
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Pukul 5 sore–
Hari semakin senja. Sementara saat ini, Akihiro, Ethan dan Zainal akan kembali pada Davin dan kembali ke Villa. Mereka sedang mencari jalan keluar dari hutan. Karena sebelumnya, mereka habis meletakkan tubuh kedua mayat yang sudah mereka bunuh di suatu tempat.
"Haha... tempat persembunyian mu bagus juga, Dian!" ujar Ethan dengan tertawaannya. Sesekali sambil bicara, ia juga sempat menepuk pundak Akihiro.
"Hehe... siapa dulu? Akihiro gitu!" Ia berbangga diri. Lalu bergumam, "Ngomong-ngomong... panggil aku Akihiro saja ngapa? Dian itu nama anak perempuan."
"Iya! Caramu bagus juga itu." Zainal menimpali perkataan Ethan tadi. "Langsung kubur mereka di dalam tanah saja, beres kan urusan kita? Haha... lebih baik langsung kubur mayat itu daripada harus menyembunyikan tubuh mereka. Kan itu tidak baik."
"Kau takut digentayangin arwah mereka, ya?"
"Ah, bukan begitu. Ada mitos kalau kita menabrak kucing di jalan dan dia mati, kita harus mengubur kucing itu. Jika tidak maka akan ada nasib sial untuk kita." Jelas Zainal. "Sama seperti saat ini. Kita bukan membunuh kucing, tapi manusia, loh! Setelah membunuh mereka, kita langsung menguburnya. Itu lebih baik."
Akihiro tertawa kecil, lalu merangkul tubuh Zainal yang ternyata lebih pendek daripada Akihiro. Hanya beda 10 cm saja. Kalau dengan Ethan, hanya beda 14 cm. Zainal memiliki tubuh lebih kecil dari yang lainnya.
"Heh, jadi kau percaya pada nasib buruk yang akan menimpa kita jika kita tidak mengubur mayat itu, ya?" tanya Akihiro pada Zainal.
Zainal membuang muka dari Akihiro, lalu menggaruk pipinya dengan telunjuknya. "Em... anu... dari dulu aku sudah mengenal banyak mitos dan... aku mempercayai semuanya. Kata ibuku, kita harus hati-hati terhadap mitos seperti itu."
"Mitos itu hanya perkataan bohong orang dari mulut ke mulut yang digunakan untuk menakut-nakuti kita saja, Zain." Ujar Ethan yang berjalan santai di sampingnya. Ia melipat tangannya ke belakang sambil bicara. "Gunanya mitos yang orangtua kita katakan saat kita masih kecil itu adalah... untuk membuat kita takut dan tidak melakukan hal yang berbahaya. Ya... seperti yang kuketahui. Dulu ibuku pernah bilang, kalau aku tidak kembali ke rumah sebelum matahari terbenam, maka aku akan diculik oleh nenek pemakan manusia gitu, haha...."
"Ah iya itu!" Akihiro menunjuk ke Ethan lalu tertawa kecil. "Aku pernah baca di internet, masa kalau kita makan di depan pintu, nanti kita gak bisa kenyang karena makanan itu akan habis dimakan setan yang datang dari luar. Haha... kadang lucu aja."
"Tapi kalau diperhatikan... Dian tidak pernah merasa kenyang, tuh." Zainal menyindir. "Kau selalu makan terus. Dimana pun dan kapanpun. Sungguh deh! Aku sering banget lihat kamu tuh makan melulu."
__ADS_1
"Ah iya. Itu berarti kau tidak pernah kenyang." Ethan menimpali. "Makanan yang masuk ke perutmu itu sudah dimakan setan duluan, hehe...."
"Ya... lalu kalau dilihat-lihat juga, sepertinya Akihiro tidak pernah gemuk walau sudah makan banyak."
"Apaan?!" Akihiro tiba-tiba membentak. Tapi ia tidak marah hanya sedikit kesal. Kemudian ia mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya. "Aku ini gemuk tahu!"
"Itu kurus, Dian... haduh...." Ethan menggeleng sambil tertawa lepas. Begitu juga dengan Zainal. Mereka berdua suka sekali mengejek Akihiro untuk saat ini.
Sampai mereka tak sadar kalau jalan keluar dari hutan sudah terlihat. Tepat ada di depan mereka. Mereka bertiga, kembali ke lapangan berumput yang luas itu dan bertemu dengan Davin kembali. Zainal dan Ethan sudah berlari duluan menghampiri Davin yang masih setia menunggu. Sementara di belakang ada Akihiro yang masih merasa kesal karena terus diejek. Tapi ia selalu memeriksa tubuhnya untuk memastikan kalau dia itu benar-benar gemuk dan tidak kurus.
