Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 70– Ujian IPS (Resolusi)


__ADS_3

Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Kelima anak gadis datang tergesa-gesa untuk mencari bantuan. Mereka adalah, Lala (2-A), Morin (2-A), Khanza (2-A), Queen (2-B), dan Rasya (3-B). Mereka juga ditemani oleh dua anak laki-laki yang memiliki badan gemuk. Mereka berdua teman sekelas bernama Azra dan Rangga dari kelas 2-A.


"Kakak kelas kami terluka!" tegas si Rasya yang merupakan anak tertua di kelompoknya.


"Eh, Davin? Dia kenapa?" tanya Rei sambil membantu Azra dan Rangga menurunkan Davin. Ia menidurkan tubuh Davin di atas pasir. Semua orang yang ada di pantai itu langsung berlari menghampiri Rei. Beberapa anak ternyata ada yang kenal dengan anak yang baru datang tadi.


"Davin?! Di–dia kenapa?" tanya Ethan dengan ekspresi wajah terkejut.


"Pertanyaan yang sama. Aku jua belum dijawab." Gumam Rei.


"Eh, maaf!" Rasya tersentak. Lalu ia menggeleng. "Kami tidak tahu dia kenapa. Intinya kami menemukan tubuhnya tergeletak di dalam lubang besar. Dia mungkin terjatuh ke dalam sana." Jelas Rasya.


"Umm... jadi sekarang apa yang harus kita lakukan padanya?" tanya Rei pada semuanya.


"Aku akan membawanya Rei!" Ethan mengacungkan tangan di depan dadanya. Lalu setelah itu, ia berjongkok dan mengangkat tubuh Davin karena ia ingin menggendong Davin di punggungnya. "Sekarang setelah ini, ayo kita jalan! Kita hanya harus mencari kapal untuk sampai di pintu yang ada di tengah laut itu!"


Setelah tubuh Davin sudah ada di punggungnya, Ethan pun kembali berdiri. Rei juga begitu. Ia sedikit meregangkan tubuhnya. "Ayo kita cari perahu yang katanya sudah disediakan itu."


"Ano... kami sudah menemukan perahunya! Dia ada di pinggir pantai dekat dengan kumpulan batu karang di sana." Ujar Khanza sambil menunjuk.


Mizuki tersenyum senang. "Wah, bagus sekali!" Dennis menengok ke arahnya dan berkata, "Ini lebih mudah karena kita sudah menemukan kapalnya. Ayo kita ke sana!"


Dennis berlari duluan. Lalu diikuti dengan Mizuki dan yang lainnya. Mereka akan menuju ke tempat perahu berada. Dengan perahu itu, Dennis dan semuanya bisa selamat untuk pergi dengan aman dari Ujian ketiga mereka!


"Tu–tunggu dulu!" Rasya teriak. Seketika semuanya langsung menghentikan langkah mereka dan menengok ke belakang. Di belakang mereka ternyata Rasya dan kelompoknya masih berdiri di tempat mereka. Mereka tidak ikut berlari seperti yang lainnya. Ada apa?


"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat!" ajak Rei.


"Jangan ke sana! Di–di sana ada...."


"Eh? Ada apa?"


"Di sana tadi kami melihat ada hantu yang menyeramkan!"


"Hantu?"

__ADS_1


"I–iya! Mirip seperti kuntilanak tapi dia merayap. Matanya bolong dan mulutnya terbuka menganga gitu. Dan... yang lebih mengerikannya lagi, hantu itu memiliki rambut yang sangat panjang untuk menjebak kita semua!"


Semuanya terkejut setelah mendengar deskripsi yang dijelaskan dari Rasya itu. Lalu setelah itu, Rasya dan kelompoknya baru berlari menghampiri Rei dan yang lainnya. "Makanya kita jangan ke sana! Hantu itu mungkin penunggu kapal itu untuk menghalangi kita melarikan diri dari pulau ini."


"Tapi tunggu dulu. Bagaimana kau bisa tahu kalau rambut hantu itu bisa menjebak kita semua?" tanya Rei sambil berpikir. "Apakah rambutnya bisa bergerak?"


"I–iya. Memang rambutnya itu bisa digerakkan. Aku tidak mengerti. Dia hantu atau bukan, intinya dia kayak monster manusia yang menyeramkan gitu!"


