BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
138


__ADS_3

Sudah hampir 10 kali Sean mengecek keadaan rumahnya melalui laptop yang terhubung dengan cctv nya namun sampai sore menjelang dirinya pulang tak ada yang mencurigakan dirumahnya. Eddy tidak terlihat memasuki rumah, yang terlihat hanyalah kesibukan Anya juga Zara istrinya.


Sean terlihat lega, meskipun dirinya masih khawatir namun setidaknya untuk hari ini keadaan rumahnya sangat aman.


Sean menutup laptopnya dan memasukan ke dalam tasnya karena Ia ingin membawa pulang laptop ini.


Sean berdiri lalu mengambil jas yang ada digantungan, Ia pakai kembali sebelum akhirnya keluar dari ruangan nya untuk pulang.


Sesampainya dirumah, Ia sempat melirik ke arah Eddy yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum, Sean pun membalas senyuman Eddy lalu memasuki rumah.


Tak ada sambutan dari istri tercinta nya karena Zara sedang berada di bilik dan terdengar sedang melantunkan ayat ayat suci alquran.


Sean tersenyum, entah mengapa suara mengaji istrinya membuat hatinya adem, rasa lelah seharian bekerja di kantor pun hilang seketika.


"Aden mau di bikinkan sesuatu?" tanya Mbok Nah yang menghampiri Sean berdiri didepan bilik.


Sean nampak menempelkan jari di bibirnya, kode agar Mbok Nah diam agar Zara tak terganggu membuat Mbok Nah tersenyum malu.


Mbok Nah pergi meninggalkan Sean yang masih ingin mendengar suara ngaji istrinya.


"Lho mas... udah pulang?"


Zara yang baru saja melepaskan mukena nya terkejut melihat Sean berada dibelakangnya.


"Belum masih dikantor." canda Sean yang membuat Zara tertawa kecil.


Zara menghampiri suaminya dan duduk disampingnya,


"Kok nggak langsung mandi dulu?"


"Enggak, denger suara ngaji kamu bikin hati aku adem."


"Ck, gombal."


Sean terkekeh, Ia mengelus kepala istrinya lalu memberikan ciuman kening.


"Mas udah sholat maghrib?"


"Udah dong sayang."


Zara tersenyum mendengarnya,


"Ya sudah sekarang mandi biar aku siapin makan malam dulu."


Sean mengangguk setuju, Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke aras kamar.

__ADS_1


Sean sempat menutup pintu balkon kamarnya yang terbuka, dan Sean dikejutkan oleh tapak sepatu yang terlihat jelas didepan pintu balkon.


"Sepatu siapa ini? kenapa kotor sekali."


Sean mengabaikan nya, Ia memilih mandi meskipun penasaran Ia akan mengecek nanti saja setelah mandi.


"Mas tumben pulang bawa tas?" heran Zara melihat disofa kamarnya ada tas laptop Sean.


Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dibantu Zara untuk mengeringkan dengan handuk.


"Ada lembur sayang, dari pada aku dikantor mendingan kerjain dirumah kan?"


Zara mengangguk setuju, entah mengapa akhir akhir ini dirinya merasan takut berada dirumah meskipun saat siang Ia tak kesepian karena sejak kemarin Imah dan Anya bergilir kerumahnya namun tetap saja Ia merasa takut, merasa ada yang mengawasi gerak geriknya dirumah.


Selesai membantu Sean mengeringkan rambutnya, Zara hendak mengambilkan baju Sean dilemari namun seketika Ia terkejut melihat tatanan baju miliknya yang berantakan padahal seingatnya tadi pagi saat Ia mengambil baju masih baik baik saja.


"Ada apa?" tanya Sean yang curiga dengan Zara yang berdiri lama didepan lemari.


"Enggak apa apa mas, aneh aja masa baju ku berantakan gini ya."


Sean melihat tumpukan baju Zara memang sangat berantakan apalagi bagian pakaian dalam yang terlihat seperti di obrak abrik seseorang.


"Kamu mungkin tadi lupa ngambilnya salah jadi berantakan." kata Sean.


"Mungkin Iya kali mas, ya sudahlah nanti aku beresin lagi."


Zara terlihat tenang dan langsung keluar kamar diikuti Sean, berbeda dengan Sean yang nampak bertambah curiga. Melihat tapak kaki juga baju dalam Zara yang berantakan membuat Sean sangat curiga.


