BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
68


__ADS_3

Anya terbangun setelah mendengar suara kicau burung yang bersahutan diluar balkon.


Sudah pagi, batinnya mulai membuka penuh matanya dan menatap sekitar, dirinya masih berada dihotel.


Anya menggerakan tubuhnya dan merasakan tubuhnya terasa berat, hingga akhirnya dia tahu jika ada tangan yang memeluknya dari belakang.


Setelah percintaan panas semalam, Anya langsung terlelap karena kelelahan, Ia pikir Zayn akan meninggalkan nya seperti biasanya jika sudah mendapatkan kepuasan Zayn akan pergi namun kali ini berbeda karena nyatanya Zayn malah tidur disampingnya dan memeluknya.


Apalagi Semalam setelah mempelakukan dirinya kasar, Zayn berubah melembut membuat Anya menjadi terbuai dan akhirnya untuk pertama kalinya Anya bisa merasakan nikmatnya bercinta. Ya untuk pertama kalinya setelah berkali kali mereka melakukan dan Anya selalu merasakan kesakitan namun semalam berbeda sekali, Ia merasakan nikmatnya surga dunia meskipun memang belum halal untuknya.


Anya terkejut saat Ia merasakan tubuh Zayn bergerak dan melepaskan diri darinya, Zayn terlihat bangun namun Anya malah pura pura masih memejamkan mata.


"Tidak perlu pura pura tidur, bangunlah. ada yang harus ku bicarakan." kata Zayn membuat Anya kembali terkejut karena saat ini Anya sedang memunggungi Zayn, bagaimana bisa Zayn tahu jika dirinya sudah bangun.


Merasa sudah ketahuan, akhirnya Anya berbalik dan menatap ke arah Zayn yang kini duduk disampingnya.


"Bi-bicara apa pak?" mendadak Anya gugup.


Zayn kembali berbaring dan menghadap ke arah Anya, kini keduanya sudah berhadapan, Zayn menatap Anya namun Anya malah menunduk.


"Apa kau lelah melayani ku setiap saat seperti ini?" tanya Zayn yang langsung membuat Anya terkejut dan mendongak menatap ke arah Zayn.


Sejujurnya, Anya merasa lelah dan kotor karena setiap hari harus melayani nafsu bejat bosnya itu, namun jika mengingat semalam, untuk pertama kalinya Zayn memperlakukan dirinya dengan lembut membuat Anya ingin merasakan nya lagi. katakanlah Anya murahan, Anya tak peduli karena Zayn lah yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.


Anya tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya pelan,


"Ada cara agar kau bisa terlepas dari semua ini dan masih bisa mendapatkan uang yang banyak dariku." kata Zayn membuat Anya kembali menatap Zayn yang kini tersenyum padanya.


"Bagaimana caranya?" tanya Anya penasaran membuat Zayn tersenyum licik.


...


Selesai sholat subuh, Zara dan Sean menikmati kopi susu hangat ditambah roti bakar madu yang sangat nikmat apalagi saat ini mereka menikmati sarapan itu dibalkon kamar sambil melihat pemandangan kota dipagi hari. Entahlah Balkon kamar menjadi tempat favorit keduanya untuk bersantai dan menikmati waktu berdua.


Pemandangan pagi yang cerah juga udara yang masih segar membuat keduanya betah berada disana.


"Aku ingin berenang, sudah lama tidak berenang." ungkap Sean setelah cukup lama mereka duduk disana dan menghabiskan sarapan.

__ADS_1


"Aku tidak ikut ya mas, aku tidak bisa berenang, takut malah membuatmu malu."


Sean terkekeh, "Memang jangan ikut, karena di hotel tidak ada kolam renang pribadi, aku tidak mau kalau ada yang melihat lekuk tubuhmu itu."


"Untuk saat ini, cukup temani aku saja. nanti aku dapat libur panjang kita honeymoon divilla yang ada kolam renang pribadinya jadi kita bisa berenang berdua tanpa takut dilihat orang."


