
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Siang harinya— pukul 12
Semuanya sedang berkumpul di Villa untuk makan siang bersama. Lagi-lagi pemilik Villa selalu menghidangkan makanan yang terbuat dari bahan utama daging sapi. Setiap hari mereka semua selalu makan daging dari kemarin.
Mungkin kebanyakan anak akan suka. Apalagi Akihiro. Tapi beberapa juga ada yang tidak menyukainya. Entah karena bosan atau memang tidak suka menu daging. Makanya bagi anak-anak yang tidak suka, sudah disediakan sayuran berkuah yang lebih sehat.
Hari ini menunya adalah daging semur. Semuanya sangat menikmati makanan itu. Benar-benar enak. Ibu pemilik Villa memang pandai memasak dan mengolah dagingnya sampai empuk dan enak untuk dimakan.
Kalau mendengar soal makanan enak, Akihiro pastinya yang paling banyak makan. Dia selalu bulak-balik mengambil makanan baru setelah ia makan nasi dengan daging satu piring penuh.
Karena dia memang doyan makan dan tidak ingin merepotkan Ibu pemilik Villa untuk mencuci piring yang banyak, maka dengan piring bekas makan tadi tetap ia gunakan saja. Ia mengambil makanan baru, tapi tidak mengambil piring baru juga.
Sudah 3x Akihiro menambah makanannya. Dan sekarang, yang ke–4 kali. Dia kembali lagi ke teman-temannya. Setelah Akihiro menaruh piring penuh makanan yang ia ambil di depan teman-temannya, Mizuki bertanya, "Kau... nambah lagi?"
"Benar-benar perut karet." Rei bergumam dengan nada menyindir. "Rasanya pengen ku tiup nih anak."
"Semuanya, selamat makan!" Akihiro duduk sila. Mengambil sendok dan garpu, lalu mengangkat piringnya dan makan. Makannya lebih lahap dan cepat. Semua temannya jadi heran dengan Akihiro. Mereka berpikir, Akihiro itu jenis manusia seperti apa? Yang doyan makan, tapi tidak segitunya juga. Sedari tadi, dia tidak pernah kenyang dan perutnya itu tidak pernah kelihatan gemuk. Pergi ke mana semua makanannya itu?!
Beberapa menit kemudian, Akihiro akhirnya menyelesaikan makannya. Ia meletakan piring kotor yang kosong di depannya, lalu sedikit bersendawa. Semuanya tersenyum menatap Akihiro. Lalu Dennis pun bertanya, "Kak Dian sudah kenyang?"
"Iya. Haduh..." Akihiro mengelus perutnya. Setelah makanan terakhir yang ia masukan ke dalam lambungnya itu, akhirnya dapat sedikit merubah ukuran perut Akihiro. Untuk sekarang perutnya itu terlihat sedikit lebih gemuk. "Aku makan banyak sekali, ya?"
"Tentu saja banyak!" Semua temannya menjawab serontak.
Akihiro tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, lalu menjawab, "Ah, habisnya makanan di sini enak sekali. Aku serasa tidak ingin pergi dari tempat ini. Dagingnya juga enak banget."
"Iya. Kalau soal daging, Adel menyukainya! Enak banget tadi." Ujar Adel girang. "Tadi Adel juga mau tambah, tapi takut gak dihabisin, hehe...."
"Makan secukupnya saja, Adel."
"Baiklah Kak Dennis!"
Dennis tersenyum pada adiknya, lalu ia melirik ke semua teman yang ada di dekatnya dan bertanya, "Ngomong-ngomong... apakah kalian merasakan rasa yang berbeda dari daging di sini?"
"Eh? Memangnya ada apa, Dennis?" tanya Mizuki heran. "Dagingnya biasa saja. Tetap enak."
"Bukan masalah enaknya. Tapi... kalau misalnya daging sapi... seharusnya tidak terasa seperti yang tadi kita makan. Ah, apa kalian merasakan serat yang banyak di dalam dagingnya? Dan rasanya juga tidak seperti daging sapi, loh!" jelas Dennis.
