Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 37–Foto Kematian


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


ZZHIING!


Setelah duri-duri itu muncul, tiba-tiba saja ada darah segar yang muncrat dari sela-sela duri-duri runcing yang penuh itu. Darahnya mengenai pipi Dennis. Dennis melebarkan matanya karena terkejut, lalu tubuhnya gemetar. Ia pun berteriak, "Re–REEEEII?!"


Setelah teriakan Dennis tadi, seketika semuanya langsung berlari menghampiri Dennis. Mereka semua juga mencemaskan keadaan Rei. Mereka pikir Rei pasti terjebak di dalam kumpulan duri-duri itu. Ada juga yang sudah mengira kalau Rei bakal mati di dalam kumpulan durinya. Dan malah sebagian besar dari anak-anak perempuan juga ada yang berteriak histeris bahkan sampai menangis.


"Ka–kak Rei... tidak mungkin, kan?" Dennis bergumam-gumam. Tangannya terangkat secara perlahan. Ia menyentuh darah yang masih tertempel di pipinya dengan kedua jarinya. Lalu setelah itu, Dennis kembali menurunkan tangannya dan matanya melirik ke arah tetesan darah yang sudah tertempel di kedua jarinya itu. "I–ini... ini tidak mungkin darah Rei, kan? Pasti tidak mungkin!"


"De–Dennis tenanglah dulu." Ucap Akihiro lirih sambil mengelus punggung Dennis.


"Tidak bisa tenang kalau keadaanya seperti ini, kak Dian."


BRUK!


Dennis jatuh terduduk di tanah dengan ekspresi yang masih tidak berubah. "Ka–kak Rei... dia... dia pasti sudah...."


"Hei, hei! Kau jangan bicara seperti itu. Dia pasti akan baik-baik saja!" ujar Akihiro lagi. "Aku percaya Rei pasti masih hidup."


"Tidak bisa. Dia... tidak akan bisa bertahan di sana. Aku lihat sendiri, di dalam tanah yang berbahaya itu, tubuh Kak Rei yang masih ada di sana... tiba-tiba saja–"


"Hei, hei! Aku tidak suka, ya?!" Dennis terkejut saat ia mendengar suara bentakan Akihiro. Lalu secara perlahan, Dennis mendongak. Menatap ke arah Akihiro yang sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan mata menyeramkan ala Akihiro.


"Ka–kak Dian...?"


"Sekali lagi kau berkata yang tidak-tidak, aku akan memukulmu, ya?!"


"Ta–tapi kan... Kak Rei itu dia–"


BUAK!


Akihiro memukul wajah Dennis lalu dengan cepat ia langsung menarik kerah baju Dennis dan menariknya dengan paksa sampai Dennis berdiri kembali.


"Hentikan!" Tepat di depan wajah Dennis, Akihiro kembali membentak Dennis. "Kubilang jangan ngomong seperti itu lagi! Aku tidak mau mendengarnya! Percayalah padaku. Rei pasti akan baik-baik saja!"


Dennis tidak menjawab. Ia terdiam. Lalu ia menundukkan kepalanya. Dennis sudah mulai pasrah. Ia rela dirinya mau diapakan saja oleh Akihiro yang lagi-lagi sudah terbawa oleh emosinya.


"Percaya padaku! Ayo kita taruhan kalau perlu! Rei itu masih hidup pastinya! Dia tidak akan mati semudah itu! Kau tahu temanmu yang satu itu bagaimana, kan?! Tidak akan ada yang bisa membunuhnya dengan mudah!" Akihiro membentak lagi. "Jangan suka seperti ini, Dennis! Aku mohon! Pikirkan hal positif. Jangan terlalu yakin dengan perasaanmu itu!"


Ia mengomel pada Dennis habis-habisan sampai secara perlahan mata Akihiro terlihat berkaca-kaca. Ia terlihat seperti tidak tega karena sudah memarahi Dennis. Tapi... ya tahu sendiri kalau Akihiro sudah terlanjur terbawa emosinya itu bagaimana?


[ Waduh... itu kalian berdua yang ada di sana kenapa malah berantem, ya? ]


Semuanya terkejut. Mereka mendengar suara Pak Bob lagi. Tapi saat ini, semuanya mengetahui asal suara itu. Mereka langsung menengok ke arah bunga Raflesia Arnoldi yang ada di tengah-tengah Lingkungan Aman. Ya, suara Pak Bob itu terdengar dari dalam lubang besar yang ada di tengah-tengah tubuh bunga Raflesia itu.


"Kau lagi?!"


"Kali ini, kami sudah sampai di sini dengan aman dan selamat! Sekarang apa maumu?!"


"Ayo cepat katakan!"

__ADS_1


"Keluarkan kami dari sini, kumohon!"


"Woy! Tunjukan dirimu kalau berani!"


Semua murid jadi ribut. Mereka semua membentak-bentak Pak Bob yang suaranya terdengar dari dalam bunga Raflesia. Jadi tentu saja semua murid menghadap ke arah bunga raksasa itu.