Zara tersenyum dan mengangguk setuju dengan apa yang baru saja Sean ucapkan, memang lekuk tubuhnya hanya boleh dilihat Sean saja yang memang sudah sah menjadi suaminya.


Keduanya turun menuju kolam renang yang ada dihotel itu, beruntung disana masih sangat sepi jadi Zara tidak merasa risih lagi jika harus menjadi pusat perhatian seperti semalam.


Zara duduk dikursi santai peacock yang ada dikolam itu sambil melihat ke arah suaminya yang begitu lihai berenang.


Zara sungguh dibuat kagum, Saat suaminya naik ke atas hanya mengenakan boxer, tubuhnya yang kekar dan tinggi, seluruh tubuh dan rambutnya basah membuat Sean terlihat sangat tampan.


"Sepertinya akan sedikit lama, apa tidak apa apa jika kamu menunggu di sini?" tanya Sean yang kini sudah berdiri didepan Zara.


"Kamu bisa naik ke atas dan kembali ke kamar jika bosan." kata Sean lagi.


Zara langsung menggeleng pelan, "Tidak mas, aku menunggu mas di sini saja."


Zara kembali fokus memperhatikan suaminya yang tengah berenang hingga sebuah suara mengejutkan Zara,


"Di sini juga?" Zara menoleh dan melihat Zayn yang datang dan hanya mengenakan boxer membuat Zara langsung saja memalingkan wajahnya.


Zayn tersenyum "Aku juga akan berenang," kata Zayn langsung pergi meninggalkan Zara.


"Siapa juga yang bertanya." omel Zara saat Zayn tidak lagi terlihat.


"Hay Zara..." kali ini suara wanita yang Ia kenali yang memanggilnya, suara Anya.


"Anya... kau juga menginap di sini?" Zara terlihat senang bisa bertemu dengan Anya yang saat ini mengenakan jumpsuit celana pendek tanpa lengan sehingga memperlihatkan lengan mulus Anya.


"Ya, karena semalam acara selesai cukup larut jadi aku memutuskan menginap di sini."


Zara mengangguk saja, sebenarnya Ia penasaran apa Anya satu kamar dengan bosnya itu namun Zara juga tak mau menanyakan takut jika Anya tersinggung.


"Bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu."

__ADS_1


Anya tersenyum, "Ya cukup lama sekali, setelah keluar dari ponpes dan aku mendapatkan biaya kuliah di kota, kita jadi terpisah."


"Benar sekali, dulu kita sering bolos bersama hanya karena ingin makan mie ayam bang jo, apa kau ingat?" Zara tersenyum mengingat dulu dia sering bolos pelajaran hanya karena penasaran dengan dunia luar.


Anya ikut tersenyum, "Aku ingat sekali, setelah itu kita mendapatkan hukuman hafalan dari ustadzah."


"Ya benar sekali,"


"Ah iya bagaimana kabarnya fatimah?"


"Imah? dia baik, baik sekali dan sekarang dia mengajar di SD." jelas Zara.


"Hanya aku sendiri yang merantau ke kota ya?" Anya tersenyum miris.


"Tidak masalah dimanapun itu selama kita bisa mengais rezeki yang halal." ucap Zara membuat Anya tersenyum miris.


Rezeki halal? bagaimana bisa disebut halal jika tubuhnya saja menjadi jaminan.


"Oh ya sebentar lagi Imah akan menikah, jika kamu mau besok datang kesana bersamaku." ajak Zara mengingat sebentar lagi memang pernikahan Imah.


"Aku tidak bisa janji datang kesana karena jadwal pekerjaanku sedikit padat."


Zara mengangguk paham, "Tidak masalah, aku hanya mengabari mu saja."


"Kau beruntung memiliki suami yang terlihat menyayanggi mu." kata Anya.


"Kau juga beruntung disukai semua orang termasuk pak Zayn." tambah Anya dalam hatinya.


"Nanti jika saatnya tiba, kau juga akan beruntung memiliki seseorang yang akan mencintaimu." balas Zara membuat Anya tersenyum miris.


"Mungkinkah ada? sementara dirinya sudah ternoda." batin Anya ingin menangis saat ini juga.


"Zara... bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2