"Apa kalian pernah melihat hantu itu menyerang?" tanya Ethan tidak percaya.


"Iya. Karena... seluruh kelompok kami yang mati... mereka dibunuh oleh hantu itu...."


Rasya pastinya memiliki 10 anggota dalam kelompoknya. Ia bercerita kalau ada 3 orang dari mereka yang menghilang. Nah, saat dicari, mereka tidak bisa menemukannya. Sampai akhirnya... saat ada di tempat bebatuan berlumut di dalam hutan, Lala merasa ada benda cair yang menetes di kepalanya. Sontak ia langsung mendongak dan terkejut! Benar-benar terkejut dan ketakutan!


Karena Lala melihat ketiga teman-temannya tergantung kebalik di atas pohon. Cairan yang menetes tadi adalah air liur dari teman-temannya yang sudah mati bergantung gitu. Mulut mereka menganga dengan lidah yang menjulur ke depan. Ditambah dengan seluruh kulit wajah mereka yang pucat, berwarna keabu-abuan sudah seperti mayat yang membusuk dan matanya melotot dan nyaris keluar dari kelopak matanya.


"KYAAAA!" Lala berteriak, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil terus menatap teman-temannya yang sudah meninggal itu. Beberapa teman lainnya mendengar Lala berteriak dan langsung berlari menghampiri dirinya.


"Lala, apa yang terjadi?" tanya Azra setelah ia menyentuh pundak Lala.


Lala gemetar ketakutan. Lalu secara perlahan, ia menunjuk ke atas dan tidak menjawab. Semua teman-temannya yang masih tersisah itu mendongak. Mereka juga melihat mayat teman-teman mereka. Sama seperti Lala, mereka juga terkejut dengan keadaan teman-teman mereka yang sudah mati itu.


"Ba–bagaimana mereka bisa... seperti itu?!"


Rambut hitam yang banyak telah melilit dan menggantungkan tubuh manusia yang sudah mati di atas pohon. Mereka sudah seperti mangsanya laba-laba. Dibungkus dengan rambut dan digantungkan begitu saja di dahan pohon.


"... Ya... pada saat itulah, kami kehilangan teman-teman kami. Dan... Di sana kami masih belum tahu sosok dari si hantu berambut panjang itu." Rasya masih bercerita. Ia sedikit mengusap air matanya yang keluar dan kembali bicara, "Tapi saat kami keluar dari dalam hutan itu. Kami senang bisa menemukan pantainya dan tepat di depan kami, kami sudah menemukan kapal itu."


"Ta–tapi... saat kami mendekatinya, kami sangat terkejut karena dari dalam kapal itu muncul beberapa rambut yang menggeliat dan banyak. Dari sanalah, kami bisa melihat sosok yang menyeramkan itu muncul."


"Saat hantu itu ingin menyerang, kami masih bisa menghindar dan langsung berlari menjauh dari kapal. Hantu itu tidak mengejar kami. Tubuhnya tetap berada di dalam perahu dan tidak ke mana-mana."


"Karena tubuhnya yang terus menetap di perahu, makanya kami menganggap kalau hantu itu adalah si penunggu kapal tersebut. Dengan begitu, kita tidak akan bisa kabur dari pulau ini."


Rasya selesai bercerita. Ia mengatur nafasnya dan kembali mengelap air matanya dengan lengan baju yang ia kenakan. Ia menangis karena tidak kuat menahan kepergian teman-temannya.


Setelah Rasya selesai, semuanya mengangguk paham. Rei kembali berpikir untuk memikirkan soal hantu itu. Lalu tak lama, ia bertanya pada Rasya. "Seberapa besar ukuran kapal itu?"


Rasya menjawab, "Ukurannya sedang. Seperti kapal nelayan. Dan... kalau aku lihat, kapal itu ada dua di batu karang sana."


"Bagus! Cukup untuk kita semua tumpangi!" girang Dennis. Ia ingin segera melihat kapal itu, tapi ia juga masih takut dengan hantu yang ada di dalam cerita Rasya.


"Oke. Sekarang kita buat rencana untuk melindungi diri dari hantu itu." Ujar Rei setelah ia menepuk tangannya sekali.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Mizuki. "Kata anak ini, hantu itu memiliki rambut yang tebal untuk bisa membungkus satu tubuh kita, Rei."


