastik berisi dua kotak teh berwarna merah.
"Iya mbok, ya Allah maaf ya Mbok pasti tadi muter muter nyarinya." Zara merasa bersalah.
"Kalau disupermarket nggak ada Non, adanya di warung kecil dan itu tadi pun tinggal 2. kalau masih kurang besok Mbok carikan lagi dipasar non." kata Mbok Nah.
"Enggak mbok, ini saja sudah cukup. makasih banyak ya Mbok." balas Zara yang membuat Mbok Nah tersenyum lega.
Zara segera menyeduh teh nya, Ia menyeruput secangkir teh harum itu yang rasanya masih sama namum suasana saja yang berbeda. Dulu Zara minum teh saat sore hari sehabis mengaji saat masih berada dipesantren dan entah kenapa selesai sholat ashar tadi Zara ingin kembali merasakan rasa teh yang sudah lama tak Ia rasakan itu.
Baru minum setengah gelas, Zara mendengar suara mobil Sean membuatnya langsung bergegas untuk membuka kan pintu.
"Mas tumben jam segini udah pulang?"
"Udah kangen sama istriku." Sean langsung mengecup kening Zara dan turun sampai pipi.
Zara menatap wajah lelah suaminya, entah mengapa Ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
Dan saat Sean keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggang, Zara kembali menatap ke arah suaminya, melihat tubuh atletis milik Sean yang basah entah mengapa membuat Zara merasakan ingin.
"Kamu kenapa sih sayang?" heran Sean sedari tadi Zara memandanginya dengan padangan aneh.
"Eugh, nggak mas.. aku mau siap siap sholat magrib." Zara buru buru keluar setelah ketahuan memadang Sean.
Dan selesai sholat isya juga makan malam, Zara langsung mengajak Sean berbaring di ranjang padahal biasanya mereka duduk di balkon lebih dulu.
Zara kembali mencuri curi menatap wajah suaminya yang kini asyik bermain game diponsel. Entah mengapa sejak pulang tadi, Zara melihat suaminya semakin tampan berbeda dari biasanya dan hasrat Zara yang mendadak keluar ingin menuntaskan bersama suaminya.
Tanpa disadari tangan Zara meraba perut sixpack Sean membuat Sean menghentikan game nya dan beralih menatap Zara.
"Pengen?" tanya Sean yang sontak membuat Zara terkejut dan berbalik memunggungi Sean.
Sean terkekeh, Ia tahu istrinya begitu menginginkan sentuhannya dilihat dari cara memandang Zara sedari tadi.
Sean akhirnya memeluk tubuh Zara dari belakang dan mulai menciumi leher belakang Zara.
__ADS_1
"Setelah sekian lama akhirnya istriku berani mengoda ku." bisik Sean membuat pipi Zara merah padam.
BERSAMBUNG... JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEEN