
Sean sedang menunggu penjual sate membuatkan pesanannya. beruntung tengah malam begini masih ada yang berjualan sate dipinggir jalan jadi Sean tidak perlu bingung kesana kemari untuk mencari sate.
Sambil menunggu pesanan, Sean sibuk menatap layar ponselnya hingga tanpa sadar seseorang duduk disampingnya,
"Wah wah sepertinya ada yang senasib denganku."
Suara seseorang yang tak asing untuk Sean, membuat Sean langsung menatap ke arah orang yang ada disampingnya itu.
"Ck, sial... kenapa aku harus bertemu denganmu lagi!"
Wajah Sean berubah kesal kala melihat Zayn yang ada disampingnya.
"Istrimu juga ngidam?" tanya Zayn yang kini sudah ikut duduk disamping Sean.
Sean hanya mengangguk,
"Beginilah repotnya menjadi calon Papa." ungkap Zayn.
Sean menghela nafas panjang, "Apa istrimu dulu juga seperti ini?" Akhirnya Sean penasaran juga tentang Zayn.
"Tidak terlalu, aku merasa calon anak ku yang sekarang laki laki jadi mungkin sedikit rewel."
"Apa memang seperti itu?" Sean semakin penasaran.
"Mungkin, dulu waktu hamil Raisa, istriku sama sekali tidak manja, tidak pernah banyak meminta."
"Kau membandingkan istrimu yang dulu dengan Teman istriku, akan ku beritahu istrimu."
Zayn tentu saja terkejut dengan ancaman Sean, "Sial, kau menjebak ku ternyata!"
Sean terkekeh, "Kau sendiri yang menjebak dirimu sendiri kawan."
Zayn tersenyum, "Jadi kau sudah menganggapku kawan sekarang?"
Sean mendadak salah tingkah, "Aku harus pergi sekarang, pesanan ku sudah siap."
Sean langsung meninggalkan Zayn yang terkekeh, "Dia pikir aku pacarnya, kenapa harus salah tingkah seperti itu."
Sean yang sudah membawa sebungkus sate pesanan Zara, dengan percaya diri dia langsung memasuki kamar Ia merasa senang bisa menuruti ngidam istrinya namun betapa terkejutnya Sean melihat Zara sudah tidur. tadinya Sean pikir Zara akan menunggunya.
Segera Sean mendekat dan duduk dipinggie ranjang "Sayang, aku sudah membawakan sate untukmu." kata Sean sambil mengelus pipi Zara.
"Hmm, makan saja mas, aku sudah mengantuk." gumam Zara disela sela tidurnya.
Sean mendadak kesal dengan balasan santai Zara yang langsung kembali tidur.
"Sayang, ayo bangun makan dulu. aku nggak mau anak kita ileran!" Sean tak menyerah, kali ini elusan nya lebih kasar.
"Ck, aku bilang nggak mau mas!" Zara mulai kesal.
"Kalau nggak mau kenapa minta!" kini suara Sean lebih keras membuat Zara akhirnya bangun juga.
__ADS_1
Zara menatap ke arah Sean, mendadak matanya berair dan Zara mulai menangis.
"Tadi memang pengen makan sate tapi karena nunggu kamu lama, jadi nggak pengen lagi, malah ngantuk trus pengen tidur.
Maaf kalau ngrepotin kamu tapi aku juga nggak mau ngrasain kayak gini." ungkap Zara sambil menangis terisak.
Sean yang merasa bersalah karena tanpa sadar sudah membentak Zara akhirnya mendekati Zara lalu mendekapnya,
"Maaf, maaf... maafin aku ya sayang sudah kasar sama kamu."
Bukan nya mereda malah semakin terisak tangisan Zara.
"Please jangan nangis lagi sayang, aku minta maaf."
Sean benar benar merasa bersalah hingga akhirnya Zara menghentikan tangisnya, Zara melepaskan pelukan Sean lalu mengambil plastik berisi sate yang ada dimeja.
"Nggak usah dipaksa kalau memang nggak mau makan sayang."
Zara menggeleng pelan, "Mendadak aku laper."
Sean tersenyum, Ia mengajak istrinya duduk didepan balkon kamar tanpa membuka pintunya, Sean kini asyik memandangi istrinya yang begitu lahap makan sate yang Ia belikan.
"Mas nggak mau?" Zara menyodorkan setusuk sate pada Sean.
"Nggaklah, lihat kamu makan lahap gini aja udah kenyang aku." kekeh Sean membuat Zara malu.
"Sekarang aku makan nya banyak ya mas, nanti kalau gemuk gimana?"
Sean tersenyum, melihat kekhawatiran diwajah istrinya, "Mau gemuk mau enggak, aku tetep sayang sama kamu."
"Gombal."
"Ck, seriusan."
Setelah menghabiskan seporsi sate, Sean mengajak Zara kembali tidur karena jujur Sean menahan kantuk sejak tadi.
Dan paginya, rumah Zara didatangi kedua orangtua Sean yang membawa banyak bahan makanan juga susu untuk ibu hamil.
"Kenapa harus repot Ma?"
"Nggak repot sayang, demi calon cucu Mama ini." Ranti yang senang lalu mengelus perut Zara.
"Apa yang kamu rasain sayang?" tanya Ranti.
"Zara malah-"
"Enggak ngrasain apa apa Ma, aku nih yang ngarsain mual sama pusing." keluh Sean yang baru saja datang.
Zara tersenyum geli, diikuti oleh Ranti juga Anggara yang tertawa.
"Gini aja mau minta cuti libur susah. bosnya galak." keluh Sean lagi
__ADS_1
"Ck, alesan kamu aja itu!" serobot Anggara.
"Sama anaknya sendiri nggak percayaan!"
"Sudah sudah, Papa sama Sean kalau ketemu ribut terus!" Ranti mulai geram.
"Mulai sekarang Mama akan sering sering kesini." kata Ranti sambil mengeluarkan barang barang yang Ia bawa.
"Nah gitu lebih baik mah, jadi Zara aman."
"Kamu kalau mau istri kamu lebih aman seharusnya kamu cari penjaga rumah sama security didepan, jangan pelit masa bayar security aja nggak mampu."
"Ck, ini Sean juga lagi minta Ricky buat cariin Pa. udah mikir juga Sean Pa."
"Udah udah, nggak usah berantem lagi. baiknya Papa sama Sean pergi ke kantor sekarang. pusing Mama denger kalian berantem terus." gerutu Ranti menatap kesal ke arah Sean dan Anggara.
"Papa tuh mah ngeselin, mulai duluan." adu Sean tak terima.
"Halah sama aja!" balas Ranti membuat bibir Sean langsung mengerucut.
Sean mencium tangan kedua orangtuanya sebelum akhirnya berjalan keluar di ikuti oleh Zara.
"Mas nggak usah cari security juga nggak apa apa, aku sama mbok Nah insyaAllah aman." jelas Zara sebelum Sean memasuki mobil.
"Nggak, harus tetap cari karena kita nggak tahu kedepan nya akan seperti apa, aku hanya ingin kamu aman sayang."
Zara akhirnya mengangguk, "Ya sudah mas, terserah mas Sean aja baiknya gimana."
Sean mencium kening Zara setelah Zara mencium punggung tangan nya, Ia mengelus kepala Zara sebentar sebelum akhirnya membuka pintu mobil.
Baru sedetik Sean duduk, Ia keluar lagi.
"Ada yang ketinggalan mas?"
"Lupa, belum cium dedek bayi."
Sean langsung mengelus dan mencium perut Zara sebelum akhirnya Ia kembali memasuki mobil lagi.
Zara hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
"Jadi bagaimana? sudah dapat orangnya?" tanya Sean pada Ricky yang kini sedang menyetir mobil didepan.
"Belum Tuan, hari ini saya mungkin akan mendatangi agen lagi."
"Ck, kenapa lama sekali."
"Maaf Tuan, kemarin saya datang ke agen tapi sudah tutup dan pagi ini saya berencana datang kesana lagi."
Sean mengangguk paham, "Pastikan cari orang yang benar benar baik, aku tidak ingin kau mencari orang sembarangan yang nantinya akan membahayakan istriku."
"Baik Tuan."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEEEN YAAA