BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
54


__ADS_3

Malam ini Sean pulang lebih awal, setelah beberapa hari terakhir Ia selalu pulang larut dikarenakan pekerjaan yang menumpuk.


Sean terlihat senang karena bisa bertemu istrinya lebih awal karena biasanya Ia pulang istrinya sudah lelah dan mengantuk, tak tega jika harus mengajak istrinya menemaninya sebentar meskipun hanya mengobrol.


"Nona sedang berada dirumah nyonya Tuan," kata Ricky kala Sean baru saja memasuki mobil.


"Ck, aku lupa dia semalam sudah bilang. ya sudah kita jemput kesana." kata Sean


Ricky menatap ke arah Sean terlihat ragu membuat Sean ikut menatap Ricky heran, "Ada apa denganmu?"


"Ah tidak apa apa Tuan." Ricky terlihat ragu untuk bercerita.


"Katakan saja ada apa?" tanya Sean kesal dibuat penasaran oleh Ricky.


"Saya cerita tapi tolong Tuan jangan langsung marah pada Nona ya?"


"Ada apa!" mendengar masalah tentang Zara semakin penasaran dan kesal.


Dengan sedikit takut, Ricky akhirnya menceritakan tentang apa yang dirinya lihat siang tadi saat menjemput Zara, "Saya tadi terlambat menjemput Nona, sampai disana saya lihat Nona sedang bicara dengan seorang pria."


"Siapa pria itu!" mata Sean langsung memerah marah membuat Ricky menunduk takut.


"Maafkan saya Tuan, tolong jangan marah dan salah paham dulu.


Saya tidak tahu siapa pria itu, namun Nona sepertinya mengenal pria itu. Bahkan pria itu membawa bunga yang lalu dibuang karena Nona menolak menerima bunga itu.


Jangan marah dulu Tuan, Yang saya pikirkan itu setelah percakapan Nona dengan orang itu Nona terlihat linglung dan sedih." ungkap Ricky.


"Apa dia Panci?" tanya Sean kemarahan nya sedikit mereda.


"Haa Panci?" Ricky nampak bingung.


"Mantan kekasih Zara yang ada dikampung."


"Oh, Panji..." Ricky hampir saja tertawa setelah mendengar Sean menyebut Panji dengan sebutan Panci namun seketika Ricky tahan tawanya melihat tatapan Sean begitu tajam padanya, Ricky kembali fokus pada pembicaraan awal mereka.


"Sepertinya bukan Tuan, karena pria itu terlihat sangat kaya dan lebih tampan dari Panci, eh Panji."


"Jadi maksudmu dia juga lebih tampan dariku?" sengit Sean membuat Ricky langsung menggeleng.


"Tidak Tuan, tentu saja Tuan lebih tampan dari siapapun."

__ADS_1


Sean terlihat mengepalkan tangan nya, "Brengsek, berani beraninya dia mendekati istriku!"


"Mulai sekarang jangan biarkan Zara menunggu lagi. dan kau juga harus mencari tahu siapa pria itu!"


"Haa saya tuan?"


"Iya siapa lagi! cari informasi tentang dia dan jika berhasil akan kubuatkan pesta pernikahan yang mewah untukmu." kata Sean yang langsung membuat mata Ricky berbinar senang.


"Baiklah Tuan, siap laksanakan."


Setelah makan malam dirumah orangtuanya, Sean mengajak Zara pulang meskipun Ranti memaksa agar mereka menginap namun Sean kekeh tetap ingin pulang.


Malam ini memang Sean melihat raut wajah Zara sedikit berubah tidak seperti biasanya. Biasanya Zara akan tersenyum jika melihatnya pulang namun malam ini senyum Zara terlihat dipaksakan.


Zara bahkan diam saja selama dimobil saat perjalanan pulang.


Keduanya sampai dirumah, Zara segera menyiapkan piyama untuk Sean yang masih mandi.


Tak berapa lama, Zara melihat Sean keluar bertelanjang dada terlihat lebih segar dan selalu tampan untuknya. Ya Zara memang mengakui Sean lebih tampan dari siapaun juga termasuk lebih tampan dari Panji mantan kekasihnya.


"Langsung tidur?" tanya Sean mengambil piyama yang Zara siapkan lalu Ia pakai.