Selesai makan malam dan sholat Isya, Sean mengajak Zara tidur lebih awal dari biasanya dan beruntung Zara menurut serta tak curiga dan langsung terlelap diranjang.


Melihat Zara sudah terlelap menjadi kesempatan Sean untuk keluar kamar dan memeriksa laptopnya di dalam ruang kerjanya.


Sean langsung mencari hasil rekaman cctv yang berada dikamarnya sore tadi saat jam pulang. Dan benar saja, di sore jam saat perjalanan pulang Eddy terlihat memasuki kamar melalui pintu balkon. Eddy masih lengkap mengenakan sepatu juga seragam satpamnya yang membuat Sean akhirnya paham adanya tapak sepatu didepan pintu balkon kamarnya.


Tangan Sean langsung mengepal, apalagi melihat Eddy membuka lemari baju dan langsung mengambil dalaman Zara, seketikan kilatan amarah terlihat jelas dimata Sean.


Eddy terlihat mengambil salah satu bra Zara dan langsung menciuminya, tak lupa dalaman Zara yang juga diciuminya cukup lama.


Eddy lalu mengambil bra serta dalaman itu dan akhirnya keluar lagi melalui pintu balkon kamarnya.


Cukup mengherankan memang mengingat kamar Sean berada dilantai dua dan Eddy begitu mudahnya memanjat membuat Sean berpikir jika Eddy bukan orang sembarangan.


Sean masih melihat gerak gerik Eddy, tepat saat Eddy kembali ke posnya dan saat itu mobil Sean masuk kerumah.


"Sial seharusnya aku pulang lebih cepat."

__ADS_1


Sean menutup laptopnya dengan kasar, Emosinya meluap saat ini. Ingin rasanya Sean menghampiri Eddy lalu menghajar pria mesum sialan itu namun Sean menahan diri agar tidak gegabah.


Memgingat malam ini hanya ada dirinya, Zara, Mbok Nah juga Eddy saja. Jika Ia nekat menghajar Eddy lalu dirinya kalah bagaimana nasib Zara juga Mbok Nah, itulah yang ada dipikiran Sean saat ini.


Sean mengambil ponselnya, berniat mendial nomer Papa nya namun Ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari bawah.


Sean langsung ke bawah menuju dapur karena suara itu berasal dari dapur rumahnya.


"Apa yang kau lakukan aaa-"


Suara Mbok Nah juga terdengar membuat Sean mempercepat langkahnya.


Saat Sean sampai disana, Sean terkejut melihat Mbok Nah yang sudah pingsan dilantai dan disampingnya ada Eddy yang tampak terkejut melihat kedatangan Sean.


"APA YANG KAU LAKUKAN!" Sean yang tak bisa menahan emosinya akhirnya memajukan tangan nya hendak memukul Eddy namun sayangnya Eddy dengan cepat menghindar dan langsung menarik tangan Sean lalu melintirnya.


"Aaa Sialan kau!" umpat Sean yang merasakan tangan nya sakit luar biasa karena pelitiran Eddy.


Eddy hanya tersenyum lalu mendorong Sean hingga Sean jatuh,


Dengan segala kekuatan nya , Sean hendak bangun namun Ia kalah cepat dengan Eddy yang lebih dulu menginjak perut Sean hingga Sean hanya bisa merintih kesakitan.


Sean menyesal, Ia kalah cepat, Ia tahu tak akan menang dengan Eddy jika melawan dan Sean menyesal tidak membawa anak buah Papa nya pulang kerumah.


"Mass..." Zara terkejut melihat perut Sean diinjak oleh Eddy.


"Masuk Zara, kunci pintu kamarnya." teriak Sean.


Awalnya Zara tak mau, namun melihat dirinya tak mungkin bisa melawan Eddy akhirnya Zara menurut langsung berlari ke atas.


Eddy tersenyum sinis, sekali lagi Ia menginjak perut Sean lebih keras sebelum akhirnya Ia menyusul Zara.


"Sialan, apa yang akan kau lakukan pada istriku!" teriak Sean berusaha bangun namun merasakan perutnya sakit luar biasa.


Eddy tak mengubris teriakan Sean, saat ini keadaan sedang aman, kesempatan nya untuk lebih dekat dengan Zara namun baru sampai di depan tangga, Ia mendengar pintu depan terbuka dan beberapa orang masuk,


"Belum terlambat."


Bugh ...


Bugh...


Eddy langsung tersungkur dilantai saat 3 orang menyerangnya bersamaan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeen


__ADS_2