BUKAN RAHIM BAYARAN

BUKAN RAHIM BAYARAN
44


__ADS_3

Zara memasuki kamar, melihat Sean sudah memejamkan mata membuat Zara mendekat ke arah suaminya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sean.


Sean langsung membuka matanya membuat Zara terkejut,


"Maaf mas gangguin tidur mas, aku cuma mau benerin selimut." kata Zara merasa tak enak.


Sean tersenyum, Ia tarik lengan istrinya hingga jatuh ke dalam pelukan nya,


"Belum tidur dari tadi, nungguin kamu lama sholatnya." protes Sean.


"Tadi ngaji dulu sebentar mas, maaf ya mas lama." lagi lagi Zara merasa tak enak.


"Maaf aja terus." cibir Sean dan Zara langsung terkekeh.


"Mungkin 2 hari lagi aku ke paris." kata Sean langsung membuat Zara mendongak menatap ke arah Sean.


"Ke paris mas? luar negeri?"


Sean terkekeh lalu mengangguk, "Iya, ada tugas dari Papa sayang." kata Sean lalu mengecup kening Zara.


Zara hanya berohh ria saja,


"Mau minta oleh oleh apa?" tanya Sean.


Zara menggeleng pelan, "Nggak minta apa apa, yang penting mas pulang selamat dan sehat."


Sean menatap istrinya tak percaya, mengingat paris adalah negara fashion dimana banyak barang branded yang dijual disana. jika wanita lain mungkin mereka akan meminta banyak oleh oleh barang branded tetapi jawaban Zara malah membuat Sean ingin tertawa geli.


"Yakin? nggak mau tas, baju, sepatu?"


Zara menggeleng, "Buat apa sih mas? yang dilemari aja banyak yang belum aku pakai."


"Ini serius kamu nggak mau minta apapun?" tanya Sean lagi merasa tak yakin.


Zara mengangguk mantap, "Minta mas pulang lagi aja jangan sampai kecantol sama bule paris."


Sean terkekeh mendengar jawaban Zara, memang terdengar sedikit menyindir membuat Sean langsung memeluk Zara.


"Heran, biasanya aku kalau sakit bisa seminggu, nah ini sehari langsung sembuh." ungkap Sean.


"Alhamdulilah mas, biar mas bisa kembali aktifitas lagi."


"Udah cocok sih ini sama perawatnya, mana cantiknya kebangetan lagi."


Zara terkekeh mendengar ucapan Sean, "Gombal."

__ADS_1


"Bener sayang, rasanya nggak mau jauh sama kamu. bungkus aja gimana ya ikut ke paris."


Zara langsung menggeleng, "Enggak ikut mas, aku disini nunggu mas pulang aja."


"Yakin? bisa sekalian honeymoon sayang." bisik Sean membuat Zara lagi lagi menggeleng.


"Nanti malah nggak fokus sama kerjaan mas jadi baiknya mas urus pekerjaan mas dulu kalau masalah honeymoon kan bisa kapan saja." kata Zara yang langsung membuat Sean mengangguk setuju.


Pagi hari saat bangun, Sean melihat ada yang berbeda dari istrinya. Jika biasanya Ia lihat wajah ceria Zara namun kali ini wajah istrinya itu nampak sedikit cemberut.


Sean mendekati istrinya yang sedang menyiapkan baju kantor untuknya. Ia lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Kenapa nih istriku udah cemberut aja?"


Terdengar helaan nafas Zara membuat Sean melepaskan pelukan nya.


Zara berbalik dan langsung menatap wajah Sean, "Maaf ya mas."


Sean mengerutkan alisnya, "Maaf kenapa sayang?"


"Aku malah datang bulan, padahal aku pikir bisa secepatnya hamil. maaf mungkin sudah mengecewakan keluarga mas." jelas Zara sambil menunduk.


Sean tersenyum, Ia lalu memeluk istrinya lagi dan kali ini cukup lama.


Sean melepaskan pelukannya dan mengajak Zara duduk di ranjang. Ia belai rambut istrinya lalu mengecup keningnya,


"Malah diliatin." kekeh Sean.