__ADS_1
Mizuki tertawa kecil. "Haha... Dennis. Sepertinya kau cocok menjadi kritikus makanan, deh! Teliti sekali kamu. Aku saja tidak merasakan apapun di dalam daging yang kumakan. Rasanya sama saja seperti daging sapi."
"Oh benarkah? Mungkin... karena aku makannya dicampur dengan nasi. Makanya rasanya jadi beda, kali, ya?" pikir Dennis.
"Ah, itu bisa jadi."
"Hmmm.... Tapi sungguh. Rasa dagingnya tidak seperti yang biasanya. Ini agak aneh. Apa karena lidahku yang bermasalah, ya?" pikir Dennis dalam hati. Ia tidak akan membicarakannya lagi. Karena tidak ada orang lain yang merasa seperti dirinya. Temannya yang lain tidak merasakan apa yang Dennis rasakan saat makan dagingnya. Makanya mereka tidak ada yang percaya dengan Dennis kalau rasa daging sapinya itu berbeda.
"Dennis!"
Dennis tersentak. Seseorang memanggil dirinya dari belakang. Dennis pun menoleh, dan melihat ada si kakaknya Cahya yang berdiri di depan pintu. Ternyata dia yang telah memanggil Dennis.
Setelah Dennis menoleh, Rina yang merupakan nama kakaknya Cahya yang kedua itu pun melambai kecil pada Dennis. Lalu tangannya dikibaskan, mengisyaratkan Dennis untuk menghampiri dirinya.
Dennis menurut. Karena penasaran, ia pun berdiri lalu berjalan menghampiri Rina di depan pintu. Semua temannya memperhatikan Dennis dan Rina. Saat sampai di depan pintu, Dennis bertanya, "Ada apa?"
"Em... anu... apa hari ini kau agak sibuk?" tanya Rina sedikit ragu.
"Memangnya kenapa, ya?" Dennis melebarkan matanya, lalu sedikit meneleng karena bingung.
Rina tertawa kecil, lalu menggaruk pipinya dengan telunjuknya yang memiliki kuku panjang. Sepertinya jarang dipotong. "Ah, siang ini... mau gak? Kamu jalan-jalan sama aku?"
"Jalan-jalan?"
"Hanya di sekitar Villa ini saja. Aku akan menunjukan tempat yang paling indah di sini! Hanya kita berdua saja, ya? Ya?"
"De–Dennis, kenapa diam?" tanya Rina mengejutkan Dennis yang sedang berpikir tentang keputusannya.
"Ah, sepertinya aku tidak bisa. Siang ini aku ada urusan. Maaf, ya?" Dennis ternyata menolak. Dengan alasan ada urusan lain, Dennis berharap kalau Rina bisa menerima alasan Dennis itu.
Tapi ternyata tidak.
"Sekarang masa tidak bisa, Dennis?" tanya Rina lagi dengan nada bicara yang lembut. "Apa besok saja?"
"Emm... besok kami ada kegiatan lain dari sekolahku. Mungkin kapan-kapan saja, ya? Haha...."
"Tu–tunggu! Bagaimana kalau malam ini saja?"
"Tidak bisa." Dennis tetap menggeleng. Ia pun merubah alasannya. "Kalau malam, kami tidak diperbolehkan untuk keluar kamar."
"Tapi sepertinya kalau tiap malam kemarin, kau dan temanmu selalu keluar, tuh!"
"Hehe... itu kan kemarin. Kalau sekarang berbeda. Bu Guru kami takut kalau ada murid yang hilang lagi. Kau tahu, kan? Teman kami baru saja menghilang semalam dan masih belum ditemukan sampai sekarang." Dennis menjelaskan alasannya.
