
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Dennis sedari tadi selalu menahan perutnya agar tidak mengeluarkan isinya. Tapi sekarang, bukan saatnya untuk menahan lagi. Dia sudah terlanjur mencerna makanan yang seharusnya tidak ia makan.
"Keluargaku hanya memakan daging manusia yang mereka dapatkan dari hasil buruan di sekitar desa." Rina melanjutkan penjelasannya. Ia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi jijik Dennis saat mendengar ceritanya. Wajah Dennis membiru di keningnya, ia terus menutup mulutnya dan tubuhnya bergetar karena tidak sanggup untuk menahan isi yang ingin keluar dari dalam perutnya.
DRAP! TAP TAP!
Rina terkejut. Ia mendengar suara gesekan meja yang bergerak lalu tapak kaki seseorang yang terdengar berlari keluar gubuk. Rina tahu itu pasti Dennis yang ingin pergi meninggalkannya.
Rina berteriak membentak Dennis untuk tidak membiarkannya pergi dari gubuk. "Eh? De–Dennis! Kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku setelah aku ingin bercerita jujur padamu! Woy!"
"HOEEK!"
"De–Dennis! Kau kenapa? Hei! Hei! Kau masih di dekatku, kan?"
Dennis berlari ke samping gubuk. Dibalik semak, ia mengeluarkan semua yang selama ini ia tahan. Sarapan pagi ini, Dennis keluarkan semua sampai tidak ada sisah. Untungnya belum sempat dikeluarkan dari proses di usus besar.
"Rina... keluargamu... ah!" Setelah memuntahkan semuanya, seketika perut Dennis langsung terasa nyeri. Ia memegang perutnya sambil memukul-mukul dinding gubuk dan menggerutu. "Kalau dari awal aku sudah mengetahuinya... sarapan tadi pagi tidak aku konsumsi!"
"Eeeh? Jadi kau memuntahkan semua makanan tadi pagi?" Rina bertanya. Dennis mendengarkan. "Kenapa kau membuang makanan yang sudah masuk ke dalam mulutmu? Kan rasanya enak. Teman-temanmu saja menyukainya."
Dennis terkejut mendengarnya. Ia teringat dengan sarapan tadi siang saat bersama dengan teman-temannya.
"Ah, habisnya makanan di sini enak sekali. Aku serasa tidak ingin pergi dari tempat ini. Dagingnya juga enak banget."
Dennis teringat dengan perkataan yang diucapkan Akihiro. Dia mengakui keenakan daging yang ia makan. Dalam kelompok, hanya Akihiro saja yang memakan banyak daging semur siang ini.
"Iya. Kalau soal daging, Adel menyukainya! Enak banget tadi."
"Oh iya! Bahkan... Adel sendiri juga menikmati daging yang ia makan." Dennis bergumam. Ia mengelap mulutnya, lalu kembali berjalan memasuki gubuk. Perutnya masih terasa sakit karena mual dan mungkin saja Dennis keracunan makanan. Wajahnya juga jadi pucat dan mengeluarkan keringat dingin. "Oh tidak. Aku merasa tidak sehat."
"Hei, Dennis! Kau hanya tidak terbiasa saja memakan daging yang enak itu. Kau hanya harus membiasakannya. Nanti lama-lama juga jadi enak." Ujar Rina.
Dennis melirik ke arah gadis yang ada di bawahnya itu, lalu menjawab perkataannya, "Cih! Aku bukan tipe manusia yang gak waras seperti dirimu. Aku masih punya akal. Tidak mungkin aku ingin memakan daging manusia seperti dirimu!"
"Tapi kau rasakan sendiri, kan? Selama ini keluarga kami selalu menyediakan daging manusia untuk kalian makan. Saat kuperhatikan, kalian ternyata sangat menikmati makanan yang kami berikan."
"Sudahlah! Jangan bicarakan soal makanan itu lagi!" Dennis membentak karena tidak suka mendengarnya. Mereka terdiam sejenak. Menjadi sunyi di dalam gubuk setelah mereka berdua berhenti bicara.
Dennis ingin menenangkan perutnya terlebih dahulu. Seharusnya ia minum air putih untuk membuat perutnya merasa lebih baik. Tapi karena dalam tempat seperti ini, tidak mungkin ditemukan air bersih yang cocok untuk diminum. Untuk sementara Dennis tidak akan memakan makanan apapun lagi yang orang Villa berikan. Pokoknya tidak akan, semenjak ia tahu isi makanan yang terkandung di dalamnya.
"Hah, apa hanya itu saja yang ingin kau tanyakan? Aku sudah menjawab jujur, loh. Sekarang lepaskan aku." Pinta Rina setelah ia mendongakkan kepalanya.