"Itu dia. Senjatanya adalah rambutnya. Tapi... jika kita memotong rambutnya itu bagaimana?"


"Memotongnya? Hmm... dengan apa?"


"Eh, tunggu!" Rei menggeleng. "Jangan seperti itu. Kita jangan memotong rambutnya. Terlalu beresiko nantinya."


"Lalu bagaimana caranya?"


"Dengan menggunakan tongkat bambu."


Dennis terkejut. Ia mendengar bisikan dari suara si gadis misterius. Dennis sudah mengenal suara gadis itu karena ia sering mendengarnya. "Tongkat Bambu?" Dennis bergumam. Ia juga ikut berpikir seperti Rei dan mencari maksud dari rencana "Tongkat Bambu" itu.


"Hanya satu bungkusan, memotong dan menggantung."


"Mata, hati, kepala. Dorong, ceburkan, air laut dan Pintu Biru."


Bisikan itu datang lagi. Dan sekarang, bisikan tersebut selalu bergema di benak Dennis. Memungkinkan Dennis untuk bisa mencari maksud dari kata-kata kunci tersebut.


"Hanya satu bungkusan, memotong dan menggantung. Lalu... Mata, hati, kepala. Dorong, ceburkan, air laut dan... Pintu Biru." Gumam Dennis dalam hati. Ia menundukkan kepala sambil memejamkan mata agar dirinya bisa fokus untuk menemukan arti dari beberapa kata kunci yang telah diberikan oleh si gadis misterius.


"Satu bungkusan, memotong dan menggantung. Ada dua maksud dari kata itu. Yaitu, karakteristik dan cara membunuh manusia. Hmm... kalau dipikir-pikir, ketiga kata itu lebih cocok mendeskripsikan tentang tata cara si hantu itu membunuh manusia."


"Pertama, Satu Bungkusan. Yaitu, dari awal si hantu menangkap mangsa yang ingin ia bunuh dengan rambutnya. Lalu hantu itu akan membungkus si mangsanya tersebut. Berarti... apakah si hantu hanya bisa membungkus satu mangsanya saja? Sepertinya begitu. Karena setelah ia membungkus manganya, si hantu akan langsung menuju ke tahap kedua."


"Kedua, memotong. Berarti... setelah si hantu membungkus, ia akan memotong rambutnya agar terpisah dari bungkusan rambut mangsanya itu. Ah, bagaimana, ya? Aku kok jadi pusing sendiri. Masalahnya... aku belum melihat langsung caranya si hantu itu membunuh orang."


"Dan yang ketiga, menggantung. Nah! Pasti setelah hantu itu memotong rambutnya dan mendapatkan satu gulungan mangsa, ia akan menggantungkan mangsanya itu di atas pohon. Sama seperti teman-temannya si Rasya."


"Benar dugaanku! Membungkus, memotong dan menggantung itu adalah caranya si hantu untuk membunuh. Dan... setelah ia menggantungkan mangsanya, apa yang akan dia lakukan? Menunggu mangsanya mati lemas? Langsung memakannya? Eh! Apa hantu makan manusia?"


"Cih! Tunggu dulu. Tadi... teman-temannya Rasya ada 3 orang yang meninggal. Lalu mereka ditemukan telah meninggal dalam keadaan menggantung di satu pohon yang sama. Dan... masing-masing tubuh mereka yang sudah mati dipenuhi oleh rambut. Berarti... si hantu hanya bisa membungkus satu manusia dalam satu kali kerja!"


"Baik, baik, aku mengerti sekarang. Hantu itu tidak bisa membunuh semuanya sekaligus. Berarti, untuk korban pertama, ia akan menangkap lalu membungkus korbannya dengan rambut, setelah itu memotong rambutnya dan menggantungkannya di atas pohon. Lalu setelah itu... ia pergi mencari korban lainnya. Setelah ia dapat, maka si hantu akan menggantungkan tubuh mangsanya ke atas pohon. Berdekatan dengan bungkusan sebelumnya."


"Oh~ Jadi begitu. Aku tahu caranya dan aku punya rencana untuk bisa membunuh hantu itu! Hehe...."


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2