[ Wah, wah! Sepertinya kalian terlalu bersemangat sekali, ya? Itu bagus sekali. ]


[ Nah, sekarang karena semuanya sudah berkumpul di sini, bagaimana kalau kita semua berkenalan? ]


[ Tapi sebelum itu, kok saat aku lihat... jumlah kalian agak berkurang, ya? ]


"Apa maksudmu?!"


"Tentu saja berkurang! Mereka yang lainnya pasti ada yang mati di luar sana!"


"Sekarang apa maumu, sih?!"


[ Oh, tenanglah dulu. Jika kalian merasa penasaran dengan teman-teman kalian yang menghilang tadi... bagaimana kalau kita melihat keadaan teman kalian saja? ]


Ada sesuatu yang keluar dari dalam bunga raksasa itu. Ternyata hanya sebuah layar berukuran besar yang akan menunjukan video atau gambar tertentu lewat layar itu. Mungkin saja begitu tujuan si Pak Bob karena telah menunjukan layar besar itu pada semuanya.


"A–apa itu?" tanya Akihiro pada Dennis.


Dennis hanya menjawab dengan menggeleng. Lalu setelah itu, Akihiro kembali melepaskan kerah baju Dennis dan mundur 2 langkah ke belakang dari Dennis. "Kalau dilihat... itu kok mirip seperti hologram yang suka ada di film-film fiksi ilmiah, ya?" gumam Akihiro.


"Apa? Hologram? Loh kok di tempat seperti ini malah ada alat keren seperti itu, sih?" gerutu Dennis.


"Ah, entahlah! Pencipta dunia ini benar-benar sudah tidak waras!"


[ Nah sekarang semuanya! Lihatlah ke arah layar! Karena... aku akan menunjukan beberapa foto keadaan teman-teman kalian yang menghilang itu. ]


[ Ini dia foto pertama. ]


PATS!


Semuanya terkejut saat melihat foto itu. Karena foto pertama yang ditunjukan, adalah foto seorang anak perempuan yang terlihat mengerikan. Keadaanya perempuan itu telah meninggal dengan cara yang mengenaskan. Bagian perutnya tertancap satu duri sampai isi dalam perutnya keluar dan... hanya itu saja. Darahnya mengalir ke mana-mana.


[ Nah! Ini foto pertama. Anak bernama Selestia, dari kelas 2–B. Dia meninggal karena kehabisan waktu dan juga kehabisan darah. Jadi karena itulah telah membuat dirinya jadi terbunuh oleh duri-duri yang muncul dari bawah tanah. ]


Seketika setelah penjelasan dari Pak Bob itu, semua murid dari teman sekelasnya Selestia langsung berteriak ketakutan dan menangis karena melihat keadaan teman mereka yang sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.


[ Bersiap-siaplah untuk foto yang kedua! ]


PATS!


Foto kedua ini terlihat lebih menyeramkan dari yang sebelumnya. Foto kali ini terlihat ada seorang anak laki-laki dan juga di sampingnya ada anak perempuan lainnya. Tubuh bagian bawah laki-laki itu tertancap duri sampai duri itu menembus kepala dan membelahnya menjadi dua. Sedangkan kalau keadaan si perempuan terlihat hanya kepalanya saja yang tertancap oleh duri-duri itu. Intinya... tubuh mereka berdua sudah dipenuhi oleh aliran darah yang menetes dari luka besar di tubuh mereka.


[ Dua anak ini bernama Rafael dan Sista. Mereka berdua berasal dari kelas 1–A. Kelas termuda ternyata, ya? Kasihan sekali, khu~ khu~ ]


[ Baiklah kalau begitu. Sekarang ke foto yang berikutnya! Ini foto yang terakhir. ]


"Fo–foto terakhir? Apa jangan-jangan... foto yang akan ditunjukan kali ini adalah Kak Rei?" gumam Dennis.


Akihiro terkejut setelah ia mendengar gumaman Dennis itu. Lalu dengan cepat, ia langsung memukul pundak temannya itu. "Kau masih saja bicara seperti itu! Di foto berikutnya tidak mungkin si Rei. Aku yakin pasti bukan dia."


"Tapi... kok perasaanku jadi tidak enak, ya?" Dennis bergumam sambil mengelus dadanya. Ia masih belum yakin dengan perkataan Akihiro tentang Rei. Apakah Rei itu benar-benar mati atau tidak?

__ADS_1


PATS!


Foto kedua tadi akhirnya diganti dengan foto ketiga. Dan... orang yang terpajang difoto ketiga itu bukanlah sosok Rei yang terlihat menyeramkan seperti foto yang sebelumnya.


Fotonya memang terlihat menyeramkan. Tapi... seseorang yang ada di dalam foto itu bukanlah si Rei. Melainkan anak lainnya. Keadaan anak itu memang sangat mengenaskan seperti anak-anak lainnya.


Tubuhnya tertusuk duri dan isi perutnya keluar. Darah membasahi seluruh duri yang ada di dekat anak itu. Dan tampang anak laki-laki itu... terlihat pucat karena sudah kehabisan darah. Ekspresi yang dikeluarkannya adalah ekspresi yang penuh dengan kesakitan dan derita.