"Haduh, tidak akan berhasil ini!" Rina menggerutu di dalam hatinya. "Ah, padahal aku sudah menunggu waktu ini untuk tetap dekat dengan Dennis. Tapi sekarang ini, kenapa dia seperti tidak ingin dekat denganku? Memangnya aku kenapa?"
__ADS_1
"Sudah, ya? Aku kembali. Teman-temanku sudah menungg–”
"Tu–tunggu Dennis. Em... sebenarnya aku mengajak kamu karena aku tahu di mana temanmu yang hilang itu." Ujar Rina. Apakah itu alasan agar Dennis mau ikut jalan-jalan dengannya? Atau jangan-jangan itu jebakan agar Dennis bisa mempercayainya?
"Eh, benarkah?"
Ternyata Dennis mempercayai gadis itu!
"Iya. Makanya sekarang ayo ikut denganku." Rina mengajak lagi. Tapi Dennis hanya terdiam. Ia tidak berekspresi sama sekali. "Eh? Kau kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya bingung saja. Kenapa kau mengajakku dan tidak mengajak para orang dewasa saja kalau soal murid yang hilang itu? Kan bisa mereka yang urus." Jawab Dennis.
"Eh? Emm... aku hanya...."
"Jangan bilang kalau kau membuat alasan itu agar aku ingin ikut denganmu. Nanti di tengah jalan kau pasti ingin mencelakakan aku, kan?" Dennis sudah menduganya. Rina tersentak setelah mendengar perkataan Dennis itu.
"Kan, sudah aku duga." Dennis berujar dingin. Lalu setelah itu, ia berbalik badan dan berjalan meninggalkan Rina. Rina ingin menarik tangan Dennis, tapi ia tidak berani. Setelah Dennis pergi meninggalkannya, Rina pun berbalik badan dan langsung berlari keluar dari Villa dengan perasaan kesal.
"Dennis ada apa?" tanya Rei.
"Ah, entahlah. Gadis yang tadi sedikit agak menyebalkan." Jawab Dennis. Rei bertanya lagi, "Kenapa memangnya?"
Dennis menghela nafas, lalu menceritakan semua pembicaraannya dengan Rina tadi. Semuanya mendengarkan dengan baik sampai Dennis berhenti bercerita.
Di lain sisi, Rina sudah berlari sampai di depan turunan menuju ke bawah bukit. Di sana ia berdiri di pembatas kayu yang depannya adalah tanah yang curam. Di sana, Rina membenturkan tangannya ke pagar pembatas beberapa kali karena kesal.
"Sialan! Sial! Sial! Kenapa Dennis tega sekali padaku." Rina menggerutu. Lalu secara tidak sengaja, dikepalanya ia mengingat wajah Dennis yang cuek saat menatapnya tadi. "Kenapa dia jadi dingin sekali padaku. Dia benar-benar tidak suka padaku, ya?"
"Ah, elah! Ini gara-gara Cahya. Semenjak Dennis berteman dekat dengan adikku itu, tiba-tiba saja Dennis jadi seperti itu padaku. Memangnya apa salahku padanya?!"
"Tapi... kalau aku perhatikan akhir-akhir ini... Cahya dengan Dennis, terlihat lebih dekat daripada aku. Aaaaaaa! Seharusnya aku yang ada di dekat Dennis dan bukan Cahya!"
"Apa jangan-jangan... Cahya itu memang benar suka dengan Dennis? Seperti dugaanku. Dia pasti berusaha untuk menjauhkan diriku dengan cara menghasut Dennis yang tidak-tidak tentang diriku. Dengan begitu, Dennis tidak akan merasa nyaman jika dekat denganku dan dia malah memilih dekat dengan si adikku itu!"
"Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan." Rina mengepal tangannya kuat-kuat dan mencengkram erat pagar pembatas yang ada di depannya itu. "Bagaimanapun caranya, Dennis harus jadi milikku! Sebelum dia pergi setelah 6 hari kedepan."
"Aku akan membuat dia nyaman berada di dekatku dan menyingkirkan si cewek pembuat rusuh itu!"
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8