
Setelah perdebatan yang cukup sengit, Kini ruang rawat Sean kembali damai. Hanya ada Zara, Mama Ranti, mbok Nah juga Ricky yang menunggu disana.
"Ini pelajaran buat kamu Ricky, besok kamu harus lebih hati hati lagi."
Kini giliran Ranti yang mengomel pada Ricky.
"Baik Nyonya.." Ricky masih saja menundukan kepalanya, Ia merasa sangat bersalah pada keluarga Sean karena kecerobohan nya yang membuat Tuan mudanya itu terluka dan sampai dibawa kerumah sakit.
"Sudah Ma sudah, Sean butuh ketenangan Mah, Sean ini lagi sakit." kata Sean yang benar benar tak ingin mendengarkan keributan apapun lagi.
"Zara kita sarapan dulu dikantin yuk, kamu pasti belum sarapan kan?" ajak Ranti yang tadi pagi tak sempat membawakan sarapan untuk Zara karena terburu buru datang kerumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Ricky.
"Nanti aja Mah, Zara belum laper."
"Eee nggak boleh gitu, kamu lagi hamil harus mikirin calon bayi yang ada diperut kamu."
"Iya sayang, bener kata Mama, kamu makan dulu sana." Sean ikut menimpali.
"Tapi aku belum laper mas, masih mau nemenin kamu disini."
Sean tersenyum, Ia mengerti akan kekhawtiran istrinya itu.
"Tapi kamu juga harus tetap makan sayang, kasihan anak kita yang ada didalam pasti sedih kalau kamu sedih gini." nasehat Sean yang akhirnya membuat Zara terpaksa mengiyakan permintaan Mama mertuanya.
"Nah gitu dong, biar Sean sama Ricky dulu." Kata Ranti terlihat senang.
"Mas mau nitip apa?"
Sean langsung menggelengkan kepalanya, "Engga, kamu aja makan yang banyak ya."
Zara mengangguk, kini beralih mendekati ranjang Mbok Nah yang bersampingan dengan Sean, "Mbok Nah mau dibelikan apa?"
"Nggak usah Non, mbok Nah udah sarapan, udah nggak pengen apa apa lagi." balas Mbok Nah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar diruangan itu.
"Ya sudah, nanti kalau ada apa apa minta sama Ricky dulu ya Mbok."
Mbok Nah mengangguk dan langsung mengacungkan jempolnya.
Kini Ranti dan Zara sudah berada di kantin rumah sakit, Zara dan Ranti sedang memilih menu makanan yang akan Ia pesan.
__ADS_1
"Mau soto aja lah Ma..."
"Mama salad aja, soalnya lagi diet."
Zara terkejut kala mendengar Mama mertuanya diet padahal tubuh Mama mertuanya itu sudah ramping dan bagus tapi kenapa masih menyiksa diri dengan diet pikir Zara.
"Kenapa diet Ma? kan Mama udah langsing."
Ranti tersenyum, "Langsing aja nggak cukup sayang, wanita wanita seperti kita itu harus selalu menjaga tubuh agar bagus dan enak dipandang karena diluar sana pasti ada ribuan wanita yang selalu mengoda suami kita."
"Apa Papa pernah selingkuh Ma?" Zara mulai kepo.
"Enggak sayang, alhamdulilah enggak pernah tapi ya kita sebagai wanita jaga diri aja."
Zara termenung sejenak memikirkan ucapan Mama mertuanya yang benar adanya. Ya sebagai seorang istri memang wanita di tuntut harus sempurna didepan suami agar suaminya tidak berpaling lalu bagaimana dengan Zara sekarang? Ia tengah hamil dan juga memiliki porsi makan yang sangat banyak yang memungkinkan akan membuat tubuhnya gemuk, tidak seindah waktu masih gadis, dan jika itu terjadi akan kah Sean masih mencintainya dan tidak akan berpaling darinya? memikirkan itu membuat wajah Zara langsung memucat karena selama ini Zara sama sekali tidak pernah berfikir Sean akan mengkhianatinya.
"Mikirin apa sayang? makan dulu." kata Ranti mengejutkan Zara yang ternyata sarapan pesanan mereka sudah datang.