"Tadi katanya... foto itu adalah foto terakhir, kan? Itu berarti... Rei tidak akan..." Batin Dennis berpikir.


[ Nah! Sekarang ini adalah foto terakhir! Seorang anak laki-laki bernama Tony, dari kelas 3–B telah meninggal dunia! ]


[ Nah, sekarang apa kalian lihat? Itulah ke empat orang yang telah terbunuh di permainan pertama ini. Dan sekarang... waktunya untuk memulai orientasi kita! ]


Ucapan Bob telah membuat semua murid jadi semakin tegang. Padahal yang sekarang akan mereka mulai ini baru saja bagian orientasi atau perkenalan atau permulaan sebelum dimulainya permainan. Tapi... orientasi kali ini adalah perkenalan semua murid dari kelas 1 sampai 3.


Sebelum dimulai, Pak Bob kembali menghilangkan semua duri-duri tajam yang ada di daerah tidak aman. Setelah duri-duri itu menghilang, terlihat lah sosok Rei yang berdiri tak jauh dari tempat aman. Rei menggenggam lengannya yang terus mengalirkan darah. Ia berdiri dengan tubuh yang gemetar karena berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu.


Tapi dengan kehadiran Rei yang terlihat masih baik-baik saja di sana, seketika semua murid jadi terkejut sekaligus senang. "Ka–kak Rei! Kak Rei!" Dennis berteriak senang. Ia akhirnya mempercayai perkataan Akihiro itu.


"Kan benar kataku. Rei pasti masih hidup." Ujar Akihiro berbangga diri.


"Tapi... dia sedang tidak terlihat baik-baik saja sekarang." Jawab Dennis. Lalu setelah itu, Dennis pergi berlari menghampiri Rei.


"Ka–kak Rei? Apa kau baik-baik saja? Ini... terluka gara-gara apa?" tanya Dennis panik sambil membantu Rei untuk tetap berdiri dan menahan rasa sakitnya.


"Ah... tidak apa-apa." Jawab Rei pelan. Nada bicaranya terdengar lemah dan nafasnya sedikit terengah-engah. Saat Dennis melihat luka yang ada di lengannya Rei itu, ia pun terkejut. Karena luka Rei terlihat sangat besar. Tidak terlalu besar juga. Lengannya sedikit robek karena tergesek oleh sesuatu yang tajam.


"Kak Rei, kau terluka! Sekarang... ayo kita berjalan mendekati teman-teman yang lain!" ajak Dennis. Rei mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan secara perlahan. Darah dari luka Rei terus mengalir dan menetes ke tanah.


Akhirnya, Dennis dan Rei bisa menginjak Lingkungan Aman. Seketika setelah Rei datang, semua murid perempuan langsung menghampiri Rei dan mereka mulai berisik untuk mempertanyakan keadaan Rei itu.


Karena sikap semua anak perempuan yang mengelilingi Rei, telah membuat Mizuki jadi geram. Lalu dengan cepat, ia langsung memisahkan semua gerombolan murid perempuan itu dari hadapan Rei. Sedikit menjauh dari Rei.


"Kalian ini! Berilah Rei sedikit ruang! Kehadiran kalian itu telah membuatnya semakin sesak, loh!" bentak Mizuki. Seketika semuanya pun jadi terdiam. Lalu setelah Mizuki puas memarahi semua anak perempuan di sana, Mizuki berbalik badan menghadap ke Rei yang sedang terduduk di tanah.


"Kak Rei... bertahanlah. Aduh... dalam keadaan seperti ini, mana bisa kita mendapatkan obat untuk mengobati luka Rei itu." Pikir Dennis dalam hati. Ia ingin mengobati Rei, tapi dirinya tidak tahu bagaimana caranya.


Darah terus mengalir dari luka robek Rei di lengannya itu. Jika pendarahannya tidak segera dihentikan, bisa bahaya!


[ Oh~ Jadi... ada murid yang selamat, ya? ]


Dennis dan Rei terkejut. Lalu dengan cepat, mereka langsung menoleh dan menatap ke arah bunga Raflesia Arnoldi itu. "Itu... ternyata dugaanku selama ini memang benar. Orang yang telah membawa kita sampai ke sini adalah... si pencuri buku absen yang sudah kutemui sebelumnya!" ujar Rei pada Dennis.


Dennis tersentak setelah ia mendengar perkataan Rei itu. "Apa? Tidak mungkin. Bagaimana kak Rei bisa bertemu dengannya?"


"Karena... aku dengannya pernah bertarung saat malam itu!"


[ Ya. Jadi anak bernama Reizal Alfathir, dari kelas 3-C, berhasil selamat dari duri-duri itu. Hebat juga dirimu. Tapi... apakah kau bisa bertahan di Ujian yang sebenarnya? Khu~ khu~ khu~ ]


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Follow IG: @Pipit_otosaka8


__ADS_2