"Rasanya nggak percaya mas bisa bicara sebijak ini." kata Zara membuat Sean terkekeh dan mencubit istrinya gemas.


"Ohh jadi kamu mau bilang kalau aku masih kayak anak kecil gitu?"


Giliran Zara yang terkekeh, "Enggak bukan gitu mas maksudnya."


"Apapun itu, jangan sedih atau murung lagi kalau memang masih belum dikasih. Papa dan Mama pasti ngerti sayang."


Zara akhirnya mengangguk lega. Meskipun umur pernikahan mereka belum genap sebulan namun Zara berharap bisa segera hamil mengingat setiap malam mereka selalu berhubungan dan tanpa pengaman.


Hari ini Zara berangkat mengajar karena Sean sudah sembuh dan juga sudah mulai berangkat ke kantor.


"Maaf Kak, baru sehari mengajar saja saya sudah mengambil libur." Zara nampak berada diruangan Tessa.


Nampak Tessa menghela nafas panjang, "Jika oranglain mungkin sudah ku pecat Zara namun karena kamu istrinya Sean dan alasan kamu tak berangkat karena Sean sakit jadi aku memberimu kesempatan."


Zara tersenyum lega, "Makasih kak, makasih banyak. InsyaAllah ke depan untuk absensi akan lebih baik lagi."

__ADS_1


Tessa mengangguk,


Zara langsung keruangan para guru dimana ketiganya teman nya sudah berada disana.


"Ya ampun Zara, aku pikir kamu dikeluarkan." kata Rini langsung menghampiri Zara.


"Mana mungkin dikeluarkan. guru emas pasti diperlakukan istimewa." cibir Nela dengan nada tak suka membuat semua orang menatap ke arah Nela.


"Nggak usah cari masalah deh Nel." Kiki rekan Nela mengingatkan.


"Ups iya, lupa kalau istri sultan. cari masalah sama aja cari mati ya." ejek Nela lalu berjalan keluar ruang guru.


Zara hanya menghela nafas panjang lalu duduk di kursinya.


"Nggak usah dipikirin ya omongan Nela, dia memang suka kayak gitu." hibur Rini.


Zara menggeleng pelan, "Aku baik baik saja." kata Zara sambil memaksakan senyum.


Dan benar saja nyatanya ucapan menyakitkan Nela berlalu begitu saja kala Zara sudah mulai mengajar dan bermain bersama anak anak. Hanya ada senyum ceria juga gembira bersama anak anak.


Dan saat jam pulang tiba, Zara berkemas untuk pulang karena Ricky sudah menjemputnya didepan.


Zara keluar dari ruangan guru paling akhir setelah semua rekan nya pulang barulah Zara pulang. Suasana sekolah sudah sepi dan mata Zara dikejutkan oleh seorang anak yang duduk sendirian di belakang pos satpam dimana masih ada seorang satpam yang memang berjaga disana.


Karena Zara mengenal anak itu membuat Zara berjalan mendekat.


"Raisa sayang, kenapa masih disini?" tanya Zara dengan lembut.


"Belum dijemput tante cantik." Raisa menghembuskan nafas panjang sambil memanyunkan bibirnya.


"Belum dijemput Papa?"


Raisa menggeleng, "Papa lagi kerja diluar negeri, yang jemput mang ujang sama Nanny tapi belum sampai." keluh Raisa membuat Zara terkejut.


Zara merasa iba dan kasihan, diumur Raisa yang harusnya mendapatkan kasih sayang lengkap kedua orangtuanya tetapi malah sebaliknya. Raisa ditinggal selama lamanya oleh sang Mama dan Papa nya sudah pasti sibuk bekerja.


"Raisa mau dianter tante?"


Seketika mata Raisa berbinar dan langsung mengangguk setuju.


Zara tersenyum dan langsung mengandeng tangan Raisa.


Dan saat mereka sampai didepan gerbang, Seorang wanita muda memakai baju babysitter nampak berlari ke arah mereka.


"Maaf Raisa sayang, Nanny terlambat."

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2