Saat dirinya sampai di hadapan Davin, Akihiro malah bertanya, "Hei, Davin! Apakah aku gemuk?"
Davin hanya menatap dengan pandangan biasa. Lalu ia menjawab, "Tidak. Kau itu kurus, tau!"
"Aduh... jahat banget sih pada ngatain aku kurus." Akihiro menggerutu. Di depan Davin, ia memasang wajah sedih dan mengeluarkan sedikit senyuman. Tapi di dalam hatinya, ia memasang wajah kesal dan selalu menggerutu.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya Zainal setelah ia berjongkok di depan Rashino yang sudah terduduk sedari tadi. Hanya saja, karena ia baru bangun, perasaannya tidak enak dan kepalanya masih terasa pusing.
"Ah, iya. Jangan khawatir." Jawab Rashino pelan dengan kepala sedikit menggeleng.
"Ya! Sekarang ayo kita kembali ke Villa!" Semuanya terkejut saat tiba-tiba saja mereka melihat Adit bangun dan langsung berteriak. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Adit. Tapi mereka merasa senang karena Adit sudah sadar dan dia terlihat baik-baik saja.
Sekarang kembali ke ruang pertemuan. Yaitu di kamar Dennis dan Rei, juga termasuk kamarnya Davin dan Zainal.
****
"Kenapa Kak Rei tidak menceritakannya padaku tentang Pak Raden ini?" tanya Dennis dengan nada merengek pada Rei.
"Ah, maaf! Aku ingin memberitahumu, tapi aku tidak ada waktu." Rei menjawab. Ia mengeluarkan senyum paksanya pada Dennis. Lalu setelah itu, ia kembali melirik ke arah Pak Raden. Tapi mulai sekarang, Pak Raden ingin dipanggil kakek saja oleh Rei dan yang lainnya yang sudah mengenal dirinya.
"Emm... anu kakek?" Mizuki memanggil. Kakek hanya menyahut dengan mengangguk. "Emm... apakah orang itu benar-benar sudah mati? Aku takut dia hidup lagi seperti beberapa keluarganya yang lain." Tanya Mizuki. Orang yang ia maksud itu adalah Rina.
Sang Kakek menoleh ke arah Rina, lalu mengangguk. "Dia sudah mati. Kakek sempat memotong kepalanya sebelum dia bangkit kembali. Sebenarnya saat Dennis telah memukulnya dengan batu itu, sebenarnya dia belum mati."
__ADS_1
"Ah iya! Terima kasih banyak, Kakek! Aku pikir dia sudah mati. Kalau kakek tidak datang ke sini, mungkin aku sudah meninggalkannya tanpa memeriksa kematiannya terlebih dahulu." Ucap Dennis. Ia menggaruk kepalanya dan tertawa kecil. "Hehe... bisa saja rencana kami gagal jika aku membiarkan Rina masih hidup seperti tadi."
"Ah, tidak apa-apa. Ini hanya kebetulan. Saya ke sini ingin mengambil air di dalam gua yang bersih ini." Ujar Kakek.
"Tapi... sayang sekali airnya telah tercemar oleh darah." Kata Mizuki yang sedang memeriksa keadaan kolam mata air yang tadinya jernih, sekarang telah berubah warna menjadi bening agak kemerahan. "Tidak mungkin minum dengan air seperti ini, kan?"
"Hoho... tenang saja. Saya bisa ambil air bersih dari sela-sela bebatuan. Karena dari sana lah, air itu mengalir."
"Oh iya benar."
"Ah, sekarang kita sudah tidak punya waktu lagi." Rei menggeleng setelah ia melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat. Sebentar lagi matahari akan terbenam. "Masih ada satu tugas yang harus kita lakukan!"
"Oh iya, Bus pariwisatanya!" tegas Dennis.
"Kalian pergi saja. Selamatkan yang lainnya. Hanya kalian saja anak-anak muda yang masih bisa berjuang seperti ini."
"Tapi jika kami berhasil, apakah kakek ingin ikut bersama kami ke tempat yang lebih menyenangkan?" tanya Mizuki senang sambil menggenggam erat tangan kanan kakek.
"Hoho... saya tidak ingin menganggu kalian. Saya akan tetap tinggal di sini."
"Tapi... apakah kakek bisa bertahan hidup di tempat tinggal kakek?" tanya Rei yang merasa tidak enak. Sebelumnya ia pernah melihat rumah kakek yang terlihat sederhana.
Dennis mengangguk. Ia juga ingin mencoba untuk membujuk kakek. "Iya. Nanti ikut saja bersama kami. Kakek dan Cahya akan kami ajak ke dunia aman di luar dari kawasan ini."
"Jika kalian memaksa, saya akan ikut dengan kalian."
*
*
*
To be Continued-
__ADS_1
Follow IG: @pipit_otosaka8