Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 35–Ujian Dimulai, part 2


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Apa yang telah terjadi?


Tadi... aku tidak salah pencet, kan?


Aku... tidak mengerti. Saat kutekan enter, tiba-tiba saja cahaya merah bersinar dari layar komputernya. Aku mulai takut di sana. Karena kupikir, aku telah merusak komputernya. Tapi entahlah....


Setelah cahaya merah itu muncul, tiba-tiba saja pandanganku jadi gelap. Dan sekarang... di mana aku saat ini?


*


*


*


"Dennis! Den... Dennis bangun! Hei!"


"Hah...? Eh?!"


Dennis membuka matanya lalu mengedipkannya beberapa kali. Pada awalnya pandangan Dennis masih samar-samar. Tapi pada akhirnya ia bisa melihat sosok Rei yang sedang ada di hadapannya.


Karena kehadiran Rei yang sangat dekat dengan wajahnya itu telah membuat Dennis terkejut dan langsung terbangun. Tapi karena mendadak sekali, Dennis malah membentur dagu Rei dengan keningnya. Dengan cepat, Rei langsung jatuh duduk sambil memegang dagunya yang sakit itu. Dennis juga mengelus-elus keningnya dengan kasar.


"A–aduh... aduh! Kak Rei! Kenapa kau bisa ada di depanku begitu? Apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Dennis dengan nada membentak.


"Jangan salah paham." Jawab Rei dingin. Masih dalam posisi duduk, Rei kembali melanjutkan, "Aduh... aku ini sedang membangunkanmu tadi! Apa kau tahu kita ada di mana saat ini?" Rei bertanya balik.


Dennis tersentak. Lalu ia melirik dan memperhatikan lingkungan sekitarnya. Dennis terkejut. Karena saat ini dirinya berada di tempat yang asing. Tempat yang terlihat menyeramkan. Dennis tidak tahu tempat apa itu.


Dennis pun berdiri secara perlahan. Berusaha untuk menjaga keseimbangannya agar bisa berdiri kembali walau kepalanya masih sedikit pusing. Rei juga melakukan hal yang sama seperti Dennis.


"Ka–Kak Rei? Apa kau tahu kita ini ada di mana?" tanya Dennis.


Rei menggeleng. "Entahlah. Yang kuingat tadi... perasaan kita masih ada di kelas lalu...."


"Lalu tiba-tiba saja cahaya merah dari komputer itu!" Dennis melanjutkan. "Oh tidak. Kita terbawa ke dalam alam lain! Apa jangan-jangan...."


"Wah, jangan-jangan tempat ini adalah tempat di mana semua murid terjebak di dalam dunia aneh saat mereka sedang melakukan ulangan. Waduh... menyeramkan sekali, loh~"


Dennis merasakan ada seseorang yang menyentuh kedua pundaknya. Lalu orang yang ada di belakang itu mengelus pelan leher Dennis dan membisikan sesuatu padanya. Dennis jadi merinding. Lalu dengan cepat, Dennis menjauhi orang yang ada di belakangnya itu sambil berteriak ketakutan, lalu berbalik badan saat dirinya sudah berada di samping Rei.


Ternyata orang yang ada di belakang Dennis itu adalah si Akihiro. Lagi-lagi temannya yang satu itu selalu datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Akihiro tertawa kecil. "Haha... tenang saja, Dennis! Jangan takut. Ini aku, kok. Lihat? Aku tidak menyeramkan."

__ADS_1


"Bu–bukan masalah takut. Tapi aku hanya terkejut saja. Kak Dian ini!" bentak Dennis.


"Hehe..."


"Hei, sekarang bukan waktunya untuk bercanda! Sekarang ini... kita ada di mana?" gumam Rei setelah ia membentak kedua temannya. Lalu matanya melirik tajam ke arah Akihiro. "Dian? Apa kau tahu sesuatu tentang tempat ini?"


"Ah, boro-boro aku tahu, Rei. Awalnya kita sampai ke sini saja tidak tahu. Saat aku sedang menatap keluar jendela setelah menekan tanda enter di keyboard komputer tadi, tiba-tiba aku sudah sampai di sini." Jelas Akihiro. "Tapi... aku tahu sesuatu."