Dennis menyipitkan matanya, lalu menghela nafas. Ia menjawab, "Aku belum bisa melepaskanmu sebelum aku menghentikan perbuatan keji kalian."
"Heeh? Apa-apaan kau? Jadi kau ingin membunuh keluargaku?!" bentak Rina tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak membunuh. Aku... tidak terlalu suka membunuh orang. Tapi aku hanya ingin menghentikan perbuatan kalian saja. Jika bisa, akan aku laporkan kalian ke polisi tentang kasus ini."
"Oh! Jadi kau ingin membiarkan aku dengan keluargaku masuk penjara, ya?"
"Seharusnya begitu. Kesalahan kalian sudah tidak bisa dimaafkan. Seharusnya aku langsung melaporkannya. Tapi... karena ponselku diambil oleh orang dewasa yang membawa senapan tadi, aku jadi tidak bisa menghubungi polisi dan teman-temanku." Jelas Dennis.
"Orang dewasa?" Rina bergumam. Dennis tersentak. Ia lupa bertanya satu hal lagi. Ia juga harus mengetahui kemampuan masing-masing dari anggota keluarganya. Jika ingin menangkap seseorang dengan mudah, kau harus mengetahui sifat dan kemampuan musuhmu itu.
"Oh ya, Rina?" Dennis memanggil. Rina hanya mengangguk. Dennis anggap ia menyahut. "Coba beritahu aku tentang keluargamu. Ngomong-ngomong... yang suka membawa senapan angin itu siapa, ya?"
"Senapan angin?" Rina bergumam. Ia berpikir sejenak. Lalu tak lama Rina menjawab, "Oh! Kakakku, ya?"
"Apa?! Jadi itu kakakmu?" Dennis terkejut mendengarnya. "Tapi dia sudah seperti bapak-bapak, loh!"
"Kau belum pernah melihat mukanya! Dia sebenarnya masih berumur 23 tahun!"
"Tapi kenapa suaranya berat seperti bapak tua gitu?" tanya Dennis lagi.
Rina tersenyum, lalu tertawa. "Haha... itu karena kakakku suka membuat suara yang berbeda untuk mengelabuhi mangsanya. Karena dalam keluarga kami, hanya dia saja yang ahli dalam menembak. Makanya dia ditugaskan untuk memburu manusia." Jelas Rina.
"Oh. Biasanya... kapan kalian memburu manusia setiap harinya?" tanya Dennis lagi.
"Setiap malam. Saat hampir tengah malam, kakakku selaku berkeliyaran mencari orang yang masih jalan di luar di desa." Jawab Rina.
"Hmm..." Dennis mengangguk paham. "Lalu kalau siang hari, dia ngapain? Aku jarang melihatnya kalau di Villa."
"Biasanya dia suka nongkrong di sini makan sendirian hasil buruan dia. Seharunya dia ada di gubuk ini. Tapi entah kenapa dia malah tidak datang." Jawab Rina.
"Biasanya selain tempat ini, di mana lagi dia ad–"
Dennis dan Rina terkejut. Mereka mendengar suara tembakan yang keras sekali. Sepertinya suara itu tidak jauh dari sekitar gubuk. Dengan cepat, Dennis kembali turun dari atas meja lalu berdiri di depan pintu untuk mengawasi sekitarnya.
Di belakang, Rina menyeringai. "Dennis, apa kau tahu? Biasanya... jika siang hari, kakakku akan membawa senapan asli. Bukan tembakan bius lagi. Karena saat siang hari, biasanya dia suka keliling hutan untuk memburu burung."
Dennis terkejut mendengarnya. Ia menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan cepat, "Apakah sekarang kakakmu ada di dalam hutan? Dia sedang memburu burung?"
"Tapi... akhir-akhir ini binatang di hutan telah jarang terlihat. Jadi akan sangat sulit untuk Kakaku menemukan hewan buruannya saat ini."
"Tu–tunggu dulu! Kalau tidak ada binatang untuk diburu di hutan, lalu yang kakakmu tembak barusan itu apa?"
Rina tertawa kecil, lalu menjawab, "Haha... mungkin saja manusia."
"Ma–manusia?!"
****
Di dalam hutan, Akihiro dan Mizuki terkejut saat mendengar suara tembakan yang muncul tiba-tiba. Suaranya keras sekali dan sepertinya dekat dengan mereka.
Akihiro melirik ke segala arah untuk mencari orang yang menggunakan tembakan di dalam hutan. Bisa saja dia orang jahat.
"Di–Dian... tadi itu apa?" tanya Mizuki sedikit ketakutan.