"Belum mas. Memangnya mas sudah mau tidur?"


"Tadi ketemu siapa?" tanya Sean membuat Zara terkejut dan menatap ke arah Sean sedikit takut.


"Ricky bilang tadi ada pria yang datang dan membawa bunga untukmu." lagi lagi ucapan Sean membuat Zara tambah terkejut.


Bagaimana bisa Ricky melihatnya? padahal Ia sempat celinggukan saat Zayn mendekatinya dan tak melihat Ricky datang.


"Itu... itu..." Zara gugup dan takut tak bisa menjawab Sean.


"Siapa sayang? katakan saja. aku tidak akan marah lagi padamu." kata Sean dengan nada lembut.


"Apa mas ingat Raisa anak kecil yang menabrak ku waktu dirumah sakit?"


Sean nampak terdiam mengingat siapa anak kecil yang dimaksud Zara.


"Ah dia... jadi pria itu..." wajah Sean terlihat sangat kesal saat mengingat anak kecil bersama seorang pria yang menatap istrinya penuh minat itu.


"Untuk apa dia menemuimu? bukan nya dia berasal dari kampung juga?" tanya Sean terdengar tak suka.

__ADS_1


Zara menggeleng, "Maafkan aku mas, sebenarnya aku sudah 2 kali bertemu dengan nya saat sudah di sini, sepertinya dia tinggal disekitar sini karena-"


"Sial, jadi pria itu tinggal di sini agar bisa dekat denganmu?"


"Bu-bukan seperti itu mas, jangan salah paham dulu." Zara ingin menjelaskan jika Raisa juga bersekolah ditempat dirinya mengajar namun Sean sudah salah paham lebih dulu membuat Zara mengurungkan niatnya.


"Bagaimana aku tidak salah paham, dia datang menemuimu dan berniat memberikan mu bunga! kamu istriku, tidak ada yang bisa melakukan itu selain aku suamimu." ungkap Sean dengan nada kesal membuat Zara hanya menghela nafas panjang mendengar Sean yang lagi lagi salah paham tentang dirinya.


"Aku akan mencari dia dan memberikan perhitungan pada dia!"


"Terserah mas saja." kata Zara terlihat sangat lelah lalu berbaring memunggungi Sean membuat Sean semakin murka.


"Apa maksudmu mengucapkan itu padaku?"


Sean yang murka tak sadar membalikan paksa tubuh Zara hingga Zara sedikit terpental.


"Ak-aku hanya lelah mas, tolong jangan salah paham lagi, aku sudah menjaga harga diriku sebagai istrimu sekalipun ada yang mendekati, aku tak akan mungkin mengkhianatimu." kata Zara dengan mata memerah ingin menangis.


"Aku juga berharap mas bisa seperti itu, tidak mengkhianatiku." kata Zara lagi sebelum akhirnya Ia kembali berbalik memunggungi Sean.


Zara mulai terisak, Ia menangis membuat Sean langsung memeluknya dari belakang, Sean sadar dirinya pria egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri bahkan tak memikirkan bagaimana perasaan istrinya itu.


"Maafkan aku Zara, maafkan aku sayang." ucap Sean semakin erat memeluk Zara.


Setelah puas menangis, Zara merasa sedikit lega karena seharian tadi dadanya terasa sangat sesak.


Zara berbalik menghadap ke arah Sean yang kini menatap nya sayu.


Tangan Sean terangkat untuk mengusap bekas air mata Zara, Sean lalu mencium kening Zara cukup lama membuat Zara merasakan tenang yang sangat luar biasa.


"Be mine, always be mine forever." bisik Sean ditelinga Zara.


"Apa aku boleh minta sesuatu ke mas?" tanya Zara dengan suara serak.


"Apapun itu aku pasti akan mengusahakan untukmu sayang."


Zara tersenyum, "Hanya jangan mengkhianatiku mas... Jika nanti kamu menyukai wanita lain. tolong katakan saja padaku agar aku bisa mengikhlaskan mu lebih mudah."


Sean terkejut dengan ucapan Zara,


"Sebenarnya apa yang kamu ketahui sayang?" batin Sean mendadak pikiran nya menjadi sangat kalut.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2