"Apa itu?" tanya Dennis penasaran.


"Nah, sepertinya tidak hanya kita saja yang terbawa masuk ke dalam dunia ini. Tapi semua teman sekelas kita juga."


"Sekarang, di mana mereka? Kenapa hanya ada kita bertiga saja di sini?" tanya Rei.


"Kita pasti terpisah dari yang lainnya. Tapi sepertinya tidak jauh. Sekarang, ayo kita cari yang lainnya!" ajak Akihiro. Rei dan Dennis mengangguk. Lalu mereka berdua mengikuti Akihiro dari belakang.


Tapi sebelum beranjak dari tempat itu, tiba-tiba saja tanpa sengaja Dennis melihat sesuatu. Sosok seorang gadis berambut pendek yang mengintip lewat pohon yang ada di belakang Dennis. Tapi saat Dennis kembali menengok ke arah pohon itu, tiba-tiba saja gadis yang ia lihat sudah tidak ada di sana.


"Ah, tidak mungkin! Aku pasti salah lihat." Gumam Dennis sambil berjalan cepat menyusul Akihiro dan Rei.


****


Di dunia nyata–


"Baiklah. Sekarang semuanya sudah pergi dan di sana mereka pasti sudah terbangun. Khu~ khu~ Aku tidak sabar ingin melihat darah dan juga mendengar teriakan ketakutan dari semua anak-anak itu." Ujar Bob sambil berjalan memeriksa semua anak yang ada di kelas 3-C. Semuanya benar-benar terlihat seperti orang yang sudah mati. Tidak ada yang bergerak lagi, apalagi bernapas!


Setelah selesai dengan tugasnya di kelas, Pak Bob pun pergi keluar kelas lewat pintu belakang. Setelah dirinya berada di luar kelas, Pak Bob kembali menutup pintu dan mengunci pintunya.


Pak Bob akan menunggu sampai akhirnya langkah Bu Mia semakin mendekat ke arahnya. Bu Mia terlihat panik. Pada awalnya ia ingin meminta bantuan pada Pak Bob untuk mengurus anak-anak yang ada di kelas sebelah. Tapi setelah ia melirik ke arah jendela kelas 3-C, Bu Mia kembali dikejutkan oleh keadaan kelasnya yang kacau seperti kelas sebelah.


Lalu dengan cepat, Bu Mia bertanya, "A–apa yang telah terjadi si sini?! Kenapa hampir semua anak jadi seperti ini di saat mereka ingin memulai ujiannya?" Nada bicara Bu Mia agak sedikit membentak.


"Ibu guru? Apa anda tidak tahu berita soal Terror Internet itu? Nah, sekarang anda tidak perlu cemas. Anak-anak sedang mengikuti ujian mereka."


"Terror Internet? Tunggu! Apa jangan-jangan... Anda ini adalah... penjahat yang selama ini telah diincar polisi karena kasus pembajakan yang berujung pada kematian itu, ya?!"


Pak Bob tertawa dengan keras. "Haha... ternyata aku terkenal juga, ya? Iya! Iya begitulah! Sekarang... aku sudah berada di sekolah ini! Kau tahu? Sudah banyak anak lain yang sama seperti mereka-mereka itu. Dan sekarang... gilirannya aku untuk mengincar kematian di sekolah yang katanya sudah terkenal oleh misterinya!"


"Kauu! Anda benar-benar, ya?! Saya menyesal karena sudah mempercayai anda! Sekarang juga, saya ingin menelpon poli–"


BUAK! BUK!


"TIDAK ADA YANG BOLEH MENELPON ORANG LAIN DI SINI!" Pak Bob membentak setelah ia memukul wajah Bu Mia dengan keras. Seketika, Bu Mia langsung pingsan di tempat setelah kepalanya membentur tembok kelas 3-C. "SEKARANG... KAU HARUS BERGABUNG DENGAN YANG LAINNYA! Biarkan aku yang mengurus semua murid-murid ini, ya?"