Selesai sarapan, Ranti dan Zara kembali keruangan Sean. Tak lupa Zara membelikan beberapa kue untuk Sean juga Mbok Nah.
"Makan dulu mbok." Zara begitu telaten menyiapkan camilan untuk Mbok Nah.
"Saya malah ngrepotin Non Zara." Mbok Nah merasa tak enak pasalnya anak anaknya dikampung tidak bisa datang untuk merawatnya, beruntung Zara dengan senang hati mau merawat Mbok Nah.
Terharu rasanya mendengar ucapan Majikan nya itu, dan Mbok Nah hampir saja menitikan air mata namun Ia tahan.
Seharian berada dirumah sakit cukup menyenangkan untuk Sean meskipun kondisi nya sedang sakit namun Ia Senang bisa bersama dengan Zara setiap waktu berbeda dengan Zara yang pikiran nya kalut karena ucapan Mama mertuanya sewaktu dikantin.
...
Jika Biasanya Zayn pulang kantor malam hari, untuk hari ini Zayn pulang sore lebih awal dari biasanya karena baru saja Zayn mendapatkan informasi dari anak buahnya jika Tio sudah mendapatkan informasi tentang Eddy.
Zayn bahkan tak sabar untuk segera ke markas sampai mengabaikan beberapa panggilan dari Anya istrinya yang mungkin akan menanyakan pulang jam berapa.
Sesampainya didepan markas, semua anak buahnya sudah menunggu didepan. salah satu anak buahnya mendekat dan membukakan pintu untuk Zayn.
"Dimana Tio?"
"Sedang dikamar mandi bos, silahkan menunggu diruangan."
__ADS_1
"Ck, suruh dia lebih cepat." perintah Zayn yang langsung diangguki para anak buahnya.
Zayn berjalan menuju ruangannya, entah mengapa Ia merasa sangat penasaran dengan Eddy. jika dilihat Eddy mirip seseorang yang Ia kenal namun Zayn lupa siapa dia.
Pintu ruangan terbuka, tampak Tio memasuki ruangan Zayn dengan membawa sebuah amplop coklat yang Zayn yakini jika itu data tentang Eddy.
"Maafkan saya sudah membuat Anda menunggu lama Bos." kata Eddy yang langsung duduk didepan Zayn.
"Apa yang kau dapatkan?"
"Sebelumnya saya ingin meminta Bos mendengarkan saya lebih dulu, jangan langsung emosi apalagi mengamuk." kata Tio yang seolah mengerti bagaimana sifat bosnya itu.
"Ya cepat katakan saja!" Zayn terdengar tak sabar.
"Sebenarnya Eddy itu adalah Edward,"
Zayn menatap Tio tak percaya, "Kau bercanda, bagaimana mungkin?"
"Dia dibebaskan oleh paman nya, Paman nya bahkan bersedia menjadi jaminan Edward hingga Edward bisa bebas. Paman nya menyogok kepala polisi ditempat Edward dipenjara. semua itu tanpa sepengetahuan kita Boss. kita benar benar sudah ditipu."
"Tapi bagaimana bisa? wajahnya saja berbeda."
"Dia melakukan operasi plastik Boss, Paman nya yang membiayai semua, pamannya berharap Edward berubah dan mau meneruskan perusahaan namun sepertinya Edward malah brutal. dengan nama barunya Edward sering melecehkan para perempuan dan yang terakhir memang incaran nya adalah istri dari teman anda."
Zayn mengepalkan tangan nya, "Sialan pria itu benar benar."
Zayn berdiri dari duduknya, Ia bergegas keluar dimana anak buahnya yang lain sudah menunggu diluar.
"Bagaimana bos? kita bawa ke kantor polisi sekarang?"
"Tidak, aku sudah mendapatkan hukuman yang tepat untuk dia."
Zayn berjalan memasuki ruang dimana Eddy terikat,
"Ternyata kau masih hidup, aku pikir kau akan membusuk di penjara." ucap Zayn yang langsung membuat Eddy terkejut.
"Tapi tenang saja, aku akan membuatmu merasakan apa yang dulu Nisya rasakan."
Zayn tersenyum menyerigai.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangannlupa like vote dan komenn