"Jangan khawatir, Mizuki. Tidak apa-apa. Aku akan melindungimu." Tegas Akihiro. Mizuki menurut. Ia tetap bersembunyi dibalik tubuh Akihiro. Tapi bukan berarti Mizuki ingin memanfaatkan Akihiro sebagai tameng perlindungan untuknya.
__ADS_1
DOR!
Suara tembakannya terdengar lagi. Terdengar semakin keras sampai membuat telinga Mizuki sakit dan bergema. Akihiro dan Mizuki sudah merasa terancam. Mereka tidak menganggap kalau ada orang yang sedang berburu di dalam hutan. Karena sepanjang jalan di hutan yang mereka lewati, Akihiro dan Mizuki tidak pernah melihat satupun hewan yang lewat atau terbang di dekatnya.
"Mizuki! Ayo kita lari!" Ajak Akihiro tiba-tiba. Ia menarik tangan Mizuki dan mengajaknya untuk berlari bersama. Di belakang, Mizuki berusaha untuk mengejar Akihiro. Tapi karena kakinya yang masih terasa pegal, Mizuki tidak bisa berlari lebih cepat seperti Akihiro.
Akihiro menoleh ke belakang. Ia menyadari pergerakan Mizuki yang lambat. Jadi untuk membantunya agar berlari lebih cepat, Akihiro akan....
"Aku akan menggendongmu, Mizuki." Akihiro menghentikan langkah, lalu mengulurkan tangan. Mizuki juga ikut berhenti. Nafasnya terengah-engah. Tapi ia tidak memberikan Akihiro izin untuk menggendongnya. Karena ia tidak ingin Akihiro kerepotan karena dirinya.
"Jangan bercanda, Dian. Aku bisa lari sendiri, kok!" Mizuki menolak.
"Tapi larimu lambat. Kan kita harus cepat!"
"Ta–tapi...."
DOR!
Akihiro dan Mizuki kembali dikejutkan dengan suara tembakan lagi. Suaranya semakin dekat saja. Lalu tak lama kemudian, tembakan itu kembali menyerang. Pelurunya mengenai pohon yang ada di samping Akihiro. Akihiro mencari si penembak itu, tapi tidak bisa ia temukan karena ia tidak tahu penembak itu bersembunyi di mana.
Karena tidak ada waktu untuk berdiam diri, Akihiro menarik tangan Mizuki lagi, lalu mengangkat tubuh teman gadisnya itu dengan paksa dan menggendongnya di belakang punggungnya.
"Di–Dian!" Mizuki menegur Akihiro. Larinya lumayan cepat juga. Mizuki jadi malu karena dirinya telah diangkat paksa oleh Akihiro tadi.
"Diam dan tenanglah! Kita harus mencari tempat persembunyian seperti yang orang itu lakukan." Ujar Akihiro.
"Orang itu?"
"Iya. Orang gila yang menembaki kita tadi. Entah apa masalahnya. Memangnya kita punya dendam pada orang itu? Tidak, kan?!" Akihiro menggerutu. Mizuki terdiam, lalu berbisik, "Sebenarnya aku punya dendam padamu."
"Astaga, sudahlah Mizuki. Kita jangan bahas itu lagi untuk saat ini. Sudah lama. Jangan diulas lagi." Akihiro tertawa.
"Tapi tetap saja aku masih tidak bisa melupakannya." Mizuki memejamkan mata, lalu mengalungkan tangannya di leher Akihiro.
Akihiro hanya tersenyum. Ia tetap berlari. Sesekali berhenti untuk mencari jalan. Saat ia melihat ada pohon besar yang cocok sebagai tempat persembunyian, Akihiro akan pergi ke sana.
Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja....
DOR!
"KYAAA!!" Mizuki tiba-tiba saja berteriak dan Akihiro jadi kehilangan keseimbangannya dalam berlari. Mereka berdua terjatuh ke dalam lubang besar di dalam hutan. Lubang seperti kawah yang penuh dengan tanah dan tumbuhan kecil lainnya.
Akihiro kembali membuka mata, lalu terbangun. Ia mengeluh kakinya sakit. Saat dilihat, ternyata dengkulnya tergores dan berdarah. Akihiro tertawa kecil lalu bergumam, "Haha... seharusnya aku menggunakan celana panjang tadi."
"Ah... aduh! Aduh!"
Akihiro menoleh dengan cepat. Ia bangun terduduk, lalu melirik ke arah Mizuki. Akihiro mendengar rintihan keras dari Mizuki. Saat dilihat, ternyata kaki Mizuki kena tembak oleh seseorang yang sedang mengincar mereka berdua itu!
*
*
"
__ADS_1
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8