Setelah Pak Bob mengurus Bu Mia, Pak Bob langsung pergi ke tempat ruangannya. Yaitu ruang pengawas pribadinya. Saat sampai di sana, ia menekan-nekan tombol yang ada di hadapannya. Lalu seketika... semua layar yang ada di hadapannya itu berubah tampilan. Kali ini, semua layar itu menunjukan seluruh tempat yang berada entah di mana. Intinya, tempat itu seperti dunia aneh buatannya sendiri yang saat ini sudah menjebak ratusan murid di dalamnya.


"Baiklah... sekarang waktunya kita memulai pestanya." Pak Bob menarik mikrofon yang ada di depannya itu. Ia akan berbicara pada semua murid yang ada di dalam dunianya untuk memulai permainan yang ia sebut dengan Ujian itu.


****

__ADS_1


Kembali lagi ke dalam dunia misterius yang belum diketahui namanya–


Saat ini, Dennis, Rei dan Akihiro masih terus berjalan untuk mencari teman-teman mereka yang lainnya. Sekarang ini, mereka bukan hanya bertiga lagi. Baru saja, Akihiro menemukan ada 2 orang anak perempuan lainnya. Dan langsung saja, kedua anak perempuan itu Akihiro ajak untuk pergi mengikuti dirinya agar aman.


Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang lumayan keras. Suara yang sepertinya semua murid pernah dengar. Suara orang itu bisa terdengar oleh semua murid yang ada di Dunia itu.


[ Halo anak-anakku semua! Atau harus saya panggil korban? Khu~ khu~]


"Hei! Kau siapa?!" seorang murid lain membentak orang itu. Asal suaranya tidak diketahui dari mana. Semuanya terus mencari asal suara itu.


[ Aku ini Bob! Kepala sekolah baru kalian! ]


Semuanya terkejut. Mereka langsung ribut dan masing-masing melontarkan kata kasar untuk membentak kepala sekolah baru mereka itu.


[ HEi... hei... kalian jangan kasar, dong! Sekarang... jika kalian ingin keluar dari tempat ini, kalian harus menyelesaikan Ujian yang sebenarnya akan kalian lewati. ]


"Apa maksudmu?!" kali ini Akihiro yang membentak.


[ Aku akan memulai Ujiannya. Tenang saja, Ujian ini mirip seperti ujian biasa yang kalian lewati. Hanya saja... kalian harus menggunakan otak kalian dan jika gagal, maka nyawa kalian lah taruhannya! ]


"Haaaah?! Tidak mungkin!"


"Jangan begitu!"


"Kau pasti bercanda!"


"Hei, apa maksudnya ini?!"


[ Tolong jangan ribut semua. Di sini akulah yang akan mengendalikan permainannya. Jadi kalian jangan seenaknya menentang ku, ya? Aku bisa saja langsung membunuh kalian di tempat. ]


DEG!


[ Tapi sebelum itu kita memulai orientasi saja dulu. Sekarang kan kalian semua sedang terpisah oleh teman-teman kalian. Nah, permainan pertama adalah... kalian harus mencari dan berkumpul kembali bersama dengan teman kalian. Jika tidak ingin mencari teman kalian, kalian semua harus berkumpul di tempat yang terdapat bunga raflesia Arnoldi yang terletak di tengah dunia ini! Temukan saja dunia itu dan berkumpul lah di sekitar bunga itu. ]


[ Aku akan memberikan waktu 30 menit untuk kalian bisa menemukan bunga itu. Ingat! Bunganya hanya ada satu. Jika dalam waktu 30 menit kalian masih belum berada di dekat bunga itu, maka kalian akan mati seketika. Kematian kalian masih rahasia. ]


"A–apa-apaan permainan ini?!" batin Dennis sedikit panik. "Jika ini permainan, maka seharusnya menyenangkan, dong! Tapi ini kok malah kebalikannya."


[ Nah, jika kalian semua sudah mengerti... bagaimana kalau kita mulai saja langsung? ]


[ GAME START! ]


–Waktu tersisah 29 menit 58 detik....


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2